
Tiga hari setelah Daniel mencoba bicara dengan Yasinta, hari ini Sinta bekerja lebih awal karena harus membantu Nana untuk menyiapkan pembukaan pabrik dikota B bulan depan.
Daniel juga sudah tidak membicarakan hal pribadi dengan Yasinta, mereka hanya membahas kerjaan.
Dodo sang asisten juga sudah kembali dari luar kota.
Sebelum makan siang ada tamu yang ingin ketemu dengan Daniel, katanya teman bosnya, lapor resepsionist dari bawah.
"nama tamunya siapa mba"
"mba meta Bu"
Deg
Yasinta langsung ingat nama meta teman kuliahnya dulu, apa dia yang datang. apa mereka masih sering kontak.
Lamunan Yasinta terhenti saat resepsionist bertanya lagi,
"gimana Bu"
"ohhhj ohh bentar, saya kasih tahu bapak Daniel dulu ya"
"baik Bu"
Lalu Yasinta menekan nomor ruangan Daniel.
"pak, ada teman bapak ingin ketemu, namanya mba meta"
"ohhh suruh masuk"
"baik pak"
Lalu Yasinta meminta recepsionist mengantarkan tamu pak Daniel ke atas.
"Yasinta, kamu ngapain disini, bukannya Daniel bilang kamu pergi dengan suami yang kaya raya" ucap meta memojokkan Yasinta dengan ucapan Daniel. Tapi Yasinta tidak mau terprovokasi, dia santai dan biasa aja. dia merasa bahwa tidak perlu dia jelaskan kepada orang lain tentang masa lalunya, apalagi ini menyangkut kesalahan keputusan papinya.
Biarlah saya sendiri yang menderita, tidak boleh ada yang menghina papi saya, batin yasinta
"apa kamu ingin ketemu pak Daniel, silahkan pak Daniel sudah menunggu" ucap Yasinta mempersilakan meta masuk keruangan Daniel.
"pak, mba metanya sudah datang" ucap Yasinta sangat formil
"hmmm"
"hei Daniel, jadi Yasinta kerja disini" tanya meta sama Daniel sementara Yasinta langsung kembali ketempat duduknya.
"iya Met" jawabnya
__ADS_1
"ada angin apa kamu sampai datang ke kantorku" tanya Daniel lagi sambil memperhatikan meta dengan tampilan yang sangat cantik paripurna tapi sih terlihat terlalu dipaksakan.
"iya dan tadi saya lewat daerah sini, terus aku ingat kantor kamu, makanya aku mampir"
"ohhhh, seperti aku bilang, masih banyak yang kurang, karena ini termasuk mendadak pindahnya" ucap Daniel
"tapi kantormu sangat bagus" puji meta cari perhatian.
"ahh biasa aja, ngomong-ngomong minum apa nih" tanya Daniel
"air putih aja" ucap meta sambil mengagumi ruangan Daniel yang sangat mewah.
"Sinta tolong suruh orang bawa minuman air putih buat meta"
"baik pak"
"ehhh dan, kamu bilang kamu sudah pisah sama Sinta, kok bisa dia kerja disini"
"aku juga ngga nyangka Met dunia berputarnya sangat cepat. Dulu papinya menghina aku susah tapi sekarang malah anaknya yang datang sendiri untuk jadi karyawanku" ucap Daniel bohong, karena yang benar Daniel yang merekrut Sinta ke kantor pusat.
"ya ampun, dulu aja gayannya sok idealis, sok suci. jangan-jangan sekarang dia ingin mendekati kamu lagi dan, dia kan tahu kamu orangnya baik, makanya dia akan manfaatkan kebaikanmu itu, dia ingin balik sama kamu"
"hahaha gila aja kamu Met, aku menerima dia, apa aku sudah ngga laku, masih banyak yang single met, tanpa paket dibelakangnya" ucap Daniel enteng.
Sayangnya Daniel ngga tahu kalau Sinta mendengar semua itu saat dia membuka pintu perlahan hendak mengantarkan orang pantry yang mengantar minuman.
'ayo hati, jangan begini, mau donk kerjasama, lupakan Daniel sebagai ayah sikembar, lupakan Daniel anak pedagang nasi bungkus, Daniel sekarang orang kaya jadi bukan untuk Sinta lagi, ok, dari sisi mana pun ngga bisa bersatu' batin sinta
tok tok tok
"iya masuk"
"ini minumnya pak" ucap Sinta sambil menaruh minuman itu dimeja Daniel. Terlihat disana meta duduk dengan anggun, dengan pakaian yang serba mahalnya, dan juga wanginya sangat wahhh..
"terimakasih sin, tapi aku ngga nyangka lho kamu bisa jadi sekretaris Daniel" ucap meta sambil berdiri sengaja menyindir Sinta. Sinta hanya diam seperti biasa tidak marah juga tidak senyum, datar aja.
"apa papimu bangkrut sehingga kamu harus menjilat ludahmu sendiri, laki-laki yang kamu tinggalkan saat susah lalu kamu rayu lagi begitu dia sukses dan kaya raya" ucap meta tanpa sedikitpun perasaan bersalah.
"atau kamu dicampakkan lagi sama dudamu itu, ya buasanya sih kalau sudah duda dia pasti tetap ngga puas, habis manis sepah dibuang" ucap meta lagi.
'tolong aku Tuhan, aku hanya mohon jangan sampai airmataku jatuh dihadapan mereka' doa Sinta dalam hati.
'Aku sudah mempersiapkan diriku Tuhan, tapi tetap aja aku masihanusia, aku ngga kuat Tuhan' batin Sinta lagi.
'Bahkan Daniel sedikitpun tidak membela Yasinta seperti dulu, atau paling tidak dia suruh meta diam, jangan bicara lagi' batin sinta
"maaf meta, ini kantor jadi kita bicarakan urusan kantor aja, urusan pribadi saya biarlah urusan saya pribadi, ada lagi yang bisa saya kerjakan pak" tanya Sinta setenang mungkin
__ADS_1
"gila, kamu memang penipu professional ya, dalam keadaan terjepit sekalipun masih bisa tenang" ucap meta.
"ngga ada kamu boleh keluar" ucap Daniel tidak tega melihat Yasinta dihina meta, tapi untuk membelanya juga Daniel belum punya kemampuan, karena hatinya masih sangat sakit juga.
"baik pak"
Selangkah keluar dari ruangan Daniel airmata Yasinta sudah tidak dapat dia tahan lagi.
'Tuhan kenapa harus begini, aku harus bagaimana lagi. apa aku harus mundur dari kerjaan ini, tapi bagaimana dengan denda melanggar kontrak dua ratus juta, tolong aku Tuhan, bagaimana seharusnya aku melangkah, aku bingung Tuhan' doa Sinta masih dibalik pintu ruangan Daniel dengan deraian airmata.
'Kalau tahu begini mendingan aku dipabrik, tidak bakal ketemu orang-orang besar seperti mereka, hanya berteman dengan orang-orang yang mengerti tentang kesusahan' batinnya lagi.
"sin kamu kenapa, kena marah bos, kamu tadi kenal dengan tamu pak bos, sepertinya dia kenal kamu" tanya Nana melihat Sinta sedih didepan pintu ruangan bos.
"iya mba, saya kenal"
"terus kamu dimarah bos"
"ahh ngga mba, hanya ada hal yang aku ingat membuatku sedih"
"ohh syukurlah"
Saat Daniel dan meta ingin keluar dari kantor Daniel Yasinta berusaha menghindar dengan ke toilet. Dia tidak ingin mendengar kata-kata yang sangat sadis lagi.
Sore harinya Yasinta jadi teringat dengan Bram.
ddrrrt ddrrrt ddrrrt
"hallo"
"hallo sin, tumben"
"ngga kak, aku ingin cerita-cerita aja sama kak Bram, kak Bram sibuk"
"ngga, cerita apa"
"banyak kak"
"ya sudah kamu sekarang dimana"
"baru mau pulang, masih di kantor"
"kamu ke mall yang dekat kampus itu aja, kita ketemu disitu, supaya kamu jangan kejauhan"
"ok kak Bram"
"bye Sinta," bye kak Bram" sambungan telepon itupun terputus.
__ADS_1