
Sepanjang perjalanan pulang dari restoran tadi Daniel benar-benar ngga habis pikir dengan Yasinta. Masa setelah disia-siakan orang kaya dia malah mau sama Bram yang zaman kuliah adalah anak dari keluarga kurang mampu lebih parah dari Daniel. Tapi Daniel juga ingat kalau dulu Yasinta itu bukan cewek yang membedakan orang dari keadaan ekonominya tapi kecocokan hatinya.
Apa demi membantu Bram makanya Yasinta sampai kerja mati-matian, batin Daniel.
'apa Bram memanfaatkan Yasinta karena anak-anaknya, Iyas sebenarnya hidupmu seperti apa sih'
Besok harinya Daniel masuk kantor seperti biasa.
"Nana ikut aku keruangan sekarang" itulah kebiasaan Daniel begitu sampai kantor.
"baik pak"
Tidak sampai tiga puluh menit Nana sudah keluar dari ruangan Daniel dengan setumpuk berkas.
"Sinta dipanggil pak Daniel noh" ucap Nana begitu sampai mejanya
"iya mba" Sinta masuk membawa tablet dan berkas yang akan ditandatangani.
"permisi pak"
"hmmmm"
"ini yang kemarin pak tentang surat-surat rumah bapak dan juga mengenai apartemen ada beberapa pilihan, tapi aku pelajari aku cenderung yang di pusat. fasilitasnya lebih ok dan keamanannya juga sudah sangat bagus" jelas Sinta tentang pencarian mengenai apartemen.
"sebentar saya lagi tanggung"
Mau ngga mau Sinta harus berada dihadapan Daniel menunggu Daniel yang fokus ke layar monitor laptopnya.
Menatap Daniel lagi serius begitu entah kenapa membuat Yasinta jadi teringat dulu waktu baru menikah sama Daniel.
Flash back on
"Kak serius banget sih" ucap Sinta
"hehehe aku lagi buat lamaran kerja sayang, biar kita tidak terlalu tergantung mama dan juga papimu, apa lagi kita kawin lari" ucap Daniel ketawa dan menowel hidung Yasinta.
"kamu tahu ngga Iyas, kamulah anugrah terindah dalam hidupku, aku ingin nantinya menua bersamamu dan membesarkan anak-anak kita sampai sukses,"
"iya kak, aku juga hanya ingin menua bersamamu, kamu sekarang sudah seperti nafasku, ngga hidupkan kalau ngga bernafas" ucap Sinta memeluk leher suaminya.
"suatu saat aku pasti sukses, kamu dan anak-anak kita akan hidup kecukupan, tidak boleh seperti hidup aku" ucap Daniel sudah mengecup bibir istrinya.
"duhhh istriku gemesin banget deh, sudah cantik banget, baik banget, pengertian lagi" ucap Daniel sambil bercanda dan sudah memeluk tubuh indah istrinya.
"kita harus bahagia sampai tua" ucap Daniel sambil mereka berpelukan erat sudah diatas kasur sederhana Daniel. Yasinta sudah membenamkan kepalanya didada bidang Daniel, benar-benar pengantin baru yang bahagia.
flash back off
__ADS_1
'sekarang kamu memang sudah sukses kak dan, sayangnya kita tidak bisa bersama lagi, dan anak-anak kita juga sebenarnya hidup dalam kekurangan, tapi aku tidak punya keberanian untuk memberitahukan mu, aku tidak siap kalau kamu menolak anak-anak kita' batin Sinta.
"hei kenapa kamu" ucapan Daniel mengagetkan lamunan Yasinta.
"iya pak"
"apa kamu lagi terpesona dengan kegantenganku, atau terpesona dengan duitku terus kamu nyesal. memang ya penyesalan itu selalu datang terlambat. terus sekarang kamu ingin kembali sama aku gitu dengan wajah polosmu" ucapan Daniel selalu menyakiti hati Yasinta, tapi Yasinta juga tidak berusaha untuk mengelak atau mencari pembelaan, dia hanya selalu pasrah.
"sekarang kamu lagi cari pasangan baru atau ayah buat anak-anakmu, biar jadi keluarga harmonis," ledek Daniel lagi.
'aku belum memberitahumu tentang anak kita kamu sudah menuduhku seperti itu, apalagi kalau aku sampaikan tentang mereka pasti kamu akan mencela anak-anak kita kak, jadi memang pilihanku sudah tepat, kak Daniel tidak usah tahu tentang Leon dan loan.' gumam Sinta.
"maaf pak, saya tidak sedang mencari bapa untuk anak saya karena bapa mereka masih ada"
"huhh bapanya masih ada tapi tidak bertanggung jawab" tanya Daniel nyolot memancing Yasinta cerita.
"maaf pak, itu urusan rumah tangga saya, biarkan jadi privacy saya"
"benar juga, apa urusan saya dengan pribadimu" ucap Daniel meledek dengan sinis
"tapi saya agak heran ya, kenapa kamu bisa sesusah ini sekarang. dimana papimu yang pengusaha itu, apa perlu aku jalin kerjasama dengan perusahaan papimu supaya dia tahu bahwa anak yang dulu dia hina sekarang adalah bos dari anaknya" ucap Daniel sombong
"maaf pak, kalau mengenai kerjasama bapak lebih paham dari saya, selagi menguntungkan silahkan saja" ucap Sinta sebijak mungkin
"keknya sih ngga untung kerjasama Sama perusahaan itu" ledeknya karena dia tahu perusahaan itu sudah bukan milik papinya Yasinta tapi sudah milik twins grup yaitu keluarga Fariza.
"aku dengar kamu disini ngekost, kenapa"
"maaf pak, saya memang disini ngekost karena saya ngga punya rumah disini"
"bukannya rumahmu yang megah itu"? tanya Daniel menyindir
"bukan pak, itu dulu rumah papi tapi papi juga sudah menjualnya" jelas Yasinta masih santai
"kok bisa di jual"?
"maaf pak sekali lagi itu urusan keluarga saya, saya keberatan menjawabnya"
"ok ok aku mengerti kamu boleh keluar" ucap daniel akhirnya.
Sinta keluar dari ruangan Daniel dengan sedikit hati lega, karena Daniel tidak bertanya siapa ayah anaknya, bukan apa-apa, sebenarnya Sinta tidak ingin berbohong tapi untuk berterus terang pun dia takut kedua anaknya mendapat penolakan dari Daniel. Bahkan lebih parahnya lagi bisa aja Daniel berpikir bahwa itu trik Sinta untuk kembali sama Daniel. Sinta tidak mau hal itu, lebih baik begini dia tidak usah tau dan tidak usah tanya-tanya.
Baru aja Sinta duduk di kursinya, recepsionist dari bawah menghubungi.
tutttt
"ibu Sinta ada tamu untuk pak Daniel, teman pak Daniel namanya pak Rio"
__ADS_1
'rio' batin Sinta
"ohh sebentar"
Lalu dia menghubungi Daniel untuk beritahu Rio ada dibawah.
"suruh naik" ucap Daniel asal
"baik pak" lalu Sinta menghubungi recepsionist untuk menyuruh tamunya naik.
"siang , siang Sinta," ucap Rio menyapa Nana dan juga Sinta
"siang pak" ucap Nana dan sinta
"bosmu ada kan"
"ada pak, silahkan" ucap Sinta sambil mengantar Rio keruangan Daniel
"permisi pak, pak Rio sudah sampai" ucap Sinta sopan dan senyum. Rio semakin terpesona dengan tutur kata dan cara kerja Sinta, tanpa sadar dia sudah menatap Sinta dari tadi membuat Daniel kurang suka.
"hmmm, hei Lo mau berdiri disitu aja, ga mau duduk bro"
"oh iya bro sory, sintanya semakin cantik sih" ucap Rio, tapi Sinta biasa aja tidak senang dan tidak juga ngga senang. datar mungkin itu kata yang tepat, membuat Daniel sedikit tenang.
"Sinta, boleh keluar, kami ingin ngobrol" perintah Daniel
"baik pak"
"ahh sialan Lo, barang bagus aja Lo embat sendiri, kasihan tuh Sinta ntar dibantai sama Cyntia" seloroh Rio
"ngomong apa sih Lo"
"ya iyalah, kalau kamu jatuh cinta sama Sinta, pacarmu yang cantik paripurna itu pasti tidak terima, iya kan, lalu dia menggunakan segala cara untuk menyingkirkan Yasinta" ucap Rio serius.
Sejenak Daniel terdiam mendengar ucapan Rio.
"ngomong apa sih Lo, Sinta, Cyntia, ngawur"
"ga ngawur bro, cuma antisipasi, aku sih kayaknya sudah siap menerima Yasinta sepaket, kamu tahu kenapa bro? dia itu cantik alami, hatinya seperti malaikat, pekerja keras, penyayang dan aku yakin dia setia" ucap Rio
"sok tahu Lo"
'lo ngga tahu aja dia penghianat' batin daniel
"iya, kamu ngga lihat dari penampilannya, yang aku lihat sih pakaiannya yang penting sopan, ngga perduli mahal apa murah. pakaiannya biasa aja bro, dandanannya lebih lagi, kayaknya dia ngga pake bedak deh, tapi enak dilihat" ucap Rio senyum-senyum tanpa melihat Daniel yang sewot.
Semua ucapan Rio itu sebenarnya sangat pas, hanya saja kebencian hatinya membuat Daniel tidak melihat itu semua.
__ADS_1