
Tanpa kegagalan kamu tidak akan pernah merasakan puasnya merasakan keberhasilan!"
*****
Terdengar langkah sepatu yang tergesa memasuki ruangan makan keluarga Gaffar. Detak sepatu itu cukup berisik dan langsung dikenali oleh Aleesha dan wanita itu langsung menghentikan pembicaraannya dengan suami dan anak angkatnya, Adiguna.
"Nadia.... kau akhirnya datang juga!" Sini makanlah dulu!" Aleesha sambil menengok ke arah sumber suara.
Namun senyum Aleesha mendadak hilang ketika melihat di belakang Nadia terdapat seorang pria muda yang setengah berlari mengikuti langkah Nadia.
Pria itu agak terpincang jalannya dan santai memasuki rumah itu meski tanpa ijin sehingga membuat ajudan dari Jendral Gaffar yang memang tidak mengenali Pramoedya mengikutinya dan terkesan tidak menyukai kedatangan pria yang tidak mengenal sopan santun.
" Selamat pagi Ibu Aleesha, Jendral Gaffar dan Pak Adiguna, Maaf saya datang agak terlambat bu Aleesha, tadi ada sedikit kekacauan di mess..." Nadia langsung memberikan salam kepada anggota keluarga Gaffar yang masih berkumpul di meja makan.
Nadia langsung menjelaskan kondisinya karena melihat perubahan ekspresi Aleesha. "Terimakasih bu Aleesha, saya sudah sarapan tadi... kita bisa langsung jalan ke kantor ko bu,"
"Tapi aku belum makan Nana.... temani aku makan dulu disini," Pramoedya berkata santai dan sambil tersenyum memandang Jendral Gaffar. " Om Gaffar ... aku dan nana, makan di sini ya, om !"
Pramoedya langsung duduk di sebelah Gaffar. Pria itu mengangguk dan melirik Aleesha yang memang menunjukan ekspresi ketidaksukaannya pada kedatangan mendadak di rumah itu.
"Makanlah dulu Pram dan Nana.... duduklah dulu, ada yang harus om dan tante bicarakan pada kalian !" Gaffar berusaha menetralkan keadaan yang sedikit panas akibat kedatangan anak pimpinannya yang bersikap seenaknya. Semenjak dulu Aleesha memang tidak menyukai tindakan sewenang-wenang Pramoedya jika mengunjungi rumahnya. Belum lagi tingkahnya yang menunjukkan anak pimpinan suaminya membuat Aleesha makin kesal.
Pramoedya tersenyum dan ia bangkit berdiri dari kursinya dan ia langsung menarik Nana agar duduk di sampingnya. Tindakan itu diperhatikan oleh Adiguna yang memandang penuh keheranan atas tindakan pria yang bertingkah seenaknya itu.
Nana mengambilkan nasi dan lauknya untuk Pramoedya dan untuknya. Sesungguhnya ia juga belum makan tapi karena melihat ekspresi Aleesha yang sedikit marah, ia memilih berbohong, tapi ucapan Jendral Gaffar yang harus dipatuhinya membuatnya sarapan juga di bawah pandangan mata Gaffar.
Ketika Pramoedya dan Aleesha menyelesaikan sarapannya, Gaffar baru memulai percakapananya .
"Aku suka melihat kedatanganmu Pram .... mana tim pendukungmu ?' Gaffar memulai percakapannya dengan Pramoedya yang masih menengak juice jeruk.
'Entahlah.... mungkin masih tidur... aku pagi-pagi sudah datang ke tempat Nana."
Gaffar sangat mengenal Pramoedya yang suka berbicara seenaknya dan selama ini memang membiarkan pria muda itu bertingkah ataupun berbicara seenaknya. Tapi ia memiliki alasan karena sesungguhnya ia kasihan melihat nasib pria itu yang diabaikan keluarganya. Terlebih semenjak kemarin, ia makin bingung dengan status asal usul Pramoedya .
Gaffar menarik nafasnya dengan agak berat. Dia berusaha menata emosinya.
"Pram... kuharap kau juga mengenal keluargaku dan bersikap sopan pada mereka ,"
"Aku tahu ... tante Aleesha yang tidak pernah tersenyum padaku.... meski sebenarnya ia baik pada Nana dan suka membuatkanku makanan juga ... tapi setiap dia melihatku, aku tahu dia tak suka padaku," Pramoedya berkata santai dan sambil melirik Aleesha yang tetap duduk tenang di samping suaminya.
'Pram... apa yang kuajarkan padamu!"
Pramoedya langsung terdiam dan segera menghampiri Aleesha, ia mengulurkan tangannya pada Aleesha dan menyapanya dengan senyum semanis mungkin. Sedikit kekanakan menurut pandangan Adiguna yang melihat Pramoedya dari dekat.
"Selamat pagi tante Aleesha yang cantik.... maafkan kelancanganku, tapi aku suka Nana, bolehkah Nana menjadi istriku?'
'Selamat pagi Pramoedya... kalo datang menemuiku, kau harus mengucapkan salam dulu bukan langsung makan seperti tadi... kau tahu, dulu aku yang mengajarimu makan dan tata krama..... aku merasa gagal mendidikmu dan itu bukan karena aku tidak suka tapi aku cuma kecewa padamu!"
__ADS_1
"Aku tahu tante Aleesha... tapi tante belum menjawab pertanyaanku?' Bolehkah aku meminta Nana menjadi istriku dan berhenti menjadi pegawaimu !"
"Kau sudah berbicara pada ayah dan ibumu?" Aku tak mau mencari masalah ya, Pram... kau juga harus pikirkan keselamatan Nana!" Aleesha berkata tegas dan mengingatkan Pramoedya yang suka seenaknya.
"Aku bisa menjaganya tante... aku amat mencintainya," Pramoedya berkata dengan mimik serius. " Aku akan membawa kedua orang tuaku untuk melamarnya dan kau harus memberikan restu."
"Pram... kau tahu Nana sudah punya kekasih?'
"Tak masalah dia memiliki kekasih asalkan dia menikahnya hanya denganku dan setelah itu tidak ada kekasih lainnya dihidupnya, cukup hanya aku, tante."
Pramoedya berkata santai dan ia mulai menatap pada sosok lainnya yang duduk di meja itu. Ia menunjuk Adiguna dengan lantang " Siapa kau ?" Kenapa kau ada di sini juga?"
"Dia anakku Pram..." Gaffar menengahi. "Perkenalkan Pram, dia anakku namanya Adiguna... mungkin dia sebaya denganmu... kuharap kalian bisa berteman dengannya"
'Adiguna... dia adalah Pramoedya, dia adalah anak bungsu dari Jendral Suhartono... kuharap kau bisa berteman dengannya, Di" Gafafr seolah memberikan petunjuk pada Adiguna tentang pria yang mendadak hadir di rumah itu.
Adiguna sedikit tersentak mendengar penjelasan Gaffar barusan dan akhirnya ia memandang pria yang mulai berjalan menghampirinya. Pria ini adalah orang yang menggantikan posisinya di keluarga jendral Suhartono. Adiguna sedikit bingung, apakah dia yang harusnya marah atau berterimakasih pada pria yang sedikit kekanakan ini.
'Kenapa aku baru melihatnya ?" Pramoedya langsung bangkit dan menghampiri Adiguna. "Benarkah kau adalah anak tante Aleesha?' Kenapa kau selama ini tidak pernah kutemui?" Apakah kau memang disembunyikan untuk membunuhku karena dekat dengan ayahmu !"
'Pramoedya !" Aleesha refleks berteriak dan menunjukkan ketidaksukaannya.
Adiguna sedikit terkejut , namun dia akhirnya tersenyum ramah pada Pramoedya. Saat ini perannya adalah pria yang sopan dan ia harus mengulurkan tangannya pada pria yang menurutnya sedikit aneh. Adiguna berusaha menenangkan hatinya memandang Pramoedya, hingga suara sapaan ajudan Gaffar yang membuat semuanya menoleh.
"Jendral... di depan pos , ada seseorang yang mengaku bernama Ballawa dan meminta ijin bertemu dengan jendral... katanya mendesak!"
"Suruh dia kemari, katakan... suruh semuanya kemari !" Aku ada tugas." Gaffar berkata tanpa bangkit dari kursinya.
"Ballawa, Leroy,Doddy dan Andre... antarkan kembali mas Pram, kembali ke Jakarta, pastikan dia menemui ayahnya... aku akan menyusul kalian sore ini setelah istriku menyelesaikan urusannya!"
'Siap Jendral !" Keempatnya serempak menjawab dan itu membuat mas Pram menoleh tidak suka.
'Tapi om... aku ingin sekalian membawa Nana ke Jakarta juga... bolehkan tante dan om?"
"Tidak Pram... Nana ada kerjaan bareng Adiguna, karena istriku harus menemaniku ke Jakarta !"
"Tidak bisa begitu donk om..." Bagaimana jika nanti anak om itu mengambil dan memanfaatkan waktu bersama Nana... aku tak suka ini!"
Pramoedya mendelik tidak suka dan ia kemudian melihat Ballawa yang masih berdiri tegap di posisinya. Pria itu menghampiri Ballawa dan berbisik.
"Ball... apa yang harus kulakukan... lihat anak om Gaffar itu, dia bisa merebut wanitaku !"
Ballawa tetap di posisinya dan seolah tidak mendengarkan omongan Pramoedya. Saat ini yang bisa memberikan perintah hanya Jendral Gaffar. Dia tidak bergeming hingga pria itu berteriak marah.
"Ball...
Pria itu masih diam tak bergeming.
"Ballawa... sudah kubilang selagi bersamaku, kau harus mendengarku bukan Jendral Gaffar!"
Ballawa menunggu perintah dari jendral Gaffar dan sang jendral itu bangkit dan mengajak keluarga kecilnya untuk ke lantai dua.Ketika Gaffar melewati Ballawa , ia meminta keempatnya bubar. dan menikmati sarapan pagi arena ia dan keluarganya akan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
__ADS_1
Ketika Adiguna melewati Ballawa dan teman-temannya yang masih berdiri dengan sikap sempurna. Tatapan keduanya beradu dan saling terkejut.
Ballawa merasa pernah melihat Adiguna , tapi tak mengingat dimana ia pernah menemuinya. Matanya mengikuti langkah Adiguna yang meninggalkan ruangan itu. Demikian juga Adiguna yang seolah kaget ada Ballawa di rumah jendral Gaffar. Apakah ia akan ketahuan?'
Tatapan keduanya yang saling beradu tidak lepas dari pandangan Nadia yang seolah mengetahui arti tatapan dua pria itu dengan penuh arti.
*****
Happy Reading guys.
Terimakasih telah membacanya dan bolehkah kalian tinggalkan jejak disini ? " Love you all
__ADS_1