Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
136. Hati wanita siapa yang tahu?"


__ADS_3

Jangan pernah kau ragukan kemampuanmu, Kerjakan dengan penuh keyakinan, maka kau akan berhasil!"


Terbiasa bersamamu, mungkinkan menghadirkan cinta?"


*****


Dua hari berlalu


Langkah sepatu perempuan itu  berjalan seolah ditahan  untuk mengurangi kebisingan di dalam sebuah gedung kantor percetakan milik Diamond Group di tengah malam Jakarta. Dia sedikit tergesa karena dirasa dia terlambat. Didorongnya pintu diujung ruangan.


Benar saja dia terlambat. Ruangan itu sudah dihadiri oleh Big Mama, Handoyo, Stevan, Alex,  Bambang  dan Viana. Semua sudah siap di posisi tempat duduk dan tampak memang sedang menunggunya. Hal itu membuat Nadia tidak nyaman karena pandangan semuanya itu langsung menatapnya..


Nadia tahu, Big Mama tidak suka menunggu, namun untuk membius mas Pramoedya , dia membutuhkan waktu. Sedikit rasa bersalah pada suaminya itu, karena dalam minggu ini saja dia sudah dua kali membiusnya. Namun suara Big mama menyadarkannya akan tugasnya di organisasi "Elang Hitam"


"Nad... bagaimana apakah kau tidak diketahui oleh Pramoedya?"  Big Mama langsung bertanya ketika Nadia yang paling terakhir memasuki ruangan itu.


"Beres mama... dia tidak akan terbangun sampai besok jam 7 pagi." Sahut Nadia sambil tersenyum penuh arti dan Handoyo serta Steven mengetahui apa yang dilakukan Nadia.


"Bagus... Sekarang kita sudah lengkap semua." Ujar Big Mama kembali. "Stevan ambil draf rencana yang sudah kau susun!" Kita bisa bahas rencana kita sekarang."


Stevan langsung bangkit  dari kursinya dan dia menggelar kertas besar itu di meja tengah dan semua peserta langung bangkit mengelilingi meja itu, kecuali Big Mama yang tetap duduk di kursinya.


"Rencana  akan kita jalankan dua hari lagi... dan mohon diingat langkah kita tidak ada yang boleh salah... perhatikan tugas kita masing-masing." Ujar Big Mama yang masih duduk di kursinya sementara yang lainnya akhirnya beralih pandangan dari kertas ke Big Mama."


"Mama... apakah tidak aku saja yang menjalankan sendiri...? Bukankah itu akan lebih mudah terlebih Nadia sedang hamil." Sahut Handoyo pelan.


"Tidak... kau ikuti saja apa arahan dari Stevan .... ini yang terbaik yang kita lakukan!"  Dia bisa melakukan tugasnya dengan baik, aku tahu karenaAyo Stevan...!" Seru Big Mama


Steven yang menjelaskan detail rencana itu dan semuanya hanya memperhatikan dan setelah tidak ada pertanyaan mereka membubarkan diri dari ruangan itu dan menuju ke mobil mereka serta kembali ke kehidupan mereka sambil mempersiapkan semuanya.


****


Waktu menjelang subuh ketika Nadia memasuki kamar dimana Pramoedya terbaring tanpa pakaian. Sebelum  ia pergi melucuti pakaian suaminya dan ia tahu bahwa suaminya pasti nanti  berfikir setelah bangun  bahwa mereka melakukannya kembali tadi malam dalam keadaan mabuk.


Sedikit rasa bersalah pada pria ini, setelah misi mereka sukses dilaksanakan, Handoyo memintanya untuk menceraikan Pramoedya dan tidak boleh bersama pria ini, karena Handoyo memilih untuk menyingkirkannya dengan tangannya, jika Nadia bersikeras tetap bersama Pramoedya.


Mas Pramoedya hanya melakukan satu kesalahan fatal dan nasib  dia yang tidak beruntung, yaitu anak dari orang yang harus disingkirkannya. Dan Nadia hanya ingin menyakiti pria itu , tapi kenapa ia merasa tidak tega. Pria ini selama ini menjaganya dan membantunya melewati masa kehamilannya selama hampir 5 bulan ini.


Nadia memilih mandi dan berganti pakaian. Ia membaringkan tubuhnya dan berbaring di sebelah Pramoedya. Ia pun memilih tidak menggunakan pakaiannya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.


Beberapa saat kemudian, mata Nadia terpejam dan tertidur di samping suaminya. Kehamilannya ini membuatnya merasa mudah lelah, padahal ia hanya mengemudi ke kantor itu dan mendengarkan beberapa tugas.

__ADS_1


Jam Beker di samping kepala Pramoedya berdering nyaring dan itu cukup mengagetkan keduanya dari tidur lelap mereka. Mereka tersentak bersamaan,


"Ah... aku lupa mematikan beker... ini masih jam 6... tidur lagi mas Pram...!" Seru Nadia dengan suara parau khas bangun tidur.


"Iya.... aku sepertinya masih mengantuk Nad... " tangan Pramoedya  mematikan alarm itu dan langsung memeluk Nadia di dalam selimut.


Tangan  kekar Pramoedya bergerak dan merasakan halusnya tubuh Nadia yang tidak tertutupkan kain.  Mata Pramoedya  masih terpejam tapi serasa ada yang menjalar melalui darahnya menuju ke otak dan itu membuatnya terbuka dan Pramoedya seolah tersadar.


"Nad...


"Ya... aku masih ngantuk mas Pram."


"Apakah semalam aku melakukannya lagi?"


"tentu saja... kau pikir bagaimana caranya kita sampai tidak berpakaian seperti ini!" Sekarang tidur lagi deh mas Pram..!"  Sahut Nadia ketus.


Pramoedya terdiam dan dia merasa tidak mengantuk . Ia merasakan nyamannya tangannya berada di atas perut Nadia yang tidak ditutupi pakaian. Ada anaknya di dalam perut Nadia. Hal itu yang paling membuatnya bahagia.


"Nad...


"tidurlah mas Pram..!"


"Nad... apakah semalam kita terlalu keras melakukannya hingga kau kecapean.!"


'Apakah anakku di dalam sana , baik-baik saja?" Pramoedya berkata pelan dan menatap wajah Nadia.


Selimut yang dikenakan Nadia telah terbuka karena Pramoedya duduk dan memandang Nadia yang sedang berbaring menatapnya juga


"Nadia... " Panggil Pramoedya lirih.


Saat ini Pramoedya sedang menatap tubuh Nadia yang sudah tidak berbusana dan tangannya hanya bergerak di atas perutnya. Pria itu mencium perutnya yang besar karena kehamilannya itu.  Tatapan Pramoedya semakin turun dan ia memandang inti tubuhnya yang tidak tertutup apapun.


Nafas Pramoedya makin memburu dan seolah tanpa di duga mulutnya sudah menciumi inti milik Nadia dan membuat Nadia bergerak gelisah dan panas mulai melanda dirinya.


"Sialan sekali," Nadia ingin segera menendang pria itu tapi ia ingat ini suaminya."Mas Pram... bukankan semalam kita sudah melakukannya dan aku kelelahan."


" Mas.. bukankan semalam sudah?" Nadia berusaha menolaknya dengan halus.


Tampaknya Pramoedya tidak peduli dia terus bergerak di atas Nadia dan menahan bobot tubuhnya itu agar tidak semuanya bertumpu di Nadia, dengan tangannya bergerak ke sana kemari dan membuat Nadia bingung antara mendorong dengan kasar ataukah masih pakai cara lembut.


Ia masih memiliki tugas membawa pria ini ke orang tuanya dan menembak orang tua itu di depan mata suaminya. itu adalah tugas Nadia.

__ADS_1


Pramoedya masih menjilati inti tubuh Nadia dan bergerak ke atas perutnya dan menyentuh kedua simbol kesexyan miliknya,  Nadia ingin mendorong, tapi entah mengapa ada dorongan lain dari dirinya yang merasakan sensasi berbeda dari  Pramoedya.


Sensasi dingin dari jilatan itu dan kulumannya membuat Nadia semakin resah dan ia menikmatinya hingga tanpa disadari Nadia, Tubuh  Nadia melenting dan merasakan sensasi yang diberikan oleh Pramoedya, ia merasa nikmatnya permainan suaminya itu sesaat dan membuat dia melayang.


'Akh..." Mas...." Suara Nadia seolah keluar tanpa disadarinya dan ia memang menikmati perbuatan suaminya.


Pria itu berusaha memasukan senjatanya  ke inti Nadia dan  baru akan menyentaknya seperti peristiwa beberapa tahun yang lalu.  Dan sayangnya  Nadia langsung tersadar dan ia mendorong Pramoedya  dengan segera hingga Pramoedya terlempar dan terjatuh di samping tempat tidur mereka.


"Aww....  Sakit ..Nadia...!" Kepalaku terbentur!"


'Mas Pram..." Nadia mengingat kembali kejadian itu. Dan ia tidak ingin Pramoedya menyentuhnya meski pria itu suaminya" Maafkan aku...aku tak bisa jika kita melakukannya tanpa obat, mas..!'


"Gak papa sayang... aku yang salah..  tiba-tiba saja... maafkan  aku yang sangat  menginginkanmu... maafkan aku... memang aku yang salah....kamu jangan marah ya!" Harusnya aku tak melakukannya tadi... entah mengapa aku ingin sekali melakukannya di kala kusadar...!"


Dengan cepat Pramoedya bangkit dari lantai dan memeluk Nadia kembali. "Aku yang salah, nad... kumohon jangan marah... maafkan aku ya,!


Nadia mengangguk. Iapun bingung dengan rela hati ia tadi menikmati perbuatan suaminya dan melupakan janjinya pada Handoyo. Apakah sekarang ia yang tidak setia pada handoyo.


'Nad... aku sayang sekali padamu dan anak kita!"


Nadia terdiam mendengarnya. Dia tidak memberikan ekspresi apapun pada suaminya dan ia memilih tetap di pelukan suaminya itu.


"Nad... tak masalah kau menendangku berulang kali... tapi biarkan aku mencoba melakukan dengan sadar sesekali ya.... biar aku dapat mengobati traumamu... aku mencintaimu sayang!"


Nadia masih terdiam dan membiarkan pria itu memeluknya, hingga seolah ada gerakan yang menariknya dari pelukan Pramoedya. Pria itu kini menatapnya.


"Bolehkah aku selalu mencintaimu, Nad?" Tidak apa-apa kau masih marah dan membenciku, asalkan kau tetap bersamaku... bolehkah itu?"


Nadia menatap mata Pramoedya. Tidak ada kebohongan di mata pria itu.dan itu membuat Nadia makin merasa bersalah. Tak masalah bukan jika ia memberikan pria itu haknya sekali saja sebelum mereka berpisah tapi bagaimana dengan janjinya pada mas Handoyo.


Nadia terdiam dan seolah termenung. Pramoedya menatapnya dengan sedih.


"Apakah kau akan meninggalkanku ,Nad ? Apakah kau akan pergi jika anak ini lahir?"


"Tidak mas... aku hanya berusaha melupakan trauma itu... maafkan aku ya," Bisik Nadia lembut di telinga suaminya dan  ia memberikan sedikit hadiah ciuman di pipi Pramoedya.


Hadiah itu membuat pria itu tersenyum bahagia dan melupakan kekuatirannya. "terimakasih istriku sayang!"


*****


Happy Reading Guys. Bolehkah meninggalkan jejak untukku?" Thanks a lot ya.

__ADS_1


Love you


__ADS_2