
Bahasa persahabatan itu tak tercermin dalam kata-kata, namun saling memahami penuh arti.
Sahabat sejati adalah ia yang tetap setia menemanimu disaat semua orang menjauhimu.
*****
Sesekali air laut yang asin itu terhempas ke wajah pria yang duduk di pingiran kapal. Mereka berkata dalam pelan agar tidak didengar oleh pria lain di dalam kapal.
"Sebentar lagi rombongan lumba-lumba akan datang jendral !"
" Apa rencanamu Gaffar? Aku tahu kau punya rencana khusus? Mengapa kau memaksaku ke Petra? Kita bisa memancing dimanapun?" tak perlu alasan dengan melihat lumba-lumba... kita sering melihatnya di seluruh perairan Indonesia."
"Aku ingin kau mengenalnya jendral !"
Mata Gaffar bergerak seolah menunjuk Adiguna yang duduk sendirian tidak jauh dari posisi Andre yang sedang mengemudi. Kencangnya kapal laut ini membuat suara keduanya tidak terdengar dikarenakan angin laut bertiup mengikuti irama deru kapal.
Jendral Suhartono alias sang Presiden mengikuti ekor mata Gaffar yang menunjuk pada pria yang cukup gagah dan terlihat sangat tangkas. Pria yang disebut Gaffar adalah anak angkat yang baru dibawa Aleesha beberapa bulan yang lalu.
Pria itu tampak cuek dengan lingkungannya tapi terlihat sangat cekatan dan sangat dipercaya oleh Gaffar. Namun tampaknya semua anggota pasukan pengawalnya kurang bersahabat dengannya. Apakah persaingan antar pengawalnya semakin tajam? Suhartono membiarkannya.
'Kenapa dengan anakmu itu? "
"Coba Jendral perhatikan lebih detil tentang cara dia menembak, kau akan menyadarinya ... cara dia berjalan.... cara tangan dia bergerak dari sebelum dia menembak hingga dia melepaskan tembakan... apakah anda mengenalinya?"
"Maksudmu ?'
'Anda pasti mengerti maksud saya?"
Suhartono terdiam dan mulai memperhatikan Adiguna lebih mendetal. Pria muda itu menggunakan topi dan kacamata hitam sesuai dengan apa yang digunakan anak buahnya. Samaran sebagai pengawal Presiden. Cukup pas mengingat posturnya sesuai.
Diperhatikan hidung mancung adiguna dan bibirnya yang sedikit tebal dan itu mengingatkannya akan seseorang. Hingga Gaffar menyebutkan sedikit petunjuk yang membuatnya berkerenyit.
"Dia pernah tinggal di Bengalis dan diajari langsung oleh kiyai Umar." Gaffar berkata pelan dan tatapan kedua sahabat itu bertemu.
"Berapa umurnya?" Suhartono berkata pelan dan makin memperhatikan tingkah Adiguna.
"Sebaya dengan Pramoedya.... dua puluh lima tahun."
'Kau yakin ?" Bukan jebakan ?'
"Ya.... dia tidak pernah belajar menembak di klub manapun... dan tidak mungkin kiyai umar mengajarinya... tapi dia memiliki gaya menembak anda."
Keduanya terdiam dan terus menatap kedepan dengan pikirannya masing-masing, hingga rombongan lumba-lumba melewati kapal mereka.
__ADS_1
Handoyo tersenyum ketika melihat rombongan lumba-lumba itu. Ia bangkit berdiri. Kapal itu dihentikan dan dibiarkan terombang-ambing di tengah laut dan membiarkan rombongan lumba-lumba itu bergerak dengan tarian lautnya.
Tanpa diduga Suhartono melangkah menghampiri Adiguna yang sedang terkesima dengan rombongan lumba-lumba yang seolah menari diatas air laut. Tangan kanannya menepuk pundak Adiguna hingga membuat pria itu menoleh dan memperlihatkan ekspresi keterkejutannya karena tidak disangka bahwa yang menepuknya adalah sang presiden.
"Kudengar kau ahli menembak ?" Bisa kau tembakkan untukku satu lumba-lumba yang berada di posisi terdepan?'"
Adiguna terkejut melihat siapa yang menepuk pundaknya itu. Sang Presiden mengajaknya bicara secara pribadi dan ingin melihat keahliannya. Suatu momen yang luar biasa.
'Siap Presiden."
"Tapi dengan tembakan bius ini, kuingin kau melakukannya dalam 10 menit ke depan." Suhartono tersenyum pada Adiguna dan membuat pria muda ini terkejut.
Ucapan presiden itu didengar juga oleh Andre, sehingga pria itu langsung membantu Adiguna yang memintanya bergerak lebih cepat dan mengejar lumba-lumba terdepan.
Gerakan demi gerakan Adiguna diperhatikan oleh Suhartono dengan seksama. Semakin diperhatikan gerakan itu mirip dengannya. Tidak banyak orang yang bisa meniru kebiasaannya dimulai tangannya yang memegang rambut, gerakan menarik senjata dan gaya membidiknya.
Tar...
Satu kali tembakan, lumba-lumba yang terbang di bagian depan itu terpental. Tepat dan akurat. Bidikan yang luar biasa dan gayanya memang khas . Apakah televisi pernah memutarnya gaya menembaknya? Rasanya mustahil. Dia tak pernah menunjukkannya di saluran televisi nasional.
Tidak mungkin. Apalagi jika dia lulusan pesantren di Bengalis. Rasanya ini terlalu aneh jika ada yang memang menyiapkan pria ini bisa ada di samping Gaffar dan membuatnya bisa melihatnya. Apakah Aleesha yang benar-benar mengaturnya ataukah ?"
Diperhatikan kembali hidung mancung adiguna dan bibirnya yang sedikit tebal dan itu membuat ingatannya kembali kepada masa lalu. Wajah itu mengingatkannya akan Yona. Benar dia memiliki sebagian yang ada di Yona.
-- -
"Mas... jika mbak Tiara datang dan ingin mengambilnya dariku bahkan harus membunuhku... aku ingin anakku tetap selamat dan biarkan kiyai umar menjaganya ... lakukan yang terbaik untuknya... jika untuk menyelamatkannya kau harus menyingkirkan keluargamu... maka biarkan dia hidup jauh darimu."
"Rencana konyol itu Yona!"
"Tapi jika untuk menyelamatkannya... kumohon biarkan kiyai umar yang menjaganya.... dia akan menemuimu suatu hari nanti... aku tahu... dia akan menemuimu... tapi jangan biarkan dia mati ditangan Tiara.. aku ingin dia bisa melihat dunia dengan bebas." -
"Aku bisa menjaganya dan bisa menjagamu Yona"
"Mas berjanjilah..."
--
Adiguna telah selesai merapihkan perkakas menembaknya ketika Suhartono memanggilnya. Gaffar bangkit dari kursinya dan akan membuat kopi untuk mereka.
"Dimana kamu belajar menembak ?'
"Mama Aleesha pernah mengajariku... dan saya pernah mencoba latihan menembak dengan pensiunan tentara yang tinggal dekat pesantren."
__ADS_1
"JIka melihat gayamu menembak ... kau mengingatkanku akan gaya seseorang... tanganmu sebelum menentukan sasaran dan kau selalu merapihkan rambutmu dan itu seperti seseoang yang kukenal.!"
'Dia mengikuti gaya menembak anda Presiden." Ujar Gaffar sambil meninggalkan mereka dan membuat kopi.
"Kau ingin mengganti jawabanmu Adiguna?'
"Tidak Presiden... saya memang belajar di pesantren dan sesekali mama Aleesha mengajariku ." Adiguna berusaha menegaskan kembali dan menyakinkan Presiden
"Kamu suka memancing?"
"Tidak Presiden"
'Apa yang kau sukai?"
"Menembak dan makan enak.." Adiguna berusaha menjawab pertanyaan sambil setengah bercanda.
"Aku suka melihat gayamu menembak, DI...Katakan sejujurnya darimana kau belajar menembak?" Itu bukan gaya menembak Aleesha."
"Saya banyak belajar otodidak.. dan saya tidak pernah melihat anda menembak Presiden.. jika anda tersinggung melihat cara saya menembak... saya minta maaf... itu hanya gaya refleks saya."
" Tak masalah Adi... ... hanya saja aku merasa heran... kamu mengingatkanku akan diriku ketika aku masih muda dulu... dan benar kata Gaffar tadi... kau benar memiliki gayaku ..." Suhartono tersenyum hangat pada pria muda itu.
Adiguna terkesima dan jantungnya berdebar kencang. Apakah Presiden mengetahuinya?" Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukannya
"Di.... Gaya itu memiliki kelemahan... tanganmu akan cepat lelah jika kau menembak dalam lokasi perang... hanrusnya sesekali kau gerakan tangan dan pinggangmu... jadi bisa membuat konsentrasimu tetap terjaga!" Kurangi memegang kepalamu...biarkan saja !" Aku bangga padamu... kau bisa berjuang hingga di posisi ini.!" Suhartono memegang lengan Adiguna dan menunjukkan kelemahannya.
Perbuatan Adiguna itu membuat Adiguna makin bingung dengan perasaannya. Inikah rasanya diajari oleh seorang ayah. Apakah dia sedang bersikap baik padaku. Benarkah dia tulus padaku ? Ataukah ini adalah sebuah siasat?" Tapi sepertinya ia tulus padaku. Matanya seolah memandang hingga menyentuh lubuk hatinya.
Hingga sebuah gelas kopi disodorkan Gaffar padanya. Pria itu menyuruhnya minum kopi. Tapi kenapa rasanya tidak sehangat tawaran pria penguasa negeri ini. Apakah hatinya sudah berubah?"
"Adi... nanti kamu temani saya memancing ya... saya akan menunjukkanmu bagaimana cara menangkap ikan besar dan itu menyenangkan>"
"Baik Presiden."
'Nanti bisakah kita sering melakukan aktifitas bersama?" Kita bisa latihan menembak... memancing dan berkuda.. saya akan mengajarimu naik kuda... itu olahraga yang menyenangkan!"
"Tapi..
"Saya yang akan bilang pada Aleesha... dia boleh ikut menemanimu jika kau ingin dia ikut bersama kita "
Adiguna makin bingung mendengar pernyataan sang Presiden. Namun otaknya tak sesuai dengn hatinya dan langsung dengan refleks berkata," Siap Presiden."
****
__ADS_1
Happy Reading Guys. Terimakasih telah membacanya sejauh ini. Tuhan berkati kalian selalu. Tetap sehat dan semangat dalam menjalani hari. Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya. Thanks