Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
91. Strategy Fight


__ADS_3

Menemukan dirimu  hanyalah sebuah permulaan, Belajar mengenalmu dan mengetahui apa keinginanmu adalah tantangan yang sebenarnya.


 


*****


Matahari sudah terbenam di Jakarta, Handoyo baru saja meninggalkan ruang kerjanya dan berpamitan pada Viana,sang sekretaris bahwa ia harus menemui Jendral Gaffar sesuai waktu yang diberikan oleh sang jendral. Undangan makan malam di rumah sang jendral tepat pukul 19.00.


Handoyo memilih mengemudikan sendiri kendaraannya dan menolak di antar oleh sopir.kantor.  Ini pertemuan pertamanya dengan sang jendral. Ia tidak boleh terlambat dan harus tampil sempurna sesuai pesan Ibu Aleesha. Apapun perintah dari sang jendral, ia harus mematuhinya.


Ketika ia sampai rumah kediaman sang jendral, waktu menunjukkan pukul 18.40. Ia tidak terlambat, dan datang sebelum waktunya.


Ketika Handoyo keluar dari mobil, ajudan jendral sudah menunggunya dan memintanya untuk mengikutinya ke ruang kerja pimpinannya di lantai dua rumah besar itu. Sedikit heran, mengapa jendral meminta bertemu di ruang kerjanya, apakah dia mengetahui siapa dirinya? Apakah dia harus mengakui, bahwa dirinya adalah seorang narapidana. Apakah jendral akan menyidangnya?"


Sang Ajudan Jendral Gaffar mengetuk pintu ruang kerja yang tertutup itu, hingga suara bariton dari dalam ruangan menyuruhnya masuk . Ajudan itu  membuka pintu dan meminta Handoyo memasuki ruangan, sedangkan ia menutupnya kembali dan kembali di posisinya.


"Duduklah Adiguna... kita ngobrol-ngobrol dulu sebelum makan malam kita !" Apa kau keberatan? " Suara bariton sang jendral yang terlihat  ramah menghentikan pemikiran buruk Handoyo.


"Baik Pak," Sahut Handoyo singkat dan ia langsung duduk di kursi di depan meja kerja tempat sang jendral sudah menantinya.


"Selama ini kau tinggal di mana?" Ceritakan tentang dirimu yang menurutmu aku perlu mengetahuinya?" Gaffar menatap intens pada pria yang menggunakan kemeja hitam bergaris-garis itu.


Wajah itu mengingatkan Gaffar pada seseorang, tapi dia lupa. Apakah ini ada mirip dengan keluarga Aleesha? Ataukah ini memang anak hasil perselingkuhan Aleesha?" Rasanya tidak ada kemiripan dari Aleesha. Wajah ini mengingatkannya akan seseorang, tapi dia kenapa tidak ingat sama sekali?" Ah pria ini memiliki aura yang terkesan tegas dan cerdas, seperti seseorang yang dikenalnya, tapi ia tidak ingat sama sekali.


Benarkah aku yang terlalu mencurigai Aleesha dan menuduhnya mengkhianatiku. Tapi penjelasan dan bukti-bukti yang diajukan Setiono waktu itu rasanya masuk akal dan mendukung.


Wajah Adiguna tidak sedikitpun mirip dengan Aleesha, lagipula mana mungkin Aleesha rela menitipkan darah dagingnya jauh dan tinggal di pondok, tapi benarkah untuk menyembunyikan bukti perselingkuhan Aleesha. Rasanya wajah di depannya ini adalah wajah orang yang berkarakter kuat.


"Aku dibesarkan di lingkungan pondok di Bengalis, tapi aku  lebih banyak membantu mengurus ternak dan berjualan di pasar. Kiyai Umar memintaku menjadi peternak yang sukses, hingga Ibu Aleesha meminta Nadya untuk menjemputku ke Jakarta membantunya bekerja di kantor,"  Handoyo menjelaskan sesuai dengan apa yang dipesankan oleh Aleesha beberapa waktu yang lalu.


"Kenapa Aleesha memintamu ke Jakarta?" Kau panggil apa Aleesha tadi? Ibu ?" Benarkah ?"


"Kata ibu jika di kantor memanggilnya ibu Aleesha dan jika hanya bersama beliau dan lingkungan tertentu , harus panggil ...  " Handoyo terdiam dan  seolah ragu mengatakannya. Ia melihat ekspresi pria paruh baya itu agak mengkeryit tidak suka.


"Panggil apa?"


"Mama," Handoyo berkata pelan namun ia lebih berani menatap wajah pria itu.


"Kenapa ?"


"Menurut Kiyai Umar, dia yang membiayaiku dan memberikan penghidupan pada keluargaku di kampung , Ibu Aleesha yang ingin aku  belajar di pondok agar aku bisa belajar ilmu agama dan belajar mandiri untuk mencukupi hidup keluargaku nanti,"

__ADS_1


"Hanya itu ?" Jendral Gaffar seolah tidak puas atas penjelasan yang diberikan kepadanya.


"Ya, Jendral !"


"Panggil aku , Papa saja, kalo kita berada di lingkungan tertentu !"  JIka di kantor dan di depan anak buahku, kau panggil aku, Jendral !"  Kau panggil istriku, dengan mama, maka kau panggil aku papa, terapkan di lingkungan yang sama!"


"Baik Jendral !"


"Ulangi !" Seru Jendral Gaffar sambil mengetuk mejanya dan mendekatkan wajahnya pada Handoyo.


"Baik papa!" Handoyo berkata dengan canggung dan pria itu tersenyum ramah.


"Besok pagi, kamu ikuti aku untuk tes DNA di rumah sakit Gatot Subroto, apakah kau keberatan?"


"Tidak papa.


"Adiguna, apakah istriku pernah bercerita tentang masalahku dengannya?"


"Tidak papa.


"Apakah kau sudah menikah?"


'Sudah punya pacar?"


"Sudah , tapi... terakhir kali kudengar dia menikah dengan pria lain." Handoyo berkata pelan untuk menutupi rasa gugupnya karena harus berbohong terus.


"Ha... ha.. ha... tenang saja, disini ada  banyak wanita yang bisa kau pilih untuk kau nikahi, sekarang kau cari duit dulu yang banyak, ntar juga kau dapat wanita cantik yang baik menjadi pendampingmu, apalagi di Diamond, itu banyak sekretaris mamamu yang cantik-cantik!" Kau tinggal bilang padaku, aku yang akan melamarnya untukmu!"


Handoyo hanya tersenyum hangat dan tidak berkata apapun. Sedikit ada rasa bahagia mendengar perkataan Jendral di depannya. Seolah mimpi ia mendadak memiliki keluarga yang tidak pernah didapatnya selama ini, Pria yang akan membantunya melamar wanita untuk dijadikan istri.


Benarkah perkataan pria ini/ Bagaimana jika ini adalah bagian jebakan untuk sesuatu hal yang lebih penting. Bukankah ia adalah jendral, pasti mudah  mendapatkan datanya. Tapi, rasanya ini terlalu luar biasa.


Bagaimana jika pria ini menyadari dirinya adalah  bukan Adiguna tapi adalah seorang narapidana? Atau jika pria ini menyadari bahwa dia adalah anak haram dari pimpinannya?" Handoyo masih terdiam dan bingung dengan perasaannya.


Perkataan Gaffar berikutnya menghentikan lamunan Handoyo.


"Awal pertengkaranku dengan mamamu adalah karena dirimu,.... aku ingin mengetahui kenapa aku tidak boleh melihat dan mengenalmu, apalagi dia mengangkatmu anak tanpa seijinku. Dan yang terlebih heran lagi, dia mengangkat anak dan langsung membawanya pergi ke pondok dan menitipkan ke gurunya, Hal yang sangat aneh waktu itu? kenapa jika ia ingin anak tapi dititipkan?" Apakah aku tidak boleh heran dan curiga.  Menurutmu bagaimana , Di?"  Gaffar berupaya membuka komunikasi dengan Handoyo yang sedang memerankan Adiguna di hadapan sang jendral.


Handoyo tetap terdiam.


"Dia bilang dengan menitipkanmu ke pondok, ia merasakan anak kami yang meninggal itu hidup kembali!"

__ADS_1


Ucapan itu serasa mencairkan ketegangan diantara dua pria yang terkesan kaku dan saling menjaga jarak. Seolah Gaffar sedang mencurahkan perasaan pada anak lelakinya.


"maafkan saya, papa... saya tidak mengetahui itu semua dan membuat keluarga papa dan mama ribut, tapi yang saya tahu, mama itu orang baik dan membantu banyak orang yang seperti di pesantren... beliau yang membiarkan kami bisa sekolah dan belajar menghidupi diri kami,"


Gaffar menghela nafasnya perlahan. Seolah ada beban berat di pundaknya yang tidak bisa dikatakannya dengan sembarangan. Suasana mendadak hening. Hingga Gaffar kembali bersuara.


"Tahukah kau Di!"    Aleesha yang penurut jadi pemberontak dan berani menantangku.... untuk membela dan menjagamu, dia bilang aku takkan pernah menemukanmu!"  Dia bilang , aku jahat dan pengecut!" Hal itu membuatku membencimu dan nyaris mencari untuk membunuhmu!"


Handoyo terdiam. Apakah itu sebabnya keluarga Setiono membunuh Lidya dan keluarganya dulu, tapi bukankah itu karena Andi, anaknya Jendral Setiono?" Benarkah semuanya itu, atau ini hanya sebuah kebetulan. Rasanya tidak ada yang kebetulan di dunia ini.


"Di... sesungguhnya perkataan Aleesha pada saat itu yang membuatku terkejut dan jadi aku tak terkendali, bisakah kau membantuku untuk  mendamaikan dengan mamamu itu?" Dulu dia tidak seperti itu, apa aku terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan perubahannya, atau dia terlalu ingin anak dan aku mengabaikannya.... Di,..!"


"Saya akan berusaha papa, semoga kalian bisa harmonis kembali ,"


"Terimakasih sebelumnya, bisakah kita belajar saling mengenal? mungkin dengan beberapa  kali kita dapat makan bersama?"  Sebenarnya dulu aku hampir menemukan dirimu , tapi Aleesha mengancamku dengan membunuh dirinya, sekarang ijinkan aku mengenalmu dengan baik dan itu  hanyalah sebuah permulaan, Belajar mengenalmu dan mengetahui apa keinginanmu yang sesungguhnya itu lebih penting. .....Benarkah kamu dapat membahagiakan pernikahan kami?" tapi kulihat Aleesha begitu menyayangimu."


"Mama memang orang baik."


"Kita makan yuk, sudah hampir setengah delapan, emh apakah kamu suka makan ikan ?" Aku suka sekali makan ikan goreng, aku sudah pesan beberapa lauk untuk kita makan malam ini... temani aku makan sampai puas dan sekali-kali kamu menginap disini,"


"Baik papa,"


 


 


*****


 


 


Happy Reading Guys, Terimakasih telah membacanya, dan bolehkah tinggalkan  jejak kalian disini? Thanks a lot , guys. Love you.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2