
Tolong ajari aku untuk merelakan tanpa harus membencimu!"
*****
Ketika keluar dari kamar mandi, Jessy memastikan kembali pintu dan jendela-jendela sudah terkunci rapat. Ia memasuki kamarnya yang berada di bagian samping salon. Betapa terkejutnya Jessy ketika ia melihat di atas tempat tidurnya ada setangkai mawar dan sebuah kado . Segera diambilnya mawar merah itu dan ada sebuah tulisan kecil ditangkainya.
"Selamat ulang tahun Jessy, Maafkan aku - - Al.
Apakah Al tadi kemari? Bagaimana ia dapat meletakkan bunga dan kado ini disini? Kenapa dia tidak menemuiku? Aku tidak butuh hadiah apapun darinya...... Aku ingin melihatnya, Atau dia ingin menyakitiku lagi? Belum cukupkah rasanya menyakiti aku.... Jessy pun menangis pilu di kamarnya.
" Al.... kamu jahat sekali!" Kamu gak pernah sayang aku... aku membencimu selalu dan selamanya... kamu jahat Al.. kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu, Al... kenapa kamu gak mau menemuiku , Al?" Teriak Jessy sambil menangis makin kencang di kamarnya.
"Al... emang tidak sebegitu berharganya aku dimatamu... aku cuma perempuan murahan pasti dimatamu... kamu memilih meninggalkanku.... aku membencimu Al " Jessy berteriak kembali sambil melempar kado itu ke tembok namun tangannya tetap memegang mawar merah itu. Ia masih menangis tersedu di kamarnya.
Di luar rumah, dibalik jendela kamar Jessy, Seorang pria menyandarkan tubuhnya dan terus mendengarkan teriakan Jessy dan telah memperkirakan kado darinya pasti di lempar. Ia pun ikut menangis tanpa suara di samping jendela kamar Jessy.
"Maafkan aku, Jessy... Maafkan aku ... aku selalu menyayangi kamu," bisik pria itu pelan. "Tidurlah... aku menunggumu disini.... tolong berhentilah menangis , sayang!" Ujar pria itu masih menatap jendela yang tertutup itu.
Jessy masih terus menangis di dalam kamar tanpa mengetahui bahwa di luar jendela kamarnya ada pria yang ditangisinya dan mendengarkan semua tangis dan seruannya yang memilukan.
Ini tahun kedua dari perpisahan mereka dan setiap tahun pria itu selalu berdiri sepanjang malam di samping kamar Jessy. Pria yang disapa Al itu ingin mengetuk jendela dan memeluk wanita yang sedang menangis pilu di dalam kamar. Wanita yang sangat dicintainya masih terus menangis di dalam kamar.
"Al... mungkin kalo aku mati, pasti kamu puas kan?" Aku tidak sanggup jika seperti ini, Al.... aku ingin melepaskanmu dengan rela hati... tapi aku tak bisa, Al.... aku mati aja yah, biar aku bisa melupakanmu " Jessy berkata sambil menatap bunga merah itu
Pria di samping jendela itu mendengarkan semua ucapan Jessy dan hatinya merasa perih mendengat perkataan Jessy yang masih menangisinya di dalam kamar. Ingin berteriak pada wanita yang dikasihinya, bahwa rasa yang sama masih miliknya. Al mendengar pintu kamar itu dibuka, Jessy melangkah keluar kamarnya .
Al masih menunggu dalam diam di luar jendela kamar itu. Ia terus menunggu Jessy memasuki kamarnya hingga beberapa waktu dan tidak berasa hampir satu jam ia masih menunggu di luar kamar. Apakah Jessy menonton televisi yang di ruangan salon.
Al melangkah meninggalkan samping jendela untuk melihat ke bagian depan salon yang memang tertutup kaca hitam. Hanya lampu dekat ruang kaca tempat Jessy melayani pelanggannya untuk gunting rambut yang menyala.
Al begitu hapal ruang-ruang di kamar itu. Cukup lama mereka menjalin kasih sampai ia meninggalkan Jessy di tengah pesta pernikahannya.
__ADS_1
Dari balik gelapnya kaca di teras salon, Al melihat sebuah tubuh tergeletak di ruangan salon itu . Ia terkejut dan berteriak sedikit histeris. Tidak .. itu pasti Jessy. Apa yang dilakukannya itu? Pikiran Al menjadi kalut.
"Jessy... Jessy.... Jessy ..... " Teriak Al sambil menggedor-gedor jendela itu dengan kencang. "Jessy.... ini aku... Jess... jessy bukain pintu
Tidak ada jawaban ataupun pergerakan dari tubuh yang tergeletak itu. Al nekat, ia memecahkan kaca pintu depan salon itu dengan tendangan kakinya. Beruntung ia menggunakan sepatu boots karena sepulang bekerja dari dinas luarnya. dengan dua kali tendangan, kaca itu terhempas dan ia segera berlari menghampiri Jessy yang tergeletak di lantai di ruangan salon.
Perut dan tangan wanita itu mengeluarkan darah segar dan terus menetes ke lantai di sekitarnya. Al terkejut melihat tindakan wanita yang sangat disayanginya dan sudah bertindak di luar nalarnya. Ia begitu cemas dan segera mengambil kain putih yang terlipat di atas meja. Kain itu merupakan jubah yang biasanya digunakan ketika ada pelanggan yang akan gunting rambut sehingga tidak mengotori pakaian. kain putih itu digunakan untuk menutup luka di perut dan tangan Jessy yang terus mengeluarkan darah.
"Sadarlah Jess... aku akan membawamu ke rumah sakit... aku tidak akan membiarkanmu mati... maafkan aku sayang... aku yang salah... bangunlah sayang... maafkan aku!' Al terus bergumam sambil mengikat luka Jessy.
"Jessy... sayangku... maafkan aku, bangunlah sayang... kita ke dokter yuk?'
Wanita itu seakan masih mampu mendengar suara Al yang ada di sampingnya. " Al... kamu akhirnya datang.... Al... pasti aku sudah mati jika bisa melihatmu.... " racau Jessy pelan dan membuka matanya perlahan , ia tersenyum memandang Al dan kemudian kepalanya terasa pusing dan matanya terpejam.
"Jessy " Teriak Al dengan ketakutan.
"Jessy... kamu akan hidup sayang... aku akan menjagamu... bangun Jessy... ini Al, " Teriak Al sambil menangis sesegukan dan wanita itu masih terdiam karena memang sudah tidak sadarkan diri akibat banyak darah segar yang keluar dari tubuh dan tangan kirinya.
Al segera mengangkat tubuh Jessy dan memasukkannya ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari Salon Jessy. Ia segera menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju RS Kota Cilegon.Tidak pernah ia setakut ini melihat darah. Tetapi melihat tindakan Jessy, ia merasa sangat berdosa menyakiti perempuan itu begitu banyak.
Begitu tiba di rumah sakit, Al langsung memasukkan mobilnya ke arah IGD dimana pasti ada dokter standbye menunggu pasien dan langsung memberikan tindakan. Dipencetnya klakson berulang kali sehingga beberapa petugas jaga di IGD keluar.
Tubuh Jessy diangkat oleh Al dari mobilnya, dan petugas rawat langsung berlarian mendorong dramkar rumah sakit untuk membaringkan Jessy dan dimasukan ke dalam ruang tindakan darurat. Al hanya menyaksikan dalam diam dan terduduk lesu dengan menangisi kebodohannya yang mengakibatkan Jessy terluka.
"Maafkan aku Jessy... aku yang salah... aku tidak akan membiarkanmu mati, sayang!" Bisik Al dalam hatinya.
*****
Tujuh jam berlalu dan Jessy sudah dipindahkan di ruang perawatan. Al terus duduk disampingnya sambil memegang jemari Jessy. Wanita itu akhirnya membuka matanya dan terkejut melihat pria yang ditangisinya ada di sampingnya. Pria itu tersenyum menatapnya. Jessy membuang mukanya. Ia tidak boleh jatuh kembali pada kesalahan yang sama.
"Dimana aku," Jessy terkejut mendapati dirinya berada di ruangan berbeda. Ini aroma rumah sakit. Aroma disifektan yang menyengat. Tapi kenapa hanya Al yang ada disini.
"Akhirnya kamu siuman sayang... mana yang sakit lagi? " Biar aku panggilkan dokter.
__ADS_1
" Pergilah Al... aku tidak ingin melihatmu... tolong pergilah!" Jenn... Jenny... saja yang menemaniku sampai mati... pergilah," Jessy berkata sambil menangis sedih.
Al memeluk Jessy yang sedang terbaring. "Maafkan aku,Jess... aku yang salah... jangan siksa dirimu lagi... hiduplah yang baik dan bahagia... aku yang salah... maafkan aku ya!" Bujuk Al sambil terus memeluk wanita yang masih menangis.
Jessy masih terus menangis dan tidak berkata apapun. Ia ingin bertanya pada Al tapi lupa yang harus ditanyakan pada pria yang sedang menangis bersamanya.
"Aku yang salah Jessy... aku bukannya tidak pernah mencintaimu... aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri... tapi aku harus menjauh darimu untuk melindungimu... maafkan aku... bisakah kamu lupakan kebersamaan kita?" Al berkata di tengah isaknya. "Jangan sakiti dirimu lagi,... carilah pria lain yang bisa membahagiakanmu, " Ujarnya pelan.
"Pergilah Al... pergilah pada istrimu yang kamu sayangi itu... aku bukan siapa-siapamu," Jessy berkata pelan sambil berusaha menghentikan tangisnya dan ia mendorong tubuh Al yang terus memeluknya.
Al akhirnya melepaskan pelukan pada Jessy dan ia memandang Jessy yang sedang tidak ingin memandangnya. Ia harus menjelaskannya pada wanita ini bahwa apa yang dipikirannya salah. Ia tidak bermaksud mempermainkan hati Jessy.
"Jess... dengarkan aku sekali ini saja, setelah ini aku akan pergi dan tak kan pernah melihatmu lagi .. aku tidak akan pernah ada di samping jendelamu lagi di setiap hari ulang tahunmu.." Al berkata pelan dan membuat Jessy menengok karena ia baru mengetahui Al berada di samping jendela kamarnya setiap ulang tahunnya.
Jessy terdiam dan menatap pria yang duduk di ranjang pasien menemaninya. Al menatap Jessy dan mengelus rambut Jessy . dan merapihkan rambut bagian poninya yang menutupi mata Jessy "Aku diangkat anak oleh kepala Suku Dayak Kayan dan dijodohkan dengan putrinya sejak kecil... awalnya aku tidak memahami perjodohan itu karena bagiku yang penting aku bisa bersekolah dan berprestasi di kepolisian hingga aku diangkat menjadi perwira di kesatuan dan akan ditugaskan di Jakarta. Sebelum aku berangkat tiga tahun yang lalu , kami memang dinikahkan secara adat untuk mengikat janji suci kami dan aku mengikuti semua aturan itu... aku tidak pernah menganggapnya sebagai istri karena ia seperti adik perempuanku yang kecil .... hingga akhirnya tugasku di Cilegon selama setahun membuat aku mengenalmu dan jatuh cinta antara pria dan wanita... aku tidak pernah bermain-main denganmu... sungguh Jess, aku benar- benar menginginimu sebagai istriku dan memang selama kita berpacaran, aku tidak ingat bahwa aku sudah dinikahkan di kampung... jadi ketika pesta pernikahan kita, aku terpaksa meninggalkanmu agar kamu dan keluargamu selamat dari ancaman ayah mertuaku... maafkan aku... maafkan aku yang tidak bisa melindungimu!' Al berkata sambil menciumi punggung tangan Jessy.
"Maafkan aku... aku yang salah padamu... jangan sakiti dirimu lagi... aku harus pergi demi kebaikanmu... cuma ada kamu di hatiku " Al berkata pelan dan melepaskan tangan kekasihnya lalu pergi tanpa menengok kembali pada Jessy yang terbaring.
"Al.... al .... Al........ " Jessy menangis kembali di ranjang itu dan Al kembali mengabaikannya. Pria itu melangkahkan kaki keluar ruangan perawatan . Baru beberapa langkah Al berbalik kembali . Hatinya sakit sekali mendengar tangis Jessy dan akhirnya ia berlari menuju Jessy yang masih menangis di ranjang. Al menghambur dan memeluk Jessy kembali.
"Maafkan aku ,jessy... aku selalu sayang kamu... Selamat ulang tahun, Sayang...!" Al memeluk Jessy dan mencium keningnya perlahan. "Maafkan aku yang tak bisa menjagamu,Jessy!"
"Aku tahu Al... Tolong ajari aku untuk merelakanmu bersamanya tanpa harus membencimu!" isak Jessy pelan. Al mendengarnya dengan hati yang perih.
*****
Happy Reading Guys.... Bolehkah tinggalkan jejaknya disini? Aku sayang kalian semua. Thanks ya!'
__ADS_1