
Dalam setiap masalah, aku yakin kamu pasti mampu melaluinya. Jadi bertahanlah !" Aku percaya padamu, kamu bisa menghadapinya. Aku akan mendukungmu selalu!"
*****
Setelah mengikuti serangkaian tes kesehatan, Adiguna alias Handoyo keluar dari ruangan pemeriksaan. Ia diminta menunggu kurang lebih 2 jam di area rumah sakit karena akan ada pertemuan dengan dokter Ervan yang akan menyampaikan hasil pemeriksaan dan itu harus dilakukan di depan Jendral Gaffar di ruang Bimasakti yang memang berada di rumah sakit itu.
Berbagai catatan yang tadi diberikan Viana, sudah dibawanya. Ia harus mempelajari berbagai berkas itu sebelum rapat sore nanti. Hal ini yang tidak disukainya. Handoyo begitu merindukan kegiatan masa lalunya yang tidak diatur oleh waktu namun tidak dapat berkelit lagi karena perjanjiannya dengan Big Mama sebelum ia disidang.
Handoyo duduk di salah satu sofa di dekat ruangan Bimasakti. Tidak banyak orang yang lalu lalang disini. Dibukanya berkas yang dibawanya satu persatu itu karena memang situasinya memungkinkan. Hingga sebuah suara yang begitu akrab muncul dan mengalihkan perhatiannya.
"Suster, tolonglah... saya tak punya waktu ini, karena memang dokter Ervan harus menjadi saksi di persidangan jam dua ini dan dia belum menjawab permohonan saya dari dua minggu yang lalu,"
"Tapi pak, hari ini jadwal dokter Ervan sangat padat!"
"Kalau padat, ngapain juga dia telpon ke kantorku dan memintaku menemuinya disini!" Coba kau tanyakan dulu deh, bilang Warmen menunggunya!"
"Tapi memang dokter Ervan sedang ada tindakan, jadi memang belum bisa di temui dulu ya, pak!" Suster masih berusaha menahan pria berjas hitam itu dan memaksa untuk menemui dokter Ervan.
"Saya harus menemui dokter Ervan sekarang, suster!" Beliau yang meminta saya datang dan saya hanya bisa sekarang karena jam 2 nanti saya harus ada sidang,"
"Tapi mohon maaf pak, Dokter Ervan mendadak ada pasien yang harus ditangani dan baru selesai 30 menit lagi... mohon bersabar ya!" Bagaimana jika bapak menunggu di ruang kerjanya? Sahut suster itu berusaha menenangkan pria yang terkesan sedikit memaksa karena nadanya agak lantang.
Warmen Amsterdam Sitompul agak kecewa mendengar suster itu tetap memintanya menunggu. Ketika ia bersikeras akan memasuki ruangan tempat dokter Ervan melakukan tindakan, seseorang menepuk pundaknya . Begitu menoleh, ia langsung terkejut dan tak percaya.
"Pak Warmen, bisa bicara sebentar," Handoyo menepuk pundak Warmen dan sekaligus mengedipkan matanya sebagai kode agar tidak membuat pria itu salah bicara.
"Ha... " Warmen terkejut dan tak mampu berkata-kata.
Warmen hanya ternganga melihatnya dan hampir berteriak ketika melihat Handoyo ada di tempat itu bersamanya.
Ia kemudian hanya mengangguk dan melihat kode yang disampaikan oleh Handoyo. Dan menyambut uluran tangan Handoyo ketika ia mengulurkan tangannya dan membuat Warmen makin bingung.
"Pak Warmen, saya Adiguna.... bisa kita ngobrol disana!" Handoyo berkata sambil menunjuk sofa tempatnya duduk tadi.
Warmen hanya mengangguk dan mengikuti langkah Adiguna yang menurutnya begitu mirip dengan Handoyo. Warna kulit Handoyo memang lebih gelap, dan pria ini terkesan lebih putih bersih,sopan, rapih, maskulin dan harum. Hanya postur, suara dan tingkah lakunya yang mirip dengan sahabatnya.
Apakah dia adik dari Handoyo?" Akh kurasa bukan, tapi kenapa dia memberikan kode mata seperti yang Handoyo lakukan jika membutuhkan bantuanku. Siapa tadi namanya? Adiguna... bah siapa pula Adiguna ini. Tapi kenapa aku merasa ini adalah dia. Tapi bukankah Handoyo ada di Nusa kambangan. Siapa sesungguhnya pria ini.
"Pak Warmen, ijinkan kita ngobrol sambil minum kopi ya!" Saya juga sedang memesan kopi dari kafetaria itu, sebentar saya akan minta dua cangkir untuk kita nikmati sambil menanti Dokter Ervan selesai tindakan," Adiguna berusaha tenang dan ada sedikit rasa senang di hatinya karena bertemu dengan teman lamanya.
Handoyo melangkah kembali menuju kafetaria dan menambah pesanan kopi dan beberapa potong sandwich untuk menemani ngobrolnya. Mungkinkah ini jawaban Tuhan agar dia memiliki teman bicara yang dapat dipercayanya. Sesungguhnya ia tidak tahu lagi harus berbicara dengan siapa, karena tidak ada orang yang bisa dibaginya kegundahan hatinya .
Ketika Handoyo menghampiri sofa tempat Warmen duduk, ia sudah membawa nampan berisi pesanannya. Ia tersenyum ketika melihat Warmen terlihat tidak sabar menunggunya.
"Minumlah War... tenangkan hatimu dan memang benar apa yang ada di hatimu, mari kita ngopi sambil bicara serius, tapi Jangan sebut nama lainnya selain Adiguna!" Ucapan itu membuat Warmen makin memperhatikan pria yang sedang menyorongkan kopi padanya.
Akhirnya Warmen mengerti dan menyadari, pria itu memang sahabatnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar... kau benar... !" Brengsek kau !" Hampir membuatku jantungan saja kau!" Warmen akhirnya memukul pundak Handoyo sambil bangkit berdiri dan duduk lebih dekat di samping Handoyo.
Handoyo tertawa bahagia melihat ekspresi Warmen yang memang tidak bisa disembunyikan.
"Kau nyaris menipuku, kau hebat, han... maksudku Adiguna... bah ... siapa juga yang kasih nama kau seperti itu?"
"Ada yang harus kubicarakan dengan serius, tapi sebelumnya bagaimana kabar istrimu?' Handoyo bertanya sambil memperhatikan lingkungan sekitar dan memang sepi di tempat pilihannya yang memang tidak banyak orang berlalu lalang dan agak tertutup oleh beberapa pot bunga berdaun lebar.
"Dia sudah baiklah... Warmen... emang kau? " Masih setia sama satu orang yang sudah bahagia di surga... sudahlah relakan dia dan ganti dengan yang baru... banyak yang mau pada kau, apalagi dengan penampilan kau yang sekarang!"
Warmen berkata sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala melihat penampilan sahabatnya yang luar biasa berbeda.
"Dede Muhandar sudah tau kau di luar?" Warmen menanyakan rekan pengacaranya yang memang membela kasus Handoyo. "Apakah ini sesuai dengan ekspetasimu dan kulihat kau begitu menikmati keadaanmu yang sekarang!"
"Ya begitulah kelihatannya... tapi sayangnya tidak seratus persen benar!" Timpal Handoyo pelan.
"Kau Sakit Han?"
"Tidak...aku disini dalam rangka menentukan masa laluku dan mungkin aku akan tahu keluargaku<'
"Syukurlah!" Aku senang melihatmu, tapi kau harus hati-hati disitu , jangan sampe salah bicara atau salah pilih teman yang kau percaya ... nyawamu taruhannya!"
"Aku tahu... aku tidak masalah kehilangan nyawaku, tapi ada hal penting lainnya yang harus ku lakukan... dan aku tidak bisa sembarang orang dalam membantuku... aku ingin kau membantuku lagi War!"
"Asal aku bermain di jalur yang aman... dan memang berkaitan dengan tugasku, akan kulakukan, kau mau aku membantuku dalam hal apa?"
"Jika aku gagal dalam misiku, kau harus jadi pengacaraku lagi dan katakan pada dunia siapa aku!"
"Bukan dengan organisasi, ini tentang keluargaku itu!" Adiguna berkata serius namun memelankan suaranya. " Aku akan menyerang keluargaku itu, War!"
"Maksudmu?"
"Aku tahu keluargaku... tapi ini aku sedang menuju ke sana untuk membuktikannya!" Setelah itu aku akan membalaskan perbuatan mereka pada ibuku!"
"Kau mau menuntut keluargamu karena menelantarkanmu di masa lalu dan memenjarakan pembunuh ibumu?" Warmen berusaha menebak pemikiran sang Sahabat.
Handoyo menggeleng . " Bukan ... aku mau kau menjaga beberapa bukti foto dan berkas tentang keluargaku, jika aku mati tolong ekspos semuanya di media terbesar di negara ini, bisakah kau membantuku?" Aku akan membayarmu untuk itu, tapi lakukan itu jika aku mati!"
"Jangan bicara tentang uang denganku, kau lupa bagaimana hubungan persahabatan kita.... Maksudmu kau sedang ada missi bunuh diri?" Warmen makin penasaran. ""Katakan selengkapnya , Han.... biar aku bisa berfikir dan menentukan langkah seperti membuatkanmu surat wasiat atau amanat dan permohonanmu... tapi apakah ini sepadan Han?"
"War... dengarkan aku dan jangan potong ucapanku ya, diam saja!" Cukup dengarkan saja!"
"Hemm...
"Aku sudah mengetahui silsilah keluargaku dan mengetahui sebuah kebenaran yang mengejutkan, ... aku juga tak tahu bagaimana nanti membuktikannya, tapi aku saat ini sedang menjadi anak angkat dari pimpinan organisasi elang hitam dan rupanya pemimpinnya itu yang mengetahui aku adalah anak dari ... wanita dari simpanan seorang jendral di negara ini. Kau takkan percaya padaku... tapi bukti-buktinya lengkap dan menunjukkan ke arah sana!" Nanti aku akan mengirimkan ke kantormu, tapi bukan aku sendiri yang datang... kuharap kau yang menyimpannya untukku!"
Handoyo terdiam sesaat dan menatap sang sahabat yang masih bingung atas penjelasannya. Namun Warmen masih terdiam sesuai instruksinya.
__ADS_1
"Ibuku sudah meninggal sebulan setelah aku dilahirkan. . dia ditembak oleh istri sah ayahku, dan untuk menyelamatkanku, kakekku mengirimkanku ke panti asuhan tanpa pernah menengokku, War... aku sudah tau semuanya, ... rupanya keberadaanku itu memang sengaja seolah terbuang untuk keselamatanku... aku sudah temukan benang merahnya!"
"Kau yakin ? Kau sudah menyeledikinya?" Warmen akhirnya menimpali karena ia mulai tertarik.
"Ya.
"Jadi siapa keluargamu itu terutama ayahmu itu... bagaimana kau mau aku menuntutmu... !"
"kau takkan berani menuntutnya... cukup buka semua bukti ke media, biar semua masyarakat tahu betapa bejatnya dia.... kau jaga dulu semuanya, dan rilis ketika aku mati!"
"Kau yakin dengan perbuatanmu ini?"
"Ya.. " Handoyo berkata sambil menganggukan kepalanya.
"Siapa ayahmu yang jendral itu?" Ujar Warmen sambil menenggak kopinya yang mulai mendingin.
"Jendral Suhartono." bisik Handoyo pelan.
Warmen tersedak dan menumpahkan kopinya" Kau gila !"
"Sudah kuduga... tapi hanya kau yang bisa kupercaya Warmen!" Kau pelajari bukti-buktinya dulu, aku tidak sedang berbohong padamu !"
Warmen menatap mata Handoyo dan dilihatnya tidak ada kebohongan disana. Ini suatu pertaruhan hidup dan mati jika sahabatnya membohonginya.
"Kau tak bisa War?" Handoyo menatap sang sahabat dengan sedikit kecewa. "Tak apa jika kau tak bisa ataupun tak berani, aku cuma bahagia bertemu dengan teman yang kupercaya!"
"Bukan begitu... kau benar-benar mengejutkanku... aku pasti membantumu!" Warmen berkata penuh keyakinan.
'Terimakasih War...
'Tentu Han... Jangan mati dan carilah cara agar kau tetap hidup!"
"Tentu," Aku sekarang sudah agak berbeda, kurasa hidup adalah sebuah tantangan dan kurasa aku sudah menemukan seorang wanita lain... tapi memang tidak secantik Lidya , tapi dia baik !" Aku akan mengenalkan padamu nanti jika aku berhasil menikahinya!"
"Ini baru berita baik... aku benar-benar bahagia untuk kehidupanmu yang sekarang!" Warmen berkata tulus sambil tersenyum hangat.
Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat suster yang tadi memanggil Warmen dengan agak keras untuk segera menemui Dokter Ervan. Ketika Warmen bangkit dari tempat duduknya Warmen berkata pelan namun masih di dengar pria itu.
"Dalam setiap masalah, aku yakin kamu pasti mampu melaluinya, Han... Jadi bertahanlah !" Aku percaya padamu, kamu bisa menghadapinya. Aku akan mendukungmu selalu!"
"Terimakasih War!"
"Sama-sama Adiguna!"
*****
Happy Reading!!
__ADS_1
Terimakasih sudah membacanya dan support aku selalu.
Tetap jaga kesehatan ya temans, bolehkah tinggalkan jejak kalian disini?" Love you and Thanks for your support!"