
Jika seorang wanita telah memilihmu, berarti dia telah meletakkan kepercayaan akan kepemimpinanmu.
*****
Jendral Gaffar membuka seragamnya dan melemparkan seragam itu ke ajudannya. Dia hanya menggunakan kaos putih dan mengambil kemeja lengan pendek. Gaffar memilih memasuki mobil Adiguna setelah meminta pria yang baru menjadi anak angkatnya beberapa hari.
"Jalan !" Suara Gaffar ketika duduk di samping Adiguna.
Mobil Adiguna melaju meninggalkan rumah sakit Gatot Subroto. Sesungguhnya Adiguna/Handoyo bingung mau kemana, makanya ia memilih mengarahkan ke kediaman Jendral Gaffar. Namun pria itu akhirnya bersuara dan memberikan arah tujuan kemana mereka harus melaju.
"Kau sanggup malam ini mengemudi sampai Semarang. Di?" Gaffar bertanya sambil menyenderkan kepalanya ke kursinya yang sudah dibuat setengah tidur.
"Sanggup pa, saya sanggup mengemudi seharian karena saya pernah menyetir dari Palembang sampai Jakarta, tapi saya belum tahu jalan menuju ke sana !" Saya belum pernah ke Semarang, jadi bagaimana pa?"
Adiguna sengaja menunjukkan kepada Gaffar bahwa dia adalah pria yang kurang berpengalaman dan hanya mengetahui daerah Palembang saja, ia harus menarik kepercayaan Gaffar agar mau membawanya ke pimpinannya dan mewujudkan harapannya secepatnya.
"Jangan kuatir, aku pernah bertugas disana selama beberapa tahun, jadi aku hapal meski aku menutup mata... sekarang jalan saja terus menuju tol cikampek ya!"
"Baik papa. ... emh apakah kita perlu menghubungi mama Aleesha dulu , pa mengenai kedatangan kita ke sana? Saya takut beliau ada kerjaan ke luar kota?"
"Gak papa... tadi padi ajudanku sudah melaporkan kegiatan dia hari ini... kurasa dia tetap di rumahku !"
"Oh... syukurlah !" Adiguna tersenyum dan terus fokus mengemudi.
Sedikit bahagia muncul di hatinya, kunjungan mendadak ke Semarang akibat informasi yang baru diterima oleh Jendral Gaggar ini adalah suatu keberuntungan bahwa ia dapat memungkinkan untuk bertemu dengan Nadia. Adiguna begitu bersemangat mendampingi Jendral Gaffar dalam perjalanannya ke Semarang sehingga ia hampir terlupa bahwa ia harus sering menanyakan arah.
"Kau harus mengemudi melewati jalur utara ya, setelah sampai Cirebon, kita bisa bergantian mengemudi , jika kau lelah, Di!"
"Gak papa kok, aku tidak mengantuk,... istirahatlah dulu papa, jika nanti saya bingung menentukan arah, saya akan membangunkan papa,"
"Sebenarnya aku tidak lelah, aku cuma kesal saja pada diriku... kenapa Aleesha rela membohongiku bertahun-tahun, harusnya aku tahu, aku begitu marah dan tidak mau mendengar sedikitpun penjelasannya, harusnya aku dapat mendengar... aku pria yang egois ya Di?'
Gaffar membuka percakapannya itu dan Adiguna hanya berdiam diri untuk mendengarkannya. Ia harus memainkan peran sebagai teman ataupun anak yang akan dipercaya oleh ayahnya. Adiguna masih terus terdiam dan tidak berkomentar apapun itu hingga Gaffar kembali bersuara.
"Harusnya aku lebih mengenalnya... aku bodoh telah mencurigainya selama bertahun-tahun, ....Aleesha tidak mungkin mengkhianati pernikahanku jika tidak karena untuk Yona. Dia sangat menyayangi ibumu, Di ... terlepas bagaimana hubunganku dengan ayahmu... sebenarnya ayahmu itu adalah pria yang baik dan bertanggungjawab, ... hanya saja dia jatuh cinta pada wanita lain ketika ia sudah memiliki wanita yang memberinya 4 anak. Kamu memang berbeda dengan anak-anaknya yang lain...tapi kamu mewarisi sebagian sifatnya yang tenang, cerdas dan penuh rahasia."
Adiguna terus fokus pada setirnya dan ia hanya melrik dalam diam ketika melihat Gaffar terus menatap ke depan tanpa suara.
__ADS_1
"Sepertinya kedatanganmu itu memang membawa kebaikan untuk hubunganku dengan Aleesha... aku harus bertanya pada Aleesha, apa rencananya untuknya, dia tak mungkin menyuruhmu menemuiku dan menyetujui tes DNA dengan tiba-tiba. Tapi apa kau tahu semua rahasia ini, Di?'
"Tidak papa... Mama Aleesha hanya berpesan, ikuti apa yang dikatakan papa, dan jangan sekali-kali kamu melawannya... dia pria yang baik hanya agak emosional,... maaf... aku hanya mengikuti perkataan mama Aleesha," Adiguna melirik kembali pria itu yang sedang tersenyum padanya.
'Di... kamu suka memancing ?" Memancing di laut, maksudku ?"
"Suka papa... terkadang dulu aku memancing dan hasil ikannya kujual dipasar... terkadang aku bisa hampir setiap hari ke laut untuk mencari tambahan uang, papa !"
"Kau persis ayahmu, Di!" Dia juga suka mengajakku memancing...nanti aku akan mengajaknya memancing dengan membawamu... kau bisa lihat dan mengobrol dengannya!"
"Benarkah ?" Adiguna terkejut mendengar jawaban Gaffar.
"Ya... dia pasti menyukaimu... tapi aku harus memikirkan bagaimana jika ia tidak diikuti oleh istrinya... tunggulah waktu yang tepat !" Jendral Gaffar menepuk pundak Adiguna beberapa kali. "Ayahmu suka memancing sebagai hobi dan ia cukup sering mengajakku....terkadang ia memancing dan hasilnya langsung dibagikan kepada para ajudannya... dia cukup bahagia dengan hal itu....!"
Adiguna tertawa canggung melihat Gaffar menceritakannya dengan bersemangat. Hal yang baru baginya karena selama ini ia tidak memiliki keluarga. Benar seperti Aleesha katakan, bahwa Gaffar adalah pria yang baik dan menyenangkan.
"Papa... tapi aku harus ijin dulu dengan mama Aleesha jika kau mengajakku menemuinya!"
"Tentu... aku akan membicarakannya dengan mamamu termasuk rencana ke depannya seperti apa, aku ingin terlibat dengan apapun yang dilakukannya."
"Di...
"Tidak papa... saya juga baru mengetahuinya, tapi saya sesungguhnya agak ragu dengan apa yang dikatakan dokter tadi... rasanya saya tak mungkin anak dari pria itu !"
"Dokter Ervan tak mungkin membohongimu... aku mengenal Yona, dan aku juga yang mengantar jendral Suhartono menengokmu... cuma yang tidak kupikirkan adalah Ibu Tiara yang bertindak sembarangan... aku terlambat menolong ibumu... maafkan aku !" Aku cuma sempat mengangkat bayi yang ternyata adalah Pramoedya, yang kupikir adalah anak Yona.... Aku benar-benar tak tahu apapun... aku bodoh ya!"
"Papa... jangan sedih... kita belum mendengar apapun penjelasan mama Aleesha... sabar sedikit lagi kita akan menemuinya !"
"Baiklah... terimakasih kau mendampingiku dan memberikan aku pemikiran yang beda, Di!"
"Sama-sama papa."
"Di ingatlah ... Belajarlah setia pada satu wanita saja, jangan lakukan kesalahan seperti apa yang ayahmu lakukan, karena anak-anak dari setiap pernikahan itu ingin keluarganya lengkap dan bahagia, Jika seorang wanita telah memilihmu, berarti dia telah meletakkan kepercayaan akan kepemimpinanmu.... jangan pernah kau khianati dia!"
"Aku akan berusaha seperti itu... tapi aku tidak punya satupun wanita yang dekat denganku sekarang, papa!"
"Aku akan mengenalkannya padamu , aku punya seseorang yang cukup cocok untukmu..."
"Jangan papa... aku bisa mencarinya sendiri."
"Ha... ha... ha... kau tenanglah, kau harus benar-benar mengenalnya dulu baru kau menikahinya!"
__ADS_1
"tentu papa !"
*****
Lima jam berlalu dan mobil memasuki sebuah rumah megah di Kota Semarang. Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam sehingga penghuni sudah terlelap. Namun rumah itu dibawah penjagaan petugas yang memang merupakan kepercayaan Gaffar. Sehingga ketika mobil memasuki rumah itu, dengan mudah diberikan akses masuk.
Gaffar memasuki rumah itu dengan tenang dan meminta Adiguna untuk beristirahat di salah satu kamar di samping ruang tengah. Ketika ia memasuki lantai dua dan akan memasuki kamar tidru mereka, angkah Gaffar berhenti. Ia menyadari semenjak pertikaian mereka dulu, istrinya lebih sering tertidur di ruang kerjanya daripada berada di kamar yang memang awalnya untuk mereka.
Dibukanya pintu ruang kerja istrinya itu perlahan. Benar saja, wanita itu tertidur di sofa panjang dan meringkuk. Hati Gaffar sakit melihat Aleesha yang memilih tidur di sofa daripada tidur di kamarnya. Semua dikarenakan keegoisannya.
Tangan Gaffar mengelus rambut Aleesha yang sebahu. Ia kemudian berbisik pelan sebelum mengangkat tubuh Aleesha ke kamar mereka.
"Maafkan aku... maafkan aku yang pernah tidak mempercayaimu... aku selalu sayang kamu , Aleesha!" Maafkan keegoisanku... aku yang akan mengikuti apapun yang kau katakan... bisakah kau memaafkanku, sayang ?" aku selalu mencintaimu, Aleesha...
Sementara wanita yang terbaring itu tetap menutup matanya. Dia berpura-pura terlelap ketika mendengar langkah seseorang di balik punggungnya. Ia mengenali langkah itu dan aromanya.
Aroma parfum suaminya yang mendadak hadir ketika ia memasuki ruang kerja itu membangunkannya. Namun ia memilih pura-pura terlelap dan melihat apa yang dilakukan suaminya itu.
Permintaan maaf itu menghentikan amarahnya selama ini. Kemarahannya selama bertahun -tahun hilang ketika pria itu berbisik di telinganya dan berbicara lembut dan permintaan maafnya yang terdengar begitu tulus. Gaffar mengangkat tubuh Aleesha yang terbaring itu ke kamar mereka. Tanpa Aleesha sadar bulir aliran air mata menetes dari matanya. Satu perasaan yang pernah hilang itu akhirnya kembali.
Gaffar mendekap Aleesha dalam gendongannya dan pria itu tidak menyadari bahwa Aleesha telah terbangun dan tersentuh oleh perbuatannya. Pria itu hanya ingin membuat istrinya tidur dengan nyaman. Sesuatu hal yang hampir tidak pernah di lakukan lagi untuk Aleesha setelah pertikaian mereka.
Sesungguhnya mereka saling merindukan. Hanya keegoisan satu sama lain yang dimunculkan dan pertikaian tanpa penyelesaian yang tak berujung. Semua harus dijalani dalam pernikahan mereka tanpa adanya perasaan kasih sayang lagi . Namun rasa hangat itu di malam ini kembali muncul. Mereka masih saling menyayangi.
*****
Happy Reading Guys.
Bolehkah tinggalkan jejak kalian di sini?" Thanks a lot guya. Love you all
__ADS_1