Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
148.Let me say goodbye


__ADS_3

Terkadang, dalam bersedih, seorang ayah lebih banyak diam karena memang tak pandai untuk menangis."


Sebelum aku pergi dari dunia ini, aku ingin kau memaafkan aku dan yang penting kamu dapat memaafkan masa lalumu!


*****


Handoyo langsung berbaring di kamar dalam rumah persembunyiannya di kawasan Kebayoran. Ia cukup lelah hari ini setelah bergadang dua hari  menemani Warmen dan keluarganya di rumah sakit.


Namun satu hal yang membuat Handoyo lebih tenang, Anneke yang merupakan anak musuhnya di masa lalu memaafkan dan itu membuat sebagian hatinya lebih tenang. Mampukah ia memiliki hati seperti Anneke? Mampukan ia memaafkan Suhartono yang membuat ibu kandungnya meninggal dengan cara mengenaskan?


Handoyo masih berfikir dan berusaha melupakan amarahnya dengan berbaring dan tak lama kemudian ia tertidur.. Baru beberapa menit terpejam ia merasa ada sekelompok orang yang memasuki rumahnya.  Insting Handoyo segera menyadarkannya untuk bertahan dan mengambil senjata dari bawah bantalnya dan ia  bersiaga.


Sebuah tembakan besar memberondong jendela kamarnya membuat Handoyo segera beralih dan bersembunyi di samping lemari besi pendek untuk perlindungan sambil berfikir untuk menyelamatkan diri. Kemudian  lemparan granat kejut  dari luar jendela memasuki ruangan itu dan membuat ruangan kamar Handoyo dipenuhi asap putih.


Ruangan kamar semakin dipenuh asap putih dan mengeluarkan bau kimia yang menyengat dan membuat Handoyo menutup hidungnya dan berusaha bangkit dan keluar dari ruangan itu.  Baru melangkah, Handoyo terjatuh.


Blugh...


Empat pria bermasker hitam masuk ke kamar dimana Handoyo jatuh pingsan. Mereka mengangkat tubuh kekar Handoyo dan memasukkan ke dalam mobil yang telah menantinya.


*****


Handoyo membuka matanya. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.  Saat ini ia berada di ruangan yang besar dan berwarna serba putih tanpa dekorasi apapun.


Dalam posisi berbaring, matanya bergerak memperhatikan ruangan kosong yang tanpa barang apapun. Iapun tertidur di atas kasur tanpa dipan. Senjatanya menghilang, ia berfikir untuk menyelamatkan dirinya dari ruangan ini. Pantang baginya mati tanpa perlawanan yang berarti.


Sudah berapa lama ia disini? "Apakah ia sudah kalah karena ia merasa terkurung dalam sebuah ruangan tanpa jendela? Dimana ini? Siapa yang menangkapnya? Polisikah? Atau suruhan dari  pria tua itu?"


Apakah selama bersama Warmen, ia diikuti? Handoyo terus berfikir dan bagaimana mencari pertolongan?" Dia memikirkan dalam diam hingga ada yang memutar kunci pintu dan membuat ia segera bangkit dari posisi duduknya dan bersiap untuk melawan.


Pintu kayu itu dibuka dari luar dan seolah tak dikunci. Handoyo menatap dengan penuh perhitungan dan ketika sosok yang muncul adalah orang yang diduga akan membunuh dan mencuranginya, ia makin terkejut ketika mendapat sapaannya.


"Sudah bangun Nak?' Suhartono berkata ramah dan tersenyum.


Suhartono hanya sendirian di rumah itu dan tidak ada satupun anak buahnya menemani untuk menemui Handoyo. Satu hal yang aneh menurut Handoyo, dan itu membuatnya makin waspada. Strategi apa lagi yang dimainkannya.


"Kau?"


"Ya... aku ... ayahmu!" Aku akan menepati janjiku padamu !"

__ADS_1


"Kenapa dengan menculikku seperti ini?' Aku bisa menembakmu di rumahmu yang besar itu di depan seluruh anak buahmu?" Apakah kau meremehkan kemampuanku?"


"Bukan begitu Nak... aku..


"Hei... Jangan panggil seperti itu!"


"Anakku Handoyo ... aku ingin sekali memanggilmu seperti itu sebelum kau menjemputku dan mengirimku ke neraka... aku hanya ingin menyerahkan surat warisan untukmu."


"Aku tak ingin hartamu, pak Tua!"Aku bisa mencarinya sendiri...  untuk satu tembakan... aku dibayar mahal untuk itu!"


"Aku tahu itu... kau menuruni bakatku, Nak... kau memperolehnya dariku, Nak... dan itu membuatku bangga... tapi ijinkan aku terakhir kali berbicara padamu, Nak... aku ingin memperoleh maafmu atas masa lalumu yang menyakitkan itu... bukan untuk pengampunan nyawaku... tak masalah aku mati... tugasku pada negara sudah selesai... aku datang menyerahkan diriku untuk kau bunuh nak... tapi bolehkah yang terakhir kali aku memohon.... bisakah kita makan bersama seperti waktu itu perjalanan ke Timor-timor?"


"Tidak... aku tak ingin hubungan kita baik.... aku ingin nyawamu dan menyerahkan kepalamu pada Nadia... aku ingin memperlihatkan kepada negara ini, bahwa kau adalah penjahat terkejam."


Suhartono diam dan duduk di lantai. Dari balik kemeja Suhartono dikeluarkannya pistol kaliber 38, miliknya. di lemparkan ke arah Handoyo.


Handoyo hanya memperhatikannya dan ia mengambil dan memutarnya, ternyata peluru itu full.


"Lakukanlah nak... aku rela jika kau yang melakukannya!" Tapi setelah ini pergilah ke kyai Umar dan katakan padanya, kau ingin diajarnya menjadi pria yang baik."


Handoyo hampir tersedak mendengarnya. Tidak mungkin ia menemui Kiyai Umar dan dibimbing olehnya. Handoyo menata hatinya. Ia tidak ingin bertobat dengan disuruh pria ini. Ia harus melakukannya dengan keinginannya.


"Ya... katakan apa yang kau mau? Aku akan melakukannya."


"Tengggelamkan dirimu di Laut dekat Timor itu dan aku akan melihatnya di televisi dan ketika mayatmu mengapung itu dan itu akan membahagiakanku."


"Baiklah... kau lihat dan saksikan saja di TVN... jika itu maumu..!"


"Aku ingin lihat bagaimana kau menepati janjimu itu!"


"Aku akan tepati janjiku dan kumohon nak bukan karena aku takut mati tapi untuk kebaikanmu  ....  Sebelum aku pergi dari dunia ini, aku ingin kau memaafkan aku dan yang penting kamu dapat memaafkan masa lalumu!"


"Aku baik-baik saja pak Tua!"  Aku bisa hidup dengan baik sampai saat ini."


*****


Sepuluh hari kemudian.


Berita TVN mengabarkan bahwa mantan pemimpin negara ini tewas terjatuh ketika memancing di Laut Timor dan jenazah baru diketemukan kemarin.  Banyak ungkapan duka cita mengalir ke keluarga besar Jendral Suhartono .

__ADS_1


Seluruh keluarga besar hadir di rumah besar itu termasuk Nadia yang hadir di Jakarta.


Keluarga Besar Jendral Suhartono termasuk Pramoedya dan Nadia yang sedang menggendong bayi ikut mengantarkan kepergian Jendral Suhartono yang dimakamkan secara militer. Berbagai karangan bunga hadir di pemakaman itu seraya melepas kepergian orang yang pernah memimpin negeri ini.


Dalam hening mata Nadia mencari -cari seseorang. Namun pria yang dicari tidak muncul batang hidungnya. sedikit kecewa Nadia menarik nafas dan ia hanya menatap bayi lelakinya itu.


"Ayahmu  tak ada disini, Nak !" Bisiknya pelan di telinga bayinya itu.


Bayi yang ada di gendongan itu, hanya menggeliat dan meneruskan tidurnya dan tidak memedulikan keadaan yang ramai orang.


Sebuah tepukan hadir di pundak Nadia dan membuat ia berbalik dan tersenyum.


"Mama... Mama Alisha !"  Nadia terharu dan langsung memeluk sang Big Mama.


'Apa kabar Nad?"


"Baik Mama... mama sehat?"


" Syukurlah kita ketemu disini.... bagaimana keadaan kalian tinggal di Pemalang? Betah?"


"Betah mama...mungkin kami akan membesarkan disana dan baru pindah ke Jakarta jika ia akan kuliah disini."


"Syukurlah... baik-baik dengan Pram ya, Nad!"


"Iya mama... aku sekarang bisa mencintainya!" Bisik Nadia pelan di telinga Allisha dan mata Nadia menatap punggung Pramoedya yang sedang berbincang dengan tamu yang mengucapkan dukacita pada keluarganya.


"Baguslah.... kematian ini merupakan hadiah dari Handoyo untukmu , Nad... dia tak kan menemuimu lagi... dia sudah pindah ke Australia!" bisik Allisha di telinga Nadia.


Nadia terdiam sesaat dan berbisik kembali." Benarkah?" Katakan padanya ... terimakasih atas hadiahnya dan aku akan membesarkannya!"


Mereka kedua saling tersenyum dan memeluk kembali dengan penuh kehangatan layak ibu dan anak yang tak lama berjumpa.


Dari jauh ada seseorang di balik pepohonan mengamati dengan kacamata hitamnya. Pria itu hanya menatap dua wanita yang sedang bercakap cakap dengan tersenyum manis. Yang satu adalah ibu angkatnya dan satu lagi perempuan yang sedang menggendong anaknya dan ia tidak boleh menemui mereka lagi.


Handoyo berbalik dan meninggalkan pohon itu dengan langkah cepat untuk menghindari para polisi dan intel yang terus mengamati keadaan. ia  hadir hanya menghormati pak Tua yang menepati janjinya padanya.


"Selamat tinggal Pak Tua... salam untuk mama Yona ya!"


*****

__ADS_1


Happy Reading Guys.... Terimakasih untuk tetap setia dan  tinggalkan jejak atau komentar selalu. Love you all. Tuhan berkati kalian ya, dan tetap jaga prokes !


__ADS_2