
Menjaga hati itu tidak hanya menjaga perasaan seseorang, akan tetapi juga membuat komitmen agar saling setia dan memercayai satu sama lain.
*****
Ruang Tunggu 1A di Dermaga Cilacap
Dua peluru berhasil dikeluarkan dari tubuh Alex oleh tim dokter RS Polri. Pundak dan Lengan kanan Alex yang tertembak sudah dijahit dan dibalut oleh tim dokter. Para dokter begitu cekatan dalam menjalankan tugasnya. Dan mereka otomatis berpindah ruang setelah menangani Alex, mereka berpindah ke ruang tunggu 2B untuk merawat pelaku penembakan yang baru saja beberapa saat yang lalu terjadi di dermaga 1 A.
Sementara Jessy dan Jenny masih setia mendampingi Alex yang masih dibius Sebagian. Jessy memegang lengan
kiri calon suaminya sambil berdoa di dalam hatinya. Pandangannya tulus memandang pria yang bagi Jessy begitu tulus mencintainya.
Deheman Jenny, sahabat Jessy, membuat ia menoleh pada Jenny yang memberikan kode mata bahwa Handoyo akan segera dibawa ke Lapas Nusa Kambangan.
Ada perasaan sedikit tidak nyaman di hati Jessy ketika melihat Handoyo sebelum di bawa masuk ke dalam kapal milik Lapas Nusa Kambangan, Ia ingin berbicara dan meminta para penjaga agar dapat menunda untuk tidak membawa Handoyo pergi dahulu, minimal tunggu hingga Alex diyatakan pulih beberapa jam lagi.
Handoyo hanya berkata tenang dan meminta Jessy untuk tidak meninggalkan Alex sedetikpun. Ia tidak sanggup berkata pada Jessy bahwa pria yang ditembak adalah kekasihnya dan dihempaskan pikirannya jauh-jauh agar Jessy tidak mendengar suara hatinya.
“Jess… kamu tidak boleh meninggalkan bang Alex ya, apapun yang terjadi. Tidak boleh sedetikpun pandanganmu beralih darinya!” .... Dan Jenny tolong temani disini hingga Alex membaik," Perintah Handoyo pada Jessy dan Jenny sebelum ia meninggalkan ruangan itu menuju kapal yang menantinya.
Jessy dan Jenny hanya mengangguk dan imereka tidak mampu berkata apapun. Mereka memandang Handoyo yang dibawa pergi dengan tatapan sesal, Pria baik yang dimata mereka adalah seorang pembunuh. Sungguh tidak pernah disangka oleh keduanya, tapi bagi mereka berdua Handoyo adalah teman yang baik.
Handoyo menatap para sahabat dan orang yang menganggapnya keluarga dan tersenyum pada mereka semua sebelum memasuki kapal. Ia tahu ia tidak boleh menemui mereka jika nanti ada yang membebaskannya. Bu Prawiro, Shinta, dan Deasy, Semoga kalian baik-baik saja dan maafkan aku tak bisa membantu kalian lagi. Udin dan Bang Alex, sampai ketemu di proyek berikutnya. Helanya pelan ketika duduk di dalam kapal yang diberi penjagaan ketat.
*****
Dua jam berlalu, dari kepergian Handoyo, jemari tangan kiri Alex menarik jemari Jessy, pandangan Jessy teralihkan pada pria yang sedang menatapnya tersenyum.
“Kamu kenapa Jess?” Lelah ya? " Alex bertanya penuh perhatian pada wanitanya.
"Gak Al.... aku cuma memikirkan gimana kalo mas Handoyo selama dua tahun ini tidak boleh dibesuk terus, kalo dia kesepian gimana? Apakah akan baik-baik saja disana?" Jessy berkata lirih.
"Dia pasti mampu melewatinya... nanti dua tahun lagi kita minta "Dede Muhandar" mengurusnya... tenanglah!" Sedari tadi kamu, dan Jessy menjagaku?" Tidak pergi kemanapun?" Tanya Alex sambil melihat Jessy dan Jenny yang duduk bersebelahan.
"Gimana mau pergi? " Mas Handoyo bilang kami gak boleh meninggalkanmu sedetikpun... aku mau ke toilet aja, tuh polisi gak percaya," Sahut Jenny dengan kesal dan memelototi polisi yang berjaga di dekat pintu keluar.
?"Jess... kamu tahu gak kenapa aku bisa tertembak?" Tanya Alex pelan pada Jessy yang masih terdiam menatapnya sedih.
Jessy hanya menggeleng. Hingga suara Jenny yang memecahkan keheningan mereka.
"Itu lho Jess, pembunuh tadi mau menembak mas Handoyo tapi meleset kenanya Bang Alex... tapi Mas Handoyo itu cekatan sekali, dia langsung tarik pistol salah satu polisi dan menembak tuh orang yang menembak bang Alex dan kena deh... kurasa udah mati kali!"
"Hussh.... Jenny!" Jangan kencang-kencang kamu bilang gitu!" Teriak Jessy sambil memukul lengan sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu sih gak lihat gimana cara mas Han menembak.... keren banget deh!" Jenny berkata sambil penuh semangat.
"Jess... Apakah kamu tadi melihat pelaku penembakan itu? " yang setelah ia tertembak?" Alex bertanya pelan dan nyaris berbisik.
"Gak Al... aku takut... aku hanya terduduk di lantai dan menangis, aku takut melihat langsung kejadian penembakan Al... terlebih kamu yang menjadi korban tembak..aku takut sekali kamu kenapa -kenapa?" Jessy berkata pelan sambil berusaha menahan tangis.
"Kamu khawatir sama aku?" Alex bertanya sambil menatap Jessy.
"Ya iya lah....gimana sih Bang Al ini... kan kalian mau menikah, masakah Jessy gak kuatir calon suaminya terluka... bang Al ini aneh deh..." Sindir Jenny ketus.
Jessy memilih tidak menjawab pertanyaan Alex. Dieratkannya genggaman jemarinya pada Alex hingga pria itu tersenyum hangat padanya. Jessy menatap mata kekasihnya yang ada di hadapannya. Tetapi masih ada rasa lain di hati Jessy yang sepertinya membuat hatinya jadi sakit, entah apa itu. Rasanya bukan sakit karena kepergian Handoyo. Tapi entahlah .... Jessy tak tahu apakah itu yang membuat dirinya gak tenang.
"Aku gak kenapa-kenapa Jess, sesungguhnya ini bukan peristiwa pertama kali padaku... jadi aku pasti baik-baik saja.... hanya saja kamu tidak terlihat bahagia.
"Aku bahagia melihat kamu sudah pulih, Al.... tapi mungkin aku agak shock melihat penembakan secara langsung... jadi serasa tidak nyaman.. mungkin jika kita sudah meninggalkan tempat ini kita akan baik-baik saja.
Suara dua pasang sepatu fantofel pria terdengar menghampiri mereka hingga membuat ketiganya refleks menoleh.ke arah sumber suara. Dua polisi yang berjalan tegap menghampiri mereka dan memberikan hormat pada mereka bertiga.
"Selamat siang Bapak Alex, Perkenalkan saya Iptu Supriyanto, Bagaimana keadaan Bapak? Apakah sudah membaik?"
"Selamat siang Pak Ipru Supriyanto.... terimakasih atas perhatiannya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Maafkan kelancangan kami sebelumnya, tapi sebelumnya kami sudah berbicara dengan pengacara bapak yaitu Bapak Dede Muhandar di luar ruangan ini dan beliau mengijinkan kami untuk berbicara pada bapak Alex. Begini pak..... Bolehkah saya meminta waktu sebentar kepada Ibu Jessy untuk berkunjung ke ruang dermaga 2B untuk melihat pelaku penembakan yang sedang kritis.... hanya untuk beberapa menit? "
"Apakah pelaku penembakan itu seorang polisi pak?" Alex bertanya langsung pada kedua polisi itu hingga membuat keduanya terkejut.
Jessy yang mendengar itu langsung mengerti arah pembicaraan antara Alex dan kedua polisi itu. Mungkinkah Alex memang sengaja ditembak? berarti bukan Handoyo sasaran tembaknya? Apakah pelakunya polisi? Apakah Al? Benarkah Al yang melakukannya.... apakah karena ini hatiku terus sakit?" Jessy terdiam memperhatikan dengan serius pembicaraan pria-pria itu.
"Jess..."Alex bertanya pelan dan masih menggenggam jemari Jessy.
"Ya Al.
'Maukah kamu melihat pelaku penembakan itu? "
"Aku... aku yang harus melihatnya sendiri Al?" Kenapa?"
"JIka kamu keberatan tak mengapa? Aku yang akan bilang bahwa aku tidak mengijinkannya.... aku cuma takut kamu menyesal jika tidak melihatnya untuk terakhir kali.... kurasa kamu mengerti maksudku.... dia yang melakukan penembakan itu, Jess .... ini bukan salah sasaran, Jess.... memang dia yang melakukannya padaku... dia masih tak merelakanku untuk menikahimu!" Alex berkata dengan lebih jelas hingga membuat Jessy makin terperangah dan bingung.
"Maksudmu Al yang menembakmu? Ballawa yang melakukannya?" Balawa yang menembakmu?'
"Hemm... Kau bisa memastikan ini setelah melihatnya!"
"Al.... terus aku harus bagaimana ini?" Aku jadi makin merasa bersalah padamu.... maafkan aku yang akhirnya menyebabkan kamu terluka begini... " Jessy mulai menangis dan memeluk pria yang sedang meringis karena mengenai luka di pundaknya.
"Aww ....Jess!"
Jessy melepaskan pelukannya dan menatap Alex dengan sedih.
__ADS_1
"Maaf... maafkan aku!"
"Dengarkan aku, Jess.... pergilah dan temui dia...aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya, tapi kumohon ingatlah ini!" Jaga hatimu untukku !" Genggaman Alex pada jemari Jessy menguat dan wanita itu hanya mengangguk pelan.
Jessy melangkah mengikuti para polisi itu meninggalkan ruangan Alex dirawat . Hatinya bingung dan ragu. Mampukan ia melepas pria yang pernah mengisi hatinya dan merekakannya jika ia akhirnya meninggal. Benarkah Al yang tidak rela jika ia menikahi Alex?'
*****
Happy Reading Guys. Terimakasih telah berbaik hati membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak disini? Thanks a lot
__ADS_1