Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
140. Aku memang pencinta wanita


__ADS_3

Cinta bukanlah bertahan seberapa lama dan bersama. Tetapi, seberapa jelas dan ke arah mana kita melangkah dan aku selalu  melihat kamu selalu tersenyum untukku.


*****


Suhartono  hanya terduduk di sofa ruang tengah rumah dokter Ervan. Saat ini Ervan sedang mengobati Adiguna dan Nadia, karena luka tembak yang diterimanya.


Ia tahu, ia harus bertindak cepat, ia harus menyelamatkan Adiguna dan Nadia. Biar bagaimanapun Adiguna adalah anaknya juga , tapi siapa Pramoedya? Dia juga menyayanginya. Pramoedya telah bersamanya semenjak kecil, dia juga merawat dan membesarkannya meski jarang menyisihkan waktu untuk Pramoedya.


Meski Tiara membenci Pramoedya tetapi dulu Tiara yang menggendongnya setiap malam dan memeluk Pramoedya, hingga ia memutuskan Pramoedya tidak boleh ada di rumah utama. Itu awal dia menjauh dari Pramoedya dan mengutus Gaffar untuk menjaga Pramoedya.


Sementara Adiguna yang merupakan anak Yona , ia sama sekali tidak menduganya. Ia baru mulai mengetahui Adiguna setelah perjalanan mereka ke Timor-timor. Hal yang membahagiakan lagi mengetahui tentang Adiguna.


Nadia adalah sang menantu yang baru diperistri oleh Pramoedya tetapi nampaknya wanita itu memiliki hubungan terlarang dengan Adiguna. Entahlah mana yang benar? Apakah Pramoedya yang merebut Nadia dari Adiguna? Kenapa itu tak dipikirkan selama ini . Kenapa ia baru ,mengetahuinya ketika penembakan itu terjadi? Apakah intel negara ini sudah tidak bisa memprediksi serangan ini? Kenapa juga ia memecat Gaffar karena pria itu menginfomasikan bahwa dirinya dan Tiara adalah target dari kelompok elang hitam.


Namun yang membuatnya pusing adalah Adiguna dan Pramoedya. Dari banyak wanita kenapa Nadia? Kenapa masalah makin bertambah rumit. Kedua anak lelakinya memperebutkan Nadia? Baginya tak masalah siapa ayah kandung bayi yang dikandung Nadia? toh keduanya anaknya.


Karma? Mungkin ini akibat kesalahan masa lalunya yang suka mempermainkan wanita. Aku menyukai wanita dengan kecantikan dan aura yang berbeda.


Sesungguhnya dalam hati Surhatono tidak bermaksud mempermainkan wanita. ia memang mencintai semua wanita yang ditemuinya. Semua wanita itu menarik dengan pribadi dan kecantikannya masing-masing.


Kesalahan dirinya adalah dia tidak bisa setia pada satu wanita. ia mencintai semua wanita yang ditemui dan ingin memiliki semuanya. Tetapi Tiara tidak mampu menerima wanita-wanita lain yang bersedia menemani dirinya. Tapi Tiara juga tidak salah. Dulu dia pernah berjanji padanya wanita itu, hanya Tiara seorang di hatinya. Tapi ia yang tidak berkomitmen dengan Tiara. ia yang melanggarnya.


Wanita -wanita lain juga yang dijamahnya tidak salah.  Pada saat itu ia mencintai wanita dan mengingini wanita itu. Segala perkataan manis diucapkannya hingga semua wanita itu percaya dan menyerahkan dirinya dengan sukarela. Dia tahu apa yang dilakukannya dulu adalah kesalahan tapi ia tidak menyesali mencintai wanita-wanita selain Tiara.


Bagi Suhartono, Cinta bukanlah bertahan seberapa lama dan bersama. Tetapi, seberapa jelas dan ke arah mana kita melangkah dan aku selalu  melihat kamu selalu tersenyum untukku. Ia menyukai senyum wanita-wanita itu. Sekarang dia menangung kesalahan masa lalunya.


Tak masalah ia mati ditembak oleh kedua orang itu, Tetapi ada hal yang lebih penting yaitu keamanan Negara ini. Bagaimana jika negara ini dihancurkan oleh sekelompok orang. Bagainana jika negara yang sedang berkembang dan membangun banyak hal di tiap provinsi dapat terus bergerak. Ada berapa banyak orang yang akan mati jika negara ini tidak dipimpin oleh orang yang tepat. Ia harus selesaikan tugasnya dahulu demi negara ini.


Seharusnya ia mendengarkan peringatan Gaffar kemarin, tetapi ia memilih mengacuhkan peringatan dari sahabatnya. Entahlah dimana pria itu sekarang setelah ia memecatnya kemarin.  Belum lagi salah satu anak buah kepercayaannya, Ballawa tadi tertembak oleh Adiguna.


Suhartono menarik nafas panjang. Ia harus bertindak dengan bijaksana dan menyelamatkan semua orang. Mampukan ia? Bagaimana jika kehancuran dimulai  dari kesalahannya menentukan sikap.


Pintu ruang praktik dokter Ervan sudah dibuka. Namun bukan Ervan yang keluar tetapi Adiguna yang keluar dari ruangan menatapnya. Dia tidak menggunakan kaos hitamnya karena rupanya dia telah selesai dijahit lukanya. Pria itu memilih duduk di depan Suhartono.

__ADS_1


"Bagaimana dengan lukamu, Di?' Suhartono berkata dengan penuh ketulusan.


'Sudah lebih baik, Nadia tertidur setelah diberikan obat bius tadi... seharusnya tadi anda biarkan Ballawa menembak kami... anda bisa selamat, Presiden." Adiguna berkata pelan sambil memperbaiki posisi duduknya. "Aku gak tahu... jika Nadia siuman... dia pastikan... masih ingin nyawa anda."


"Aku tahu... katakan padanya... setelah aku bereskan masalah negara dan kembali ke istana... aku akan temui kalian... silahkan ambil nyawaku... seharusnya dari dulu aku melakukannya."


'Sungguh?"


"Setelah pemilu tahun depan... aku akan menemui kalian...  aku harap kau dapat menyelesaikan urusanmu dengan Pramoedya... dia juga anakku. sama sepertimu, dia juga telah melalui masa yang sulit!"


"Seharusnya jika kau bisa setia pada satu wanita... kami tak mungkin seperti ini!"


"Aku tahu... hanya ini yang bisa kulakukan untukmu... Setelah pemilu aku akan pensiun dan tinggal di Kampung... katakan pada Nadia... jika ingin menemuiku... lakukan disana.. aku akan tenang jika ia bersedia menunggu waktu itu. Kuharap kau bisa membujuknya... tapi jika memaksa... biarkan aku menyerahkan posisiku dahulu ke wakil Presiden...setelah itu kalian bisa melakukannya... bagaimana? Apakah kau bisa percaya padaku, Di?"


"Apakah kau bisa dipercaya?'


"Dulu ibumu sangat percaya padaku?"


"Dia wanita bodoh sehingga bisa kau tipu... tapi untungnya dia menukarku dengan Pramoedya.. sehingga ia yang bersamamu... aku menjalankan hidupku tanpa siapapun... aku anak terbuang...tahukah kau bagaimana aku menjalaninya?"


Handoyo terdiam. Ia teringat perkataan pria ini ketika Ballawa mau menembaknya. Pria ini berkata ingin melindunginya sekali saja dalam hidupnya. Pria ini berkata belum pernah melakukan sesuatu hal untuk Adiguna dalam hidupku.


"Pergilah !"


"Terimakasih Nak... aku tak melupakan peristiwa ini... aku juga akan berusaha tidak melibatkanmu... tapi bolehkan aku tahu nama asli yang diberikan Yona padamu?"


"Handoyo Cahyanto.... tapi dia lebih dikenal sebagai cepot berdarah... mungkin kau tak mau mengenalnya.. sekarang dia adalah napi yang melarikan diri... seperti yang dibilang Ballawa .. memang benar itu aku... apakah kau malu mengetahuinya... aku adalah pembunuh sadis ... jadi tak masalah aku menghabisimu... jika Nadia tidak meminta untuk dirinya yang membunuhmu.. tentu tadi malam seluruh pasukanmu, keluargamu dan dirimu sudah tidak ada lagi... persetan dengan negara ini!"


"maafkan aku Handoyo... aku yang salah... kamu hidup sendirian di luar sana... tapi setelah pertemuan kita, dan perjalanan kita kemarin ke timor-imor... aku mengingatmu...aku bahagia bisa mengenalmu... aku mencintaimu seperti pada anak yang lain.."


Suhartono memandang Handoyo dan refleks memeluknya. Ia menangis kembali. " Aku akan kembali menemuimu dan membayar hutangku."


Handoyo terpana dan nyaris tak mampu bersuara. Ia bisa dipeluk oleh ayah yang selama ini dicarinya. Ini momen yang bahagia tapi ini sungguh membingungkan. Pria ini tadi memilih ditembak olehnya.  Ingin menangis bersama pria ini  tapi ia ingat janji pada Nadia.

__ADS_1


"Pergilah... sebelum aku berubah pikiran!"


*****


Nadia akhirnya terbangun ketika Adiguna memasuki ruangan kamar  kembali. Entah  ini ada dimana? tapi ini bukan ruangan dokter Ervan. Ruangan ini tidak berwarna putih dan lukisan itu seperti Lukisan semeraut yang aneh, menurutnya.


"Nad... untunglah kamu sudah sadar ?"


"Mas... ini dimana?"


"Di salah satu tempat persembunyianku di Jakarta juga... aku harus membawamu tapi karena kau habis operasi dan tak sadarkan diri, aku tak bisa membawamu ke tempat yang jauh ... karena tempat dokter Ervan tidak aman.. ada pasukan tentara yang menyergap, tapi kita sudah aman...  Bagaimana lukamu? Bagaimana perutmu?"


"Aku baik baik saja... tapi bagaimana Presiden? Apakah kau menembaknya?"


"Tidak... aku tadi akan..


"Kau tak tega membunuh si keparat itu !"


"Bukan begitu Nad... bukankah kau yang meminta bahwa kau yang harus membunuhnya... seandainya aku, tentu tidak ada kejadian ini... sudahlah jangan dibahas, kita bisa membunuhnya nanti...berikan dia waktu membereskan masalah yang kita buat."


"Kau percaya itu ,mas Han?"


"Ya... karena alasannya masuk akal... dia harus menyelamatkan negara ini... dia tak masalah jika kita menembaknya sekarang tetapi dia bilang kita tidak bisa membesarkan anak kita... nanti dia yang akan menemui kita Nad..!


Nadia terdiam dan tak lama kemudian dia menangis pelan. Handoyo terkejut dan bertanya pelan." Kenapa Nad? Mana yang sakit? Apakah kita perlu ke dokter lagi?'


Nadia menggeleng.


'Aku benci kamu, Mas han... aku bodoh kenapa aku bisa jatuh cinta padamu dan mengandung anakmu... kamu jahat ... kamu gak pernah bilang bahwa kamu juga anaknya...kamu tidak percaya padaku... aku membencimu"


"Maafkan aku , nad... tadinya  aku akan memberitahumu,tapi setiap kita akan membahasnya, waktunya selalu tidak tepat...  maafkan aku ya...jangan marah ya, sayang!"


Nadia terdiam dan masih sekali-kali ia terisak karena ia merasa dibodohi oleh pria yang dicintainya.

__ADS_1


*****


Hapyy Reading Guys, Terimakasih masih membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak disini? Thanks a lot ya kawan.


__ADS_2