Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
139. A Grudge ?


__ADS_3

Puaskah hatimu setelah membunuhnya? Balas dendam memang bisa memuaskan hatimu tapi itu tidak membuat keadaan lebih baik.


*****


Dor...


Timah panas dari pistol Ballawa menembus pundak Adiguna. Pria itu cuma menoleh dan memandangnya sesaat dan berbalik kepada wanita yang ada di depannya.


Pikiran Adiguna saat itu adalah menyelamatkan Nadia dan anaknya itu saja. Persetan dengan balas dendam. Ia harus segera menyelamatkan keduanya. Hingga sebuah pelukan dari seseorang menghentikan langkahnya.


"Bawa aku pergi juga, kau bisa jadikan aku sandera.. dan setelah itu bunuh aku dimanapun kau mau nak!"  Suara itu terdengar ada nada ketulusan di telinga Adiguna. Pria itu kembali berbicara dengan anak buahnya. "Ballawa, kau harus lepaskan dia ... atau aku yang menembakmu!"


"Presiden... dia itu pengkhianat... dia itu pembunuh sadis yang melarikan diri...!" Dia itu "Cepot berdarah... dia seharusnya berada di penjara Nusa kambangan..."Ballawa berusaha menarik presiden kembali dan menjauh dari Adiguna.


"Terserah... sekarang kuminta kau mundur Ballawa.... aku yang akan melindunginya... aku belum pernah melakukan satu hal untuknya... dia anak lelaki dari wanita yang pernah kucintai dulu, sekarang kuminta kau mundur... aku harus menolongnya... sekarang kau mundur atau kutembak kau Ballawa... Jika semua tersebar, kau dan keluargamu mati, Ballawa!"


"Presiden ... kumohon jangan gegabah!"


Dor.. Dor..


Tembakan dari Adiguna menghentikan percakapan itu dan Ballawa itupun terjatuh.  Presiden hanya sedih melihat salah satu orang kepercayaannya berikutnya terjatuh.


"Seharusnya kau tidak perlu menembaknya... aku  bisa menyelesaikan semuanya... sudahlah... ayo kita pergi.. aku akan mengantarmu keluar dari sini hidup-hidup!"


"Lakukanlah segera!" Adiguna berkata dengan ketus pada presiden dan pria itu menuntunnya melangkah keluar lewat pintu rahasia lain dan itu mengantarnya pada bagian luar taman rumah itu.


"Apakah Nadia terluka parah? Presiden memulai percakapan dengan Adiguna yang berjalan cepat di belakangnya menuju keluar rumah utama.


"Dia masih bisa menembakmu Presiden... sekarang cari dokter yang bisa merawat lukanya dan setelah itu baru kita urus masalah kita."


"Jangan kuatir... Nyawaku untukmu, Nak!" Tapi bisakah sebelum kau menembakku, aku ingin sekali berbicara sebentar denganmu?"


Mereka masih berada di lorong rahasia rumah utama dan menuju pintu keluar taman.   Adiguna memilih  diam tak bersuara. Ia sesungguhnya bingung dengan keadaan ini. Kemanakah emosinya pada pria ini? Apakah karena Nadia?  Dia hanya ingin Nadia dan anaknya  selamat.


Sementara itu , ia hanya ingin bertanya kenapa pria ini tidak ada keinginan untuk menyelamatkan ibunya dulu. tapi bukankah itu sudah tidak penting lagi?"


*****


Ballawa yang  terjatuh dan pingsan akibat timah panas yang bersarang di dekat leher dan perutnya. Pikirannya melayang-layang. Rasa nyeri itu membawa pikirannya bergerak. Ia melihat tubuhnya tergeletak dan bersimbah darah dan beberapa temannya juga.


Kemana Presiden? Apakah ia juga tertembak. Entahlah . Sepertinya ada yang menarik rohnya keluar ruangan dan melesat jauh.


Hening.


Rumah Ballawa.


Mengapa aku bisa langsung menuju ke rumah ini... bukankah aku ada di istana tadi. Apakah aku sudah mati?"


Itu Umai (Ibu Ballawa)  dan Briana(istrinya yang sedang mengandung) dan mereka sedang berbaring di kamar rumahnya. Ini belum pagi, namun sepertinya ibunya terbangun akibat kehadirannya. Ibunya adalah wanita dayak yang spesial dan seolah memang sedang menunggu kehadirannya.

__ADS_1


"Al... apa yang terjadi?"


"Umai... kenapa bangun? Ini belum pagi?"


"Kenapa roh-mu yang kemari... kembalilah ke badanmu... Umai yang akan membantu memulihkanmu... cepatlah... ada anakmu yang harus kau besarkan! ... Umai  tidak ingin Briana membesarkan anakmu sendirian... sekarang kuperintahkan ... kau kembali ke tubuhmu, sebelum terlambat... cepatlah !"


"Umai... aku ingin sekali melihat Jessy... sebentar saja Umai... sebelum aku mati!"


"Dengarkah aku... kau tidak akan mati jika kembali ke tubuhmu,m sekarang! ... Lupakan Jessy... Ingat Briana sedang mengandung anakmu... kembalilah ke tubuhmu sekarang jika kau masih ingin melihat anakmu tumbuh besar.. jangan membantah !"


"Sebentar saja, Umai !" Aku hanya ingin minta maaf padanya, Umai !"


"Tidak Al... Jadilah pria yang bertanggungjawab... anak dalam kandungan Briana akan membutuhkanmu!" Kembalilah ke tubuhmu sebelum terlambat...!" Lupakan wanita itu!"


Roh Ballawa menghilang dan  kemudia keadaan menjadi sangat  sepi. Wanita dayak itu duduk bersila di ranjangnya dalam diam. Dia menutup mata dan pikirannya fokus pada Ballawa.


Hening


*****


Pramoedya masih memegang lengan Jendral Gaffar yang sudah tidak bernyawa. Pria ini benar-benar menyayanginya seperti dirinya adalah anak kandung dari pria yang merupakan orang kepercayaan ayahnya.


Setelah makan malam di rumah utama, Nadia dan dirinya memilih menginap di rumah utama, hal itu atas permintaan ayahnya yang masih ingin ngobrol dengannya besok pagi di meja makan. Dan tampaknya tawaran itu tidak ditentang oleh Tiara, ibu tirinya itu.


Setelah membersihkan diri, malam itu mereka tidur di kamar tamu yang berada di paviliyun samping. Ketika bel berdentang sebelas kali, Pramoedya terbangun dan mendapati istrinya tidak di kamar itu.


"Nad... Nadia?"


Pramoedya memilih ke kamar mandi dan ternyata kosong. Ia membuka jendela kamar itu dan sedikit dingin. Apakah istrinya kelaparan sehingga mencari makan, karena terkadang ia suka menemukan bekas piring kotor di pagi hari di dapur rumahnya karena terkadang Nadia bilang ia sering kelaparan jika malam dan tak ingin membangunkan dirinya.


Pramoedya tersenyum dan merasa ia perlu mencari istrinya.


Sedikit khawatir, karena ini bukan kediaman mereka, Pramoedya memilih bangun dari tidurnya dan ia harus mencari istrinya ke rumah utama. Ia mengerti selama kehamilan ini Nadia terkadang suka minta yang aneh-aneh, sehingga ia pikir Nadia pasti lagi makan di ruang makan Rumah Utama.


Baru saja ia memasuki rumah utama, ia mendapati  Andre berlari dan akan ke luar ruang tengah dan pria itu tiba-tiba terjatuh. Entah dari mana penyerangnya.


Blugh


Mengapa Andre terjatuh? Dia terkena lemparan pisau kecil.... tepat di jantungnya....Apakah kita di serang?" Kemana semua pengawal rumah ini?  Aku harus segera menemukan Nadia. Dan.. tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Mas Pram...jangan di tempat terbuka... mas harus sembunyi... aku antar ya?"


"Leroy... kita diserang !" Andre sudah gugur..."


" Ia mas... sekarang aku sedang mengejar... ada beberapa orang penyusup... mas sebaiknya masuk ke ruang persembunyian... ini bawa senjataku...!


"Tidak usah... kamu saja yang yang pegang... aku cari Nadia...kau pergilah!" Aku bisa menyelamatkan diriku!"


"Mas Pram berhati-hati... Jendral Gaffar akan datang segera!"

__ADS_1


"Oke..


Leroy menghilang dan Pramoedya baru saja melangkah menuju ruang kerja ayahnya dan. seperti ada yang jatuh dari atas eternit.


Brugh...


Saat ini ada  tiga orang berpakaian serba hitam di depannya, kemungkinan besar semuanya  pria di depannya sudah bersiap dengan  pistol mengarah padanya. Jika mereka satu lawan satu berkelahi, tentu saja Pramoedya tidak takut dan belum pasti mereka akan menang melawannya.


Bodohnya ia tidak membawa senjata apapun. Kurasa ini adalah hari terakhirnya , ia tidak takut mati, tapi bagaimana dengan Nadia dan anaknya itu. Aku harus bisa selamat dan mengalahkan mereka, tapi bagaimana caranya.


Pramoedya pikir dia  pasti mati ditembak oleh ketiga orang yang berpakaian serba hitam itu  hingga sebuah tarikan pada tubuhnya  dan suara ribut ada di depannya


"Tidak ada yang bisa menyentuhnya selagi aku masih hidup," Suara Jendral Gaffar dan pria itu menembak ketiganya  di  tangan mereka dengan cepat dan tanpa membuat  ketiganya sempat menoleh karena berlangsung dengan cepat.


Dor... dor... dor...


Satu dari ketiga pria itu masih mampu mengarahkan serangan balik pada sang jendral yang telah menua dan tepat di kepalanya.


Dor....


"Aww,,,,, Om... Om... Sialan kau.... akan kubunuh kau...." Pramoedya segera mengambil pistol milik Pramoedya tapi ketiga orang itu sudah menghilang dari pandangannya.


Lemas dan sedih kehilangan pria yang selama ini menjaganya membuatnya tidak mampu melangkah. Pria yang paling baik di hidupnya kehilangan nyawanya untuk menyelamatkannya.


"Om... Om Gaffar...


*****


Kediaman pribadi Dokter Ervan di kawasan Salemba digedor orang berkali- kali.  sebagai doker tentara, ia memiliki kebiasaan jika diperlukan ia harus bersiap jika ada panggilan telepon darurat yang memintanya untuk melakukan tindakan.


Biasanya panggilan berupa dering telepon dan bukan gedoran pintu rumahnya. Ada namanya yang disebut berulang kali.


Setengah sadar dokter Ervan melangkah dan betapa terkejutnya ia melihat dari balik tirai bahwa yang menggedor rumahnya berulang kali adalah orang nomor satu di negara ini dan pria yang diantar oleh Jendral Gaffar waktu itu. Apakah ini bagian dari missi mereka ataukah ada sebab yang lain.


Ia masih berdiri mematung hingga sebuah panggilan dan gedoran menyadarkannya.


"Dokter Ervan... Dokter... cepat buka pintu!"


Pintu dibuka dan pria yang waktu dibawa oleh Jendral Gaffar memapah seorang wanita yang sepertinya terluka parah. Suara Presiden membuatnya tersadar akan tugasnya.


"Ervan , tolong obati mereka berdua... cepatlah !"


"Siap Presiden!"


Ervan segera mengobati Nadia dan tangannya bergerak cepat, melakukan tindakan mengambil obat bius,menjahit dan segalanya dilakukan sendiri, sesekali  matanya sesekali menatap pria itu.


Benar pria ini adalah yang dulu di bawa Jendral Gaffar padanya dan merupakan teman dari Warmen. Fokus. Ia harus mengobati wanita ini karena sudah banyak mengeluarkan darah dan wanita ini sedang mengandung. Fokus. Harus Fokus. Keselamatan pasien adalah yang utama.


*****

__ADS_1


Happy Reading Guys.


Terimakasih telah berbaik hati membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot ya. Love you, guys


__ADS_2