
Perpisahaan seringkali mengajarkan kita betapa berharganya seseorang setelah dia tiada.
*****
Thomas, Danang dan Reza mulai curiga ketika melihat alarm tanda bahaya yang terpasang di rumah aman menyala, dan kedua temannya yang bertugas keliling mengontrol situasi tidak ada dan terlambat 30 menit sesuai waktu yang ditentukan.
Warmen langsung menghampiri Thomas dan kedua temannya itu.
"War, kau bawa keluargamu ke bawah tanah... disana ada stock selama 2 minggu dan jangan pernah keluar sampai benar-benar aman... kau ingatkan? Thomas berkata pelan dan sambil menyerahkan pistol pendek. "peganglah ini... untuk jaga jaga!" Cepat masuk sana, biar kami membereskannya!'
Warmen segera meninggalkan Thomas dan rekannya yang bersiap berjaga-jaga. Ia menghampiri Anneke,Nicky dan Arkhan yang masih menikmati makan malam mereka di meja makan.
"Ayo kita ke ruang bawah tanah... ayo kak Arkhan, ikuti aku!" Warmen berkata sambil menarik tangan istrinya dan menggendong Nicky.
Arkhan menatap Warmen bingung. " Ada apa, War ?"
"Kita kedatangan tamu yang berbahaya... mari kita menghindar dulu ke bawah... kakak ikuti aku!' Ayo kak,,, cepetan!' Sahut Warmen dengan tidak sabar sementara Akhsan masih duduk dan menikmati minuman kopinya.
Akhsan kemudian memperhatikan Thomas , Danang dan Reza. "Aku lebih baik bantu mereka." Pergilah War, kau jaga adik dan keponakanku itu!"
""Tidak kak... ayo!' Ajak Warmen kembali dan pria itu menolak.
Akhsan tampaknya sudah membulatkan tekadnya untuk membantu Thomas. "Pergilah War... cepat, kau punya 2 anak yang harus kau besarkan!"
"kak Akhsan... kau ini dari dulu tidak pandai berkelahi... ayolah jangan buang waktu ... " Hingga suara anne yang memintanya dan membuatnya berfikit ulang.
Tapi tiba-tiba ada tembakan yang memecahkan kaca bagian belakang dan kemudian suara tembakan itu makin banyak dan membuat semuanya merunduk ke lantai.
Dor... dor .... dor .... dor....
Prang.... Prang... dor...
Akh Mama... Amang... !' Teriakan Nicky itu lepas dan dia berlari memeluk Anne yang sudah mulai takut dan terkaget-kaget karena suara tembakan itu, sehingga Warmen harus menariknya dan merangkak menuju kedua manusia yang dicintainya yang sedang berpelukan.
__ADS_1
Teriakan Annneke dan Nicky yang shhock bersamaan dengan deru tembakan makin membuat panik semua pria di ruangan itu.
Warmen segera menghampiri keduanya dan memeluk Anneke dan Nicky, sementara Akhsan merangkak menghampiri Thomas untuk meminta senjata. Awalnya Thomas ragu tapi setelah mendengar dari Akhsan bahwa ia memiliki beberapa senjata di rumahnya karena peninggalan ayah mereka di rumah keluarga mereka yang ada di kota Lampung.
"Dulu aku sering menggunakan senjata-senjata seperti ini dan berlatih bersama ayahku!'
"Baiklah!' Thomas langsung memberikan senjatanya pada Akhsan dan ia mengambil kembali senjata untuk perlawanan dari balik kursi yang didudukinya.
Sebuah senapan otomatis langsung dipegang oleh Warmen. Pria itu tersenyum. Aku harus berani dan melindungi Anneke. Biar dia bangga padaku dan mau memaafkanku. Ia memang tidak ahli dalam berkelahi, namun ayahnya pernah mengajari cara yang benar dalam menggunakan senjata.
Akhsan masih ingat cara menggunakan senjata dan dulu ia sering latihan menembak di hutan bersama ayahnya dan Andi. Semoga tembakanku masih akurat. desahnya. Kemudian ia memberi kode pada Warmen, bahwa ia akan melindungi Warmen ketika melintas dan membawa anak istrinya ke kamar.
Warmen, Anneke dan Nicky baru akan memasuki kamar mereka, namun mereka melihat Akhsan bangkit dan sudah berada di dekat jendela belakang rumah, dan menembaki orang-orang yang berada di luar rumah. Namun baru beberapa tembakan ke luar dikirimkan oleh Akhsan , dan mendapatkan tembakan balasan dari luar, beberapa saat yang terdengar adalah teriakan Akhsan membuat mereka semua terkejut dan menoleh.
"Aww......
...
"Kak Akhsan.... Kak... " Anneka berteriak keras.
Namun Anneke seolah tidak menyadari masih ingin keluar melihat Akhsan karena pria itu masih terkapar di dekat dapur dan banyak darah di pandangan Anneke. Ia ingin melihat kakaknya, bagaimana jika kakaknya meninggal dan ia belum sempat berkata bahwa ia sudah memaafkan kakaknya itu.
'Kakak Akhsan... jangan mati!' Anne sudah maafkan kakak!' teriaknya di sela tangisnya dan ia sudah tidak mampu melawan Warmen karena tubuhnya lemas dan pria itu seolah menariknya kuat-kuat.
"Kakak....!
Tidak ada jawaban. Hening. Hanya ada beberapa tembakan ke arah rumah mereka.
Suara ledakan di depan rumah makin mengejutkan mereka yang berada di dalam rumah. Mobil milik Warmen diledakkan oleh orang-orang di luar rumah. Thomas akhirnya mengeluakan granat dan ia yakin bahwa ini adalah alngkah akhir demi keamanan mereka semua dan harus menghancurkan rumah warisan keluarganya.
'Warmen... cepatlah! Sebelum terlambat bawa istri dan anakmu, aku harus melempar granat ini pada mereka kalo tidak kita semua mati...mereka bawa banyak orang!' Cepatlah!' Thomas segera berteriak dan itu membuat Warmen makin yakin bahwa ia harus segera mendorong istrinya yang masih menangisi Akhsan yang entah bagaimana keadaannya.
""Thom... jangan lupa kirim tanda bahaya ke polisi!'
__ADS_1
"Ya... sabarlah.... sekarang cepat kau bawa istri dan anakmu itu masuk ke dalam ... hitungan ke sepuluh granat ini akan kuledakan , War! Aku mulai ya ... satu... dua...!" Teriak Thomas pada Warmen dan rekannya.
"Tunggu ... "Teriak Reza. 'Sepertinya polisi yang datangkah atau sesama mereka saling menembak di luar sana!'
"Tapi aku tidak mendengar sirine polisi dari tadi,"Seru Danang pelan.
Selagi Thomas menghitung, memang di luar rumah seolah ada adu tembakan. Dan itu terjadi beberapa saat dan tembakan itu kembali terdengar di luar rumah dan seperti ada suara orang jatuh beberapa kali tapi entahlah Thomas, Reza dan Danang tidak yakin.
Mereka bertiga memperhatikan dari celah kecil dan Sepertinya musuh mereka yang di luar sedang ditembaki oleh pihak lain. Tidak ada serangan menuju rumah. Apakah polisi sudah datang? Manakah peringatan yang sering dilakukan polisi atau sirenenya? Ataukah Sam Dan Bowo berhasil kembali dalam keadaan selamat dan menembaki para penjahat bayaran itu. Akh Semoga saja benar. Mereka akan selamat sepertinya.
Hingga sebuah tendangan keras di pintu belakang membuat mereka menoleh ke bagian belakang rumah. Sementara pintu kamar aman untuk Warmen , Anneke dan Nicky telah tertutup.
Thomas bersiap menarik granatnya dan melihat siapa yang datang. Demikian juga Danang dan Reza yang mengarahkan pistol. Namun ketika melihat siapa yang menendang kencang pada pintu belakang. Mereka makin terkejut dan terpana melihatnya. Wanita itu berteriak," Mana Warmen ?"
Seorang wanita. Siapakah dia ?" Bisik Reza pada Danang.
"Entahlah... tapi seperti polisi tapi bukan polisi? Apakah ada pihak lain yang disewa Warmen juga?" Jawab Danang pelan. Dan ia melirik pada ketua rombongan itu.
"Kau siapa?" Tanya Thomas pada wanita itu .
Dan dibelakang wanita itu ada pria juga yang bersenjata tapi langsung melihat pria yang terkapar di dapur. "Bukan Warmen?"
Belum hilang kaget mereka dari wanita dan pria paruh baya itu. Pintu Depan telah ditendang kembali dan terbuka serta teriakan pria itu membuat mereka bertiga makin terkejut kembali dan menengok ke bagian depan rumah.
"Warmen... War dimana kau? Aku datang menyelamatkanmu!" Warmenn!'
"Siapa kalian? Kenapa kalian mencari Warmen ? Dan kau ... kau seperti .." Thomas hampir tak percaya melihat pria yang baru menendang pintu masuk bagian depan dan melewatinya begitu saja dan melihat pria itu menyuruh sang wanita naik ke lantai dua dan periksa di ruangan atas.
Pria itu membuka kamar utama dimana di dalamnya ada kamar aman berada. Namun Thomas mencegahnya.
"Katakan kau siapa? Dan mengapa kau mencari Warmen ?"
"Aku sahabatnya juga, Aku Adiguna!'
__ADS_1
*****
Happy Reading Guys. Thanks telah membacanya dan bolehkah kalian berbaik hati untuk meninggalkan jejak kalian disini ?" Thanks a lot