
Jangan menoleh ke belakang! Dia hanya masa lalumu yang membuatmu sedih dan terluka. LIhat Aku!" Aku adalah masa depanmu!"
*****
Alex memasuki bagian dalam kantor polisi dengan didampingi oleh Dede Muhandar di sebelah kirinya dan Udin di sebelah kanannya. Sementara Jessy sedang mendorong kursi roda di belakang Alex dan Jenny yang menemani Jessy berjalan di belakang Alex.
Di depan ruang pemeriksaan, Mereka berlima berhenti. Polisi yang bertugas menginterogasi kasus hanya mengijinkan satu orang yang mendampingi narasumber yang berkaitan dengan kasus. Intinya hanya Alex dan pengacaranya yang diijinkan untuk masuk
"Jess, kamu mau tunggu aku di sini ataukah kamu dan Jenny menunggu di hotel saja? Karena kalian pasti lelah," Alex berusaha menenangkan Jessy.
Wanita itu merasa bersalah pada Alex kekasihnya yang sekarang. Alex terluka akibat ulah Ballawa, mantan pacarnya yang polisi dan kemungkinan luka ini bisa menghambat waktu pernikahan mereka yang akan berjalan beberapa bulan lagi.
Alex merasa wajar jika hal itu terjadi dan dia merasa sanggup menghadapi Ballawa secara personal. Tapi jika melibatkan institusi, dia merasa tidak fair baginya. Hal itu yang membuat Jessy makin merasa bersalah pada Alex.
"Jess.... abaikan ucapkan yang tadi... aku tidak pernah bermaksud mencari ribut, aku lebih suka berdamai. Jadi jika memang ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, aku akan memilih jalur itu... jadi jangan dipikirkan ya!"
"Aku akan selalu menyetujui apa yang kamu lakukan.... aku cuma merasa takut kehilangan kamu , Alex!" Aku tidak ingin gagal menikah lagi!" Cukup sekali saja aku mengalaminya!" Jessy berkata pelan.
"Hei... aku tidak akan membatalkan pernikahan kita apapun yang terjadi!" Percayalah padaku,Jess!"
Udin yang mendengar perbincangan itu, jadi ikutan bersuara. Dia merasa tak nyaman sahabatnya yang biasanya tegas menjadi begitu lembut pada kekasihnya.
"Eh... Jessy!" Bang Alex-mu itu berbeda sama pria yang disana itu!" Udin berkata dengan santai namun sedikit keras dan membuat keempatnya menoleh ke arah yang ditunjuk udin. " Bang Alex itu akan menepati janjinya jadi kamu jangan khawatir lagi dan biarkan Bang Alex yang membereskan masalah ini!"
Keempatnya menoleh ke sudut yang ditunjuk Udin. Tidak jauh dari mereka tampak pria berkursi roda dan menggunakan kemeja putih dan didampingi seorang perempuan cantik sedang memandang serius ke arah mereka. Jessy terkejut melihat Ballawa dan istrinya. Ia baru menyadari bahwa ada Ballawa juga di sini.
Jessy dan Jenny terdiam memperhatikan pasangan itu. Ada sedikit sakit yang tiba-tiba muncul di hati Jessy melihat wanita itu sedang mengelus-elus punggung Ballawa. Itu pasti istri yang dicintainya.
Alex semula hanya memperhatikan Ballawa dan wanita yang sedang berada di samping Ballawa. Ia mengamati kedekatan keduanya, akhirnya Alex menyadari bahwa Jessy terdiam akibat seruan Udin tadi. Akhirnya Alex menoleh dan melihat sorot mata Jessy yang terluka memperhatikan Ballawa dan istrinya.
"Jess... " Alex memanggil Jessy pelan dan ia mengangkat tangannya meminta Dede menunggu sebentar dan tidak mendorongnya ke ruang pemeriksaan.
"Ya Al... "Jessy akhirnya mengalihkan pandangannya dari Ballawa dan beralih ke Alex.
"Dengarkan aku.... kumohon percayalah padaku, sehabis membereskan masalah ini, aku akan melamarmu segera!" Jangan menoleh ke belakang lagi ! Dia hanya masa lalumu yang membuatmu sedih dan terluka. LIhat Aku!" Aku adalah masa depanmu!"
"Aku menunggumu di hotel saja ya Al, bersama Jessy... jadi biar Udin mengantar kami dulu, baru ia ke mari lagi... apakah kamu keberatan?"
"Tentu tidak... kamu tunggu di hotel saja, jika disana kamu bisa beristriahat!" Alex berkata sambil tersenyum hangat pada Jessy.
Tanpa kata ditariknya pelan tangan Jessy yang berdiri di depannya sehingga Jessy nyaris terjatuh dan berusaha menahan tubuhnya, namun Alex dengan sigap memeluknya. "Terimakasih Jessy, kamu hadir di hidupku dan jangan pernah tinggalkan aku... " Bisik Alex pelan dan hanya mampu didengar oleh Jessy.
Dede ,Udin dan Jenny hanya memandang sambil saling menatap pada pasangan yang berpelukan di depan mereka, Hingga deheman dari polisi yang akan bertugas menghentikan pelukan itu.
"Bisakah kita lakukan wawancara ini, ataukah masih ada drama lainnya yang akan kalian lakukan?" Nada tegas dari penyidik yang sudah menanti dengan tidak sabar membuat pasangan itu akhirnya menghentikan pelukan mereka.
__ADS_1
"Aku masuk ya Jess... Udin tolong antar Jessy dan Jenny ke hotel biar mereka beristirahat," Alex berkata memberikan tugas pada temannya sebelum memasuki ruang pemeriksaan.
*****
Di sudut ruangan kantor polisi yang kebetulan tidak jauh dari kelompok Alex dan Jessy , ada sepasang mata yang menatap marah pada Jessy dan Alex yang sedang berpelukan. Tatapan gusar itu dimulai semenjak kedatangan Alex dan teman-temannya.
Alex dan teman-temannya tidak menyadari kehadiran Ballawa dan istrinya sehingga mereka terus mengobrol. Meskipun tidak terdengar apa yang dibicarakan tapi hal itu bisa dilihat, bahwa interaksi yang ada begitu hangat dan akrab.
Ballawa mendengus kesal memperhatikan mereka semua. Kelompok yang menyebalkan dan otaknya mulai berfikir keras. Apa lagi yang harus dilakukan untuk memisahkan Alex dan Jessy? " Benarkah pria brengsek itu benar-benar mencintai Jessy, ataukah hanya mempermainkan perasaan Jessy?" Ataukah si Brengsek itu mengetahui bahwa Jessy memiliki keahlian yang akan menguntungkannya jika berbuat kejahatan? Bagaimana lagi aku harus menolongmu Jessy?" Kau tak lagi mempercayaiku bahwa pria itu adalah penjahat!"
Ballawa terdiam dan terus memperhatikan Jessy dan mengabaikan wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Ia tidak menyadari tindakannya itu juga membuat wanita yang duduk di sebelahnya jadi bertanya-tanya, apakah mereka adalah kelompok yang bersebrangan dengan suaminya. Ataukah memang musuh dari Ballawa? Atau siapakah mereka sampai membuat Ballawa tampak marah.
"Kak Al...
"Hemm..
"Kakak mengenal mereka?"
"Hemmm... "Ballawa hanya berdehem menjawab pertanyaan istrinya dengan tidak bersuara.
"Apakah mereka berkaitan dengan kasusmu, Kak .... dan apakah aku tak boleh tahu kak?" Brianna bertanya dengan tidak sabar dan memandang Ballawa yang memang terkesan tidak peduli.
"Eh... Jessy!" Bang Alex-mu itu berbeda sama pria yang disana itu!" Udin berkata dengan santai dan menunjuk ke arah dirinya dan Ballawa. Pria itu masih berkata lagi . " Bang Alex itu akan menepati janjinya jadi kamu jangan khawatir lagi dan biarkan Bang Alex yang membereskan masalah ini!"
Brianna tercekat. Wanita itu adalah Jessy. Wanita yang dicintai oleh Ballawa. Benarkah wanita yang tadi mendorong kursi roda ataukah yang berjalan santai dan terkesan macho. Ada dua wanita disana .. apakah yang mendorong kursi roda itu? Ataukah yang.... akh rasanya gak mungkin wanita yang satunya.. dia seperti berbeda dari wanita kebanyakan .
Pandangan mereka berdua baru berhenti ketika seseorang memanggil Ballawa. Dan itu membuat mereka berdua mengalihkan pandangannya dari Alex dan Jessy. Pria memanggil Ballawa adalah Arief.
"Al.." Panggil Arief yang merupakan ketua tim 5.
"Ya rief... bagaimana?" Sudah ada keputusannya tentangku?" Apakah aku akan dibebastugaskan... maaf menyusahkanmu, rief!"
" Kau ini memiliki nasib baik, Al ... aku yang akan menangani masalahmu disini, kau ditarik ke Jakarta dan kau diminta langsung menemui Panglima Angkatan darat . Usahakan besok pagi sudah di kantornya jam 09.00!' Jangan telat jika kau ingin memperbaiki nasibmu!"
"Maksudmu.... aku di mutasi dari kepolisian ke angkatan darat? Kamu yakin Rief... tidak salah yang kudengar?" Ballawa terkejut mendengar penjelasan Arief. Rasanya tidak mungkin dia seorang penyidik di kepolisian dan dipindahkan ke angkatan darat.
"Ini peluang besar untukmu .. benar-benar nasibmu bagus Al... ada "Memo " Khusus yang ditanda tangani Panglima Al... penting dan segera!" Berangkatlah....biar aku yang membereskan kasusmu disini!" Ada progaram baru dari instansi kita dan pertukaran ini dilakukan per hari ini!"
"Baiklah ... sekarang juga kami berangkat!" Terimakasih rief!" Ballawa mengulurkan tangannya pada Arief.
"Kumohon baik-baiklah disana dan lakukan tugasmu dengan bijak!" jangan terbawa emosi!" Kamu ini pria dengan banyak keahlian dan cermat dalam menganalisa kasus... jadikan kerjasama polisi dan angkatan menjadi lebih baik dengan dipinjamkannya kamu ke mereka!" Buat aku bangga dan tidak menyesal menjadi teman se-timmu!"
"Siap !" Al memberi hormat pada Arief dan dibalas dengan hormat yang sama pula oleh Arief.
"Selamat berjuang kawan !" Arief berkata tegas pada sahabatnya yang dianggapnya beruntung.
__ADS_1
*****
Happy Reading Guys.
Terimakasih telah membacanya dan bolehkan berbaik hati meninggalkan jejak disini?"
"
__ADS_1