
Jangan genggam masa lalu! Dia telah pergi meninggalkanmu. Sekarang bisakah kita melihat masa depan? Aku ingin menjadi kertas putih dan menjadi kepercayaanmu!"
*****
Anneke terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup terdengar suara orang ngobrol di depan kamarnya. Annekepun membuka matanya dan menajamkan pendengarannya. Diliriknya Nicky masih terlelap disampingnya, sementara
tempat suaminya berbaring sebelum mereka tidur, telah kosong.
Suara beberapa pria di depan kamar yang sedang ngobrol itu, semakin intens diperhatikan Anneke. Hati Anneke menjadi tenang ketika mendengar suara suaminya meminta waktu pada orang-orang di luar untuk memebangunkan istri dan anaknya.
Mereka memang ngobrol dengan suara pelan, namun karena situasi di depan rumah yang sepi dan para tetangga juga masih pada beristirahat dan pada waktu ini masih menunjukkan pukul 2 dini hari, sehingga membuat suara mudah terdengar di dalam kamar.
Pintu kamar dibuka dari luar dan Anneke melihat suaminya masuk ke kamar mereka. Warmen tersenyum melihat Anneke yang sudah terbangun namun masih berbaring dan memeluk Nicky.
"Hai... sayang! Terbangun ya... maaf abang ngobrol terlalu keras.!" Warmen berjalan dan menuju tempat Anneke berbaring. " Sayang, ada perubahan rencana... kita bisa berangkat sekarang?" Kamu gendong Nicky ke mobil dan aku sudah packing barang=barang, dan sebagian sudah kutaruh di mobil."
"Bang... kita pasti aman kan?" Aku ko makin takut!" Anneke berkata pelan dan bangkit dari tidurnya. Dipeluknya Warmen erat. " Apakah selalu pekerjaan pengacara itu berbahaya bang?"
"Aku pasti menjaga kalian... Jangan kuatir ! " Thomas sering menghadapi kasus ini dan selalu berhasil dan aku pasti berhasil di kasusku dan menjaga anak dan istriku!" Yuk kita siap-siap sekarang! Abang bawa beberapa koper dan beberapa berkas, kamu ganti baju dulu dan segera gendong Nicky ke mobil Thomas!"
"Baiklah !' Anneke berkata pasrah. "Abang ada di mobil itu kan?"
"Ya... tenanglah sayang!' Warmen tersenyum dan mencium kening istrinya lama dan segera bangkit mengambil dua koper dan melangkah ke luar kamar.
Tidak beberapa lama kemudian, Anneke keluar dengan menggendong Nicky yang masih terlelap. Ia terkejut karena mendapati ada 5 pria di rumahnya dan semuanya sedang menunggunya dan dilihatnya tidak ada Warmen. Namun ia mengenali salah satu pria karena pernah dilihatnya di depan toko alat tulis ketika pertama kali Warmen mencarinya di Depok.
"Bapak yang bernama Thomas ?" Anneke sambil menatap pria yang berdiri dan berusaha menghampirinya sambil tersenyum.
"Benar bu Anneke.... Pak Warmen akan menemui kita di rumah aman... mari kita berangkat!'
"Baiklah !'
__ADS_1
*****
Rumah aman yang dimaksud Thomas ternyata berada di daerah Bogor. Rumah itu dianggap cukup sulit dijangkau karena hanya satu jalan keluar karena memiliki satu akses dan berada dekat dengan kantor polisi .
Rumah itu memiliki halaman yang luas dan jarak dengan tetangga cukup jauh dan memiliki taman bunga yang sangat cantik. Di bagian belakang rumah terdapat sebuah pendopo dan ada kolam ikan kecil, yang dibatasi/ dikelilingi oleh pagar kayu setinggi 1 meter.
Suasana pedesaan sangat kental, sehingga sering terdengar kicau burung dan suara binatang lainnya ikut membuat teduhnya lingkungan dari rumah aman itu. Dibelakang rumah sekitar 100 meter dari pagar belakang rumah terdapat aliran sungai Babakan Madang yang jernih dan itu membuat Anneke merasa nyaman dengan rumah itu.
Mereka tiba di rumah itu ketika hari masih sangat pagi, Waktu belum menunjukkan pukul 5 pagi sehingga masih sangat sepi. Rumah itu milik kediaman orang tua Thomas dan sekarang hanya digunakan untuk kegiatan Thomas berkaitan pekerjaan dan mereka sebut sebagai rumah aman untuk menyembunyikan saksi. Sehingga jarang sekali orang mengetahui daerah itu.
Anneke mengajak Nicky melihat kolam ikan di belakang halaman dan itu langsung diikuti oleh Thomas.
"Apakah setiap saya berkeliling di rumah ini, selalu diikuti?"
"Ya bu, ini permintaan Pak Warmen... dan ini juga untuk kebaikan Nicky dan ibu!'
"Aku mengerti... oh iya Pak Thomas, kemana suamiku? Katanya dia akan menemuiku disini?'
"Dia ada urusan memastikan sesuatu hal... tapi mungkin dia akan tiba disini malam nanti.!" Bersabarlah.... selagi ada di rumah aman, maka ibu dan Nicky memang harus berada dalam jangkauan saya sehingga mudah melindungi. Hanya ketika di kamar utama, kami tak masuk ke dalam... kamar itu cukup aman dan ada ruang bawah tanah yang memungkinkan ibu bisa bertahan di dalam situ selama 10 hari... jika kondisi memang sangat berbahaya, saya akan menunjukkan ruangan itu!' Saya mohon kerjasamanya!"
"Kenapa mama Anne?" Nicky bertanya sambil memperhatikan pria di depan mereka. "Apakah Om teman Amang?" Kemana Amang, om?'
'Benar sekali anak pintar... saya teman Amang... dia ada urusan pekerjaan, dan mulai malam nanti dia akan disini selama beberapa hari bersama kita,. sampai kita maju di persidangan!" Oh iya, Om bisa ajarkan kamu menangkap ikan nila? Bagaimana Nicky ?"
"Mau om... Nicky mau banget !'
Anneke tersenyum hangat melihat Nicky yang langsung akrab dengan Thomas. Seketika gundah menghilang dari hati mereka. Sore itu mereka habiskan dengan membakar ikan nila dan menikmati senja di halaman belakang yang teduh.
Ketika hari semakin gelap, Thomas meminta mereka memasuki kamar dan Thomas serta keempat temannya berjaga di rumah itu. Mereka telah bergantian tidur, sepanjang sore tadi kedua teman Thomas telah tidur dan nanti ketika pukul 10. Thomas dan kedua temannya akan bergantian tidur di sofa. Rumah itu cukup besar bagi ke 5 temannya. Mereka selalu memastikan lingkungan dengan berkeliling setiap 30 menit sekali.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Warmen datang bersama seorang pria. Pria itu berusia sebaya dengan Warmen hanya tubuhnya lebih kecil dan berkulit kecoklatan. Ketika akan memasuki rumah aman, Thomas memeriksanya dengan seksama. Setleh dinyatakan aman oleh Thomas, maka pria itu diijinkan duduk di ruang tamu mereka bersama rekan-rekan Thomas yang duduk dan menonton televisi.
__ADS_1
"Apakah kau diikuti, War?'
"Harusnya tidak sih... hanya mobilku saja yang berjalan kesini... aku tidak melihat ada cahaya mobil apapun di belakang kami... !
"Baiklah, Jerry, kau bisa memasang bel tanda bahaya diujung jalan dan dekat pagar depan dan belakang!" Ujar Thomas meminta salah satu rekannya yang bertugas sehingga mereka langsung bersiap di posisi masing-masing.
"Aku panggil Anneke dulu ya!" Warmen bangkit dari sofa tamu dan menuju kamar utama .
Dilihatnya Anneke sudah tertidur bersama Nicky, Dan ditepuknya beberapa kali pundak Anneke hingga wanita itu terbangun.
'Abang?' Akhirnya abang datang juga...!"
"Iya... ngantuk banget ya?'
"Gak sih... abang sudah makan? Mau kusiapkan makanan?"
"Abang tadi sudah makan di kantor sih... emh Sayang... bisa keluar sebentar dulu? Ada yang harus kita bicarakan di luar kamar... biar Nicky tidur saja!'
" Baiklah... aku ambil jaket dulu!'
Ketika mereka keluar kamar langkah Anneke terhenti. Ada sesosok pria yang tidak pernah ingin dijumpainya kembali. Pria yang pernah melukai hatinya. Pria yang pernah sangat dipercayai Anneke dulu.
"Anne...!'
Anneke terdiam membisu.
Warmen yang melihatnya segera memeluknya. "Jangan kuatir sayang... ada abang disini!' Dia tak kan berani macam-macam denganmu... dia hanya ingin meminta maaf padamu!'
Anneke menatap pria yang masih duduk di sofa. Pria itu bangkit dan berusaha menghampirinya. Pegangan tangannya pada Warmen makin erat dan tanpa disadarinya air matanya menetes. Pria itu kakak lelaki yang pernah akan memperkosanya dan sekarang hadir di depannya. Kak Akhsan.
*****
__ADS_1
Happy Reading Guys. Terimakasih telah membacanya, bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini?'
thanks a lot ya!