Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
99. Its getting good now


__ADS_3

"Sekarang  bukanlah  tentang siapa yang paling baik di keluarga ini, melainkan bagaimana kita bersama-sama untuk menjadi lebih baik setiap hari."


 


*****


 


 


"Ini pertama kalinya kita makan bersama dengan anggota keluarga kita yang baru ya, bang !" Aleesha tersenyum pada Gaffar yang sedang menengguk kopi pahitnya.


Gaffar mengangguk dan menyetujui ucapan istrinya.


"Ya benar, ... ini adalah awal  yang baik bagi kita, Sha... tapi mungkin semalam aku tidak mengajak Adiguna untuk sarapan pagi bersama tepat pukul tujuh pagi, ...  tapi biarlah dia harus tahu kebiasaan keluarga barunya ini . Adiguna adalah anak yang baik, seharusnya kau membawanya sejak dulu... aku pasti mendukung setiap tindakanmu, Sha..!"


"Waktu itu keadaannya tidak memungkinkan, Bang.... nah akhirnya Adi datang juga, wah sudah rapih juga .. sini Dii, kita harus makan bersama dan harus  saling mengenal. dengan baik"


Adiguna menarik kursi yang ada di depan Jendral Gaffar yang sudah menerimanya sebagai anak angkatnya. Sejak mengetahui hasil DNA Adiguna dan  perjalanan kemarin dari Jakarta ke kota Semarang, hubungan Adiguna dan Gaffar menjadi lebih mencair.


Penerimaan Gaffar yang dirasa Adiguna tulus membuatnya semakin merasakan artinya sebuah keluarga dan rasanya memiliki ayah. Selama hidupnya ia belum pernah memiliki orang yang dipanggil papa dan mama. Jika sekarang ia mengetahui siapa keluarganya, belum tentu juga keluarga aslinya mau menerima dirinya.


Hal yang  berbeda dengan Aleesha yang  emmang mengetahui kondisinya sejak awal, entah bagaimana dengan Gaffar, apakah pria itu sudah mengetahui bahwa dirinya adalah Handoyo yang seorang narapidana dan dibuat keluar oleh istrinya.


Adiguna tidak yakin bahwa Aleesha menceritakan detail tentangnya pada Gaffar. Ia hanya mengikuti arus dan membawanya kemana dia harus melangkah. Apakah Gaffar menerimanya jika mengetahui latar belakangnya, dan tetap bersikap seolah ia adalah ayah yang ramah.


"Adi... jika kau tidak berkeberatan, aku ingin setiap hari kita sarapan atau makan malam bersama? Termasuk jika kau sudah kembali ke Jakarta?"


"Baik papa... saya akan usahakan minimal setiap hari kita makan bersama, tapi bolehkah saya tetap tinggal di rumah yang diberikan oleh mama Aleesha di Jakarta,"  Adiguna mengajukan permohonan pada Gaffar, karena jika setiap hari harus makan bersama, hal itu bisa diartikan dia harus pindah ke rumah dinas Gaffar, dan itu akan membuatnya tidak bisa leluasa bergerak .


Alesha sedang  mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi goreng dan telur ceplok dan menaruhnya di depan suaminya , dan ia juga  mengambil piring kembali dan menyerahkan piring yang berisi sama untuk Adiguna. Ia melayani kedua pria itu dengan bahagia. Kehidupan keluarga terasa nyata dan harmonis akhirnya bisa dimilikinya.


"Ohh... boleh, tidak harus diwaktu yang sama, aku akan sering menelponmu, dan  jika hubungan kita semakin akrab aku akan membawamu ke pimpinanku itu... Gimana Adiguna dan Aleesha?" Apakah kalian keberatan?"


"Kalo saya sih, terserah mama Aleesha saja, Pa," Adiguna menjawab pelan sambil menikmati sarapan pagi pertamanya dengan keluarga baru yang menurutnya menyenangkan setelah selama ini dia hanya memiliki keluarga yaitu dari keluarga Lidya sebelum mereka semua meninggal.


"Baiklah... kita akan bahas ini ketika kita sudah di Jakarta, bang... sekarang aku ingin kau mengenalnya dengan baik...Adiguna ini bisa juga menembak lho, bang !" Dia sering latihan menembak buruk yang bisa terbang... benarkan Adi?"

__ADS_1


Adiguna tersenyum dan mengangguk.


"Wah lebih baik lagi, kapan-kapan selain kita memancing di laut, kita menembak cari binatang liar di pedalaman hutan kalimantan... Kau pernah berburu, di?'


"Dulu pernah... tapi sudah lama sekali, Pa !"


"Kau punya senjata , Di?"


"Tidak pa, dulu sih pernah, saya memiliki senapan angin waktu di Bengalis, tapi karena sudah lama tidak digunakan, senapan angin itu mungkin agak rusak dan berkarat, sehingga saya tidak memilikinya lagi."


"Aku akan memberikanmu senjata terbaik tidak hanya yang untuk berburu, aku punya beberapa senjata bagus ... bagaimana untuk memanaskan jarimu dan perkiraan menembakmu tidak meleset ketika kita berburu, kita akan latihan menembak di senayan, emh... mungkin dua minggu lagi deh,setelah aku membereskan kasus di Sulawesi dulu !"


"Baik pa... saya ikut saja,  dan terimakasih,,rasanya lebih menyenangkan daripada duduk di balik meja kantor," Adiguna  tersenyum santai  dan mulai menikmati peran barunya,


Sesungguhnya  Adiguna berkata jujur bahwa kegiatan menembak akan lebih menarik dibandingkan duduk di kantor dan menemui banyak berkas.


"Aku akan mengajarimu menembak,... dulu aku adalah salah satu penembak yang cukup akurat dalam tim Garuda. Kami ada 5 orang tim inti dalam menembak bersama juga dengan Jendral Suhartono. Tapi  Dia itu paket yang lengkap karena mampu menyusun strategi dengan lebih hebat."  Gaffar berkata sambil memandang Adiguna dengan lebih detail."Setidaknya kau harus mengetahui kekuatan dan keunggulan dia sebelum kau menyerangnya, di!"


Aleesha tertegun sejenak dan dia langsung membantu Adiguna yang terkesan terkejut akan perkataan Gaffar.


"Bang... kau ini mau makan sebagai keluarga atau kau sedang mengarahkan strategi padanya untuk bertindak." Aleesha berkata dengan ketus.


"Aku ingin kita sebagai keluarga dulu dan menikmati kebersamaan kita, kau boleh mengajarinya tapi tidak sedang di meja makan... bisakah itu Bang?"


" baiklah.... makanlah Adiguna, sebelum mamamu marah lagi padaku!" Aku ingin kau menjadi yang terbaik di keluargaku, Di dan mewujudkan apa yang mamamu inginkan!"


Adiguna tersenyum melihat keakraban kedua orang tua angkatnya. Sesungguhnya ia ingin segera mendapat informasi dari Gaffar mengenai Jendral Suhartono. Apakah mungkin dalam waktu dekat? Ataukah Aleesha memang menginginkan rencana lain. Dia harus mengikuti rencana wanita itu karena biar bagaimanapun wanita itulah yang selama ini mendukung dan mempersiapkannya.


"bang.....Sekarang  bukanlah  tentang siapa yang paling baik di keluarga ini, melainkan bagaimana kita bersama-sama untuk menjadi lebih baik setiap hari."


'Aku setuju, sayang... mari kita belajar untuk menjadi keluarga yang baik!" Sha, apa rencanamu hari ini? Kapan kamu mau balik ke Jakarta ?'


"Aku ada rapat di kantor jam sepuluh, eh... ngomong-ngomong Nadia kenapa belum datang ya?"  Tumben dia gak sarapan bareng." apa dia kesiangan ?"


" Ntar juga dia datang.... terus kapan kamu mau  balik ke Jakarta? BIsa sore ini gak ?' 'Gaffar menunggu kepastian istrinya, karena ia sudah harus di Jakarta besok pagi karena ia ada beberapa tugas kemiliteran yang dikerjakan dan tidak bisa ditunda.


"Aku pulang minggu depan, gimana bang?" Ada Nadia yang mendampingiku disini .. abang pulang saja bersama Adiguna dan bereskan urusan di Jakarta."

__ADS_1


"Seharusnya kau mulai mengurangi pekerjaanmu di sini, biarkah Adiguna yang mengurusnya bersama Nadia... gimana Adiguna?" Kau ingin melatih kesiapannya kan?" Kurangi porsimu di perusahaan , Sha!"


Adiguna terdiam sesaat dan memperhatikan Aleesha. Wanita itu tersenyum penuh arti padanya dan mengangguk.


"Saya tak masalah pa... saya yang membereskan urusan disini juga tak mengapa, ada Nadia yang bisa membantuku," Ujar Adiguna dengan penuh rasa sukacita.


"baguslah... Sore ini aku dan mamamu kembali ke Jakarta, kau bersama Nadia, bantu urus masalah  perusahaan disini ya!" minggu depan kita bertemu di Jakarta dan minggu depannya kita bisa latihan menembak, gimana Di?'


"Siap papa!"


Sarapan pagi ini berjalan dengan suasana yang menyenangkan. Satu hal yang baru bagi keluarga Gaffar, hubungan yang membaik dengan istrinya dan kehadiran Adiguna sebagai anak angkatnya membuat Gaffar meyakini kehidupan mereka lengkap sudah.


 


 


*****


 


 


 


 


Happy Reading Guys!"


Terimakasih telah berbaik hati membacanya dan jika berkenan bolehkah tinggalkan jejak kalian disini?"


Tetap semangat dalam menjalani hari dan tetap sehat ya temans. Love you.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2