
Aku akan menjagamu dan melindungimu... Aku tidak akan membiarkan dirimu mengalami seperti apa yang pernah kualami, anakku!"
*****
Nadia terbangun karena perutnya ada yang sedang mengelus-elus penuh kelembutan. Ingin marah tapi Nadia segera sadar, pria ini lebih berhak meski dia bukanlah pemilik sebenarnya dari janin yang ada di kandungannya. Pria itu mengecup kain penutup perutnya perlahan sambil berbisik pelan.
"Anak papa... sehat selalu ya..!" Maafkan papa yang pernah jahat pada mamamu!"
Pramoedya berbisik kembali," Kamu harus seperti mamamu yang pintar dan berani serta mau memaafkan papa... kamu harus jadi orang hebat!"
Suara serak dari Pramoedya sungguh terdengar tulus di telinga Nadia . Pria yang dulu terkenal arogan, aneh dan seenaknya itu berubah drastis ketika mengetahui dirinya hamil. Pramoedya menjadi pria dewasa yang bertanggungjawab dan seorang pekerja keras.
Pria itu benar-benar mencintai Nadia dan percaya apapun yang dikatakan oleh Nadia. Dan pria itu benar-benar percaya bahwa yang ada di dalam kandungan nadia adalah darah dagingnya.
Pramoedya yang aneh telah berubah menjadi pria dewasa yang bertanggungjawab dan makin rajin bekerja dan berusaha keras mengembangkan usaha distributor ikan dan makanan khas Palembang ke berbagai daerah di Indonesia, telah menjadi pria yang bertanggungjawab dan berkomitmen pada pernikahannya.
Nadia sebenarnya cukup nyaman hidup bersama Pramoedya, tapi rasa bencinya pada keluarga Pramoedya membuatnya menutup mata hatinya akan kebaikan dan rasa kasih yang diberikan oleh pria itu, terlebih pria itu pernah melakukan satu kesalahan fatal padanya.
Tiga minggu setelah mereka menikah, Nadia menginformasikan bahwa dirinya mengandung dan itu akibat perbuatan Pramoedya yang menidurinya berulang kali di malam pernikahan mereka.
Dan Pramoedya percaya karena ia di bawah pengaruh minuman keras dan setiap ia ingin meniduri Nadia, wanita itu selalu beralasan, rasa trauma akan pemerkosaan yang pernah dilakukannya membuatnya harus minum anggur agar ia mampu melayani Pramoedya.
Dengan bangganya Pramoedya segera menginformasikan pada ayahnya dan itu disambut sukacita oleh sang mertua. Ayahnya Pramoedya ingin segera menyambut kehadiran jabang bayi yang belum diketahui identitasnya. Hal itu membuat Nadia cukup bahagia bahwa mertuanya menginginkan anak yang dikandungannya.
"Sayangku... kamu sudah bangun?"
Nadia tersentak dari lamunannya karena panggilan dari suaminya yang sudah duduk memperhatikannya dengan penuh perhatian.
"Kamu mau makan apa hari ini? Mumpung lagi di Jakarta... kamu ingin makan apa sayang?" BIar papa keliling Jakarta untuk mencarikannya dan dede bayi akan sehat selalu."
Nadia tersenyum tulus. " Aku belum lapar... tapi aku mau minum susu saja... bisakah mas Pram buatin?"
__ADS_1
"Tentu saja... papa akan buatkan untuk mama dan dede bayi!"
"Terimakasih mas Pram... kamu sudah menjadi papa terbaik untuk si dede... semoga anak kita bisa menjadi anak yang hebat dan membanggakan!"
"Tentu saja sayang... tunggu ya, aku siapakan susu untuk kamu."
Kehamilan Nadia, sungguh membuat Pramoedya berubah. Ia tidak ingin anaknya kehilangan kasih sayang yang tidak pernah ia peroleh dari kedua orang tuanya, seperti apa yang pernah dialaminya dulu.
Pramoedya berjanji dalam hatinya ia akan membahagiakan Nadia dan anak-anak mereka kelak. Ia tersenyum ceria menuju dapur untuk membuatkan minuman susu untuk Nadia. Membayangkan hidupnya akan penuh kebahagiaan karena ia akan hidup bersama wanita yang dicintainya dan anak mereka kelak.
"Aku berjanji akan membahagiakan kalian berdua... aku akan menjaga kalian dengan nyawaku... aku takkan membiarkan seorangpun mengganggu kehidupan kalian..!"
Pramoedya masih dengan senyum bahagianya menuju kamar Nadia. Dia membawa segelas susu dan diserahkan langsung pada Nadia , segelas susu coklat hangat itu.
"Minumlah sayang !"
"Terimakasih mas Pram." Nadia mengambil gelas yang diberikan oleh suaminya dan memulai meneguk susu coklat itu. Rasanya hangat dan langsung turun ke tenggorakannya dan perutnya langsung hangat.
"Enak sekali lho mas Pram... kamu memang calon papa yang hebat!"
Nadia sungguh merasakan perubahan sikap dari Pramoedya yang dulu dan Pramoedya yang sekarang. Tapi dia tidak bisa mencintai pria ini. Dia belum bisa memaafkan kesalahan pria itu dan menjadikan kesalahannya sebagai tameng untuk menolak permintaan pria itu dan menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Ketika segelas susu itu habis dan Nadia bermaksud bangkit dari tempat tidurnya utnuk ke dapur, pria itu menarik tanganya dan mencegah dirinya bangkit dan mengambil gelas dari tangannya.
"Nad...
Pramoedya sengaja menghentikan langkah Nadia dan menarik tangan istrinya sehingga membuat Nadia terduduk di ranjangnya.
Ia menggenggam jemari istrinya dengan erat. Ia tahu istrinya ini wanita hebat dan mampu menendang dirinya jika wanita itu benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya.
"Maafkan aku yang dulu ya Nad.."
__ADS_1
"Ya." Sahut Nadia pendek dan ia tidak ingin memandang suaminya.
Nadia memilih merapihkan posisinya dan berusaha memandang ke arah lain di kamar itu. Nadia tahu Pramoedya menyesali kesalahannya dan selalu meminta maaf setelah mengetahui dia mengandung anaknya. Tapi ia harus menjalankan tugasnya. Dan Pramoedya adalah poin yang akan membantu kesuksesannya. Ia harus tegas dan tidak boleh terpengaruh akan sikap manis Pramoedya.
"Nad... terimakasih telah mau menjadi istriku... aku tahu di masa lalu aku bukan pria yang baik... aku orang jahat, ... aku meninggalkan trauma padamu.... aku tahu aku orang jahat ... tapi bisakah kita pergi ke dokter atau apa itulah.... seperti terapi ... aku ingin untuk membuat perasaanmu tidak takut atau membencikuku dan mau menatapku ketika kita bercinta... aku merasa kau menyesali kehadiran anak itu... tapi aku sangat menyayangi anak itu, Nad... dia darah dagingku... aku ingin dia mendapatkan cinta yang utuh dari kedua orang tuanya..!
Nadia terdiam mendengarnya dan sedikit merasa tidak nyaman. Sedikit tertegun dan jawaban itu terasa menyentuh hingga ke dasar hatinya. Nadia tersenyum dan berusaha menenangkan suaminya yang ia rasakan bahwa pria itu semakin menyesali kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu.
"Nad... bisakah kamu memaafkanku perlahan... tak masalah kau selalu menolakku setiap aku menginginkan dirimu, tapi asalkan kau membiarkan anakku hidup bahagia... aku ingin memberikannya cinta yang terbaik dari papa dan mamanya..."
"Aku belajar untuk melupakan masa lalu itu mas Pram... kumohon mas maklum... aku sedang belajar... jika aku tidak belajar, mungkin kita tidak akan menikah mas Pram...
"Kau tahu Nad... aku tidak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari orang tuaku... kau tahu apa yang terjadi pada keluargaku... aku dibuang dari keluargaku... aku akan menjaga kamu dan anak ini... aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakitnya... aku akan menjaganya dengan nyawaku... bolehkah Nad... bolehkah Nad, kamu memaafkan perbuatanku di masa lalu... aku ingin menjadi ayah yang bertanggungjawab."
Tanpa pernah bisa dicegah, air mata menetes di pipi Nadia. Ucapan dari pria yang pernah amat dibencinya dan ia menikahi pria ini dengan satu tujuan untuk mempermudah balas dendamnya, semakin membuat Nadia makin bersalah.
Air mata masih terus menetes di pipi Nadia, Ia telah menghapusnya beberapa kali tetapi kenapa air mata ini makin deras. Hal itu membuat Pramoedya mendekatinya dan membantu menghapus dengan telunjuk jarinya .
"Maafkan aku... aku yang salah... jangan sakiti dirimu dan anak kita ya!" Pramoedya merengkuh pelan tubuh istrinya ke pelukannya.
Rasa hangat mulai menjalar ke hati Nadia, Entah mengapa rasa bencinya pada Pramoedya sudah mulai berkurang. Sedikit perasaan bersalah, apakah mas Pram akan seperti ini jika mengetahui bahwa yang dikandungnya bukan anaknya.
Nadia masih sesegukan di pelukan Pramoedya dan pria itu benar benar membiarkannya menangis di pelukannya. JIka ini adalah Pramoedya yang dulu yang sombong dan seenaknya, tentu hal ini tidak akan terjadi. jika Pramoedya tidak berubah seperti ini.
Aku tidak boleh mengkhianati tugas dan misiku. Aku tidak boleh mengkhianati mas Handoyo, tapi aku juga tak bisa mengabaikan kebaikan dan ketulusan mas Pramoedya. Tidak boleh lupa akan asal usul mas Pramoedya, dia anak Jendral Suhartono yang jahat itu dan membuat kedua orang tuaku meninggal.
Tapi mas pram itu terlalu baik jika diabaikan terus menerus.Salahkah aku jika aku menginginkan keduanya saja. Bukankan memang aku ini istri sah dari mas Pramoedya. Sah saja.
*****
Happy Reading Guys,
__ADS_1
Terimakasih masih setia membacanya. Maafkan di tempatku lagi susah sinyal, pas ke kota saja baru keteruskan. Stay Healthy guys... Love you all