
Tidak pernah ada kata terlambat untuk mewujudkan cita-citamu !"
Terkadang kita diuji bukan untuk menunjukkan kelemahan kita, tetapi untuk menemukan kekuatan kita."
*****
Tiara turun dari pesawat menuju mobil yang telah menjemput mereka. Perasaannya menjadi tidak menentu setelah melihat Aleesha mengikuti rombongan mereka. Jujur saja tadi ia kaget melihat Aleesha mengikuti suaminya, Gaffar yang mengikuti tugas kerja Presiden ke daerah berbahaya.
Kunjungan kerja ke Dili ini merupakan salah satu tugas berat yang dihadapi Presiden, selain harus membangun dan membereskan kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dengan negara tercinta. Memang dalam rapat kordinasi, sudah dinyatakan bahwa tim yang mereka bawa adalah tim ahli yang sanggup berperang jika diserbu oleh 500 orang sekaligus.
Tiara tahu cepat atau lambat dirinya pasti akan menghadapi hal ini -tapi sakit hati karena kegagalannya memisahkan gaffar dengan Aleesha, cukup membuatnya kesal. Terlebih karena ia melihat hubungan Gaffar dan Aleesha yang semakin harmonis.
Padahal hampir dua puluh tahun yang lalu ia berhasil memisahkan kedua pasangan itu, tapi ternyata Aleesha bisa bertahan dengan segala kecurigaan Gaffar dan tidak bercerai dari suaminya itu.
Di dalam kamar hotel berbintang lima di Dili, Tiara terlihat sedang mengaduk teh dalam cangkirnya dengan tatapan kosong. Perasaannya lebih baik setelah ia meneguk teh hijau itu.
Terbayang oleh Tiara peristiwa masa lalu ketika ia berhasil memprovokasi Gaffar bahwa Aleesha selingkuh dengan pria lain dan saat itu Gaffar memang ada tugas di Dili. Foto-foto Tiara sedang berada di Palembang bersama pria yang cukup muda dan terlihat sedang berpelukan memasuki sebuah hotel.
Jendral Setiono yang memastikan masalah perselingkuhan dan menunjukkan foto -foto lain, juga ikut dihajar oleh Gaffar yang sedang terbakar cemburu. Beruntung suaminya yang merupakan atasan Gaffar turun tangan, dan mencegah tindakan bodoh Gaffar yang hampir membunuh setiap orang dirumahnya ketika ia mendapati Aleesha tidak ada di rumah dan saat itu juga Presiden segera memerintahkan seluruh ajudan dikerahkan untuk mencari Allesha .
Hal itu membuat Gaffar marah besar terlebih ketika Aleesha tiba di Jakarta keesokan harinya , Aleesha sedang pergi ke suatu tempat yang dirahasiakan. Dan itu membuat kecurigaan Gaffar makin menjadi-jadi, dan membuat pria itu makin emosi dan hampir menceraikan Aleesha ketika wanita itu marah melihat ada banyak orang di rumah mereka. Rumah pribadi mereka dihadiri Presiden, Tiara, jendral Setiono dan beberapa petinggi negara lainnya.
Saat itu Aleesha tidak menangis, dan dia cukup terkejut melihat banyaknya orang yang hadir di rumahnya, dan dikerahkannya banyak orang mencari dirinya. Aleesha menatapnya saat itu tapi tak berkata apapun. Tapi Tiara ingat tatapan itu masih sama ketika wanita itu mengetahui bahwa dia yang membunuh Yona , Sahabat Aleesha.
Saat itu Tiara menempatkan Setiono untuk mengawasi Gaffar dan Tiara . Dan ketika didapati bahwa pria itu benar-benar bekerja untuk negara ini dengan setulus hati , tetapi istri dari Gaffar yang mempunyai rahasia besar dan terkesan menjaga jarak dengan Gaffar.
Hal itu membuat Tiara puas karena berhasil memisahkan keduanya. Aleesha yang membentuk perusahaan "Diamond Grup" dan itu disamarkan dalam organisasi rahasia , tapi tindakan Aleesha itu sudah diingatkan oleh Jendral Setiono bahwa itu dapat memungkinkan akan mengkudeta.
Presiden dan Jendral Gaffar membantah habis, dan tinggallah ia dengan Jendral Setiono yang terkejut melihat kedua orang itu seolah-olah tidak perduli. Namun semenjak Setiono meninggal di Lampung karena ulah "Cepot berdarah " , ia kehilangan informan terbaiknya. Dan suaminya semakin tidak mempercayainya dan menganggap itu hanya khayalannya saja.
Tiara menarik nafas pendek lagi. Kesal sekali jika ia mengingat wajah Aleesha. Apakah Aleesha merencanakan sesuatu padanya? Apakah Aleesha mengetahui bahwa ia-lah dalang dalam marahnya Gaffar bertahun-tahun yang lalu. Tapi sekarang ia tidak memiliki satu orang kepercayaanpun, ia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya sebagai syarat Pramoedya dipisahkan dari rumah utama.
__ADS_1
"Selamat pagi Bu... Saya akan menginformasikan kegiatan kita hari ini,: Sapa Nuke Ajudan pribadi Tiara.
"Ya ."
" hari ini kita ada pertemuan dengan Ibu Gubernur dan para pengusaha wanita disini jam 09.00 dan menurut Presiden, kita akan ditemani oleh Ibu Aleesha dan ketua Paspanres kita adalah Ballawa... dan kita akan menggunakan mobil dengan pengawalan hanya dua mobil bu,"
"Baiklah.... panggilkan Aleesha kemari... aku mengajaknya untuk minum teh bersama"
" Siap bu
"Tunggu Nuke!"
Sang Ajudan berhenti dan otomatis berbalik menghadap pimpinannya kembali.
"Waktu saya suruh kamu buat nyari orang yang bisa kupercaya untuk menyelidiki Aleesha, bagaimana?"
"Maaf bu... Presiden melarang saya.... Maafkan saya bu!"
Otaknya kembali berfikir keras. Apalagi yang bisa dilakukannya untuk memisahkan Aleesha dan Gaffar. Benarkan bahwa Gaffar bisa mengampuni kesalahan istrinya. Apakah Gaffar tidak pernah terpikat wanita lain? Apakah diotaknya hanya ada pekerjaan dan Aleesha? Apakah cintanya cuma satu untuk Aleesha? Sungguh beruntung Aleesha memiliki Gaffar.
Aleesha tidak cantik dimatanya. Hanya saja ia mandiri dan pandai berkelahi. Apa hebatnya itu. Dasar Gaffar bodoh.
Beberapa menit kemudian Nuke datang bersama Aleesha yang sudah rapih dan menyapanya dengan hangat. Apakah itu setulus senyumannya. Apakah wanita ini tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya?
'Duduklah Aleesha.... ada hal penting yang harus kita bicarakan !"
"Baik bu...." Aleesha duduk dengan tenang di sofa depan Tiara duduk.
"Kau tahu keberadaan anak -anak kita... apakah mereka baik-baik saja ?"
"Ya bu... mereka baik-baik saja dan mungkin saat ini Nadia sedang hamil... katanya mereka akan melahirkan anak di Jakarta, jadi mungkin setelah kehamilan Nadia kuat, mereka akan mengunjungi kita kembali !"
__ADS_1
"Boleh aku bertanya tentang masa lalu?" Dan itu bersifat pribadi ..!"Tiara menatap wanita yang seolah tersenyum ramah, tapi entah kenapa TIara merasakan senyum itu tidak tulus.
"Boleh bu." Aleesha kembali tersenyum.
" Sebenarnya Adiguna itu anakmu dengan selingkuhanmu kan, Aleesha ?"
Aleesha tersentak tak percaya. Pertanyaan ini yang dikeluarkan dan itu membangkitkan amarahnya akan kejadiaan masa lalu. Ditariknya nafasnya untuk mengendalikan emosinya.
"Maksud ibu?"
"jangan pura-pura bodoh kau Aleesha... aku tahu rencanamu kemari... kau ingin membalaskan dendammu padaku...dan kau mengajak anak hasil perselingkuhanmu bersamamu.... kau memang bisa memperdaya Gaffar... tapi kau tak bisa menipuku, Aleesha."
"Maaf bu... saya tak berselingkuh dengan siapapun... dan Adiguna memang bukan lahir dari rahim saya... tapi saya menyayanginya seperti anak saya sendiri!"
"Benarkah ?"
"Bu... Ibu boleh tidak percaya saya, tapi tahukah ibu, bahwa Presiden yang meminta saya ikut di kegiatan ini... bahkan dia berpesan saya ikut dengan mengajak anak saya... tapi ada yang sangat penting dan ibu perlu tahu, mereka sedang memancing bersama ?" Aleesha tersenyum penuh kemenangan.
"maksudmu?"
"Ibu tahu... Presiden tertarik dengan anak saya... karena ia mirip dengan seseorang yang penting...!
"jangan bicara yang tidak jelas... "
Aleesha senyum penuh arti dan membuat Tiara makin kesal.
*****
Happy Reading Guys.
Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot ya.
__ADS_1