
Kamu tidak bisa menjalin hubungan cinta yang baik jika masih terlilit masa lalu yang kelam. Maafkan dia dan melangkahlah bersamaku!"
*****
"Jessy katakan sekali lagi... Apakah dia suamimu?" Tanya Alex.
"Bukan dia membatalkan pernikahan kami di tengah pesta dan setelah itu berkata pada kedua orang tuaku bahwa pernikahan di batalkan, terus dia menghilang... hua..... huaa.... dia pria terkejam yang pernah kutemui, dia memaksaku untuk menganggap semua tidak pernah ada... " Tangis Jessy meledak dan Alex menariknya ke pelukannya.
Al terdiam melihat Jessy menangis histeris di pelukan pria lain di depan matanya. Ingin ditariknya Jessy dari pelukan pria lain, tapi tidak memungkinkan. Tidak ada hal yang bisa dilakukannya untuk Jessy. Hatinya juga perih melihat Jessy menangis tanpa ia bisa melakukan apapun untuknya. Maafkan aku Jessy, aku tak bisa , aku terbentur oleh pekerjaaan dan janjiku pada keluargaku.
Al masih memandang pria yang memeluk Jessy. Tiba-tiba ia teringat pada pria yang menatapnya dengan sinis itu. Pria itu seperti salah satu tersangka dalam kasus "Palembang". Tapi benarkan ingatanku?"
"Jessy, sudahlah jangan menangis lagi, ntar Handoyo pikir aku berbuat jahat padamu,"Bujuk Alex lembut dan ternyata bisa menghentikan tangisan Jessy.
"Terimakasih Al," Sahut Jessy sambil menatap Alex yang sedang memeluknya .
Balawa hanya terdiam dan menahan perih di hatinya memperhatikan interaksi antara Jessy dan Alex. Panggilan Al yang biasanya untuknya beralih ke pria lain. Tatapan Jessy sudah tidak ada padanya lagi. Terluka kembali, tapi ia tidak bisa melakukan apapun karena kesalahan yang diperbuatnya.
"Jessy..... ntar jika ketemu Handoyo, kamu tidak boleh terlihat habis menangis, bagaimana jika kamu ke toilet dahulu mencuci mukamu agar lebih terlihat segar," Bujuk Alex kembali.
"Baiklah, terimakasih Alex.... mohon tunggu aku jika aku sampai aku kembali dari toilet!" Jessy melepaskan diri dari pelukan Alex dan berjalan ke arah toilet.
Alex dan Al sedang bertatapan tanpa kata ketika Jessy di kamar mandi. Tangan Balawa mengepal erat-erat, ia ingin menghajar pria arogan yang menatapnya dengan sinis, Tapi seragam yang digunakan dan sedang berada di dalam lingkungan kantor menghentikan dirinya dari tingkah konyol ataupun mengalihkan rasa sakit di hatinya.
Tiba-tiba panggilan untuk "Dede Muhandar" Muncul untuk ke dalam ruangan tamu di lantai 2. Pengacara asal Bandung itu mengajak Alex untuk memasuki ruangan tempat pertemuan dengan Handoyo, tapi Alex meminta menunggu Jessy sebentar hingga wanita itu keluar menghampiri Alex dan mereka berjalan meninggalkan loby dibawah tatapan tajam Balawa.
Di dalam ruangan itu sudah terdapat Handoyo dan Warmen yang tampak lelah akibat interogasi yang dilakukan oleh tim 5 sepanjang malam dan pagi. Raut Dede Muhadar tersenyum memandang Warmen yang sering bertemu di persidangan kasus-kasus besar.
"Hai... Warmen, kenapa apakah sudah KO?" Ledek Dede pada Warmen yang bangkit menghampiri pria yang dikenalnya dan sering bersisian paham di persidangan.
"Tiada di kamusku KO, ngapain kamu ke sini? mewakili siapa lagi.... apakah ada tuntutan lagi untuk Handoyo?" Warmen bertanya sambil menatap Alex dan wanita yang berdiri di samping Alex.
Jessy menghampiri Handoyo yang tampak merebahkan kepalanya di bantaran sofa panjang.
'Mas Handoyo.... capek ya? Sambil aku pijit ya.... "Ujar Jessy sambil memijit kepala Handoyo dan tindakan itu tidak luput dari pandangan Alex.
"Gak sih... cuma ngantuk aja... kamu kesini sama siapa? Jenny?" Tanya Handoyo pada Jessy.
__ADS_1
"Iya... tapi dia lagi bersama massa yang mendukung kamu mas Han... sekarang kamu populer lho, banyak yang berteriak di depan sana meminta kamu dibebaskan... oh iya ini aku bawain makanan, tapi sudah agak dingin sih.... kamu mau gak/" Jessy berkata pelan.
"Aku gak lapar, Jessy.. ntar kalo aku lapar, aku pasti makan...
"Tadi ketemu Al?" Tanya Handoyo pada Jessy pelan.
"Hemm tapi dia gak mau bantu aku, jadi aku minta tolong Al yang lain.... iya gak Al?" Sahut Jessy sambil tersenyum pada Alex.
Alex tersenyum hangat pada Jessy dan Handoyo hanya memandang dalam diam penuh arti. Ke empat pria itu memperhatikan Jessy yang tampak akrab dengan Alex dan Handoyo. Jessy kemudian berdiri di belakang Handoyo sehingga makin membuat Handoyo nyaman dan terlelap di sofa itu, HIngga Warmen yang memecahkan suasana untuk memastikan kedatangan pengacara asal Bandung.
"De..jadi sebenarnya ngapain kau kesini?" Warmen bertanya kembali pada Dede.
"kenapa kau keberatan jika aku yang menjadi pengacara Handoyo/' Dede menjawab sambil tersenyum iseng. "Aku diminta oleh sahabatku Alex untuk menjadi pengacara bagi Handoyo, tapi kulihat ada temanku yang juga pengacara hebat, gimana Pak Alex apakah kita bergabung dengan Pak Warmen ini atau kita singkirkan temanku yang usil ini!'
"Ah... ada-ada aja kau... posisi kita masih seri di beberapa kasus ya, De!" Sahut Warmen santai,
"Han... kau tidak keberatan jika didampingi dua pengacara kan?" Aku yang bayar jasa Dede Muhadar ya? " Kupikir dua pengacara hebat akan membuat para penuntutmu, harus bekerja keras dalam membuktikan semua kasus, " Ujar Alex yang menawari pendampingan hukum tambahan dalam persidangan yang akan dihadapinya nanti.
"Gimana War?" Apakah kau bisa bekerjasama dengan orangnya "Alex" ? Tanya Handoyo pada Warmen.
"Sebenarnya aku sendiri tak masalah, Han.... tapi bagus juga aku bekerjasama dengan dia, belum pernah kita memecahkan kasus bersama ya De....kita selalu bertemu sebagai pihak yang bersebrangan.... baiklah untuk kasus Handoyo kita akan bekerjasama dengan baik dan kita harus memenangkan kasus ini , minimal target kita Handoyo terlepas dari hukuman mati dan mungkin penjara saja atas kasus di Lampung sekitar beberapa tahun," Sahut Warmen santai.
"Baik... kita berjuang bersama... sekarang data apa yang kau punya tentang Handoyo, War?" Ujar Dede pada Warmen.
Ketika Handoyo akan meninggalkan teman-temannya, Alex menghampiri Handoyo dan berkata pelan yang hanya dapat didengar oleh Handoyo.
"Katakan padaku, apa hubunganmu dengan Jessy?
"Dia hanya temanku saja.. dia pemilik salon yang suka memijit kepalaku... kenapa? Kau menyukainya.... dekati saja, tak ada hubunganku dengan Jessy," Ujar handoyo dengan santai dan menepuk pundak Alex kemudian ia berjalan menemui dua petugas yang telah menunggunya.
"Baiklah... jadi kau tak marah, jika aku mendekatinya?" Bisik Alex lagi
"Dekati dia dan jadikan dia istrimu, dia wanita baik yang pernah terluka parah, jadi selamat berjuang, Bang !" Handoyo berkata santai dan meninggalkan Alex .
Teriakan Jessy sempat menghentikan langkah Handoyo namun pria itu hanya mengangkat tangannya sebagai tanda oke tanpa menengok kembali pada teman wanitanya itu.
"Mas Han....jangan menyerah ya, tetap semangat dan kami semua mendukungmu!" Teriak Jessy dan wanita itu tidak menyadari ketika Handoyo menarik tangannya dan mengajaknya berjalan meninggalkan ruangan tamu yang mereka gunakan beberapa waktu tadi.
"Jess... ayo kita pulang, aku antar kamu pulang ya! "Panggil Alex lembut.
"Ya Al... kamu beneran akan antar aku pulang?" rumahku jauh lho... dan aku ada temanku yang sedang ikut bersama masyarakat di bawah yang meminta untuk pembebasan mas Handoyo..
__ADS_1
"Ya... ajak dia pulang juga, biar kita bisa ngobrol di perjalanan... kamu mau kan?"
"Mau... terimakasih Al, kamu baik sekali padaku," Sahut Jessy manja dan merangkulkan tangannnya ke pinggang lelaki itu.
"Al, kamu tidak punya istri kan?"
"Aku seorang duda, istriku meninggal dua tahun yang lalu...
"Berarti tidak ada yang akan marah jika kita bersama/'
"Kamu tidak akan bisa menjalin hubungan cinta yang baik jika masih terlilit masa lalu yang kelam. Maafkan dia dan melangkahlah bersamaku!" Ujar Alex sambil melirik pria yang menunggu mereka di ujung lorong.
"kamu mau mengajariku untuk melupakannya, Al ? " Tanya Jessy sambil menatap pria dewasa yang terkesan sabar dan mampu membimbingnya.
"Kita kan menjalaninya bersama Jess...! " Sahut Alex dengan penuh ketegasan.
*****
Happy Reading Temans, Maukah tinggalkan jejak kalian disini? Terimakasih telah berbaik hati membacanya. Love you all
__ADS_1