
Memendam rasa bukan sebuah tanda tak mampu, tapi menyadari bahwa orang yang sedang dipilih hati saat ini bukanlah sosok yang tepat.
Harusnya aku bahagia melihatmu bahagia, tapi aku masih ingin kamu bahagia karena aku.
*****
Ballawa yang terkena tembakan dari Presiden karena ia ingin melindungi Adiguna dalam peristiwa di Istana masih terbaring di rumah sakit dan belum sadarkan diri. Ini sudah hari kedua ia berbaring tidak sadar dan membuat panik keluarga dan rekan-rekan se-timnya.
Saat ini Umai dan Briana tengah duduk di sampingnya menunggu sambil terus mendoakan kesembuhan Ballawa. Namun Seolah Ballawa mempermainkan keduanya yang tengah menantik kesembuhan Ballawa.
Dua hari yang lalu, roh Ballawa sudah melayang dan menemui Umai, ibunya, namun nampaknya roh milik Ballawa itu masih belum kembali ke raganya.
'Al... Cepatlah kembali... kami menunggumu!" Desis Umai dalam hatinya.
Mata hati Umai berkelana mencari keberadaan rohnya. Pikirannya masih mengembara mencari anaknya.
"Apakah roh-mu tidak dapat menemui ragamu, Al? Apakah kau sedang menemui wanita itu?" Hati Umai masih berbicara dan memanggil anaknya dalam diam di ruangan itu.
Tidak ada yang bisa ditemui Umai. harusnya dengan kemampuan Umai , hal mudah menemui anaknya itu. Apakah aku begitu kejam pada anakku. Apakah mengubah takdir memang tak bisa. Aku melakukan ini untuk kebaikan kalian, Al. Tentu saja wanita itu juga akan hidup dengan baik tanpamu.
Umai termenung dan terus berdiam diri diduduk sambil memegang lengan anak lelakinya yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Sementara Briana sedang membersihkan wajah Ballawa dengan tisu basah agar terlihat lebih segar.
Briana yang sedang hamil itu setengah berbisik pada suaminya pelan,"Kak Al... cepat bangun ya... cepat pulih ya, kami menunggumu disini."
Umai melihat dan mendengar suara menantunya yang tengah berbisik pelan. Ia menarik nafas sebelum memulai perkataannya pada Briana.
"Bri...
"Ya Umai...
"Jemputlah wanita itu...minta tolonglah padanya..." Umai berkata pelan namun meyakinkan."Ini adalah jalan terakhir... jika ia bisa selamat dan melewati hari ini... ia akan bisa sembuh dan mendampingi kamu serta anak kalian... tapi jika ia tidak bisa melewati hari ini... ia akan selamanya tenang di sana."
"umai..." Briana terdiam dan tidak melanjutkan katanya .
Briana mengerti maksud mertuanya. itu. Pasti menjemput Jessy. Satu hal yang amat dibencinya di dunia ini adalah menemui Jessy dan meminta tolong pada wanita itu.
Bukan salah Jessy, sehingga Briana amat membencinya. Wanita itu begitu dicintai Ballawa dan dirinya hanya dianggap adik.
Dulu pernah ia meminta Ballawa kembali pada Jessy adalah sebagai salah satu trik agar ballawa menoleh dan memperhatikannya. Namun Jessy menolak Ballawa dan memilih menjauh. Dan ternyata itu membuat Ballawa terluka dan memang menoleh padanya tapi hanya sebagai salah satu pengganti. Briana tak menyerah melihat hal itu.
Briana yang salah memaksa pria itu belajar mencintainya . Ia juga yang memaksa pernikahan Jessy dan Ballawa akhirnya bisa digagalkan oleh Umai dan ayahnya.
Tapi bukankah dulu Kak Ballawa yang pernah menjanjikan padanya untuk menjaga dan menemani seumur hidup ketika ia masih kecil di kampung dulu. Baginya , janji adalah hutang. Jadi memang aku duluan yang memiliki Ballawa bukan Jessy.
"Umai... saya akan pergi menjumpai Jessy sebentar dan meminta tolong padanya... Umai jaga kak Al dulu..!"
__ADS_1
"Pergilah dan katakan... aku juga menunggunya!"
*****
Jessy dan Alex baru pulang dari rumah sakit bersalin dan betapa terkejutnya, ketika melihat mobil hitam di depan pagar rumahnya. Adaseorang wanita cantik tengah menunggu di depan rumah mereka.
Alex menyapanya terlebih dahulu," Mbak, mau ketemu siapa?"
"Saya mau bertemu dengan kak Jessy," Ujar Briana sambil menatap Jessy yang baru keluar dari mobil Alex.
Tatapan Jessy dan Briana saling bertemu dan akhirnya Jessy mengingatnya bahwa yang datang adalah istri dari Ballawa.
"Ada apa? Aku tak ada waktu untuknya... aku sudah memilki keluarga... dan aku tidak mau terlibat dengan urusan kalian!"
"Kak... tolong dengarkan sebentar saja. aku adalah istri Kak Al... aku mau minta tolong "
"Aku tahu... maafkan aku tak ada waktu dan tidak mau terlibat lagi urusan dengan kalian... aku punya keluarga yang harus kujaga."
"Kak... dia sedang dalam keadaan tidak sadar... dan dokter bilang tidak ada harapan... tapi umai bilang ada satu peluang jika kamu bersedia menemuinya dan mau memaafkannya."
"Katakan pada Umai... diantara kami sudah selesai... kami punya keluarga masing-masing dan ada hati juga yang harus kujaga... jika mengenai masa lalu... aku sudah melupakan dan memaafkan.. jadi kembalilah !Temani dan jaga suamimu!"
"Pak Alex... tolonglah bantu untuk bujuk Kak Jessy... Kak Al... terluka dalam tugas negara... tolonglah,,,saya sedang mengandung anaknya ... dan Umai bilang ... umurnya cuma hari ini saja kecuali Kak Jessy mau menemuinya, kita masih ada kesempatan."
Briana langsung memohon di depan kaki Jessy. Meski perut Briana menjadi sedikit mulas, ia harus melakukannya untuk kebaikan keluarganya terlebih untuk anak mereka.
Jessy diam terpaku dan sementara Alex memperhatikan dan ia mengagumi ketegaran wanita yang sedang hamil dan merendahkan dirinya kepada saingannya untuk membantunya. hal yang menurutnya luar biasa.
Alex yang melihat itu langsung mengajak tamunya bangkit dan bicara di dalam rumah, tapi tetap ditolak oleh Briana. Wanita itu memilih bersujud untuk memohon kebaikan hati Jessy.
"Biar saja ... Aku sedang memohon kebaikan hati kak Jessy, untuk mau menengok kak Al... dia tertembak dalam tugasnya... tolonglah kak... pergi lihat kak Al dan maafkan kesalahan kak Al... agar jika dia akhirnya meninggal, dia bsia tenang dan kami tidak semakin berdosa telah menyakitinya."
"Baiklah... Sekarang kamu bangun dulu dan aku jika menjenguknya harus membawa suamiku untuk melihatnya dan jika ia mengijinkannya juga bertemu dengan kak Al."
Briana tersenyum dan menoleh pada Alex,"mohon dibantu ya pak... suami saya sudah hampir meninggal dan menurut Umai tidak boleh sebelum hari ini berakhir... tolonglah kami,Pak!"
"Baiklah kita pergi sekarang melihatnya!" Alex berkata dengan penuh kepastian dan menarik tangan istrinya untuk menuju mobil mereka.
*****
Briana membuka pintu ruangan rumah sakit dimana Ballawa dibaringkan. Ia datang bersama Jessy dan Alex untuk melihat kondisi Ballawa yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Sementara Umai duduk dengna kaki bersila di sofa panjang dengan mata terpejam.
"Umai.." Panggil Briana pelan.
Wanita itu tidak membuka matanya.
__ADS_1
"Aku tahu ... kau pasti datang Jessy!" Terimakasih atas kebaikan hatimu!" Umai tersenyum dalam mata tertutup. "Aku tahu kau membenciku... tapi kau tak bisa mengabaikan Briana yang berhati baik dan memohon padamu... jadi untuk mempermudah kalian bicara... aku keluar."
"Briana... kau ikut aku... antar aku ketemu dokter jaga!"
"Baiklah Umai.."
Briana dan Umai keluar ruangan dan langkahnya akan diikuti oleh Alex. Namun Jessy menariknya."Al... kenapa keluar juga... kamu disini aja temani aku!"
"Jess... aku percaya padamu kamu tidak akan meninggalkanku dan akan membesarkan anak kita ... kamu bicara dulu pada Ballawa ... lakukan yang terbaik untuknya!" Dia sebenarnya orang baik hanya saja tidak memilii nasib baik bersamamu....Kita masih punya banyak waktu tapi dia hanya tinggal beberapa jam... temani dia sebentar... aku menunggumu di luar... panggil aku jika sudah selesai."
Alex keluar ruangan itu dan memberikan privasi pada Jessy. Ia melangkah mendekati tempat Ballawa beristirahat.
Pria yang pernah mengisi hatinya dan membuat hidupnya porak polanda ketika pria ini meninggalkannya. Jessy menyentuh lengan Ballawa. Sedikit hangat namun seolah tidak ada respon. pria itu terdiam dan menutup matanya.
Suara mesin penopang tubuh Ballawa masih berbunyi di tiap menitnya. Jessy melihat banyak lilitan kabel di pria itu.
'Al....
Hening tanpa ada jawaban dari pria itu.
'Al... jika kamu mau melihatku bahagia... hiduplah bahagia dengan Jessy... aku sudah bisa melihatmu dengan wanita lain... aku juga sudah bahagia..."
Disentuhnya jemari Ballawa dan dicium punggung tangan pria itu perlahan dan beberapa kali. Jessy menengok ke belakang dan memastikan tidak ada orang di ruangan itu bersamanya.
"Al... kamu masih ada disini kan?" Al..jika memang ini kesempatan terakhirku menjumpaimu... aku harus berkata jujur padamu yang terakhir kali..
tut... tut... hanya suara mesin yang berdenyut tiap menit menunjukkan mesin itu bekerja dan menjaga pasien masih ada kehidupan.
"Al... pernah ada satu masa aku begitu mengharap akan kehadiranmu dan memaksa dirimu hanya untukku... tapi sekarang aku sudah ikhlas... karena aku sudah bertemu dengan orang baik... kamu juga sudah memiliki orang baik, meski jujur kadang kuberharap posisi istrimu itu yang seharusnya adalah milikku... tapi kita gak ada jodoh, Al..... Harusnya aku bahagia melihatmu bahagia, tapi aku masih ingin kamu bahagia karena aku... aku tahu ini salah.. tapi aku ingin kemu hidup al... aku ingin melihatmu bahagia meski bukan bersamaku... aku sudah memaafkanmu, AL...
"Al...
Jemari Al bergerak sebentar dan itu membuat Jessy berteriak.
"Al... kamu harus hidup... kami semua menunggumu.."
Mata Ballawa yang terpejam itu meneteskan air mata. Jessy melihatnya dan menghapus dengan jemarinya.
"Biasanya kubilang laki-laki gak boleh menangis.. tapi aku akan menyimpannya... ini rahasia kita , Al... Bangunlah untuk keluargamu... aku sudah bertemu umai juga, Al... dia menunggumu...kita bisa tetap mencintai tapi tidak akan pernah memiliki... gak papa AL... itu takdir kita."
"Terimakasih Jessy... " Bisik Al pelan.
****
Happy reading Guys.
__ADS_1
Boleh tinggalkan jejak disini? tetap semangat ya temans .. Love You