Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
133. Change to know him better.


__ADS_3

Warisan terbesar yang diberikan seorang ayah adalah teladan tapi sayangnya aku tak bisa menunjukkannya pada anak-anakku."


*****


Di tepi pantai Pulau Petra.


"Di... tahukah kau ketika kita memancing  membuatku banyak merenung....aku sering menyesali masa laluku."


Adiguna hanya terdiam mendengarkan. Dia menoleh dan melihat presiden memandangnya begitu dalam. terlihat ia punya banyak kata tapi entah apa yang ada dipikirkannya.


"Aku memang sukses di karir, tapi aku bukan ayah yang baik... aku bukan suami yang baik... aku tidak bisa menjaga wanita- wanita yang kusayangi dan membiarkan hati anak-anakku terluka."


Adiguna masih terdiam mendengarkan. Dia bingung harus berkata apa. Ditatapnya mata sang pemimpin itu, sepertinay tidak ada kebohongan disana.


"Bangsa ini memujaku karena prestasiku tapi keluargaku  berantakan... aku terkadang sedih hanya bisa memberikan materi untuk mereka... tahukah kau warisan terbesar yang diberikan seorang ayah adalah teladan tapi sayangnya aku tak bisa menunjukkannya pada anak-anakku termasuk padamu!"


Deg...


Adiguna terdiam dan kaget, apakah dia mengetahuinya?"  Dia tidak salah dengar ko. Atau semua pengawalnya dianggap anak-anaknya juga  seperti saat ini. Dia kan sering berbicara itu pada pasukan pengawalnya. Sebuah suara mengalihkan pikirannya.


"Presiden..."


Suara  Jendral Gaffar berhasil membuat keduanya tersentak kaget dan tak menyadari bahwa kebersamaan mereka sudah hampir dua jam.


"Presiden... kita harus segera kembali,"  Sapaan kembali dari Jendral Gaffar yang tiba-tiba hadir diantara Adiguna dan presiden membuat keduanya segera menghentikan kegiatan memancing.


"Baiklah... ini hal yang menyenangkan bagiku, Far... lain kali ajak juga Adiguna ketika kita memancing lagi!" Presiden segera bangkit dan meninggalkan perlengkapan memancingnya dan diikuti oleh Gaffar.   Adiguna segera membereskan dan mengikuti langkah kedua pria yang sudah menjauh  dari tempatnya.

__ADS_1


Sebelum memasuki kapal yang sudah dipenuhi oleh para pengawal , Gaffar bertanya kembali pada pimpinannya yang merupakan sahabat baiknya "Bagaimana, apakah  tadi jendral bisa mengenalinya ?'


"Ya... kurasa dia memang ada sedikit kemiripan  dengan Yona, tapi bagaimana dengan Pramoedya...  dulu aku mengambil Pram dari gendongan Yona..... apakah dulu Yona benar-benar menukarnya dengan dibantu kiyai Umar  ataukah dia memang disiapkan Aleesha untuk menemuiku?"


"Aleesha hanya menemukannya dan dia mengangkatnya sebagai anak tanpa sepengetahuannku...  itu yang membuat dia selalu pergi ke Bengalis dan mencari anak Yona yang asli..... karena dia dari awal mengetahui tidak ada kemiripan Yona dengan Pramoedya...  Aleesha tidak banyak berbicara tentang Adiguna.. dan dia menjaga sekelilingnya dengan orang yang  dipercayainya... saya tidak ingin ribut ataupun kehilangan Aleesha kembali jendral."


"Aku paham... ini semua ulah Tiara sehingga kau harus menjauh dari Aleesha... tapi itu untuk melindungi Aleesha dan Pramoedya... aku juga menyayangi anak itu... biar bagaimanapun dia adalah anak yang berada di gendongan Yona sebelum ia meninggal..."


Sebelum memasuki kapal, Presiden berkata pelan pada Gaffar.


"Carilah waktu untuk memeriksanya... termasuk masa lalunya... lakukan dalam senyap!"


"Siap Presiden."


Dalam perjalanan kembali ke Dili, Presiden memilih tertidur dan sesekali Adiguna melihat pria yang tadi mengajaknya memancing. Sungguh satu hal yang menyenangkan melakukan aktivitas bersama ayah. Hal yang selama ini belum pernah dialaminya. Tapi... dia bukan ayahku. Aku tadi hanya bertugas mengawal saja dan menemani memancing.


Adiguna menarik nafas panjang, ia berusaha menenangkan debar jantungnya yang mendadak bertingkah setelah melihat presiden yang sedang menutup mata. Sebenarnya ini adalah kesempatan yang baik baginya untuk menembak seluruh penumpang kapal ini dengan sekali jalan, tapi mengapa Aleesha tidak meninggalkan perintah.


Adiguna mengingat kebersamaan mereka barusan, ketika Presiden Suhartono mengajarkannya melempar kail dan mengajari teknik-teknik menangkap ikan, dan itu adalah hal pertama kalinya juga bagi pria itu. Sedikit merasa diatas angin Adiguna merasa sangat spesial.


Tapi... dia terkenal ahli strategi. Apakah aku masuk perangkapnya? " Adiguna  tersenyum getir. Aku pasti terlalu banyak bermimpi dan merasa bahagia sesat karena merasa spesial. Aku harus fokus pada tujuan awalku. Jangn tertipu oleh senyum ramahnya. Bukankah dia dikenal sebagai "The Smiling General" . Jendral yang tersenyum ketika membunuh orang.


Bodohnya aku tadi. Selama dua jam malah bercengkrama dengan orang yang ingin dibunuhnya. Bahkan terkesima dengan semua perkataan dan pelajaran yang diberikannya.


Adiguna berpegangan pada dinding kapal sebelum mengarahkan matanya kembali pada pria yang tertidur pulas itu. Demi Tuhan !" Aku harus membalaskan kematian ibuku dan orang-orang yang telah kamu hancurkan. Kamu harus mati di tanganku sebentar lagi!"


Dia tidak pernah tahu apa yang kualami selama ini dan menjalani hidupku seperti apa. Dia hidup dalam gelimang kemewahan dan puja-puji. Dia pasti tidak pernah kehilangan aku ataupun ibuku.  Tidak mungkin juga dia ingin mengakui aku anak yang tidak jelas dan hanya dikenal sebagai "Cepot Berdarah"  Apakah dia tahu rasanya kehilangan seseorang yang paling dicintai.

__ADS_1


"Saya tidak akan membiarkan kamu dan Tiara hidup dengan tenang!" Saya akan membiarkan kamu sekarang!" bisik Adiguna dalam hati.


*****


Sore hari Adiguna sibuk mendampingi presiden dalam menangani para kriminal dan para pemberontak, sehingga waktu pukul 9 malam, Adiguna langsung terlelap di kamar istirahatnya.


Malam hampir larut dan tanpa diduga  Adiguna, ada yang menepuk tangannya dalam gelap. Refleks dia terjaga dan bersiap, namun tangan wanita itu menyuruhnya tetap berbaring. Rasa terkejut belum juga hilang tapi ia harus menyakinkan siapa yang mendatanginya malam hari.


"Mama Aleesha.." bisiknya pelan.


"Bagaimana kunjugan ke Petra?" Bisik Aleesha pelan.


"Baik... hanya saja presiden sepertinya sedang menyelidikiku dan papa Gaffar sepertinya juga yang membocorkannya... kami berbincang cukup banyak ketika memancing"


"Baguslah, Sengaja aku sedikit membocorkannya padanya... agar dia tahu bahwa pimpinannya  masih memiliki  keturunan dari Yona... tapi missi kita sebentar lagi berjalan... kita akan lakukan di Jakarta, Nadia akan datang di Jakarta ... sekarang nikmati dulu kebersamaan kalian... kenali musuhmu dengan baik, Han!"


"Baik mama!"


"istirahatnya... misi masih tetap berjalan, jangan tertipu dengan mulut manis presiden!"


"Ya.


Aleesha lalu pergi dalam gelap dan tanpa suara. Adiguna melanjutkan kembali tidurnya yang terganggu. Malam semakin larut dan tanpa ada kejadian yang berarti di Dili.


*****


Happy Reading Guys.  Bolehkah tinggalkan jejak disini? Thanks a lot ya atas kebaikan kalian semua. Stay Healthy!

__ADS_1


__ADS_2