
Rumah yang nyaman untuk berteduh dibangun oleh tangan - tangan manusia yang bekerja keras sedangkan Rumah tangga yang kukuh dibangun oleh sepasang hati manusia yang saling mengasihi satu sama lain.
Tangisan hanya mengacaukan segalanya, tapi senyumanmu membuatku yakin bahwa kita bisa melalui semuanya bersama.
*****
Warmen baru pulang ke rumah kontrakannya bersama Anneke dan Nicky di Depok . Mereka kembali ke Depok diantar oleh Alex dan Jessy.
Mereka kembali ke rumah setelah Alex mengatakan keadaan sudah aman dan tim dari Jeremy (kakak tiri Nicky) berhasil dibereskan oleh kepolisian dan maka selesailah drama penculikan Nicky yang gagal Meskipun sesungguhnya tim Jeremy berhasil dibereskan oleh Handoyo.
"Akhirnya kita bisa kembali ke rumah, Nicky .. mami lega sekali !" Hampir dua bulan kita pergi, untung Bu prapti, bantuin bersihkan rumah.... Ujar Anneke ketika ia memasuki rumah dan langsung duduk di sofa demikian juga Nicky ia langsung duduk di samping wanita yang sedang hamil besar itu.
"Iya mama Anne... Nicky lebih suka disini daripada di rumah tante Jessy dan tante Jenny... disana lebih sepi !" Dan kita gak bisa ke toko untuk ketemu tante Lira dan kita gak bisa belanja-belanja deh...." timpal Nicky, " Ma, papa ko lama sekali masuknya, masih ngobrol mulu dengan om Alex."
"Iya biar aja.. kita minum teh dulu aja ya Nicky!"
Anneke tersenyum pada asisten rumah tangga yang tinggal sementara di rumah itu dan membersihkan rumah selama mereka tidak ada. Warmen memang sudah mengaturnya agar Anneke tidak terlalu lelah membersihkan rumah selama kehamilannya.
"Makasih ya bu Prapti... " Ujar Anneke ketika melihat wanita paruh baya itu memberikan tiga cangkir teh hangat untuk mereka nikmati di senja hari ini.
"Sama-sama bu... oh iya bu , saya sudah siapkan makanan kesukaan "Abang Nicky" kemarin Bapak telpon ke rumah, bahwa akan pulang sore ini..!"
"Oh syukurlah... sekarang ibu boleh pulang ya bu, terimakasih telah membersihkan dan menjaga rumah ini selama beberapa hari.
""Baik bu... saya mohon pamit ya bu!"
"iya Bu Prapti.
Mereka berdua menikmati teh sambil menunggu Warmen masuk ke dalam rumah.
"Kita mandi dulu ya, Nicky habis itu kita langsung makan ...!" Ajak Anneke ketika melihat Warmen memasuki ruang tamu setelah melepas kepergian Alex dan Jessy.
"Iya mama!"
*****
Adalah senja yang menyambut kehadiran sang dewi malam. Mereka bertiga telah selesai makan malam dan sedang menikmati tontonan televisi di kamar. Anneke berbaring bersama Nicky, sementara Warmen masih berkutat di meja kerjanya malam itu. Ia harus menyiapkan pekerjaannnya yang tertunda selama proses penyelamatan Nicky.
Malam semakin larut ketika Warmen sudah membereskan berkas-berkas pekerjaan untuk besok pagi. Ia melihat istri dan anak kesayangannya sudah terlelap dalam mimpi. Lelahnya hilang ketika melihat mereka tidur dalam damai.
Warmen baru saja berbaring dan akan memejamkan matanya. Teriakan histeris Anneke membuatnya segera menoleh pada wanita yang sedang terlelap itu.
"tidak... tidak... ayah... !" Teriak Anneke. " epaskan ayah dan kakakku... kumohon" Ujar Anneke sambil menangis dalam tidurnya.
Warmen langsung duduk dan melihat kedua tangannya saling menempel seolah memohon pada seseorang di dalam mimpinya.
"Kumohon... jangan tembak... jangan.... Ayah!" teriak Anneke kembali.
__ADS_1
Warmen langsung bangkit dan menghampiri Anneke yang masih terlelap. Digoyang-goyangkan bahunya dan dipanggilnya nama Anneke berulang kali. Namun wanita itu masih terus menangis terisak.
"Ne.... Anne.... Bangun... itu cuma mimpi!"
"Ayah.... tolong lepaskan ayahku!" Maafkan ayahku !" Anneke masih menangis dan terpejam.
Warmen masih berusaha membangunkannya dengan mendudukan secara paksa Anneke, supaya Nicky tidak terbangun.
"Ne.... Anne.... Anne bangun ... bangun sayang..!"
"Anne... bangun sayang !"
Warmen berusaha menepuk-nepuk pipi istrinya pelan dan ternyata itu berhasil. Wanita itu seolah tersentak dan kembali ke dunia nyata setelah beberapa menit warmen membangunkan istrinya, dan Anneke akhirnya terjaga.
Wajahnya penuh peluh keringat, padahal ruangan itu menggunakan pendingin ruangan. Ia kaget dan terkejut melihat Warmen sudah di depannya.
"Abang.... !" Anneke terkejut ketika membuka matanya melihat Warmen dengan raut yang khawati, seme"
"Terus... "timpal Warmen.
" mimpi ini sebenarnya pernah beberapa kali Anne alami.... jadi Anne agak takut kalo tidur malam , bang !" Anneke akhirnya berusaha mengingat-ingat mimpinya.
Warmen mengambil segelas air yang ada di samping tempat tidur dan menyerahkan pada istrinya.
"Minumlah sayang biar kau lebih tenang!'
"Bang...
"Ya...sayang, kenapa?"
"Abang tahu bagaimana cara ayahku terbunuh?" Anneke bertanya pelan.
Deg. Ini adalah pertanyaan yang paling ditakuti oleh Warmen. Bagaimana mungkin ia tidak tahu, bahkan pembunuhnya saja ia tahu.
"Bang..."
"Ne... kamu yakin mau tahu?" Ini sudah malam sayang.... kamu butuh istirahat , sayang, bukannkah sebentar lagi anak kita akan lahir, aku gak mau dia kenapa-kenapa." Warmen berusaha menenangkan istrinya dan mengalihkan pada hal lainnya.
"Abang tahu kan?"
"Tahu... tapi abang yakin, semua proses sudah dibereskan oleh kepolisian, ne !"
"Aku tahu... bisakah abang ceritakan semuanya?"
"Ne.. aku gak mau kita bertengkar karena hal itu... kau kan tahu bagaimana hubungan kita awalnya, kau tahu masa lalu keluargamu dan keluargaku, aku gak mau kita berantem lagi sayang... biarkan ayahmu di surga sana , dia sudah tenang... sekarang kita tidur ya!"
"Abang... gak mau cerita sama Anne? Apakah abang terlibat pada peristiwa pembunuhan ayahku?" Anneke cemberut dan sedikit merajuk. Bawaan kehamilannya membuat semakin mudah menangis dan mudah curiga pada apapun.
__ADS_1
"Anne.... kau sudah tahu yang sesungguhnya... sudah ya sayang... abang gak mau kamu sakit nanti!" Abang cinta kamu melebihi apapun... kita jangan berantem ya sayang!"
"Abang katakan yang sesungguhnya, apakah abang terlibat di pembunuhan ayah dan kakakku?"
"Anne... kaupikir aku sejahat itu... aku memang membenci mereka, tapi aku tidak sesadis itu, sayang!: Aku pernah sangat marah pada mereka, tapi aku jatuh cinta padamu dan kau juga tahu prosesnya semua itu... sekarang Kau istriku dan dia meskipun dia sudah meninggal tetap mertuaku dan kakak iparku.... bisakah kita tidak membahas kematian mereka lagi... sehingga kita berantem. "
"Tapi boleh aku tahu satu hal... apakah kau masih berhubungan dengan "Cepot berdarah " ?
Warmen terdiam. Ditatapnya mata istrinya yang masih ada air mata. Sanggupkah ia membohongi separuh hatinya. Tapi jika ia jujur, ia akan melukai istrinya itu dan menghilangkan kepercayaan sahabatnya.
"Kau masih berhubungan dengan "Cepot berdarah itu" ?"
"Tidak... aku tak pernah mengunjunginya di penjara, Ne.... tapi aku pernah mengirimkan makanan padanya melalui kurir...memang pernah kulakukan, maaf!" Warmen berusaha berkata separuh kejujuran dan tidak mengatakan kebenaran bahwa yang menyelamatkan mereka adalah Adiguna yang merupakan samaran dari cepot berdarah.
" Baiklah bang.... jangan temui cepot berdarah itu dan jangan membela dia lagi!"
'Ne.... dia pernah menyelamatkanku... dan aku berhutang nyawa padanya, Ne!"
"Tapi dia pembunuh ayah dan kakakku, Bang!"
"Bukankah Handoyo sudah dipidana dan menebus kesalahannya... bisakah kau maafkan dia., Ne ? Kan yang dia lakukan dulu juga karena tindakan kakakmu yang membunuh istri dan anaknya...!
"Jadi abang membelanya dan bukan membelaku ?"
"Bukan begitu Ne... sekarang kau coba pikir, bagaimana jika aku di posisi si Handoyo itu... kau meninggal di bunuh secara sadis, dan kau sedang mengandung anakku, wajarkah aku marah... kurasa, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang handoyo lakukan.... maksudku begitu..." Sahut Warmen dengan berapi-api dan ia melihat Anneke mulai menangis lagi.
"Maafkan aku.... bukan maksudku menyakitii kamu , Ne... bukan maksudku tidak membela keluargamu, tapi jika aku di posisi dia, maka aku akan melakukan hal yang sama... tidak boleh ada yang menyakiti keluargaku, apalagi menyentuhmu... kamu milikku yang paling berharga... maafkan aku!"
Warmen memeluk Anneke yang masih menangis dan meresapi ucapan suaminya. Salahkah ia yang ingin suaminya membela keluarganya. Ia mengetahui bagaimana jahatnya ayah dan kakaknya, tapi ia sedih juga melihat dalam mimpinya cepot berdarah menghabisi kakaknya.
"maafkan aku bang...!" Aku egois ya... maafkan aku mendugamu ikut terlibat dalam pembunuhan ayah dan kakakku!"
"Gak papa, Ne,,,,,Kamu tidak sepenuhnya salah, ne... wajar kamu ingin membela keluargamu, tapi sekarang akulah keluargamu... aku yang akan menjaga dan melindungimu... sekarang keluarga kita adalah hal yang utama, jangan kita berantem karena hal ini lagi ya!" Aku sayang dan selalu mencintaimu, Ne !"
Warmen mencium kening istrinya lama sekali dan ketika ia melepaskan pelukannya, Wanita itu tersenyum.
"Maafkan aku Bang
"Jangan kita berantem lagi karena masalah ini, sayang . aku memang mengenal pembunuhnya dan bersahabat dengannya, tapi pembunuh itu sedang menjalani hukumannya ... sekarang yang harus kita lakukan mendoakan ayah dan kakakmu agar Tuhan mengampuni apa yang mereka lakukan dahulu !"
Mereka berpelukan dan tak lama kemudian mereka tertidur dalam posisi duduk.
*****
Happy reading guys. Terimakasih masih mau membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak di sini ?"
:Love you all...
__ADS_1