
Kejujuran seringkali sangat sulit. Kebenaran seringkali menyakitkan. Tetapi, kebebasan yang dapat dibawanya layak untuk dicoba." -Fred Rogers-
*****
"Jika dia bukan anak Aleesha, lalu kenapa kau perlu pakai pengacara?" Kau ternyata tidak mengenalku dengan baik, Ervan!"
Jendral Gaffar menatap sinis pada Ervan dan Warmen . Ia seakan mengejek kedua pria yang duduk di depannya.
"Karena saya menemukan sesuatu yang lain tentang Adiguna, Jendral !" Dan kau mungkin akan marah padaku nanti... tapi sebaiknya kau tenangkah dulu hatimu,Jendal !" data dia ternyata bisa relawan dengan data base kita."
"Katakan yang jelas, jengan berbelit-belit Ervan!" Jendral Gaffar mulai tidak sabar pada pria yang menggunakan jas putih itu.
Ervan menghela nafasnya. Ia kemudian membuka laci dari meja kerjanya. Keraguan dihempaskan oleh Ervan, karena ini adalah saatnya menyakinkan jendral di depannya yang merupakan orang yang sangat dikagumi akan ketegasannya dan kepintarannya. Namun pria ini terlalu patuh pada atasannya meskipun sang atasan mungkin yang menipunya.
Map biru ditangan Ervan itu disodorkan kepada jendral Gaffar yang sudah mulai terpancing emosi. Sang jendral menerimanya dan mulai membuka map biru itu.
"Setelah menemukan data bapak Adiguna ini bukan anak ibu Aleesha, saya memang berusaha mengecek di data base tentara nasional sesuai dengan permintaan bapak karena mencurigai ibu Aleesha berselingkuh dengan orang kepercayaan bapak.... dan ternyata saya mendapatkan hasil yang mengejutkan... Bapak Adiguna ini memiliki kesamaan geneal dan genetic marker yang mencapai 98 % dengan pimpinan kita jendral !"
"Maksudmu...!"
Gaffar tercengang mendengarkan penjelasan dokter Ervan itu. Hingga perkataan berikutnya makin membuatnya shock.
"Dia juga adalah anak lelaki dari pimpinan kita... dia adalah anak dari Jendral Suhartono!" Dokter Ervan berkata pelan namun dengan penuh keyakinan.
"Siapa?" Jendral Suhartono!" Gaffar mendelik tak percaya.
"Kau gila Ervan ... siapa yang membayarmu untuk mengarangnya!" Gaffar melempar berkas yang semula diberikan kepadanya ke muka Ervan dengan penuh amarah dan ia segera mengambil pistolnya dan langsung mengarahkannya ke dokter itu.
Tindakan itu sontak membuat Handoyo dan Warmen berdiri. Mereka berusaha mencegah terjadinya pertumpahan darah.
__ADS_1
"Papa tenanglah.... kita bisa bicarakan nanti!" KIta duduk dulu dan perhatikan data-data dari dokter dan kita bisa tanya kejelasannya dengan mama Aleesha dengan pikiran tenang !"
Ucapan itu seolah menyadarkan Gaffar akan tindakannya. Jendral Gaffar benar-benar shock akan informasi yang baru diterimanya itu. Marah, kecewa dan terkejut berkumpul jadi satu dengan sedikir rasa bahagia yang membuktikan bahwa Aleesha tidak pernah mengkhianatinya.
Entahlah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya. Bagaimana mungkin pria yang baru diangkatnya sebagai anaknya adalah anak pimpinannya.
JIka Adiguna adalah anak lelaki dari pimpinannya. Berarti dia adalah anak Yona yang dijaga Aleesha. Akh... bodohnya aku tidak mencari tahu dengan detail. tapi jika Adiguna adalah anak dari Yona dan Suhartono, maka Pramoedya adalah anak siapa. Apakah Jendral Suhartono sudah tahu dari awal semua kekacauan ini?
Gaffar menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia ingin mentertawakan kebodohannya selama ini karena tidak mempercayai istri yang teramat dicintainya. Bodoh...bodoh.... ! " Kenapa kau begitu gampang dihasut oleh Setiono? Apakah Setiono yang merancangnya ataukah malah Jendral Suhartono sendiri yang merancang semuanya ini.
Ketiga pria yang bersama Gaffar di ruang praktik dokter Ervan memperhatikan ekspresi dan kacaunya Jendral Gaffar. Handoyo akhirnya memberanikan diri untuk menepuk pundak ayah angkatnya.
"Pa... apakah papa baik-baik saja ?" Minumlah dulu !"
Jendral Gaffar mengangkat kepalanya dan memandang Adiguna dengan tatapan yang berbeda. Akhirnya dia menyadari kenapa dia merasa sangat akrab dengan wajah pria ini. Wajah ini merupakan gabungan antara wajah Suhartono dan Yona. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Adiguna seolah memberinya kekuatan untuk bangkit dari keterkejutannya.
"Ya... kita pulang sekarang Adiguna!"
Gaffar bangkit dari kursinya dan menopangkan tangannya ke meja agar ada kekuatan lain.. Tubuhnya seakan tidak berenergi. Namun tiba-tiba dia berbalik dan wajahnya menatap tajam pada dokter Ervan dan Warmen.
"Kami tak akan menyebarkan informasi ini, tapi jika masalah ini sudah membahayakan nyawa dokter Ervan, maka saya akan pastikan semua media tahu rahasia ini dan itu akan mengguncangkan kestabilan negara ini, jendral !" Warmen balas menggertak pada pria yang menggunakan seragam itu, sementara Handoyo hanya terdiam memperhatikan Warmen dan dokter Ervan.
" Kau takkan berani, pengacara ingusan!"
"Kau tak mengenalku dengan baik, jendral !" Aku adalah orang yang tidak gampang menyerah meski kau bilang aku adalah pengacara ingusan.... dan jika kau membahayakan dokter Ervan , maka akan kupastikan kau yang akan menyesalinya. jadi sebaiknya pikirkan langkahmu dengan matang !" Warmen berkata tegas dan menatap mata sang jendral dengan berani.
"Akan kulihat keberanianmu sampai mana... tapi kau, pengacara yang sok berani... kau harus pastikan bahwa Ervan benar-benar tidak membocorkan rahasia ini.... ini masalah besar dan bisa menghancurkan martabat orang yang sangat disegani di negara ini !"
Handoyo , Warmen dan Dokter Ervan semuanya sepakat dengan perkataan jendral Gaffar dan ketiganya langsung terdiam beberapa saat, hingga Jendral Gaffar berjalan seraya meninggalkan ruangan praktik itu. Dokter ervan teringat sesuatu dan langsung menghentikan langkah pria itu.
"Jendral Gaffar... apa sebaiknya kita bekerja sama saja, mengingat ibu Tiara, istri jendral Suhartono tidak akan tinggal diam jika mengetahui keberadaan bapak Adiguna," Sahut Dokter Ervan pelan. "Aku pernah mendengar gosip di base camp tentara bahwa Ibu Tiara adalah wanita kejam yang tak segan langsung membunuh wanita yang memang memiliki hubungan asmara dengan jendral Suhartono!"
"Gosip apa pula yang kau dengar , Ervan !" Gaffar kembali berjalan menghampiri dokter ervan dan pria itu langsung menarik pria berjas putih itu. "Jangan suka bicara sembarangan, jika kau tidak punya bukti !"
Dokter Ervan merasakan bahwa ini adalah saatnya memberitahukan semua pergunjingan yang ramai beredar di base camp tentara. Saatnya ia memberitahukan pada Jendral Gaffar.
__ADS_1
"Banyak tentara kita yang mengetahuinya, Jendral ... dan mereka sengaja tutup mulut jika ada jendral Gaffar... mereka juga sering mengatakan bahwa mas Pram kenapa tidak ada sedikitpun kemiripan dengan jendral Suhartono, tapi aku juga pernah mendengar bahwa ibu dari mas Pram itu ditembak ketika melahirkan mas Pram ... dan itu yang berkembang, apa jadinya jika Ibu Tiara mengetahui bahwa mas Pram yang dibesarkannya ternyata bukan anak jendral Suhartono ?"
Jendral Gaffar semakin lemas dan akhirnya melepaskan cengkramannya pada kerah jas dokter Ervan. Momen itu dimanfaatkan oleh Handoyo untuk membujuk ayahnya.
"Papa... bagaimana jika kita minta mas Pram juga dites ? Apakah memungkinkan?"
"Itu tidak mungkin... pria itu sulit diatur dan seenaknya !" seharusnya aku langsung tahu bahwa kau memang adalah anaknya, kau berbeda dengan mas Pram... kau memang mirip Yona... itu yang membuatku terpana ketika pertama kali melihatmu, kau begitu mirip dengannya... kau memang anak Yona.... dengarkan kalian semua... beri aku waktu 2 hari untuk memikirkan semuanya, kita akan bertemu lagi di sini !" Sekarang biarkan aku dan anakku pulang... aku harus menjemput istriku di Semarang !" kita akan selesaikan nanti !"
Jendral Gaffar melangkah pasti dengan Adiguna meninggalkan ruang praktik itu dan itu berkebalikan dengan dokter Ervan dan Warmen yang terduduk di kursi mereka kembali.
"Terimakasih pak Warmen atas bantuanmu tadi," Doker Ervan berkata tulus seraya mengulurkan tangannya.
"Hei ... ini sudah hampir jam satu... kita harus segera ke pengadilan, Dokter !" Warmen seolah baru menyadari bahwa ia harus tiba di pengadilan sebelum pukul 2.
"Baiklah !" Mari kita berangkat !"
*****
Happy Reading temans.
Terimakasih telah membacanya, bolehkan kalian tinggalkan komentar/like/poin/hadiah untukku?"
Thanks a lot ya!"
__ADS_1