
Balas dendam tidaklah menghapuskan luka tetapi menimbulkan kesedihan lainnya.
Dihancurkan atau menghancurkan adalah pilihan.
*****
Tengah malam di kota Jakarta Oktober di tahun 1997.
Ballawa menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman pribadi Presiden di kawasan menteng, Jakarta.. Ia merasa menyesal tidak ada disana karena sedang cuti selama 3 hari.
Jantung Ballawa berdetak kencang. Ini adalah hari cutinya dan direncanakan menemani istrinya yang sedang mengandung, tapi pesan dari "pager" Andre _rekan setim -menunjukkan keadaan dalam mode darurat.
Berita dari timnya sekitar lima menit yang lalu mengabarkan istana di serang oleh sekelompok orang. Pasukan pengawal Presiden dan timnya kewalahan dan meminta semua anggota kembali untuk membantu. Jendral Gaffar tewas tertembak dan presiden dan keluarganya belum diketahui keadaannya.
Dibutuhkan waktu 15 menit jika keadaan lalu lintas kosong seperti malam hari ini. Namun Ballawa merasa itu terlalu lama. ia mempercepat kendaraannya dengan gila dan nyaris terbang. Pikirannya kacau. Benarkan keluarga istana sedang di serang dan siapa yang menembak jendral Gaffar ? Bagaimana keadaan Presiden? Semoga dia tidak terlambat..
Mobil direm sampai berdecit dan didepan rumah utama yang biasa dijaga, tapi tampak 6 orang telah jatuh tergeletak.
Sial ... aku terlambat" Bisik Ballawa sambil berlari menuju rumah utama dan matanya tetap siaga memperhatikan situasi.
Langkah Ballawa diperlambat ketika di dalam rumah utama, cukup banyak pengawal di rumah ini tersungkur dan kehilangan nyawanya untuk melindungi pemilik rumah.
Oh tidak... itu Andre, rekan setimnya - telah jatuh terkapar dan berlumuran darah . Diangkatnya kepala Andre yang di keningnya tertembak dari jarak dekat. Berarti penembaknya orang dikenal Andre. Bisik Ballawa dalam hati. Benarkah istana telah disusupi oleh kelompok anti presiden dan Andre terkena dampaknya.
Benarkan rumor yang kudengar tentang adanya kelompok elang hitam yang memang diantipasi oleh Jendral Gaffar. Ballawa meletakkan kepala Andre dan ia meninggalkan Andre yang telah gugur dalam tugasnya.
Ballawa melangkah menuju ruang tengah istana dan ia cukup terkejut ketika melihat Pramoedya yang sedang menangis dan terlihat sedang membalut kepala Jendral Gaffar yang berlumuran darah. Pria itu seperti berbisik sesuatu sambil sesekali menciumi Jendral Gaffar yang berbaring karena sudah tidak bernyawa.
"Om... seharusnya... kau yang ayahku... kau yang bisa mencintaiku dengan tulus... kau korbankan nyawamu untukku, Om... jangan mati.... om jangan mati!" Bisik Pramoedya pelan di telinga Gaffar yang membujur kaku di lantai.
Ballawa terdiam dan merasa sedih melihatnya. Pimpinannya tewas menyedihkan dan ia tidak tahu siapa pelakunya. Hanya mas Pram yang bisa menjelaskan kejadiannya.
"Mas Pram... Mas... apa yang terjadi?"
Pramoedya menoleh dan melihat ada Ballawa berdiri di sampingnya. Ia eolah mendapatkan sedikit kekuatan dari salah satu orang kepercayaan.
__ADS_1
"Om Gaffar tertembak demi menyelamatkanku...Ballawa... Om Gaffar tertembak..!"
"Mas Pram... tenang dulu... siapa yang melakukan ini? Dimana yang lain? Presiden dan Ibu kemana?" Kemana lagi pasukan yang lain?
"Semua telah mati... cuma kulihat Leroy berlari ke arah sana dan kudengar ia sempat berteriak.ke arah ruang bawaah tanah.... Presiden ... kurasa Mereka membawanya juga... aku tidak mau menemui mereka... aku mau menjaga Om Gaffar saja disini. Bisakah kau memanggil pertolongan.Ball?"
"tenanglah mas... kami sudah datang... tuh lihat sudah ada pasukan datang... aku ke bawah dulu melihat keadaan mereka ya.. mas Pram tetap disini dijaga oleh tim cadangan ya!" Ballawa melihat beberapa orang sudah hadir dan ia meminta juga mereka menyiapkan dokter untuk menangani orang-orang yang terluka ataupun gugur dalam tugas.
"Ya.... kamu berhati-hati ya... oh jika kau melihat Nadia... tolong katakan aku mencarinya....tapi belum ketemu... aku takut dia kenapa-kenapa,... meskipun dia mampu melindungi dirinya, tapi dia sedang hamil, tolong selamatkan istriku, Ball..!"
"Baik mas... sekarang mas Pram tetap tenang dulu disini , dan biarkan tim dokter yang bekerja membantu Jendral Gaffar!" Aku mencari keadaan Presiden dan juga mbak Nadia... aku tinggal ya!"
*****
Tiara sedang memegang senjata otomatis keluaran terbaru buatan Amerika. Ia tampaknya sudah terlatih dengan senjata itu. Terlebih dengan latihan seminggu dua kali membuatnya makin yakin dengan kemampuan menembaknya.
Saat ini ia ada di ruang bawah tanah dengan suaminya, Suhartono dan anak perempuannya yang baru pulang dari Perancis, icha.
Suara tembakan terdengar kembali di depan pintu persembunyian mereka dan membuat Suhartono bangkit dari kursinya dan mulai bersiap menarik senjatanya dan posisi siap menembak siapapun yang memasuki ruangan itu, demikian juga Tiara di posisi yang sama.
Pintu baja itu berhasil dibuka dari luar dengan paksa.
Dan sebuah teriakan nyaring yang tidak diduga oleh ketiganya. Suara perempuan itu benar-benar terdengar emosi dan dibelakangnya ada 5 orang dan semuanya menggunakan kain penutup berwarna hitam. Hanya perempuan itu yang tidak menggunakan cadar hitam.
"Keluar kau Tiara dan Suhartono... keluar... jangan jadi pengecut!" Teriak perempuan yang sedang hamil dan ditangannya ada senapan otomatis yang ditembakannya ke segala arah di ruangan itu.
"Nadia?" Seru Tiara, Suhartono dan icha yang tanpa disadari secara bersamaan. Mereka terkejut dan merasa miris dan sakit hati mengetahui bahwa dalang penyerangan ini adalah menantunya.
Suhartono keluar dari tempat persembunyiannya. Dan itu diikuti oleh Tiara dan Icha yang berdiri di belakang mereka.
"Berani juga kamu, Nadia menyerangku.... kamu menantu yang kurang ajar... kamu kuanggap seperti anakku sendiri, tapi kamu melakukan penyerangan ini dan melukai semua orang-orangku..!"
"Apakah yang tidak berani kulakukan demi untuk membunuhmu dan istrimu yang jahat itu!"
"Lakukanlah jika itu memuaskanmu... tapi tidak dengan icha, Bambang dan ... Pramoedya... mereka tidak bersalah... terlebih Pramoedya dia sangat mencintaimu... dia benar-benar tulus padamu, Na..!"
__ADS_1
"Ha... Ha... itu juga yang kau katakan pada ibuku sehingga istrimu yang hina itu membunuhnya...!"
"Nadia... aku tahu semuanya itu... aku tahu apa yang kau rencanakan.... tapi Pramoedya tidak bersalah kenapa kau begitu kejam padanya..!"
"Istrimu itu yang mengajarkanku kekejaman ini!" Nadia berkata dengan ketus dan ia melepaskan satu tembakan ke kaki Tiara dan membuat perempuan itu berteriak kesakitan.
"Awww.... berengsek kau Nadia... sudah kubilang dia sampah, mas ... kau percaya pada mulut manisnya!" Tiara berkata dengan emosi dan ia menahan tangisnya." Kau benar-benar sialan... termasuk anak dalam kandunganmu itu anak sialan!"
Tanpa di sadari Tiara, Nadia langsung menghampiri dan mengangkatnya tinggi-tinggi dan seolah tubuhnya begitu ringan diangkat oleh Nadia, kemudian wanita yang sedang hamil itu membanting kembali tubuhnya ke lantai. Tindakan itu benar-benar mengejutkan Suhartono dan Icha, dan mereka shock tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Aku membencimu Tiara, dan aku akan menyakitimu seperti kau menyakitiku ibuku dahulu!" Teriak Nadia dengan penuh emosi sementara Tiara hanya bisa pasrah dan meratapi tubuhnya yang kesakitan.
Icha yang melihat itu berniat akan membantu ibunya dan hampir saja dia bergerak, sebuah pukulan jatuh di punggung belakangnya membuatnya terjatuh dan pingsan oleh orang yang berpakaian serba hitam .
Pria itu kemudian bergerak ke arah Suhartono dan berkata pelan namun penuh arti ," Apakah tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang suami melihat istrinya dianiaya seperti itu?" Apakah itu juga yang dialami ibuku waktu itu?"
Deg..
Suhartono menyadari siapa pria yang dibelakangnya kini.Ia berhadapan dengan Adiguna. Pria yang diduga anaknya. Matanya memperhatikan wajah di balik masker hitam itu. Mata itu benar-benar menunjukkan kemarahan padanya.
"Kamu... kamu Adiguna?"
"Ha.... ha... tidak ada gunanya aku menggunakan topeng ini lagi... kau tahu semuanya... kenapa kau tidak bertindak apapun? Apakah jabatan ini membuatmu tidak mampu bergerak? Dasar pria pengecut... hanya mau menyelamatkan diri sendiri...!" Teriak Adiguna sambil menendang kaki tua Suhartono, kemudian ia melepas topeng masker hitam yang digunakannya..
Suhartono langsung terjatuh akibat tendangan yang tidak di prediksinya. Sakitnya tendangan itu tidak dirasakan, tapi sakit hatinya karena ucapan penghinaan itu lebih terasa, Terlebih diucapkan oleh Adiguna , orang yang diduganya bersama Gaffar adalah anak kandungnya dari Yona.
"Maafkan aku... Maafkan aku Adiguna.... jika kau marah padaku... kau boleh membunuhku...!"Suhartono berkata dengan tenang dan ia akhirnya bisa melihat dengan jelas sisi lain Adiguna.
"Benarkah?" Kau tidak takut jika aku menembakmu..." Adiguna berkata dengan sinis "Bagian mana dulu yang ingin ditembak? Apakah seperti temanmu yang diLampung itu... jendral Setiono itu... aku yang menembak dan membakarnya dengan perlahan sehingga ia mati dan merasakan panasnya api neraka di dunia ini?" Kau tahu apa yang dikatanya sebelum meninggal? Kau ingin tahu?"
Ucapan itu membuat Tiara yang sedang ditendangi oleh Nadia menoleh dan memperhatikan Adiguna dan ia mendesis pelan ..." Dia adalah pria yang kejam sama seperti kau, Suhartono!"
*****
Happy Reading Guys.... Terimakasih masih berbaik hati menunggu dan membacanya. Maafkan di tempatku sinyal lagi oke jika malam dan terlebih ada pemadaman lampu , anyway,
__ADS_1
Selamat Idul Fitri ya bagi kalian yang merayakan... semoga di tahun depan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yuk Jangan menyerah!"