
Selalu ada alasan untuk setiap hal yang terjadi. Tidak ada seorang pun yang datang dan pergi di hidupmu tanpa seizin Tuhan. Percayalah !" Tuhan sedang merangkai hidupmu menjadi sesuatu yang berharga.
*****
Sore hari di toko alat tulis "Tiga Sahabat, Anneke sedang asyik berbincang dengan Devon dan Lirasati ketika Warmen datang sambil menggendong anak lelaki berusia hampir 5 tahun
Di kening Warmen dipenuhi keringat dan membuat Anneke dan Lirasati langsung bangkit dari kursinya menyambut kedatangan Warmen. Anneke menghapus peluh di pelipis Warmen dengan tangan kanannya. Pria itu tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu.
"Kenapa bang? Siapa ini? " Anneke langsung bertanya pada anak lelaki yang tidur di gendongan Warmen.
Lirasati hanya mengambilkan botol berisi air dingin dan menaruhnya di meja disamping Warmen, sementara Devon hanya menatap Warmen yang seperti kelelahan dan langsung memasuki bagian dalam toko.
"Ini NIcky... aku titip dulu disini ..... mobilku ada di bengkel dekat tikungan... aku balik ke sana dulu, ntar aku balik ke sini lagi," Warmen sambil menyerahkan Nicky yang terlelap ke Anneke.
Anneke menerima pria kecil yang terlelap itu dan ia melihat suaminya sedikit kelelahan "Mobilinya mogok ya bang... biar Devon aja yang antar abang ke sana,... von... bisakah ?"
"Ayo bang... aku antar ke sana... lumayan juga jalan kaki, tadi kenapa gak naik angkot bang?" Timpal Devon iseng karena letak bengkel itu kurang lebih hampir 300 meter dari tokonya.
"Itu dia... angkot yang lewat penuh-[enuh semua,... bisa kau bonceng aku sampai ke bengkel yang di tikungan itu, Von?"
"Siap bang... ayok," Devon sambil bangkit dan menuju keluar toko diikuti oleh Warmen yang mengambil botol berisi air mineral dingin itu. Sesungguhnya ia kehausan karena jalan kaki lumayan jauh dan menggendong Nicky.
Baru beberapa saat Warmen pergi bersama Devon, Nicky terbangun karena akan diletakan Anneke di ranjang milik Devon yang berada di lantai dua.
Pria kecil itu terkejut ketika menyadari dirinya bersama perempuan dewasa lain yang tidak dikenal dan berada di ruangan yang tidak dikenalnya. Pria itu tiba-tiba menangis pelan dan menengok ke kanan dan ke kiri. Meski Anneke adalah perempuan yang agak cengeng, tapi ia biasanya tidak terlalu suka mendengar orang lain menangis.
'Hai Nicky, aku Mama Anne, kamu disini sebentar ya, papa kamu lagi ambil mobil... karena tadi mogok... kamu disini dulu ya, sama mama Anne, gak papa kan?" Ujar Anneke ramah sambil mengenalkan dirinya pada Nicky.
Anneke menyadari bahwa inilah saat yang tepat menunjukkan siapa dirinya di depan Nicky. Memang biasanya Anneke mudah akrab dengan anak-anak kecil di lingkungan rumahnya dulu,karena ia menyukai anak-anak.
" Mama Anne...? " Amang? Amang mana?" Pandangan Nicky bergerak ke segala arah mencari orang lain yang dikenalnya.
NIcky yang sudah tinggal di Indonesia beberapa bulan mulai bisa sedikit memahami bahasa Indonesia. Ia sebelumnya tinggal bersama Oma dan Opanya, namun karena Oma sedang kurang sehat dan akan dioperasi, maka sang opa menitipkannya pada Amangnya.
"Oh... kamu panggil papa dengan Amang? " Amang lagi ambil mobil, sebentar lagi dia pasti datang . tadi mobilnya rusak...!" Kamu sama mama Anne dulu ya!" Nanti dia pasti menjemput kita disini!"
Nicky mengangguk dan sambil menatap Anneke dan ia mengamati perempuan dewasa yang ada di depannya.
"kamu mau minum susu coklat gak? Ntar mama Anne buatin buat kamu .."
"Mau...." Mata Nicky berbinar mendengar akan mendapat susu coklat.
"Baiklah Pangeran kecilku , maukah ikut dengan mama Anne ke dapur dan kita membuat minuman coklat hangat?"
"Mau mama Anne !" Nicky langsung bangkit dan memeluk Anneke dengan erat dan matanya menunjukkan sikap bersahabat tidak seperti di awal ketika ia baru bangun dari tidurnya.
Tatapan teduh pria kecil itu yang menatapnya hangat mengingatkan Anneke akan Warmen. Hidung dan keningnya sama persis, hanya matanya mungkin mirip ibunya. Maafkan aku , sayang . Biarkan aku yang menjadi ibumu sekarang, Nicky. Kamu memang masih terlalu kecil mengalami ini, tapi aku yakin Tuhan punya rencana yang indah untuk hidupmu.
"Pangeran Nicky, maukah kau memimpin langkah kita di depan dan menuruni tangga itu ... Kau bisa bukan?" Anneke berusaha mengakrabkan diri dengan pria kecil di depannya/
"Bisa Mama Anne !" Ujar Nicky sambil menarik tangan mama Anne dan melangkahkan kakinya menuju tangga di samping ruangan itu.
Anneke terkejut melihat Nicky begitu telaten menuruni tangga sambil memegang tangannya dan terkesan memang Nicky memimpin langkahnya menuruni tiap anak tangga dengan pelan. Ia menuruni tangga itu dengan langkah pelan dan pasti serta memastikan Anneke berjalan aman di belakangnya.
__ADS_1
Nicky adalah anak yang pintar dan tampan. Oh ... Anneke ingin sekali mencubit pipinya ' Batin Anneke gemas melihat pria kecil yang berlagak dewasa. Dia berusaha menjagaku!"
"Kali ini biarkan mama Anne yang memimpin di dapur untuk membuat susu coklat .. pangeran Nicky bisa duduk di kursi ini ya!" Anneke berkata sambil menggendong Nicky dan mendudukannnya di kursi di dekat dapur. "Terimakasih atas kerjasamanya Pangeran Nicky yang ganteng," Ujar Anneke sambil menepuk pelan pipi Nicky,
Nicky hanya terdiam menatap Anneke. Namun matanya menunjukkan bahwa dia bisa menerima kehadiran Anneke bersamanya dan seolah mengatakan bahwa ia juga senang telah membantu Anneke memimpin menuruni tangga dari kamar atas ke dapur kecil yang ada di bagian belakang toko.
Anneke memasak sedikit air dan mengambil gelas serta menuang minuman susu coklat itu ke gelas. Ia menyeduhnya, dan Nicky hanya menatapnya dengan penuh semangat.
"Nah sekarang minumlah susu hangat ini," Ujar Anneke sambil menyerahkan segelas susu coklat pada Nicky. "Oh iya aku punya biskuit keju... kurasa pangeran mau mencobanya... tunggu sebentar ya," Anneke melangkah mencari-cari persedian biskuit miliknya di dapur Devon.
Nicky hanya memperhatikan apa yang dilakukan Anneke dan ia menerima biskuit dari Anneke dan langsung memakannya dengan lahap. Anneke berkerenyit heran, apakah Warmen belum memberinya makan dari siang tadi.
"Oh .. Nicky, kamu lapar ya? " Kamu belum makan ya... aduh kenapa Amang gak kasih makan sih ?" Celoterh Anneke dan ia hanya mendapat tatapan Nicky dan kemudian pria kecil itu menjawabnya dengan sedikit menunduk.
"Aku lapar mama Anne," Jawab Nicky pelan dan agak malu.
"Eh... bentar, mama beli nasi sama ayam atau ikan goreng, apakah Nicky mau? Ada warung nasi di toko sebelah!" Kamu tunggu di depan bersama tante Lira dan Om Devon ya!"
Anneke berkata sambil menurunkan Nicky dari kursi tinggi itu. dan Nicky mengikuti langkah Anneke yang berjalan di sampingnya.
"Kamu disini ya sama tante Lira dulu," Ujar Anneke sambil menunjuk lira yang sedang menghitung uang di meja kasir. " Mama pergi sebentar beli makanan ya, "
Sementara Devon hanya menatap tajam pada Nicky. Ada banyak pertanyaan tapi ia memilih menahannya. Pria kecil itu kemudian menggeleng. "Ikut Mama Anne saja!"
"Baiklah... kita makan di warung nasi sebelah saja ya?" Sekarang pangeran ikuti langkahku dan kita segera berangkat ke sana!" Yuk kita hitung langkah kita... tapi apakah kamu bisa menghitung? "
"One... two... three.... four.... five... " Nicky mulai menghitung langkahnya dengan bahasa inggris. Sementara Anneke mengikuti semua ucapan Nicky dengan riang.
Anneke dan Nicky bergandengan tangan keluar toko dan menuju warung nasi yang berada tidak jauh dari ruko milik Devon. Ketika memasuki warung nasi itu tercium aroma telur dadar yang langsung menggugah selera. Nicky tersenyum menatap Anneke dan tanpa sadar pria kecil itu menyeletuk.
"Wangi... aku mau makan ini mama Anne,"
Nicky terlihat sangat lucu ketika melihat etalase makanan yang ada di warung saji. Ia tidak berani menunjuk apapun dan memilih tetap memegang tangan Anneke sambil menatap berbagai makanan di warung.
Ketika Ibu pemilik warung mengantarkan seporsi nasi, dan tiga piring kecil yang berisi satu ayam goreng, satu telur dadar dan sayur tumis buncis udang. Tatapan matanya membesar dan kemudian dia menatap Anneke seraya meminta ijin untuk makan.
Anneke mengangguk kepala dan dia makin terkejut ketika melihat Nicky langsung mengambil sendok dan garpu dengan lihai. Pria kecil itu langsung memakan nasi, ayam goreng dan telur dadar, tapi tidak menyentuh sayur tumis buncis dan udang.
"Hai pangeran kecil... kenapa tidak makan sayur ini? "
"Rasanya tidak enak... Nicky tidak suka sayur!" oek .... Nicky sambil menatap jijik sayur itu dan berusaha mengikuti gaya orang muntah.
"Ohh... tapi nanti suatu saat kau harus mencoba sayur yang kubuat... rasanya enak dan itu sehat!"
"Apakah harus? " Nicky tidak mau... dan oma bilang tidak apa-apa Nicky tidak makan sayur!"
"Baiklah... tapi maukah kau membantuku memasak di rumahku jika kau menginap nanti?"
"Menginap... apa itu menginap mama Anne ?'
"Oh... menginap itu kau bisa tidur sampai pagi di rumahku... kita akan main bersama, makan bersama dan menonton televisi bersama "
"Nicky mau, tapi kita tunggu amang bilang boleh... Nicky mau menginap bersama mama Anne," Nicky menjawab dengan penuh keyakinan.
Hampir lima belas menit Nicky makan di sore hari itu, dan setelah Anneke membayarnya, mereka meninggalkan warung nasi menuju tempat kerja Anneke kembali. Mereka berjalan bersama dan jemari Nicky tetap menggenggam erat jemari Anne, seolah ia tidak mau kehilangan Anneke.
"Hei... Anne... Nicky... tunggu aku," Teriak Warmen yang baru tiba dan sedang memarkirkan mobilnya di depan toko Anneke.
Teriakan itu membuat Anneke dan Nicky menoleh ke sumber suara . Anneke tersenyum mengetahui kedatangan Warmen. Ia menghentikan langkahnya dan menunggu di depan toko fotocopi miliknya dan para sahabatnya.
__ADS_1
Satu hal yang tidak disadari Anneke adalah Nicky langsung berlari ke arah belakang kaki Anneke dan bersembunyi diantara dua kaki Anneke dan membuat Anneke bingung atas kelakuan Nicky itu.
Warmen yang memperhatikan kelakuan Nicky dari samping pintu mobilnya agak terheran., Dia terkejut melihat keakraban Nicky dan Anneke yang langsung terjalin erat. Hebat banget Anneke bisa langsung akrab dengan anakknya. Tidak salah aku menjadikannya istri karena ia pandai merawat anak.
"Nicky.... Amang sudah datang," Bujuk Anneke sambil berusaha menarik Nicky yang sembunyi di balik tubuhnya. tetapi pelukan Nicky makin erat pada kaki kanan Anneke, tapi pria kecil itu makin mempererat pelukannya.
"Nicky.... " Panggil Warmen lembut.
Warmen berjongkok disamping Anneke dan berusaha melihat wajah Nicky yang terus bersembunyi di balik tubuh Anneke. Ada suara tangisan kecil dari Nicky.
Rupanya Nicky marah karena Warmen pergi tanpa pamit padanya. Wajah dan ekspresi Nicky cukup menjelaskan dia marah sama ayahnya. Ia menolak kedatangan Warmen. Anneke terdiam memperhatikan keduanya.
"Hai... kau marah sama Amang , Nick?" Maaf tadi mobil amang mendadak mogok dan terpaksa Amang titipkan tadi sebentar, selagi kau tidur... ayo peluk Amang , sayang," Bujuk Warmen sedikit frustasi dan berusaha melepaskan pelukan Nicky dari kaki Anneke.
Padahal ia tadi hanya meninggalkan Nicky tidak sampai dua jam tetapi anaknya tidak mau memandangnya karena ia pergi tanpa pamit. Anneke yang melihatnya merasa tidak enak hati akhirnya ia berbalik dan berjongkok menatap pangeran kecilnya. Tangan Anneke dan Nicky masih saling bertautan.
:"Pangeran... mau menginap di rumahku ?" Anneke berkata pelan dan menatap Nicky dengan lembut.
Nicky mengangguk dan ia tersenyum pada Anneke. Nicky merasa Anneke adalah malaikat penjaganya.
"Tidur sama mama Anne ya," Sahutnya pelan.
Ucapan itu membuat Warmen terkejut bahwa Nicky sudah memanggil Anne dengan sebutan mama. Luar biasa sekali. Padahal Warmen awalnya bingung menjelaskan pada Nicky untuk memanggil Anneke dengan sebutan ibu ataupun mama. Bagaimana jika ia menolak dan tetap hanya mau memanggil momy untuk mendiang Melinda.
"Oke... pangeran akan tidur bersamaku, tapi peluk Amang dulu ya!" Karena Amang yang akan mengantar kita ke rumah, maukan pangeranku?"
Nicky tersenyum selama beberapa saat pada Anneke dan ia menoleh pada Amang. Nicky langsung beralih dan melangkahkan kakinya dan ia kemudian memeluk Warmen dengan erat. Tindakan itu membuat Warmen makin takjub pada Anneke yang memang berhasil membuat Nicky mematuhinya.
Digendongnya Nicky dan ditariknya Anne ke dalam pelukannya. Keyakinan Warmen makin bulat untuk membawa Nicky tinggal bersamanya dan Annnek. Ia yakin Anneke mampu menyayangi Nicky seperti anaknya.
Nicky mencuri pandang pada Anneke selagi memeluk Warmen erat. Tiba-tiba Nicky berkata, "Amang... ayo kita pulang ke rumah mama Anne, aku mau tidur bersama mama Anne!"
Warmen tersenyum hangat pada Nicky dan ia mengangguk pasti.
*****
Happy Reading Guys.
Bolehkah kalian berbaik hati untuk tinggalkan jejak kalian disini?" Thanks a lot guys!"
__ADS_1