Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
63. First Project


__ADS_3

Sebuah tim bukanlah sekelompok orang yang terpaksa  bekerja sama dalam mencapai tujuan. Sebuah tim  harusnya terdiri dari  orang - orang yang saling percaya.


 


*****


 


Nadia, masih terlelap di kursi bagian belakang mobil.  Lelah setelah mengemudi dari lapas dan dilanjutkan dari Cilacap sampai Purwokerto. Ia meminta Handoyo yang menyetir sampai kota Semarang. Mereka harus tiba di sana sebelum pukul 5 sore.


 


Diliriknya wanita yang tertidur pulas itu  ketika  Handoyo tiba di depan pom bensin di tengah kota Semarang tepat pukul 11  siang ,  Handoyo  tiba lebih cepat dari prediksi Nadia.


Wanita yang keras kepala ini sesungguhnya manis juga jika tertidur. Kedua bibirnya yang rapat terkunci dan ia memiliki bulu mata yang panjang menggantung di kelopak matanya. Ingin dibangunkan, namun Handoyo memilih memperbaiki tempat duduknya agar bisa menyadar dan mengistrirahatkan tubuhnya.


Akh... enaknya bisa beristirahat. Bisik Handoyo sambil berusaha memejamkan matanya.


Tugas apapun yang akan ia terima sebagai pengisi waktu hidupnya sampai Lidya menjemputnya. Emh.... sedang apa Lidya  di Surga sana? Apakah dia melupakanku dan benar-benar  bahagia di sana?   Lidya,.. aku akan menyusulmu dan mati dengan terhormat. Itu janjiku padamu. Aku ingin melihat dunia dan berbagai keadaannya. Aku pasti menyusulmu nanti.


" Ahh... sudah dimana nih kita?"  Tiba-tiba suara Nadia yang agak serak karena bangun tidur membuat Handoyo kembali membuka matanya.


"Semarang kota. "Ujar Handoyo pendek dan tidak memperbaiki posisi kursinya.


"Hah.... cepat amat nih mas Handoyo.... hebat juga kamu nyetir tanpa istirahat...


"Kita harus kemana  sekarang? " Untuk nanti sore ada yang harus disiapkan gak ?"


"Kita makan siang dulu di dekat pasar Klitikan antik, setelah itu temui salah satu pedagang disana, dan kamu harus tiru salah satu pedagang biar  bisa menemui target kita nanti malam dan jangan lupa kita bawa satu keris yang cukup antik untuk menjadi salah satu hadiah untuk target kita.


"baiklah... aku akan cari informasi, sekarang kamu tunjukkan jalan ke sana?" Sudah sadar kan.... masih aku yang nyetir atau gantian lagi?'


"Kamu aja deh yang nyetir, mas Han... aku  kalau belum makan , belum bisa mikir apalagi nyetir, "Sahut Nadia santai dan berpindah ke kursi depan samping pengemudi.


Handoyo tersenyum dan tidak mau berkomentar. Ia membiarkan Nadia menunjukkan arah sementara ia hanya bertugas menyetir mobil ini.


Makan siang dan mencari informasi serta berbelanja di pasar klitikan  itu menghabiskan waktu sektiar 3 jam. Mereka memainkan peran dengan cukup baik dan membuat orang berfikir mereka adalah pasangan suami istri yang sedang berlibur di Semarang.


Seluruh persiapan dilakukan di sebuah hotel "Candi Baru"  yang berada di pusat kota Semarang Dipilihnya hotel ini merupakan salah satu bagian dari trik Nadia, karena biasanya suka diadakan pertemuan para kolektor barang seni di sini.


Sore hari ini Nadia berdandan habis sehingga hampir membuat Handoyo terkejut. Wanita ini berubah menjadi wanita anggun yang manis dengan balutan Sackdress hitam yang menawan. Kalung Mutiara makin membuat dia makin mempesona. Benar-benar "All Out" pesan Nadia tadi padanya.


Setelan jas pun sudah digunakan Handoyo, karena memang Lidya benar-benar menyiapkan semuanya sedari awal. Perpaduan Pria gagah dan wanita anggun yang sempurna. Hanya satu yang agak berbeda, dia wajib menyarungkan keris ditubuhnya. Menurutnya perpaduan yang tidak pas. tapi semua harus dilakoni dengan sabar.


'Mas Han.... ntar  pria yang harus kau bereskan bernama Sasongko... perhatikan dengan jelas fotonya, seharusnya tidak sulit karena ia adalah tuan rumah. Dan kau harus tidak terlihat orang lain ketika melakukannya.... pria ini selalu diikuti sekelompok ajudannya....


"Kalau begitu kenapa tidak malam hari saja.... kita masuk ke rumahnya. nad?"


"Tidak.... keluarganya harus melihat kita hadir dan tidak mencurigai kita dan tidak ada yang tahu bagaimana Sasongko meninggal.... jadi kita akan disitu hingga polisi hadir.  Pertama tugasmu adalah menukar keris itu dengan yang palsu dan berikan aku kode setelah kau lakukan,  Nanti aku yang akan memancing Sasongko ke kamar tidurnya dan kamu lakukan tugasmu untuk menikamnya di atas ranjang. Bisakah?'


"ya... kurasa itu akan selesai dalam waktu tidak sampai 10 menit, Nad..


"Baiklah....kuharap kamu  benar-benar tepat waktu!"


'Ya!"


"Kita lakukan tugas kita dengan baik.... Good luck!" Nadia berkata sambil tersenyum memandang Handoyo yang sedang sibuk memasang riasan penutup wajah aslinya di wajahnya. Pria itu menjadi berbeda dengan tampilan yang sesungguhnya. Sungguh pria yang hebat, bisik Nadia dalam hatinya.


 


*****


 

__ADS_1


Pesta di kediaman Sasongko akan dimulai pukul 18.00. Begitu banyaknya pejabat dan orang -orang penting yang hadir di pesta itu membuat pemeriksaan berlangsung cukup ketat. Demikian juga Handoyo dan Nadia harus melewati pemeriksaan berlapis dan memberikan alasan keris yang dibawa merupakan hadiah untuk tuan rumah.


"Silahkan Pak Adiguna dan Ibu Lidya mengikuti kami untuk bertemu Bapak Sasongko secara langsung..." Ajudan Sasongko yang mengajak Handoyo dan Lidya agar memasuki ruangan pesta dengan sopan.


Acara cukup padat dan dihadiri banyak orang . Terlihat tuan rumah berdiri  tidak jauh dari  pajangan keris emasnya sambil sibuk menyalami beberapa orang dan mempersilahkan mereka untuk makan malam dan melihat  pameran lukisan dan keris miliknya yang dijaga oleh petugas khusus.


Handoyo memperhatikan bahwa Sasongko menggunakan petugas keamanan keris dengan jumlah hampir 20 orang di dalam ruangan. Sungguh pengawalan yang ketat. Ia memperhatikan dengan mendetail seluruh ruangan berlantai dua itu. Ada dua tangga melingkar di sudut kiri dan kanan. Handoyo tersenyum pada Nadia.


"Kita akan mulai tugas kita beberapa saat lagi," bisik Handoyo pelan.


Nadia mengangguk dan tangannya masih berada di lengan Handoyo. Dalam misi kali ini mereka berperan sebagai suami istri yang bernama Adiguna dan Lidya.  Mereka terus melangkah mengikuti sang ajudan. Sasongko memperhatikan ajudan yang datang menemuinya dan memberikan sebuah kotak berisi keris yang tadi siang dibeli oleh  Handoyo.


"Ohh... terimakasih Pak Adiguna... ini keris mahal dan jarang... terimakasih atas hadiahnya,"  Sasongko tertawa puas sambil terus memperhatikan keris itu.


"Syukurlah Pak Sasongko menyukainya.... Selamat ulang tahun ya pak!" Ujar Handoyo sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Handoyo dengan hangat.


"Aku pikir yang namanya Adiguna itu merupakan orang yang sebaya denganku tapi ternyata dia seorang muda yang cerdas.... dan ini istrinya juga cantik...." Sahut Sasongko sambil melepaskan tangan Handoyo dan beralih pada Nadia dan berupaya mencium punggung tangan Nadia sebagai kesopanan pada wanita cantik.


"Terimakasih pak Sasongko... saya Lidya, Selamat ulang tahun semoga bapak tetap sehat dan makin melimpah rejekinya," Nadia menjawab sambil tersenyum genit.


"Oh iya Pak Sasongko, boleh kami lihat-lihat koleksi keris itu... kami ingin lihat keris fenomenal yang bernotahkan emas dan berlian itu," Pancing Handoyo karena ia memerlukan informasi tentang keberadaan keris yang akan digunakan untuk membereskan pria tua itu.


"Oh... itu gak dipajang Adiguna... aku akan memperlihatkannya pada kalian... itu ada di lantai dua...nanti kita ke situ, bagaimana?" Sasongko menunjuk sebuah kamar yang di depannya ada dua penjaga.


Handoyo tersenyum puas. "Baiklah, nanti kita melihatnya... emh sebelumnya aku mohon ijin , bisakah aku ke toilet sebentar?' Perutku gak bisa diajak kerjasama... siang tadi aku terlalu banyak makan pedas mungkin.... "


"Oh silahkan Pak Adiguna... toilet di ujung ruangan ini... " Sasongko menjawab ramah.


"Terimakasih Pak Sasongko... emh boleh temani Lidya sebentar... dia suka nyasar jika di tempat yang baru?'


"Oh dengan senang hati.... silahkan tuntaskan dulu urusan di toiletnya, aku akan menjaganya dan mungkin mengajaknya mencoba berbagai makanan enak,"


'Sayang... jangan jauh-jauh dari Pak Sasongko ya!"  Handoyo berkata lembut dan itu didengar oleh Sasongko  dan Lidya.


"tentu saja Lidya!"


Handoyo bukannya tidak mengetahui bahwa Sasongko adalah pria liar yang suka dengan wanita cantik, tapi itu bagian dari strategi mereka di malam hari ini. Setelah memastikan Adiguna berjalan ke arah toilet dan tidak memperhatikan istrinya, Sasongko merangkul Nadya dan berusaha mengajaknya ke ujung ruangan dekat ruangan kerjanya.


"Lidya.... apakah kamu mau melihat koleksiku lainnya sebelum melihat keris itu?"


"Oh tentu saja... koleksi apakah itu?" Apakah bagus dan elegan juga?"


"Kamu suka kalung mutiara? Aku punya beberapa dan itu cantik sekali seperti kamu... dan kamu boleh memilihnya nanti?"


"Benarkah ?' Aku boleh memilih kalung mutiara? Bapak tidak lagi berbohong kan?"


"ya, aku mengijinkanmu untuk memilihnya dan untuk kenang-kenangan dari pertemuan kita ...  sekarang ikutlah aku sebentar!" Aku akan membiarkanmu memilihnya asalkan kau juga membantuku sebentar...


"baiklah ," Ujar Nadia sambil tersenyum manja pada pria paruh Baya itu.


Mereka melangkah menuju ruangan kerja milik Sasongko. Sementara Handoyo mengamati pergerakan keduanya dan ini adalah masa dia melakukan tugasnya dan menukar keris yang dipajang itu dengan keris yang dibawanya. Dia sudah memikirkan caranya dan itu hanya membutuhkan waktu 1 menit untuk menukarnya.


Sementara Sasongko sedang membuka lemari tempat perhiasannya. Dan Nadya tetap bergelanyut manja di tangan pria paruh baya itu.


"Pak Sasongko,... apakah ini bukan milik istri bapak? bagaimana jika ia mengetahui dan bapak memberikannya pada saya?"


"Istri saya sudah memiliki banyak mutiara di kamarnya... dan dia tidak boleh memasuki ruangan ini.... hanya orang-orang tertentu yang  diijinkan memasukinya... nah kamu mau mutiara yang mana sayangku?"  Sasongko menarik Nadia ke pelukannya.


"benarkah aku boleh memilihnya?"


"Ya... asalkan aku boleh mencicipimu sebentar saja... "Sasongko berkata dengan penuh gairah.


Diremasnya tubuh Nadia bagian bawah dan membuat Nadia sedikit memekik.

__ADS_1


" Aww..... bagaimana jika suamiku mencariku dan kita sedang bersama?'


'Tenanglah penjaga ruangan di depan akan membereskannya... dia tak kan bisa masuk sampai kita bisa memuaskan satu sama lain....!' Sasongko berkata dengan tangannya terus menjelajah di tubuh Nadia.


Nafas pria paruh baya itu makin memburu dan mulai menciumi Nadia dari bibirnya dan makin turun ke lehernya. Nadia sedikit mendorong pria yang makin bergairah itu dan berusaha bersikap tenang dan mengulur waktu.


" Pak Sasongko.... bolehkah aku yang melepas gaunku sendiri... agar suamiku tidak curiga jika kami bersama nanti...karena gaunku akan kusut akibat ulah nakalmu... aku akan melayanimu sampai puas... tapi sabar sebentar ya!"


"Ohh.... kamu nakal sekali sayang.... rasanya aku tak sabar... ingin  melakukan segera... aku ingin melihat jelas tubuhmu dan menggigitnya ... ahh pasti nikmat sekali ," Sasongko sambil melepas jasnya dan melempar kesembarang arah.


Nadia melakukan tugasnya dengan perlahan Dilepasnya gaun sack dress itu dan  Ini belum sampai  10 menit, masih di menit ke delapan dia di kamar ini, Sesungguhnay Nadia benar-benar resah.  Semoga Handoyo tepat waktu, batin Nadia terus berharap agar partnernya segera datang menunaikan tugasnya.


Di menit ke sepuluh Nadia sudah melepas semua kain yang ada di tubuhnya. Dan Sasongko berdecak kagum memandang Nadia. Pria itu nyaris langsung menerjang Nadia, namun tangan wanita itu terangkat dan seakan kode untuknya berhenti melangkah.


'Aww... kamu mulus sekali.... beruntunglah suamimu yang setiap malam menikmatimu!"


Nadia tersenyum manis dan akan melangkah menghampiri Sasongko.


"Kau mau mencobanya Sasongko?"  Ujar suara lain di ujung ruangan yang tiba-tiba hadir.


Nadia sedikit terkejut dan langsung  segera memungut pakaiannya dan berupaya memakainya kembali dengan cepat.


Sasongko menoleh dan terkejut bahwa suami dari wanita yang akan ditidurinya sudah hadir di ruangan ini. bagaimana bisa ia masuk? apakah kedua penjaga itu lalai? Handoyo melemparkan keris bertahtakan emas dan berlian tepat dijantung pria itu.


Ahh....


Sasongko langsung terjatuh  dan meninggal saat itu juga , darah langsung mengucur keluar dan membasahi kemeja putihnya. Keterkejutan dan luka dari lemparan itu membuat jantungnya berhenti dan membuat nyawanya melayang.


Nadia dan  Handoyo keluar dari jendela samping dan berjalan santai melewati penjaga yang masih berdiri tegap di depan pintu. Tidak ada keanehan yang dirasa oleh kedua penjaga itu. Mereka tetap bertugas dengan tenang dan waspada memperhatikan para pengunjung yang melewati mereka.


Hingga acara hampir selesai belum ada tuan rumah yang menutup kegiatan. Istri sasongko akhirnya meminta sang ajudan mencari suaminya di ruangan kerjanya. Kehebohan dimulai di malam itu, dan polisi baru hadir beberapa jam kemudian dan para tamu sudah dibubarkan oleh tuan rumah.


Mereka berdua meninggalkan kediaman Sasongko dengan puas. Kerja tim yang luar biasa, pikir Nadia. Big mama akan bangga pada tugas pertama Handoyo. benar apa yang big mama bilang bahwa sebuah tim bukanlah sekelompok orang yang terpaksa  bekerja sama dalam mencapai tujuan. Sebuah tim  harusnya terdiri dari  orang - orang yang saling percaya. Dan aku mulai mempercayai pria ini.


 


*****


 


 


 


 


 


 


 


Happy reading guys. Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot!


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2