
Kamu adalah warisan terbaik yang ditinggalkannya!"
Dalam banyak kondisi, bersabar adalah kebijakan terbaik dan tidak dapat ditandingi.
*****
"Pak kiyai bisakah menjelaskan tentang latar belakangku dan kenapa aku bisa jadi sebatang kara dan harus tinggal di panti asuhan...!" Bagaimana Yona bisa meninggal dan siapa ayahku?" Handoyo menatap pria tua itu dengan penuh rasa ingin tahu.
"Tentu saja semuanya bisa dan itu bagian dari janjiku pada Yona... tapi bisakah kamu menjanjikan juga padaku nanti setelah mendengarkan ceritaku untuk tidak menghabiskan waktu dengan membalaskan dendam pada orang lain yang jahat pada kita. Belajarlah mengampuni orang yang menyakiti kita. Aku ingin kau tidak salah melangkah lagi Han?"
" Maaf pak kiyai... aku tak bisa menjanjikan sesuatu hal yang belum kuketahui..." Handoyo menjawab dengan pelan.
Handoyo merasa tidak enak jika ia mendebat pria yang lebih tua dan dihormati oleh orang-orang termasuk sekelas Big Mama.
"Sudah kuduga... Kau persis dengan Yona... tapi bagaimana jika dampaknya akan menyakiti dirimu sendiri?"
"Aku yang akan menanggungnya kiyai," Handoyo berkata tegas dan menatap berani pada sang kiyai.
"Baiklah... aku akan bercerita lengkap sesuai yang kuketahui tapi apakah wanita ini adalah istri atau baru calon istrimu?" Jika dia baru menjadi calon istri, mohon tunggu di pendopo dulu!" Kiyai Umar menatap Nadia yang duduk di samping Handoyo.
Perkataan itu membuat keduanya terkejut, Nadia berusaha menjawab dengan tenang. Sementara Handoyo menatap tidak percaya pada pria tua yang begitu tidak berperasaan pada Nadia. Ada rasa tidak enak di hati Handoyo melihat perlakuan pria tua itu pada Nadia.
"Saya bukan istrinya pak Kiyai... dan saya juga bukan calon istrinya, saya hanya rekan kerjanya dibawah bimbingan Big Mama ... saya akan menunggu di pendopo saja!" Jawab Nadia saraya bangkit dari tempat duduknya.
"Kiyai... aku percaya padanya!" Dia banyak membantuku!" Handoyo berkata sambil memegang lengan Nadia dan memintanya tetap duduk disampingnya.
"Kau ini persis ibumu, polos dan begitu mudah percaya pada orang lain... Yona itu dikhianati oleh orang kepercayaannya!" Orang yang dicintainya dan sangat dipercaya olehnya, Jadi jika belum pasti menjadi istrimu... biar dia tunggu di luar pendopo, jika kamu memang benar percaya padanya, dia akan menunggumu!"
"Mas Han... aku keluar dan jalan-jalan di sekitar pondok, kamu ngobrol dulu dengan kiyai, kita akan ketemu di dekat pendopo... carilah informasi tentang siapa dirimu dahulu, agar kau tidak menyesalinya!" Nadia berkata lembut dan membuat Handoyo melepaskan pegangan tangannya pada Nadia.
Kedua pria berbeda generasi itu menatap kepergian Nadia dalam diam. Kiyai Umar baru bersuara ketika dilihatnya Nadia semakin jauh dan tak mungkin mendengar perbincangan mereka.
"Apakah Kau sudah mulai menyukainya, Han?" Kiyai berkata dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
Handoyo sedikit menyipit agak gusar namun ditahannya. Pria ini berumur tiga kali umurnya. Dan dia sedang menunggu informasi dari pria tua ini. Handoyo menarik nafasnya kasar untuk sedikit mengatur hatinya. dan menetralkan detak jantungnya menjawab pertanyaan kiyai.
"Kau pasti mau menyanggahnya... persis ibumu!" Kamu adalah warisan terbaik yang Yona tinggalkan untukku!" Aku semakin memahaminya setelah melihatmu akhirnya kamu bisa tumbuh dewasa, meski banyak penderitaan yang harus kau lalui... tapi itu semua kurasa sepadan untuk keselamatanmu,Han!"
"Pak Kiyai... bisakah memulai ceritanya, aku ingin mendengar cerita yang sesungguhnya tentang keluargaku !"
"Baiklah... kamu kemarilah Han, ... duduklah di sampingku!" Kiyai menepuk bagian kursi kayu yang terletak di sebelahnya. Handoyo mengikuti perintah sang kiyai dengan patuh.
"Kamu lelaki yang kuat dan bertanggungjawab, hanya saja ada jalan berliku yang harus kau lalui dan itu sudah terlanjur salah jalan dan sulit diubah , ... tapi jika kau bisa mengampuni orang yang bersalah padamu, kau bisa mengubah takdir hidupmu, Han... " Kiyai Umar mengelus pundak Handoyo seperti sedang menasihati cucunya.
"Pak kiyai.... bisakah bercerita dan tidak berputar-putar agar aku dapat memahaminya?"
"Yona adalah ibumu, dan dia adalah salah satu siswi yang pintar di pondok ini. Anak yang cekatan, ringan tangan dan riang. Dia bersahabat dengan Alesha dan kemana-mana selalu bersama. Alesha adalah wanita yang sekarang dan kau kenal dengan nama "Big Mama". Keduanya adalah bunga dari pesantren ini, hingga sekelompok tentara yang sedang bertugas dari Jakarta tertarik dan menjadi rebutan.Ada dua tentara muda yang akhirnya berhasil mendekati mereka. Pria pertama adalah Daffa yang berhasil menjadi kekasih Yona dan Gaffar yang menjadi kekasih Alesha....
Ucapan Kiyai terpotong oleh keterkejutan Handoyo yang seakan tidak sabar pada cerita Kiyai Umar.
"Gaffar adalah yang sekarang menjadi Panglima Gaffar, lalu dimana Daffa?" Apakah dia juga meninggal dalam tugas sehingga aku menjadi yatim piatu?"
"Ya, soal Panglima itu benar ... Gaffar adalah pemuda yang pintar dan cekatan, sehingga karirnya terus naik dan sekarang ia menjadi panglima negeri ini dan hubungannya dengan Alesha, kurasa tetap baik -baik saja, meski mereka tidak seharmonis seperti awal mereka menikah. Kembali ke Yona... Hubungan Daffa dan Yona awalnya baik dan harmonis seperti pasangan kekasih lainnya, bahkan Daffa yang mencarikan pekerjaan dan meminta agar Yonna dan Alesha dapat bekerja di Jakarta karena ada tawaran di angkatan sebagai tenaga staf administrasi.... Namun manusia yang semula akrab dan bersahabat baik itu berubah ketika ada tawaran kekuasaan dan uang, Daffa mulai iri pada Gaffar yang terus menanjak karirnya dan dapat menggelar pesta pernikahan megah di Jakarta , dan itulah yang akhirnya membuat Daffa gelap mata, ia tega menjual Yonna pada seorang pria yang sangat berkuasa di militer dan semenjak itu karir Daffa mulai naik dan dia menjadi salah satu petinggi di Angkatan tapi dia ditempatkan di Aceh hingga ia meninggal dalam tugas disana!"
"Jadi Daffa bukan ayahku dan dia juga sudah meninggal... Lalu siapa ayahku, kiyai?" Handoyo mulai tak sabar mendengar ceritanya.
" Pria yang membeli Yona itu ternyata memang mencintai Yona sejak awal, dia melihat Yona dan memikirkan berbagai cara hingga bisa menjadikan Yona miliknya, padahal ia sudah memiliki istri yang sah , Tindakan dia dengan menjadikan Yonna sebagai simpanan yang paling dikasihinya....Dia adalah orang yang membuat Daffa akhirnya menjual Yona padanya... Dia adalah Jendral Suhartono, panglima tertinggi negeri ini!"
Handoyo tercengang tak percaya. Selama hidupnya ini adalah hal yang paling tidak masuk akal yang didengarnya.Tidak mungkin bahwa ia adalah anak orang nomor satu di negeri ini. Handoyo tidak bisa berkata-kata. Apakah mungkin dia adalah anak haram dari sang penguasa negeri ini. Kenapa malang benar nasibnya?"
Ini suatu kekonyolan ataukah mimpi yang paling aneh diceritakan pria tua itu. Apakah pria itu sedang membohonginya? Tapi untuk apa?" Handoyo masih terdiam tak berkata apapun. Hingga sang Kiyai melanjutkan ceritanya.
"Kau pasti tak percaya?" Pesantren ini tanahnya dibeli oleh Jendral itu sebagai hadiah karena bisa menikahi Yona, Kau bisa melihat surat-surat hibah darinya... ketika Yona meninggalkan istana negara dalam keadaan mengandung 9 bulan ... Jendral itu mengunjungi kami... dan ada foto -foto dia disini!" Aku bisa membuktikan ucapanku, nanti.... Foto dan semua arsip tentang Yona, aku menyimpannya dengan rapih..... Dan ternyata kunjungan sang Jendral itu memiliki dampak besar dan mengerikan bagi kami. Tiara yang merupakan istri sah- nya marah besar dan mau membunuh Yona dan kamu yang masih bayi, dan membunuh kami semua namun Jendral gaffar menyelamatkan kami tapi dia tidak bisa menyelamatkan Yona karena diluar kendalinya, karena Tiara merasa ini masalah rumah tangga pimpinannya .... Untuk menyelamatkanmu , kami memilih untuk menyembunyikanmu dan menyerahkan pada salah satu pengasuh pondok yang memiliki rumah panti asuhan di Lampung. Kami sengaja tidak menghubungimu sama sekali untuk keselamatanmu, Handoyo !"
"Terus bagaimana dengan Yona ?" Kenapa dia bisa meninggal? "
"Pagi hari itu , kami mendapat titipan bayi dari rumah sakit bersalin, dimana ibunya meninggal dunia ketika melahirkan bayi itu. dan ironisnya, sang bayi itu memiliki cacat fisik, yakni kakinya kecil satu... Yona yang saat itu sedang menggendong bayi itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika tiba-tiba Tiara menariknya dan begitu melihat bayi itu cacat , Tiara langsung tersenyum dan mengejeknya, kemudian dia mengambil bayi itu dan menembak Yona di depan kami.... sementara Jendral Suhartono tidak bisa berkata apapun bahkan menolongnya karena anaknya berada di tangan Tiara.... Ia tampak pasrah dan kalah pada istrinya."
"Jadi bagaimana nasib bayi itu?" Apakah Tiara akhirnya membunuhnya?"
"Tidak bayi itu masih hidup dan menjadi sehat karena di pelihara oleh Tiara sebagai salah satu anaknya dan itu yang menyebabkan Jendral Suhartono tidak menceraikan atau membunuh istrinya!"
__ADS_1
"Hemm.... wanita jahat bersama pria kejam!" Aku harus membereskan mereka berdua!"
"Tidak, Han.... Mereka tidak pernah mengetahui bahwa kamu itu ada dan masih hidup dengan sehat, Rahasiamu hanya diketahui oleh aku, kamu dan Big mama yang mengetahuinya, ..... tahukah kamu untuk menjaga rahasiamu, Big Mama sampai harus berbohong pada suaminya, bahwa ketika suaminya bertugas militer di Dili selama 2 tahun, ia memang pernah mengandung anak lelaki di luar pernikahannya dan dititipkan di sebuah panti asuhan... kurasa itulah yang membuat hubungan Alesha dan Gafafr menjauh.... jika kau akhirnya bisa membantu mendamaikan mereka , itu akan lebih baik.... Yona dan Alesha itu selalu saling menjaga, kurasa Alesha melakukan banyak hal dan berkorban banyak untukmu!" Kiyai Umar kembali meneguk gelas berisi air putih.
"Terimakasih kiyai... terimakasih telah membiarkan aku tahu rahasia keluargaku, dan membantuku untuk bertahan hidup. terimakasih sekali lagi, jika kau bersedia membantu untuk mengunjungi makam ibuku dan mendapat arsip ibuku...."
"Aku akan meminta asan mengantarmu dan memberikan data itu ... Han, bijaklah dalam melangkah dan menentukan sikapmu!" Ingatlah pesanku sebelum kamu pergi, akut idak yakin bisa melihatmu di kemudian hari, dalam banyak kondisi, bersabar adalah kebijakan terbaik dan tidak dapat ditandingi.... lawanmu adalah orang penting dan berkuasa di negara ini, jadi aku tidak mau kamu mati konyol!" Hutangku pada Yona sudah banyak... aku ingin melihatmu bahagia.... Oh iya kurasa wanita yang menemanimu itu, wanita baik-baik!"
Handoyo terdiam mendengar perkataan kiyai Umar. Nadia adalah wanita yang baik, kiyai, tapi aku tidak mencintainya... cintaku hanya satu pada Lidya, tapi sudah berapa lama Lidya tidak pernah hadir di mimpiku... Handoyo menarik nafas panjang sebelum menatap kiyai yang sedang menatapnya juga. Akh kenapa akhir-akhir ini Lidya tak pernah hadir lagi di tidur malamnya ? Apakah sekarang aku sudah melupakan Lidya?"
*****
Happy Reading Guys!" Ingat ya temans, cerita ini fiktif jika ada kesamaan tokoh maka ini hanya khayalanku dan jangan mengkaitkan di dunia nyata!"
Terimakasih telah membacanya dan bolehkah sebar poin, hadiah, like dan vote.?' Thanks a lot guys!"
__ADS_1