
Bertemu denganmu adalah salah satu takdirku, dan kebersamaan kita selama ini membuatku jatuh cinta dan mengharapkanmu adalah milikku seutuhnya. Tapi ketika aku mengetahui bahwa takdirku bukanlah bersamamu, itu sangat menyakitkan. Salahkah aku jika ingin dicintai seperti kau mencintainya ?"
*****
Handoyo membanting pintu kamar mandi dan segera ia menyalakan shower untuk menenangkan dirinya Ucapan Nadia tentang ramalan Jessy membuatnya marah. Benarkah ia tak bisa bersama dengan Nadia?"
Alasan ramalan bagi Handoyo itu sangat konyol. JIka mereka mau mereka bisa hancurkan semua ramalan itu. Nadia begitu bodoh jika percaya pada perkataan Jessy. Kebersamaan mereka hanya dibutuhkan niat dan kebutuhan bersama untuk saling melengkapi dan menjaga.
Ia adalah seorang pembunuh yang cekatan. Masakah ia tidak mampu melindungi keluarganya. Jessy sialan. Kenapa juga ia membuat ramalan yang menakuti Nadia. Suara Nadia masih bergemang di telinganya yang ikut basah oleh guyuran shower.
"Mas Han... aku gak mau jika kita bersama, kita akan mati dengan tragis dan dibunuh oleh anak kita.."... Ini untuk kebaikan kita.... kita bisa terus menjadi sahabat meski aku menikahi pria lain dan kau bisa melihat anakmu tumbuh besar...
Ucapan itu menyulut emosi kembali Handoyo. Memangnya kenapa dia meragukanku dan lebih mempercayai orang lain menjadi ayahnya. Jika ingin benihku, maka aku yang akan membesarkannya , menjaganya dan melindungi kalian semua. Apakah dia pikir aku tak mampu melakukan itu . Apakah dia meragukanku karena aku gagal melindungi Lidya dulu.
Ah... pasti gara-gara Lidya meninggal dan aku dianggap tidak mampu melindungi istri dan anak dalam kandungannya. Pasti karena itu. Bukankah Nadia mengetahui kemampuanku dibandingkan semua orang di dunia?
Apa katanya tadi... dia ingin menjadi wanita kesayanganku.... akh bukan kesayangan Adiguna. Kenapa dia terus memisahkan Handoyo dan Adiguna. Aku adalah keduanya.
Handoyo mengambil shampo dan menggunakan sebagian kecil dari isi botol shampo itu untuk membasahi rambutnya. Ia terus memikirkan Nadia. Baginya Nadia sangat aneh, katanya ingin menghabiskan masa tua bersamanya tapi kenapa harus menikahi Pramoedya.
Pikiran itu terus melayang hingga Handoyo tidak menyadari Nadia memasuki kamar mandi itu. Pelukan dari belakang tubuhnya membuatnya tersentak. Handoyo terpaku dan matanya kemudian terpejam. Apakah ia mulai melupakan Lidya dan mulai mencintai Nadia. Kenapa sekarang tidak ada lagi bayangan Lidya lagi yang menghampirinya. Apakah cintanya sudah hilang dan beralih ke wanita yang tengah memeluk tubuh telanjangnya.
Tidak. Cintaku cuma satu. Hanya pada Nadia. Dia hanya sahabatku dan kami saling membutuhkan semalam. Ia hanya pemuas nafsuku di atas ranjang.
'Mas Han.... " Panggil Nadia pelan di balik bahunya.
Handoyo terdiam dan menikmati perlakuan Nadia itu. Dua tubuh tanpa pakaian itu diguyur air shower mempunyai sensasi tersendari. Serasa ada yang mengganjal di tubuhnya dan membuatnya ingin menikmati kembali momen itu. Tapi... wanita ini tidak mempercayai kemampuannya untuk melindungi dirinya dan anak mereka nanti. Handoyo kembali terdiam dan membiarkan semua perlakuan Nadia itu.
"Mas Han... jangan marah... maafkan aku." Tak masalah kau tak ingin memberikan benihmu... aku tak memaksamu... aku bahagia bisa memeluk dan memiliki Adiguna walau cuma semalam ." Bisik Nadia yang memeluk tubuh Handoyo yang basah oleh air guyuran dan shampo.
__ADS_1
Air itu terus menetes dan ikut membasahi tubuh Nadia yang memeluk Handoyo. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka berada di posisi itu selama beberapa menit. Hingga Nadia melepaskan pelukannya dan bergerak ke depan Handoyo.
"Mas Han ... kamu masih marah ?"Nadia berada di depan muka Handoyo.
"kenapa kau masih memisahkan diriku sebagai Adiguna dan Handoyo...? Kau jelas-jelas tahu aku adalah keduanya!" Aku bisa melindungimu Nad... aku bisa menjaga kamu dan anak-anak kita nanti... jadi jangan nikahi Pramoedya."
Nadia tersenyum dan sedikit berjinjit mencium bibir Handoyo.
"Kamu tahu... Di hati Handoyo selamanya akan milik Lidya dan kamu tak mampu melepaskan wanita itu.... di depan semua orang di dunia kamu dengan lantang mengakui kamu mencintainya sampai mati... salahkah aku cemburu padanya... aku cemburu pada wanita yang sudah meninggal dan terus mengisi hatimu."
Handoyo terdiam mendengar perkataan Nadia. Tangannya mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggung dan bingungnya. Ia tidak ingin menyakiti hati Nadia dan membuatnya menangis kembali.
"Bisakah kamu mengatakan pada seluruh dunia bahwa kau mencintaiku dan akan melupakan Lidya yang sudah meninggal?" Nadia berkata pelan dan kemudian menciumnya kembali dengan lembut dan ikut menggetarkan kembali seluruh raga Handoyo. Ia begitu menikmati perlakuan Nadia.
"Aku harus memisahkan Handoyo dan Adiguna... karena tidak mampu menyaingi Lidya... aku hanya bisa memaksa Adiguna untuk melihatku dan mencintaiku... entah apakah Adiguna bisa mencintaiku sebesar Handoyo mencintai Lidya?"
Handoyo terhenyak menatap wanita yang di depannya ini. Wanita ini mengelus dada bidangnya yang basah oleh air shower. Jadi Nadia cemburu pada Lidya. Benarkah ? bagaimana ini aku tidak bisa melepaskan Lidya dan aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama Nadya. Bagaimana mengatakan padanya?'
Nadia memegang kedua pipi Handoyo yang masih terbengong dan bingung untuk berkata. "Lupakanlah itu... tetap jadilah Adiguna yang kau bisa... aku mau bersama Adiguna saja yang menawan dan liar seperti semalam."
"Maafkan aku Nad.... aku tak tahu... tapi kurasa aku bisa.... akh... Nad... Nadia.... oh...
Handoyo mengerang dan menikmati perlakuan manis dari Nadia. Wanita itu telah berjongkok dan memberikan kepuasan pada Adiguna. Mereka bergelut kembali pagi itu dan tanpa Handoyo sadari dia menumpahkan benihnya di rahim milik Nadia kembali.
*****
Dua jam kemudian di atas ranjang, Nadia dan Handoyo masih berpelukan di balik selimut.Setelah melakukan sesi panas di kamar mandi, mereka melanjutkannya di kamar.
Handoyo masih memandangi wajah Nadia yang kelelahan. Wanita itu puas dan tertidur dalam dekapan Handoyo. Diciumnya Nadia kembali dan ia berbisik dalam hati.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nad... aku tak bisa memberikan cintaku untukmu... cintaku hanya untuk Lidya... aku menyayangimu dan membutuhkanmu.."
"Kamu cantik Nad dan juga baik.... Kamu juga ciptaan Tuhan yang indah...Maafkan aku !" Handoyo menarik Nadia ke dalam pelukannya.
Ucapan itu membuat mata Nadia terbuka."Terimakasih Adiguna...Terimakasih.."
"Jangan cemburu lagi pada Lidya... Kamu adalah wanitaku selamanya!" Aku akan melupakannya.."
"Jangan bohongi aku, mas Han... aku puas jika aku satu-satunya di hati Adiguna.."
Handoyo terdiam dan menikmati kebersamaan ini bersama Nadia. Sanggupkah ia melepaskan wanita ini? Wanita ini begitu baik dan menyayanginya. Seharusnya ia memang mampu melepaskan Lidya. Tapi ia sudah berjanji pada Lidya sampai ia mati.
"Dengarkan aku.... kita masih bisa bersama meski aku menikahi Pramoedya... aku akan mengunjungimu Adiguna dan selalu mendukung apapun yang dilakukan Adiguna... aku mencintaimu Adiguna meskipun Pramoedya nanti yang memiliki tubuhku."
Handoyo merasakan hati dia sakit sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nadia. Benarkah dia akan kehilangan Nadia. Benarkah ia sanggup menyakiti Pramoedya yang telah menggantikannya di keluarga itu. Apakah harusnya ia gembira dengan keadaan ini.
"Malam ini kita kerja terakhir bersama... tapi setelah itu aku harus membahas pernikahanku dengan Pramoedya... jadi kumohon.... jangan marah lagi....!"
"Aku tak bisa marah padamu Nad.... aku ... rasa aku mencintaimu Nad."
"Itu pasti Adiguna... bukan Handoyo... karena Handoyo itu milik Lidya."
'Aku adalah keduanya .. aku mencintai Lidya dan Aku juga mencintaimu Nadia.." Handoyo bangkit dari posisinya dan bergerak di atas tubuh Nadia.
Handoyo kembali mempertemukan kembali tubuh mereka dan ******* mereka kembali terdengar. "Aku sayang kamu Nadia..."
'Sayang...
*****
__ADS_1
Happy Reading Guys... terimakasih telah membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak manis di sini? Apapun itu kuterima dengan lapang dada. Love you all...