
Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya dan biarkan ia menggapai mimpinya.
*****
Warmen baru tiba di parkiran kantornya pukul 08.50 dan ia melihat Dita sang assisten sudah menantinya dengan resah di lobby. Kepalanya berkerenyit heran. Tidak seperti biasa hal itu dilakukan oleh Dita. Wanita itu biasanya lebih memilh menunggunya di depan ruangannya dan melaporkan kegiatan penting Warmen per harinya..
Warmen bergegas melangkahkan kakinya ke lobby dan menghampiri Dita yang tampak tidak sabar menunggunya.
"Selamat pagi pak Warmen.... maaf saya menjumpai bapak disini. " Sapa Dita dengan sopan ketika Warmen sudah beberapa meter di depannya.
"Ada apa Dit ? Sampe membuat kamu harus turun menjemputku disini," Warmen berkata sambil menatap sekeliling ruangan kantor yang berlantai 5 itu dengan tenang dan memperhatikan sekitaran lobby. Suasana di lobby seperti biasa dan tidak ada yang aneh menurut pengamatan Warmen.
"Itu pak... di atas ada tamu bapak, mereka memaksa ketemu bapak dari jam 8 tadi..... Saya sudah bilang bapak belum datang dan mereka makin marah dan si ibu mulai menangis, daripada jadi tontonan, saya bawa mereka di ruang tamu di lantai dua, oh iya mereka adalah Bapak dan Ibu Waworuntu yang tampak dalam keadaan marah dan mereka sedang menunggu Bapak... Bagaimana ini pak? " Tanya Dita dengan sedikit panik. " Ibu waworuntu sedang menangis dan agak histeris dan berteriak-teriak sehingga saya meminta satu sekuriti bersiap di lantai dua untuk memantau keadaan. dan berjaga serta memberi informasi.
"Bapak dan Ibu Waworuntu.... kayaknya kita gak ada klien dengan nama itu .... suruh mereka pergi saja, Dit.... hari ini jadwalku sudah penuh dan aku masih harus ke markas besar polisi.
"Pak.... bapak yakin?" Karena dalam tangisan histeris ibu itu menyebut satu nama yang saya pikir bapak mengenalnya.... Melinda...." Tika berkata agak pelan dan merasa sangat khawatir.
"Melinda? " .... oh iya ... Melinda Janice Waworuntu....itu pasti orangtua Melinda... ada apa? Oh no... semoga tidak ada apa-apa dengan Melinda, " Sahut Warmen sambil berlari menuju lantai dua kantornya.
Warmen memang belum pernah bertemu dengan orang tua Melinda. Ia mengetahui bahwa Melinda berasal dari keluarga pejabat di kota Menado, Ambisi Melinda untuk meraih kesuksesan dengan cepat sangat berbeda dengan tujuan Warmen di awal karir mereka. Pilihan Melinda jika Warmen masih terobsesi pada balas dendam keluarganya maka Melinda memilih pergi dan meniti karir di Inggris agar orang tua Melinda bangga bahwa ia memiliki karir dan memiliki keluarga yang hebat.
Warmen memang melepaskan Melinda waktu itu karena obsesi meniti karir di Jakarta sambil membalaskan dendan pada keluarga Setiono. Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya dan biarkan ia menggapai mimpinya. Itu adalah pikiran Warmen saat itu sebelum ia mengetahui bahwa ia memiliki anak dari Melinda akibat perbuatan mereka berdua di malam perpisahan mereka.
Pintu ruang tamu di lantai dua dibuka oleh Warmen dan tampaklah sepasang suami istri yang menatap tidak ramah pada Warmen. Seorang wanita yang tampak masih berlinang air mata dan terus menangis tanpa suara. Sedangkan pria yang menggunakan jas itu bangkit menghampirinya. Wajah pria itu penuh amarah dan tatapan sinis pada Warmen.
__ADS_1
"Kamu yang namanya "Warmen Amsterdam Sitompul" Sapa pria itu sambil menatap tajam pada Warmen yang baru memasuki ruangan tamu itu dan masih mengatur nafasnya.
"Ya ... aku warmen.... maaf saya baru sampai ke kantor... kalo boleh tahu, siapakah ?"..." Ucapan Warmen terpotong oleh sebuah tinjuan di wajahnya dari pria paruh baya itu.
Tanpa aba-aba Pria itu langsung menyarangkan tinjunya ke hidung warmen dan kemudian menambah kembali ke perut Warmen, pukulan itu membuat Warmen terhuyung dan hampir terjatuh. Belum sempat Warmen menegakkan tubuhnya, tendangan pria itu kembali menghajar kakinya hingga akhirnya terjatuh.
"Aku ayah Melinda ... dasar lelaki brengsek!" Sahut Pria itu sambil terus memukuli Warmen dengan tidak puas.
Teriakan wanita yang sedang menangis itu karena terkejut melihat tindakan suaminya yang memukuli pria yang baru datang tanpa ampun membuat sekuriti dan Dita yang berada di luar ruangan segera berlari dan masuk untuk menghampiri.
Warmen hanya bisa pasrah saat pria paruh baya itu memukulinya. Warmen tahu pasti ini adalah orang tua Melinda yang baru mengetahui bahwa ia adalah pria yang menghamili anaknya dan membiarkan anaknya sendirian berjuang di luar negeri sendirian.
Satpam dan Dita yang baru akan menolong Warmen ditolak oleh kode berupa n dengan lambaian tangan Warmen yang dapat diartikan biarkan saja pria ini memukulnya Sehingga membuat keduanya hanya bisa berhenti dan menyaksikan pria paruh baya itu mengatur nafasnya kelelahan karena memukuli Warmen.
"Kenapa kau tidak melawanku brengsek?" Ayo lawan aku... jangan diam saja seperti lelaki pengecut.... Biar aku ini sudah tua tapi masih mampu menghajar dan membunuh lelaki macam kau.... dasar lelaki brengsek.... lelaki yang tidak bertanggungjawab," Ujar pria itu masih dengan emosi dan baru berhenti memukuli setelah tangannya ditahan oleh istrinya.
Warmen bukan tidak mau bertanggungjawab tapi dia tidak mengetahui sampai beberapa bulan yang lalu Melinda datang dan membawa Nicky yang memang mirip dengannya. Terakhir kali ia masih meminta Melinda untuk tidak kembali ke Inggris tetapi wanita itu bersikeras dan hanya meminta surat pengakuan untuk Nicky.
" Maafkan saya.. Mohon maafkan saya, tidak mengetahui kedatangan om dan tante... saya memang belum mengenal kalian tapi memang Melinda pernah berpesan pada saya beberapa bulan yang lalu.... mari duduk dulu om.... Dita tolong bikinkan minuman untuk tamuku," Sahut Warmen yang langsung memberikan perintah pada assistennya yang masih terbengong menyaksikan adegan itu.
"Dengar tidak usah berbasa-basi.... aku kesini cuma mau ngajak kamu ke Inggris jam 3 sore nanti, Melinda sudah meninggal karena kecelakaan bersama suaminya kemarin, anaknya si Nicky sedang bersama pengasuh dan sekretaris Melinda... dan Josh si sekretaris itu berpesan padaku bahwa jika ingin membawa Nicky ke Indonesia, hanya bisa jika aku membawa kau, Warmen... jadi aku tidak menerima penolakan... siapkan dirimu kita ke Inggris sore nanti...
"Apa Melinda meninggal? " Warmen terkejut ketika mendengar berita yang disampaikan oleh Ayah Melinda.
Warmen teringat akan pesan Melinda beberapa bulan yang lalu ketika memberitahukan tentang adanya Nicky dan meminta ia untuk merawat Nicky jika ada apa-apa yang terjadi di dirinya. Mungkinkah ada yang memang melakukan sabotase pada Melinda dan suaminya. Berarti perkiraan Melinda benar ... akh bodohnya aku yang tidak bersikeras mencegah wanita itu kembali ke Inggris.
Bagaimana dengan keadaan Nicky disana? Apakah dia bisa melalui tanpa Melinda? Siapa yang akan merawatnya? Apakah orang tua Melinda yang akan menjaganya. Oh itu nanti saja, ia harus menjemputnya... tapi bagaimana juga dengan Anneke? Anneke belum ditemukan. Warmen merasa masalah begitu bertumpuk ada di kepalanya dan sedikit nyeri di hidungnya yang ia tutup dengan tisu karena mengeluarkan darah.
__ADS_1
Dita yang datang menyajikan minuman pada ke dua tamunya, juga memberika handuk berisi air es untuk menghentikan perdarahannya di hidungnya. Untungnya Warmen terbiasa latihan bela diri sehingga pukulan seperti itu adalah hal yang biasa.
"Warmen.... aku minta tolong untuk bawa Nicky cucuku....biarkan aku yang merawatnya," Sahut wanita yang dari tadi menangis dan membantunya mencegah suaminya memukulinya."Emh... apakah kamu mau ke dokter dulu... tadi papa Melinda emosi, maafkan dia ya nak!"
"Saya baik-baik saja tante, saya paham tante akan kemarahan om... maafkan saya... Melinda hanya bertemu saya beberapa bulan yang lalu dan minta dibuatkan surat untuk Nicky.... disitu baru saya tahu bahwa saya adalah ayah Nicky, maafkan saya om.... bukan saya tidak mau bertanggungjawab.... tapi sudahlah ... sebaiknya kita bersiap-siap untuk kepergian kita sore ini ke Inggris dan menjemput Nicky," Jawab Warmen dengan tenang. "Saya atur jadwal saya hari ini dan bereskan segalanya, mungkin membutuhkan waktu 1 jam, apakah om dan tante mau tunggu disini atau kita ketemu di bandara jam 1 siang ini?"
"Kami menunggu kamu disini dan kita berangkat ke Bandara bersama... nanti kamu kabur lagi!' Sahut Ayah melinda sambil menatap sinis pada Warmen.
'Saya akan menjemput Nicky, dia darah daging saya... jadi saya tidak akan kabur om dan tante... mohon ditunggu sebentar, saya atur jadwal pekerjaan seminggu ini dan menyiapkan kepergian saya ke Inggris... "Sahut Warmen dengan Sabar.
Sesungguhnya Warmen merasa lelah karena sulitnya menemukan Anneke ditambah pukulan yang diberikan ayah Melinda beberapa saat yang lalu. Hidungnya sedikit sakit, kepalanya agak pusing dan perutnya agak mual akibat tonjokan yang diterimanya. Satu masalah tentang Anneke belum terpecahkan masih harus ditambah dengan musibah yang dialami oleh Melinda dan memikirkan Nicky yang sendirian di Inggris.
Anneke, semoga kamu baik-baik saja disana. Setelah aku membereskan masalah Melinda, aku akan mencarimu kembali. kumohon kamu baik-baik saja, Ne!" Ujar Warmen dalam hatinya, ketika ia melangkah meninggalkan ke dua orang tua Melinda dan memilih untuk mengartur jadwalnya seminggu ke depan.
*****
Happy Reading guys!" Thanks telah berbaik hati membacanya dan bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks ya.... Love you all !'
__ADS_1