Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
110. Good friends are like stars


__ADS_3

Teman sejati adalah ia yang datang saat seluruh dunia pergi menjauhi kita."


Aku akan melakukan apapun untukmu, seperti kau mempertaruhkan hidupmu untukku , temanku!'


*****


"Tunggu..." Teriak Reza pelan dan sambil menepuk pundak Thomas. "Sepertinya  polisi yang datangkah atau sesama mereka saling menembak dari luar sana!'


"Tadi aku tidak mendengar sirene polisi dari tadi," Seru danang pelan dan ia berusaha mengintik dari celah kecil yang telah mereka siapkan sebelumnya.


Langkah Danang diikuti oleh Thomas dan  Reza, mereka mengintip dari samping kaca yang sedikit terbuka di bagian depan. Beruntungnya lampu ruangan sudah dimatikan akibat tembak-menembak sebelumnya. Thomas makin memperhatikan bahwa di luar terjadi adu tembak dan beberapa teriakan pria yang seolaht terluka dan ada yang jatuh di luar sana.


Mereka bertiga makin memperhatikan kejadian di luar yang memang gelap. Rasanya tidak mungkin polisi. Jika polisi pasti ada peringatan dulu sebelum menembak dan tidak ada suara sirene dari mobil polisi yang menunjukkan kehadiran aparat penegak hukum itu.


Tidak ada serangan menuju rumah, membuat Thomas menghentikan tindakannya yang akan melempar granat keluar rumah. Apakah Sam dan Bowo berhasil kembali dan membawa bala bantuan. Semoga saja.


Hening.


Tembakan di luar berhenti.


Thomas, melirik ke kamar sudah tertutup. Berarti Warmen, Anneke dan Nicky sudah masuk ke dalam kamar aman. Berarti minimal tugas membuat keluarga Warmen aman sudah separuh jalan. Thomas melihat kedua rekannya yang masih melihat di lubang kecil di depan mereka, hingga sebuah tendangan keras di pintu belakang membuat bertiga menengok  ke arah belakang.


Refleks Thomas hampir menarik granatnya kembali dan melihat siapa yang datang, dan.. ups!!  Seorang wanita.  Mereka bertiga terkejut melihat wanita yang datang. Demikian juga Danang dan Reza otomatis bersiap menembak ke posisi wanita tersebut.


Wanita itu santai memandang mereka dan bertanya dengan setengah berteriak. "Mana Warmen?"


Mereka bertiga terkejut, hingga Reza bertanya pada Danang sambil berbisik. " Siapa dia ?"


"Entahlah... tapi seperti polisi tapi bukan polisi ? Apakah ada pihak lain juga yang disewa Warmen juga?" Jawab danang sambil melirik Thomas.


Thomas akhirnya melangkah menghampiri wanita itu sambil berkata," Kau siapa?"


Tiba-tiba seorang pria muncul di balik pintu belakang dan posisinya langsung disamping sang wanita. Dia melihat ada pria yang berbaring dan berlumuran darah. Dia langsung berkata," bukan Warmen ?"


"Bukan... dia seorang pengacara terkenal... aku sering melihatnya di televisi tapi bukan pria yang terluka parah itu!"


"oh oke."


Belum hilang kaget Thomas, danang dan Reza dari kedatangan pria dan wanita yang tidak dikenal dan mencari Warmen, tiba-tiba pintu kayu bagian depan ditendang kembali dan langsung terbuka. Ketiganya refleks menolah kembali ke bagian depan.


"Warmen... War dimana kau ? Aku datang menyelamatkanmu!"  Warmenn!"

__ADS_1


"Siapa kalian?" Kenapa kalian mencari Warmen ? Dan kau... kau seperti ...." Thomas hampir tak percaya melihat pria yang baru menendang pintu masuk bagian depan dan melewatinya begitu saja.


"Nad... kau sudah ke atas ?" Apa dia ada di sana?"


"Sekarang aku cek?" Tapi sepertinya mereka bersembunyi ....aku ke atas dulu!' Jawab Nadia sambil bergerak ke lantai dua dan langkahnya diikuti oleh Alex.


Sementara pria yang baru datang belakangan itu membuka kamar tidur tempat  ruang bawah tanah dimana Warmen dan Anneke berada. Namun Thomas segera menarik tangan pria itu dan otomatis pria itu mendorong Thomas dan mendorongnya.


"Katakan padaku, Siapa kau? Dan mengapa kau kemari?" Thomas mendorong pria yang baru datang itu.


"Aku adalah teman Warmen... aku yang memberitahukan kedatangan pasukan bayaran yang mengincar anaknya yang dari Inggris, aku tahu kau temannya... kurasa kau yang bernama Thomas."  Jawab pria itu dengan sinis pada Thomas seolah ia mengetahui segalanya. "Jadi katakan dimana Warmen? Aku tidak menembakmu karena aku menghargai bahwa kau adalah teman Warmen... sekarang dimana Warmen?".


"Hei... aku juga tidak menembakmu karena kuduga kau adalah teman Wamen... cuma aku tak percaya, bahwa secepat ini kau bisa keluar penjara, bukan begitu Handoyo?"


"Bagus sekali ingatanmu... mana Warmen?" Handoyo tersenyum lebih ramah pada Thomas.


Sementara Nadia dan Alex sudah turun setelah memeriksa lantai atas. "Tidak ada orang di atas sana!' Tapi kita harus segera berangkat... kurasa 5 menit lagi polisi datang...mas Han!'


"Oke... Thomas... kau ikut kami bersama Warmen dan keluarganya, tapi anak buahmu yang suruh menjelaskan pada polisi bahwa mereka di serang dan hindari bahwa kalian dibantu kami... kalian katakan tidak tahu apapun!"


"Baiklah... aku setuju... kau siapkan kendaraan... aku akan bawa Warmen dan keluarganya keluar!"  Thomas berkata pada Handoyo.


Tindakan itu dijawab oleh anggukan Handoyo. Ia cukup melirik Nadia dan Alex dan membuat mereka mendekati Danang dan Reza untuk memberikan arahan dan membuat keduanya pingsan seolah terluka. Hal itu mempermudah dalam menjawab pertanyaan polisi jika mereka diinterogasi nanti.


Handoyo tersenyum melihat sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja. Dia tersenyum pada Thomas. Seolah bersyukur atas tindakan penyelamatan yang dilakukan Thomas.


"oh syukurlah...kau sudah datang Han!" Terimakasih,"  Warmen berkata sambil memeluk Handoyo. "aku khawatir sekali.. mereka membawa orang banyak dan kudengar suara tembakan di luar banyak sekali... aku berfikir buruk tadi...untunglah kau tidak terlambat datang!"


"Aku harus cepat dan membawa temanku untuk menolongmu... meski anak buah Thomas ada yang terluka di depan sana!'  Aku lakukan agar mereka berfikir bahwa kami adalah bagian dari tim mereka yang di kontrak dari Inggris."


"Aku berhutang nyawa pada kalian berdua dan aku  akan melakukan apapun untuk kalian selagi aku mampu , seperti yang telah kalian lakukan untuk mempertaruhkan hidup kalian  untukku , teman- temanku!'


Mereka berpelukan sesaat. Handoyo teringat bahwa mereka harus segera berangkat bahwa polisi akan datang sebentar lagi.


"Mana istri dan anakmu?" Cepatlah kita harus berangkat segera," Thomas berkata pelan.


"Sembunyi  di  balik kamar situ !"


"Ayo kau panggil dia  dan segera ajak istri dan anakmu pindah... kita harus ke Cilegon!" Sudah tidak aman lagi disini!' Ujar Handoyo pada Warmen. "Aku tunggu di pintu belakang bersama Thomas kita harus melewati sungai agar tidak bertemu polisi"


"Baiklah... oh iya Thomas... dia teman lamaku... namanya Adiguna," Wamen berusaha mengenalkan Adiguna pada Thomas.

__ADS_1


"Ha... Ha...  kau pikir aku bodoh Warmen... " Thomas berkata pelan dan tertawa geli , dan ia menepuk pundak Warmen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya." dia itu Handoyo... kami sudah berkenalan tadi. Rahasia itu cukup antara kau dengan istrimu saja!" ... Ayo cepatlah !"


"Oh syukurlah... tunggulah kalian di mobil!" Aku segera keluar.


"Kita tidak naik mobil.. kita naik perahu.... jadi lebih aman lewat jalur sungai di bagian belakang rumah... cepatlah Warmen..!" kita  tunggu di dapur!"


*****


Di atas perahu kayu yang cukup besar , mereka tidak ada yang  bercakap-cakap, karena hari sudah larut dan mencegah suara mereka terbawa angin untuk menghindari kejaran polisi.  Perahu itu  cukup dan dapat menampung  7 orang dan mereka mendayung dengan tanpa mesin.


Cukup melelahkan namun hal tu sepadan, karena mereka berhasil melarikan diri dan tidak dikejar polisi. Hingga tiba di suatu pangkalan perahu tempat mobil mereka ditaruh, perahu itu berhenti dan Alex mendorong perahu itu ke tepian.


Setiap orang itu turun dari perahu satu persatu. hanya Nicky yang terus digendong oleh Warmen karena dia begitu mengantuk dan tak menyadari bahwa mereka dalam pelarian.


Mereka bertujuh melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju kota Cilegon. Alex yang mengemudi mobil itu dan di depan adalah Thomas dan Handoyo yang duduk di depan.Warmen yang duduk di kursi bagian belakang memangku Nicky yang terlelap. Anneke duduk di belakang sopir dan disebelahnya duduk Nadia.


Setelah beberapa kilometer, Nadia akhirnya menarik nafas lega.


"Akhirnya kita selamat.... oh iya, kenalkan mbak Anneke, saya Nadia!"   Saya juga teman Warmen.."Sapa Nadia pada Anneke dengan ramah.


"Oh mbak nadia... terimakasih ya telah menyelamatkan kami... tapi bolehkah saya bertanya... bagaimana keadaan kakakku, akhsan... apakah dia meninggal?"


"Dia sedang dibawa ke dokter oleh Danang dan Reza... jadi kau gak usah khawati lagi, Ne." Sahut Warmen sambil memejamkan matanya.


"Oh syukurlah... !" Itu yang disamping pak Thomas , apakah teman-teman setim juga, mbak Nadia?" Tanya anneke sambil memperhatikan ketiga pria yang duduk agak berdesakan di kursi depan.


"Ya begitulah...


"Kami juga anak buah Thomas tapi jarang bertugas bersama... namaku Adiguna dan ini yang mengemudi adalah Alex..." Sahut Handoyo santai dan tidak menengok pada Anneke.


Anneke hanya mengangguk dan percaya pada penjelasan mereka. Tiba-tiba dia teringat penjelasan suaminya kemarin.


"Oh ... Adiguna yang anak jendral Gaffar?' Kemarin abang sudah menceritakan dirimu... terimakasih atas kehadiran kalian dan menolong kami semua." Anneke berkata tulus dan mulai merasa tenang. "Untunglah bang, teman-temanmu sudah datang menyelamatkan kita ... tapi bagaimana jika musuh-musuh itu mengejar dan membawa orang lebih banyak lagi... apakah kita sudah boleh lapor polisi?"


"Tidak..." Alex  dan handoyo langsung menjawab dengan cepat dan menjawab bersamaan. Anneke terkejut dan merasa aneh melihat Adiguna dan Thomas menjawab serempak dan sama perkataan. Ada apa? Bukankah mereka yang diserang dan kenapa tidak ingin melibatkan polisi.


Handoyo akhirnya menoleh pada Anneke. "Kita tidak lapor polisi karena kami sudah menembak banyak orang tadi...jadi kuharap kau mengerti... !" Warmen... kau jaga istrimu itu!"


"Tenanglah di... kemarin kubilang padanya, bahwa kita tidak bisa lapor polisi kalo kita belum diserang!'


*****

__ADS_1


Happy Reading Guys. Terimakasih masih berbaik hati membacanya. Bolehkah kalian tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot ya. Love you all.


__ADS_2