
Pernikahan itu bukan permainan tetapi kesanggupan dalam menjalani pernikahan bersama orang yang sama hingga maut memisahkan.
*****
"Bisakah aku menjadi istri ke duamu, mas Han ?" Jessy bertanya pelan dan pasti pada pria yang berdiri di sampingnya.
Matanya jessy menatap penuh permohonan pada pria itu seakan meminta perlindungan. Handoyo tertegun seakan mencari jawaban di mata coklat wanita itu. Wanita yang memiliki pijitan mirip istrinya itu. Benarkah aku harus menikahi wanita ini?" Handoyo masih terdiam. Hanya Jenny yang tersenyum dan paham akan maksud terselubung Jessy. Ia yakin sahabatnya hanya ingin membuat Al marah.
"Mas Han... ko gak dijawab sih pertanyaan Jessy, " Jenny berusaha memberikan bantuan pada kedua temannya itu, dan senyuman Jenny yang agak berbeda akhirnya mulai disadari oleh Handoyo bahwa ini hanya bagian dari permainan Jessy.
"Baiklah... selepas kamu pulih, kita bicarakan lebih lanjut... sekarang kamu konsentrasi pada kesehatanmu dahulu,... setelah kamu sehat, kita akan menikah " Handoyo sambil memegang tangan kiri Jessy yang masih tertutup perban dan diperhatikan dengan detail luka di tangan kiri itu.
"Apakah tangan kiri ini masih sakit?" Apakah bisa digerakkan ?" Bagaimana jika akhirnya kamu tidak bisa menggunakan tanganmu untuk memijit kepalaku?" Kamu mau ikut aku saja ya," Handoyo semakin memperdalam permainan yang dilakukan Jessy.
Pembicaraan itu tetap diikuti oleh Al. Ia tidak menyukai kedua teman Jessy. "Jess,... aku pergi dahulu... aku harus cari makan dan ganti pakaian... nanti malam aku kemari lagi... baik-baiklah dengan kedua teman anehmu ini!"
"Pergilah Al... terimakasih telah mengantarku ke rumah sakit .... emh kamu tidak usah kemari lagi, sudah ada yang menjagaku, AL !' Jessy berkata dengan penuh keyakinan dan membuat Al makin menatapnya tidak suka .
Al terdiam mendengar jawaban Jessy dan akhirnya melangkah pergi tanpa kata dan menatap sinis pada Jenny dan Handoyo. Jenny mengikuti langkah Al yang melangkah keluar ruangan perawatan. Ia hanya memastikan pria itu sudah meninggalkan ruangan Jessy. Jenny akhirnya menutup pintu kamar perawatan itu dan berkata dengan gembira.
"Yess.... sudah pergi dia!" Teriak Jenny dengan gembira.
"Untung mas Han , mengerti maksudku.. coba mas Han bilang tidak mau, pasti kita tidak semudah itu menyakinkan Al... .. makasih ya, Mas Han... atas bantuanmu," Sahut Jessy cepat.
"Tak masalah... aku juga tidak akan mempermasalahkan jika memang benar-benar harus menikahimu, Jess... karena pasti dia akan mengecek kebenaran ucapanmu... aku bisa menikahimu benar-benar di KUA dan kita lakukan secara resmi,.. Jenny bisa menjadi saksinya dan selama kau menjadi istriku, aku bisa tidak menyentuhmu, Jess ... dan aku akan tinggal di rumahku dan kau disalonmu,,,,, kecuali kau yang memintaku untuk tinggal bersama tapi aku tetap minta dikeramas olehmu, Jessy, ... oh iya satu lagi , .... dan ini yang terpenting, kamu jangan pernah meminta aku untuk mencintaimu, Jess, ... karena aku punya istri di Lampung dan pernikahan kita tidak untuk dipublikasikan ke keluarga kita masing-masing.... bagaimana?" Handoyo menawarkan bantuan dengan tulus pada Jessy.
"Baik, aku setuju dan Jenny yang jadi saksinya," Jessy berkata penuh percaya diri. "Kau boleh menginap di salon, tapi setiap kau menginap, maka Jenny juga menginap untuk menemaniku... kau boleh pakai kamar kakakku yang di lantai dua dan Jessy bisa tidur di sofa salon... bagaimana usulku Jenn? Mas Han?'
"Oke... aku gak keberatan.... asal aku masih boleh bekerja dan tinggal di salon kamu dong, Jess."Jenny langsung menyanggupi usul Jessy.
"Baik... kita lakukan bagian kita masing-masing," Sahut Handoyo cepat. "Jika aku ke luar kota, maka kau tidak boleh keberatan dengan pekerjaanku yang memang menyita waktu dan terkadang aku tidak memberi kabar...
"Hei... mas Han, pernikahan kita ini cuma pernikahan bohongan, jadi pastinya tidak banyak yang harus disepakati bersama... aku sudah bersyukur, jika kamu mau menolongku... dan mohon tidak menginformasikan pada istrimu itu... dia akan terluka dan marah... aku tidak akan menuntut apapun atas pernikahan bohongan ini, aku hanya ingin Al mengetahui rasanya disakiti... dan rasanya tidak dianggap olehku," bisik Jessy sambil memegang perutnya yang terkadang sakit.
"Aku mengerti Jess... tenanglah!' Kita lakukan permainan ini dengan baik... tapi minggu depan aku ada kerjaan dan harus ke luar kota beberapa hari,... jadi jika kamu sudah sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit, mungkin aku tidak bisa menjemputmu, maaf ya!" Handoyo berkata dengan sangat tulus karena tak enak jika tidak mendampingi kepulangan Jessy dari rumah sakit.
__ADS_1
"Mas Handoyo, boleh aku tahu kamu kerja apa sih?" Tanya Jessy pelan. "Kayaknya kamu sering banget keluar kota... "
"Aku teknisi alat berat yang berupa produk dari Jerman, di Indonesia, teknisi itu tidak banyak dan beberapa perusahaan yang menyewa jasaku terkadang suka menghubungi kantor mendadak... jadi ya terkadang tidak tahu berapa lama aku di luar kota," papar Handoyo.
Handoyo memang semasa masih belum menekuni profesinya sebagai "pembunuh bayaran" , ia merupakan teknisi alat berat. Handoyo sangat paham beberapa jenis mesin industri berat dan hal itu dijadikan pekerjaan sampingan murni jika dia membutuhkan beberapa alibi ke luar kota. Beruntungnya Alex yang mencarikan pekerjaan sampingan untuknya sehingga Handoyo bisa melakukan keduanya dengan tenang.
Kepergian Handoyo ke Makasar beberapa waktu yang lalu itu selain menjalan tugas dari Alex , ia bersamaan dengan tawaran pekerjaan dari PT Kalla Mandiri yang meminta menjelaskan penggunaan mesin produksi di kota itu yang baru dibeli dari Jerman. dan memberikan pelatihan kepada karyawannya yang berada di Makasar.
*****
Malam semakin larut , Handoyo dan Jenny telah pulang meninggalkan rumah sakit. Awalnya mereka berdua bersikeras menginap di rumah sakit dan menemani Jessy, namun Jessy beralasan bahwa ada yang harus dibicarakan dengan Al malam ini dan membuat mereka berdua meninggalkan Jessy. Mereka yakin bahwa Al akan datang kembali menepati ucapannya.
Jessy semula berusaha menunggu pria itu sambil menonton televisi yang tertempel pada dinding rumah sakit. Rasa kantuk dan pengaruh obat membuat dirinya tertidur dan tidak mengetahui kapan waktu kedatangan pria itu.
"Al... Al, kamu datang lagi?" Suara Jessy parau dan memang karena baru terbangun dari tidurnya.
"Kamu tidak suka aku datang ,Jess?"
"Kata kamu , aku harus merelakanmu dan melupakanmu... tapi kenapa kamu kemari lagi?' Jessy berusaha menaikkan tempat tidurnya agar lebih nyaman.
AL langsung bergerak dan membantu Jessy agar bisa berbaring dengan nyaman. Pria itu mengelus kening Jessy dan tersenyum hangat.
"Jess.... kamu yakin mau menikahi pria itu?" Al bertanya dengan pelan.
"Ya.... aku yakin.
"Dia bukan pria baik ,Jess... carilah pria lain yang benar-benar menyayangimu dan bisa menjagamu," Al berusaha membujuk Jessy dengan nada rendah, karena sesungguhnya ia tak rela akan rencana Jessy itu.
"Ya... aku akan menikahi siapapun untuk melupakanmu, Al... jika dia tidak bersedia, maka aku akan mencari pria lain...
"Jess... Pernikahan itu bukan permainan tetapi kesanggupan dalam menjalani pernikahan bersama orang yang sama hingga maut memisahkan.... kumohon jangan lakukan itu dengannya," Bujuk Al.
__ADS_1
"Dulu pernah aku menganggap, bahwa pernikahan adalah hal yang kudus hingga kamu mempermainkannya, AL... kamu mempermainkan aku dan pernikahan kita,Al... kamu juga mempermainkan pernikahanmu dengan istrimu, AL... jadi gak usah banyak berbicara lagi deh!"
"Jessy, aku tidak pernah mempermainkan pernikahan kita tapi... keadaan yang sulit kuceritakan padamu... Jessy jangan korbankan dirimu untuk melampiaskan amarahmu padaku... kamu tidak mengenal pria itu dengan baik, Jess!" Al masih berusaha membujuk Jessy.
"Dulu aku sangat mengenalmu tapi kamu membohongiku, Al dan mempermalukan keluargaku... lebih baik aku menikahi temanku itu... aku memang baru mengenalnya dan dia bahkan menjanjikan bahwa dia akan menjagaku dan mengijinkanku untuk menjadi istri keduanya, Al...
"Jes... dengarkan aku... jangan dengan Handoyo, .. dia bukan orang baik dan orang yang tepat untukmu, Jess!"
"Aku tahu... dia bukan orang baik dan bukan orang yang tepat untukku, cuma kamu yang terbaik dan ingin kumiliki ... tapi kamu tidak mau bersamaku dan bahkan kamu memaksaku untuk melupakanmu... ini kulakukan agar aku bisa melupakanmu, Al" Sahut Jessy mulai menangis kembali.
"Jess... maafkan aku... ini demi keselamatanmu, aku tidak bisa menikahimu, Jess....tapi kumohon , kamu tidak menikahi sembarangan pria ,Jess... " Bujuk Al pelan.
"Kamu tidak usah peduli padaku lagi Al... 'Teriak Jessy.
"Aku peduli pada kamu dan keselamatanmu... Jess, tahukah kamu, ini adalah informasi rahasia... aku adalah anggota tim 5 yang sedang berusaha menangkap pebunuh sadis..... dan salah satu tersangkanya adalah Handoyo, Jess.... ini aku sudah melanggar etik dengan menginformasikannya padamu, jangan lakukan dengan Handoyo, Jess!" ... Aku takut dia akan melukaimu, Jess..... dia seorang pembunuh bayaran... kami sedang mengumpulkan bukti-bukti dan kumohon percaya padaku, Jess!"
"Kamu bohong lagi kan, Al... kamu bicara ngawur.. kamu jahat, Al...!" jangan fitnah temanku, AL....Jessy menangis makin kencang.
*****
Happy Reading Guys!" Terimaksih telah berbaik hati membacanya, bolehkah tinggalkan jejak disini?" Thanks ya
__ADS_1