
Kamu mungkin melupakan dan menggantikanku dengan teman-teman barumu, tetapi aku akan selalu menjadi teman lamamu yang sama."
*****
Nadia akhirnya dapat bernafas lega dan segera bersuara ketika mobil yang mereka tumpangi melewati perbatasan.kota itu. Mereka berarti sudah aman dari kejaran polisi ataupun kelompok tentara bayaran yang memang menginginkan Nicky , anak dari Warmen.
"Akhirnya.... "Seru Nadia dengan menarik nafas lega.
Nadia menengok wanita yang duduk disampingnya. Anneke, yang masih menatap lurus ke depan. Wanita yang sedang mengandung itu cantik sekali dilihat dari samping oleh Nadia tapi wanita itu sesekali menghapus air matanya. Terlihat khawatir dan Nadia tersenyum dan menepuk lengan wanita itu.
"Akhirnya kita selamat... oh iya, kenalkan mbak Anneke, saya Nadia!" Saya juga teman Warmen," Sapa Nadia pada Anneke dengan ramah. "Jangan kuatir, kita berhasil keluar dari rumah itu dan akan pindah ke rumah aman lainnya, dan kurasa mereka tidak akan menemukan kita lagi '"
"Benarkah mbak Nadia... saya hanya takut sekali melihat banyak orang tembak-menembak terlebih saya melihat kakak lelaki saya tertembak,,, oh iya mbak Nadia, bolehkah saya bertanya... bagaimana keadaan kakakku, Akhsan? ... apakah dia meninggal?"
Anneke bertanya pelan dan kembali terisak . Ia teringat bahwa ia baru saja berbaikan dengan kakaknya, tapi bagaimana nasib kakaknya itu sekarang.
'Dia sedang di bawa ke dokter oleh Danang dan Reza, ... jadi kau gak usah kuatir lagi, Ne!" Sahut Warmen sambil memejamkan matanya.
Anneke langsung menengok pada suaminya yang masih memejamkan matanya di kursi bagian belakang.
"Benar bang?" Anneke bertanya sambil memastikan kembali dan melihat suaminya seolah menjawab asal-asalan.
"Hem... benar!" Tadi aku melihatnya Danang menggotong masuk ke mobil," Sahut Warmen berbohong untuk menenangkan perasaan istrinya.
"Oh syukurlah .... !" Bang.. Itu yang disamping pak Thomas , apakah abang mengenalnya? Apakah itu teman-teman setim juga?
"Ya begitulah ... "Sahut Nadia sambil membuka sepatu kerjanya dan menggantinya dengan sandal santai.
Tiba-tiba pria yang duduk di depan itu bersuara tanpa menengok dan menjawab pertanyaan Anneke.
"Kami juga anak buah Thomas, tapi kami jarang bertugas bersama... namaku Adiguna dan ini yang mengemudi adalah Alex..... ..." Adiguna berusaha menjawab dengan sopan pertanyaan Anneke,dan ia hanya melirik sekilas dari kaca spion tengah mobil itu.
Terlihat Anneke mengangguk puas dan wanita itu menimpali dengan hangat.
"Oh... Adiguna yang anak jendral Gaffar ? Kemarin Bang Warmen sudah menceritakan tentang dirimu... kami sangat berterimakasih atas kehadiran kalian semua, dan menolong kami dengan tepat waktu."
Mereka semua terdiam di dalam mobil itu dan tidak memberikan respon apapun pada perkataan Anneke, hingga Anneke melanjutkan perkataan itu .
__ADS_1
"Untungnya kalian semua datang tepat waktu,.. tapi bagaimana jika musuh -musuh itu berhasil mengejar dan membawa orang lebih banyak lagi ... apakah kita sudah boleh lapor polisi?"
"Tidak ... " Alex dan Handoyo langsung menjawab dengan cepat dan bersamaan.
Anneke terkejut karena kedua pria itu menjawab serempak dan sama perkataannya. Ada apa? Bukankah mereka yang diserang dan kenapa tidak ingin melibatkan polisi?
Handoyo akhirnya menoleh pada Anneke. " Kita tidak lapor polisi karena kami sudah menembak banyak orang tadi... jadi kuharap kau mengerti ...!" Warmen, kau jaga istrimu itu !"
Warmen yang tadi hampir terlelap, terbangun mendengar suara Adiguna dan Alex yang agak tinggi tadi. "Tenanglah di... kemarin memang kubilang padanya, bahwa kita tidak bisa lapor polisi kalo kita belum diserang... jadi wajarlah jika dia berfikir kita bisa lapor polsii,"
"Sayang nanti biar abang yang urus, tugas kamu jaga Nicky dan jangan jauh-jauh dari Nadia," Warmen berusaha merangkul Anneke dari belakang.
"Bang... apakah nanti kita hidup dalam pelarian seperti ini?" Anneke berkata pelan karena ia takut didengar oleh Adiguna.
Anneke menyadari bahwa mereka berhutang nyawa pada Thomas, Anneke, Nadia dan ALex. Tapi ia merasa sebagai warga negara yang baik,seharusnya mereka melaporkan kepada pihak berwenang tentang apa yang dialami mereka baru saja, terlebih ia tidak mengetahui keadaan kakaknya.
"Sayang... ini cuma sementara, mungkin hanya sebulan atau dua bulan.. gak papa ya, kuusahakan sebelum anak kita lahir, kita sudah kembali ke rumah kita... bersabar dan ikuti perkataan Nadia, biar kita semu bisa aman dan kami bisa mengurus semuanya dengan terencana!'
'baiklah bang...."Sahut Nadia sambil bersandar di lengan suaminya.
Mereka terdiam dan hanya berbicara sesekali mengenai rute perjalanan yang aman menuju Cibinong. Handoyo sesekali melihat Anneke dari spion tengah, ada sedikit rasa bersalah pada wanita itu, tapi bukankah ayahnya adalah pria yang kejam, dan aku juga sudah menyelamatkan dirinya dan dua kakaknya.
*****
Salon Jessy masih buka dan hanya tinggal satu pelanggan yang sedang digunting rambutnya oleh Jenny, ketika Jessy melihat sebuah mobil memasuki rumah tinggalnya yang berada di seberang salonnya. Segera ia berpesan pada Jenny,
Mobil itu bukan milik suaminya. Tapi Sepertinya suaminya pulang dan datang membawa teman-temanya. Jessy harus segera pulang ke rumah dan menyambut kedatangan Alex, suaminya.
Setelah berpamitan pada Jenny dan meminta Jenny membereskan salon setelah pelanggan terakhir selesai dilayani. Jessy segera bergegas meninggalkan salon dan menuju rumahnya.
Alex membuka pintu rumahnya yang memang tidak terkunci dan ia meminta tamu-tamunya untuk masuk ke rumah itu, termasuk Nicky yang sudah terbangun. Terlihat Alex hanya menyuruh tamunya duduk di sofa ruang tamu ketika Jessy baru datang.
'Sayang... maaf aku gak sempat mengabari... kita bicara di dalam ..." Alex sambil menarik tangan Jessy
'gak papa, Al... aku buat minuman dulu untuk mereka !' jessy tersenyum pada tamunya dan ia langsung terkejut ketika melihat pria yang bertopi hitam itu duduk bersandar di salah satu sofa.
Pria itu seperti Handoyo. Tapi tak mungkin ia tidak ada di sini. Ia dipenjara. Akh ...mungkin mirip sekali dengan Handoyo. Tapi mengapa rasanya begitu mirip, hanya model rambutnya yang berbeda dan ia terkesan lebih putih dan terawat. Alex yang melihatnya segera memahami dan menarik tangan Jessy segera menuju kamar mereka.
__ADS_1
"Nadia... kau bisa membuat minuman bersama Anneke, anggap saja rumah sendiri!" Seru Alex sambil menarik Jessy yang masih terpana melihat Handoyo yang terpejam di sofa rumahnya.
Di dalam kamar akhirnya Alex bisa berbicara setelah ia memeluk dan mencium kening istrinya itu. " Sayang... maaf aku gak bisa mengabari, aku mendadak mengajak teman -temanku untuk menginap disini selama beberapa hari, tapi lusa, aku,dan Adiguna akan pergi mengurus urusan lainnya. Jadi ada beberapa tamu yang akan tinggal disini, selama beberapa hari, apakah kau keberatan?
"Aku tidak keberatan, Al.... tapi bolehkah aku bertanya tentang salah satu temanmu itu?"
"Nanti kita akan berkenalan secara langsung... sekarang kita keluar dan makan bersama mereka, gimana/"
"Baiklah.... " Jessy tersenyum dan memeluk Alex kembali.
"Tapi Al kenapa mereka semua bisa menginap disini? Apakah berkaitan dengan pekerjaanmu? Apakah kamu habis melukai orang, Al?" Apakah kamu menyembunyikan para penjahat disini?"
"Jess... kau janji kan? Kau akan percaya padaku dan tidak mencurigaiku?" Aku sayang kamu dan anakku... aku hanya melakukan untuk membela diri dan kebenaran.... aku ingin kita melangkah dengan penuh kepercayaan.... mereka adalah kelompok pengacara...dan mereka akan bersidang, harusnya kau mengenal salah satunya adalah Warmen Paris Nasution, kau tahu kan?"
Jessy mengangguk dan akhirnya tersenyum manis pada suaminya.
'Baiklah.. aku percaya pada suamiku " Jessy sedikit merasa tidak enak karena melihat suaminya sedikit kecewa karena kecurigaanya yang dianggapnya sering berlebih.
"Aku merindukanmu sayang... maafkan aku yang selalu repot dengan pekerjaanku, terimakasih selalu memahamiku, jessy!" Alex kembali memeluk Jessy sebelum mereka keluar kamar.
Ketika mereka keluar kamar, dilihatnya para pria sedang duduk duduk di ruang tamu sambil menonton televisi dan para wanita sedang sibuk di dapur . sementara Nicky duduk di pangku oleh ayahnya yang sesekali berbicara pada Thomas . Hanya Adiguna yang terlelap di sofa itu.
Nadia dan Anneke sedang memasak di dapur. Dan Jessy segera berkenalan dan memasak bersama. Mereka seolah teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Suasana langsung akrab dan mereka dapat memasak sambil mengobrol tentang wanita dan segalanya, dan tidak berapa lama makanan dapat tersaji.
Rumah itu tidak besar namun cukup untuk menampung mereka semua. Para pria makan di ruang tamu. Sementara Jessy, Nadia , Anneke dan Nicky makan di meja makan. Ada tiga kamar tidur dan para wanita segera memasuki kamar mereka sesuai dengan pembagian yang dibuat oleh Jessy dan Nadia.
Satu kamar memang milik Jessy dan tentunya bersama suaminya Alex, Satu kamar untuk Nadia, Satu kamar lagi untuk Anneke dan Nicky. Sementara Thomas dan Adiguna akan tidur di ruang tamu.
"Baiklah aku akan menyiapkan selimut untuk mereka, terkadang udara malam disini dingin, nad..!' Jesy berkata sambil meninggalkan nadia yang akan mencuci piring di dapur.
'Oke... makasih ya Jess... maaf kami merepotkanmu!"
Jadi pria yang menggunakan topi hitam dan pendiam itu adalah Adiguna. Oh syukurlah dia bukan Handoyo. Hanya saja dia begitu mirip dengan teman baiknya itu.
****
Happy reading guys. Terimakasih telah berbaik hati membaca ceritaku ini.
__ADS_1
Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini?" Thanks ya. Love you !"