Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
146. Menuai ketenangan hati


__ADS_3

Memahami adalah kunci mengatasi kekecewaan.


*****


Sore pukul 16.00,


Aleesha duduk di sebuah restoran di Mandarin Hotel di kawasan Sudirman. Ia duduk dengan resah menanti Handoyo yang memang berjanji untuk menemuinya disini untuk membicarakan semuanya.Diteguknya minuman juice orange di hadapannya untuk menyegarkan tenggorokannya. Lebih segar dan membuatnya dapat menarik nafas lebih lega.


Aleesha benar-benar menganggap Handoyo adalah anaknya yang telah dititipkan oleh Yona, sang sahabat. Meski bukan darah dagingnya, ia mengganggap pria itu adalah anaknya. Demikian juga Gaffar sebelum meninggal sudah mengganggap Adiguna yang merupakan nama samaran Handoyo sebagai anaknya.


Kesalahan Handoyo menorehkan luka padanya dan itu membuat Aleesha  marah dan kecewa. Tapi dia pun menyadari, siapa juga yang bisa menduga bahwa akhirnya Handoyo bisa jatuh cinta pada Nadia dan terpengaruh oleh perkataan Nadia yang membuat misi mereka separuh gagal.


Aleesha sudah berpesan untuk membereskan misi memang harus dilakukan oleh Handoyo dan itu tidak boleh gagal, Nadia adalah tim support saja, tetapi mereka membaliknya sehingga misi menjadi gagal.


Aleesha menoleh ke arah pintu masuk ketika ada orang  yang memasuki ruangan restoran yang memang terbilang mahal sehingga hanya segelintir orang yang bisa masuk ke tempat itu. Ekspresi Aleesha memang berhasil disembunyikan dan terus menatap pria yang dinantinya itu.


Handoyo langsung duduk di depan Aleesha, sang Big Mama, yang sudah menunggunya dari dua puluh menit yang lalu. Handoyo tahu ibu angkatnya ini kecewa pada kegagalannya karena missi kemarin.


"Maaf mama, aku terlambat... tadi di depan bundaran HI ada razia... dan aku harus berputar arah untuk menghindari mereka.." Handoyo menjelaskan kenapa ia terlambat datang.


"Ya...  Apakah kamu sudah makan?"


"Belum Mama..." Handoyo menjawab jujur, sesungguhnya ia lapar dan ingin segera menikmati makanan apapun yang disediakan."


"Baik kita makan dulu... sesungguhnya aku sudah pesan tadi dan minta jika kamu datang, baru makanan disiapkan!"


Aleesha mengangkat tangannya dan memberi kode pada petugas wanita yang ada di dekat kasir. Wanita itu mengangguk tanda mengerti.


Handoyo kembali berbicara pada Big Mama pelan.


"Ma... maafkan  aku di misi yang kemarin... aku  tahu aku salah tapi aku bisa menuntaskannya setelah pemilu yang akan berlangsung tahun depan,,,dia memintaku untuk menunggu.  dia yang akan menyerahkan nyawanya padaku"


"Dan kamu percaya padanya?"

__ADS_1


"Ya aku percaya padaNya , Mama!"


"Itu adalah satu  kebodohan yang diwariskan Yona padamu, Han!" Dulu dia menipu ibumu dan sekarang kau biarkan dia menipumu, Han...!" oh mengapa kebodohan bisa diturunkan?" Aleesha terlihat memukul kepalanya berulang kali dengan sedikit keras.


Handoyo yang melihatnya,segera menarik tangan Aleesha yang akan menyakiti kepalanya itu.


"Bukan begitu mama... jika Jendral Gaffar tidak meninggal, dan Nadia tidak terluka dan sedang hamil .... tentu saja aku bisa membereskannya sekarang juga... tapi dia memohon untuk kebaikan negara kita... tidak mungkin negara ini  tanpa persiapan dan bisa terjadi kekacauan dimana-mana tanpa pemimpin ... kumohon Mama, aku tidak mau negara ini hancur akibat keegoisanku ... aku bisa melakukannya segera begitu sudah dilaksanakan pemilu dan dan serah terima jabatan."


"Bagaimana jika dia yang berbalik dan menyerangmu, Han?" Dia itu orang yang tidak bisa dipegang perkataannya."


"Tidak mungkin Mamaku...  aku tahu, dia akan menepati janji karena kemarin ketika Nadia tertembak, aku sedikit lengah dan Ballawa hampir menembakku... dia rela menjadi tamengku dan Nadia ... jadi kurasa,  dia tidak mungkin membunuhku, dia pasti tepati janji, Mama.... lagipula jika dia ingin membunuhku, seharusnya dilakukan kemarin itu."


"kau yakin, dia tidak sedang menarik simpatimu?"


"tidak mama.... sesungguhnya Dia berulangkali melakukan hal yang membuatku cukup percaya bahwa dia peduli dan ingin mengenalku."


Aleesha menatap mata Handoyo dan kemudian pandangan mereka beralih karena makanan tiba. Dua orang petugas menata makanan diatas meja dan segera saja makanan itu dinikmati mereka berdua dengan tenang. Makanan itu hangat dan ditata dengan menarik sehingga langsung membangkitkan selera makan Handoyo yang memang kelaparan.


Denting sendok dan garpu terkadang terdengar sesekali. Mereka berdua menikmati makanan yang disajikan dan begitu menikmati makanan tersebut.  Tidak ada percakapan awalnya , hingga  sebuah pertanyaan Aleesha yang mengejutkan, dan  membuat Handoyo terhenti sesaat.


"Ya... itu milikku... Pramoedya tidak pernah menyentuh Nadia selama mereka menikah karena Nadia memberikan obat... dan sekarang Nadia marah padaku... dan menolakku bahkan jika aku berani menemuinya sekarang ini, dia akan membunuh diri bersama anakku... aku harus melepaskannya, Mama!"


"Baguslah jika Nadia akhirnya  menyadari kesalahannya ... biarkan anakmu  itu menjadi anak Pramoedya... kau sudah salah, Han!" Seandainya kau bilang  padaku sebelum mereka menikah,   bahwa kalian saling mencintai, maka aku bisa membatalkannya!" di posisi ini kau yang salah jika terus menginginkan Nadia kembali padamu!"


"Mama... pada saat itu aku tidak tahu bahwa aku mencintai Nadia  , aku baru menyadari aku mencintai Nadia ketika mereka menikah dan saat itu aku marah dan malam itu juga ... aku yang menidurinya dan kami melakukannya beberapa kali...Pramoedya selalu dibuat tidak sadar  dan tidak mengetahui yang ada di dalam rahim Nadia adalah anakku mama...  jadi seharusnya aku yang harusnya bersama Nadia... tolonglah mama!"


"Kau terlalu banyak berhutang pada Pramoedya, Han... " Aleesha menjawab dengan tenang. "Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa... dulu kau ditukar untuk diselamatkan oleh Kiyai Umar dan Ibumu dan yang ditunjukkan kepada semua orang adalah Pramoedya...  dan dia menggantikan dirimu selama beberapa tahun menjadi korban Tiara, ... jadi kurasa, ini adalah saat kau membayar hutangmu pada Pramodya... biarlah dia menjadi anak Pramoedya, biar lunas hutangmu ... dia akan besar dengan  menjadi anak yang sukses  dan mereka akan bahagia."


"Sekarang aku mencintainya dan aku ingin bersama anakku, Mama ."


"Jika dia bersamamu... maka kalian tidak mungkin bahagia dan mungkin anak itu akan menderita sepertimu... kurasa kau tidak masa depan anakmu seperti apa yang kau alami... kau ingin memberikan yang terbaik untuk anakmu kan, Han?"


Handoyo terdiam dan menatap Aleesha, yang merupakan ibu angkatnya. Jika dia bisa memilih, dia ingin yang membesarkan anaknya bersama Nadia. Tapi masalahnya dia tidak rela melepaskan Nadia dan buah cinta mereka.

__ADS_1


"Kenapa mereka boleh bahagia,sedangkan aku tidak boleh, Ma?"


"Garis takdirmu bukan bersama mereka... kau yang akan menggantikanku dan membesarkan organisasi "Elang hitam." Aleesha berkata sambil meletakan sendoknya dan menandakan makannya selesai.


Handoyo menghela nafas panjang, ia merasa tidak punya pilihan dan bersandar pada kursi yang didudukinya. " Aku memang salah... terlambat menyadari bahwa aku juga mencintainya, sehingga Nadia tidak percaya padaku dan semua penjelasanku, ma... tapi jika Nadia memintaku kembali, bolehkah aku kembali padaNya?"


"Ya... jika memang Nadia yang memintanya dan kalian siap dengan segala resiko ... tapi tidak boleh kau yang mengganggu kehidupan mereka atau muncul di depan mereka, biarkan Nadia dan anakmu yang menemukanmu... tapi jika tidak ada dari mereka yang menemuimu, maka jangan sekali-kali kau menemui mereka, cukup melihat dari jauh!" Bisa kau lakukan itu, Han?"


"Akan kucoba, Mama!" Handoyo menjawab dengan sedikit keyakinan.


"Bukan begitu jawabannya, Han!"


"Kenapa mama memaksaku?" Handoyo mendelik tidak suka, karena ia merasa bahwa Big mama sedikit tidak adil padanya dan cenderung membela Pramoedya.


"Aku sudah bertemu dengan Jessy... aku sudah tahu tentang dia dan  kehebatannya, bahkan Nadia sudah menceritakan isi ramalannya  jika kalian bersama dan itu akan membahayakan anakmu ... Nadia  itu bukan jodohmu dan  juga....  aku tidak suka kamu merebut istri orang... jangan lakukan yang seperti itu, meski pekerjaan kita kotor tapi hanya untuk kasus tertentu, bukan menyakiti hati orang yang pernah melakukan kebaikan pada kita di masa lalu... kau tahu Pramoedya tanpa disadarinya,  sudah banyak berkorban untukmu... kurasa ini adalah saatmu untuk menuai ketenangan hati dengan merelakanya"


Handoyo masih terdiam dan mencerna perkataan Aleesha. Wanita itu terus menatapnya dengan intens.


"Han..  Jessy bilang.. kau yang akan memimpin  dan membesarkan organisasi ini sampai nanti jodohmu datang yang menjemputmu, baru kau melepaskan organisasi ini dan menyerahkan pada orang lain."


"Kenapa mama mempercayai ramalan Jessy!"


"Dulu aku juga seperti Jessy dan aku membuang kemampuanku... setelah bertemu dengan Jessy, akhirnya aku merasa kemampuan kembali dan sebelum Gaffar meninggal, aku sudah mengetahuinya... Han... lepaskan Nadia, jodohmu akan menemui dirimu sendiri dan kamu akan bahagia bersamamya!"


Handoyo terdiam lama.


"Han... tak masalah kau mempercayai Jessy, tapi aku ingin kau melepaskan Nadia dan Pramoedya!" Kita fokus di organisasi kita!"


"Aku akan berusaha, tapi jika Nadia dan anakku,  terluka oleh  perbuatan Pramoedya, maka aku  yang akan mengambilnya dan melepaskan janjiku padamu, tapi jika mereka menjalani dengan bahagia, maka aku akan menjauh dan melupakan mereka, Mama." Handoyo akhirnya mengalah pada Aleesha dengan legowo.


'Terimakasih Han... sekarang kita bahas misi kita setelah pemilu!"


"Aku pastikan mama tidak akan kecewa lagi... kumohon mama bersabar saja."

__ADS_1


*****


Happy Reading Guys. Terimakasih masih membacanya, Tetap semangat ya dalam menjalani hari, tetap jaga prokes dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Love you!"


__ADS_2