
Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu tetapi itu tidak membuat keadaan lebih baik.
Perasaan itu seperti permainan di atas ombak, kamu dapat memilih bermain Surfing di atas ombak tipe apa yang akan membawamu larut dalam permainan air.
*****
Di Belakang tembok rumah utama kediaman Presiden Enam orang bersiap di posisi yang telah ditentukan, Nadia berjalan mengikuti pria tegap di depannya, ia berkata pelan dan dapat di dengar oleh Adiguna. Pembicaraan itu membuat mereka saling bersitatap, sebelum menjalankan misinya menyerang rumah utama.
"Mas Han ... kumohon biarkan aku yang menembak kedua pasangan sialan itu...!" Boleh ya ?" Bujuk Nadia sambil mengelus lengan kekar pria itu yang tertutup kaos hitam lengan panjang.
Pria itu sedikit ragu namun ia melihat perut Nadia yang membuncit. Itu anaknya. Handoyo ingin memilikinya dan tidak rela pria lain yang menjaganya.
"Baik... kau boleh menembak mereka, Nad... aku akan menjagamu dan membiarkanmu melakukan cita-citamu dengan membalaskan dendammu..... asalkan setelah misi ini kita hidup bersama... tinggalkan Pramoedya!" Deal?" Ujar Adiguna dengan tegas dan pelan.
Nadia terdiam sesaat, Kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Kamu yakin kita bisa membesarkannya mas? Bagaimana dengan ramalan dari Jessy?" Bagaimana dengan ramalan itu ?"
"Tidak ada yang namanya ramalan.... aku yang akan menjaganya... kita akan cari tempat dimana tidak ada yang mengenali kita!" Anak itu akan dibesarkan dengan cara kita dan kita akan bahagia bila bersama."
" Baik mas..... Aku setuju dan setelah misi ini kita keluar dari "Elang Hitam"
"Ok.... "
Adiguna melangkah lebih dulu, ia merasa yakin dan bahagia setelah mendengar jawaban Nadia. Ia bergegas melemparkan tali ke atas tembok tinggi, dia yang akan masuk pertama dan membuka pintu belakang agar mempermudah Nadia dan teman-temannya masuk dan bergerak.
Misi ini pasti berhasil. Misi ini harus berhasil.
*****
*
Ballawa dan Leroy melangkah perlahan menuju ruang bawah tanah yang letaknya di bagian bawah ruang kerja Presiden. Namun pintu ruang kerja sudah tidak bisa dibuka dan berdasarkan petunjuk dari Leroy ada satu pintu masuk lainnya melalui dapur belakang.
Mereka sayup mayup mendengar percakapan beberapa orang. Ada beberapa suara yang familiar di dengar mereka dan suara itu milik Ibu Tiara dan Sang Presiden dan entah suara siapa lagi yang sepertinya sedang berdebat.
Langkah mereka makin dekat dan suara itu makin jelas terdengar di telinga Ballawa dan Leroy. Mereka berdua bergerak perlahan agar tidak terdeteksi oleh orang di dalam ruangan dan mulai mendengarkan percakapan sambil melihat situasi sekitar.
Tangan leroy menunjukkan angka 5 orang musuh yang memegang senjata. dan menunjuk mata dan lingkaran yang diartikan , semuanya menyebar di sekeliling dan berjaga,agak sulit menyerang saat ini dan menarik Presiden dari serangan mereka dan jika dipaksa, mereka yang mati konyol.
Ballawa terdiam dan berfikir. Leroy mengintip kembali dari celah di balik lukisan kaca pembatas dapur dan tangga kecil. Mereka berada di jalan keluar. Musuh tidak mungkin bisa keluar dari pintu ini tanpa melewati mereka, sedangkan di depan ruangan ada banyak pasukan yang bersiap untuk mendobrak menunggu aba aba dari Ballawa.
"Istrimu itu yang mengajarkan kekejaman ini!" Seru suara perempuan berbaju hitam dan melepaskan satu tembakan ke arah sandera.
Dor...
__ADS_1
'Aww.... berengsek kau Nadia,,, sudah kubilang dia sampah, mas... Kau percaya mulut manisnya !" Kau benar-benar sialan... termasuk anak dalam kandunganmu itu anak sialan!"
Ballawa dan Leroy saling bertatapan mendengar suara itu. Berarti pelaku sangat dikenal dekat oleh Presiden dan keluarganya. Keduanya terperangah ketika melihat Tiara diangkat oleh perempuan yang diduga mereka sedang berbadan dua dan kemudian wanita itu membanting tubuh Tiara seolah tubuh itu begitu ringan di tangannya.
"Aku membencimu Tiara dan aku akan menyakitimu seperti kamu menyakiti ibuku dahulu !" teriak perempuan yang berpakaian hitam itu dengan emosi.
"Aww.... sakit!" Tiara sedikit bersuara pelan dan itu didengar oleh semua orang di ruangan itu.
Bugh...
Ada yang terjatuh. Icha sang putri bungsu Presiden yang mau menyelamatkan ibunya dijatuhkan dengan sebuah pukulan oleh seseorang yang berbaju hitam di dekat perempuan itu.
Hening sesaat setelah Tiara mengaduh dan Icha terjatuh, sebuah suara membuat Ballawa tercekat.
"Apakah tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang suami melihat istrinya dianiaya seperti itu?" Apakah itu juga yang dialami oleh ibuku waktu itu/'
Tidak ada jawaban sesaat dan sepertinya Presiden melangkah mendekati sumber suara.
"Pria seperti apa yang tidak bisa melindungi wanitanya dan hanya ingin menyelamatkan posisinya!"
"Kamu... Kamu Adiguna?" Presiden bertanya dengan terkejut.
Bugh...
"Ha... Ha.... tidak ada gunanya aku menggunakan topeng ini lagi... kau tahu semuanya... kenapa kau tidak bertindak apapun?" Apakah jabatan ini membuatmu tidak mampu bergerak? Dasar pria pengecut... hanya mau menyelamatkan diri sendiri...!"
"Maafkan aku ... Maafkan aku Adiguna... Jika kau marah padaku... Kau boleh membunuhku!"
"Benarkah? Kau tidak takut jika aku menembakmu? Bagian mana dulu yang ingin ditembak? Apakah seperti temanmu yang di Lampung itu... Jendral Setiono itu?" .... Aku yang menembak dan membakarnya dengan perlahan hingga ia mati dan merasakan panasnya api neraka di dunia ini?" Kau tahu apa katanya sebelum ia meninggal?
Semua terkejut dengan perkataan Adiguna. Presiden dan Tiara makin terkejut mendengar pengakuan itu.
Tiara tanpa disadarinya berkata " Dia adalah pria yang kejam sama seperti kau Suhartono!"
Dor... Dor.... Dor... Dor...
Nadia dengan tenang menembak bagian kepala dua kali , jantung dan perut Tiara. " Ini untuk ganti nyawa ibuku!"
Hening.
Presiden terpaku melihat Nadia. Wanita itu terlihat sungguh berbeda dengan Nadia yang biasanya. nadia yang tenang dan ramah. Dia begitu berbeda.
"Nadia... seharusnya aku yang kau tembak... dia cuma seorang wanita yang cemburu... aku yang salah... aku yang membuatnya melakukan banyak kesalahan..! Aku yang salah jatuh cinta pada ibumu, Nad... semua bermula dari kebodohanku!"
"Jangan takut Pak Tua, sekarang giliranmu!" Ingatlah bagaimana kau membuat ibuku menderita karena karismamu!" Aku membencimu..."
__ADS_1
Ballawa harus bertindak membantu dan ia seolah tanpa pikir panjang melangkah tanpa ragu. ia sudah menggunakan pakaian rompi anti peluru, hanya saja jika timah itu melewati kepalanya yang membuatnya tertolong. Tugas utamanya adalah melindungi Presiden dan keluarganya.
Dor... Dor
Peluru dari Ballawa itu menembus lengan dan kaki Nadia dan membuatnya langsung terjatuh. Demikian Leroy langsung berlari menyerang dengan cepat ke dada pria lain di sekitar Nadia, dan baku tembak itu terjadi. Semua terjadi begitu cepat, dan tidak terduga.
Presiden berdiri tegak memandang pertempuran kecil itu dengan sedih. Semuanya bagi dia adalah rakyatnya. Kenapa semua harus saling membunuh,kalian semua seharusnya saling jaga, bukan saling bunuh. Apakah mereka semua pion yang dia mainkan selama ini. Batin Presiden sungguh sakit melihatnya.
Dengan satu tembakan dari Adiguna, Leroy pun terjatuh dan tidak bergerak. Tiga anggota dari Elang hitam juga terjatuh tak bergerak akibat tembakan Ballawa Dan leroy sebelum dirinya terjatuh.
Ballawa sudah berdiri tegak di samping Presiden dan berhadapan dengan Adiguna. Ballawa Bersiap melindungi Presiden dengan nyawanya dan tangannya bersiap menembak ke arah musuhnya. ia sendirian dan tak gentar. Adiguna masih berdiri dan tenang ia melangkah menuju tempat Nadia terjatuh.
"Nad...
"Apakah kamu juga anaknya pria tua itu?" Kenapa kamu gak bilang ?" Aku seharusnya tidak jatuh cinta pada keluarga penjahat itu, mas...!" Aku seharusnya tidak mengandung anakmu, mas !" Nadia berkata pelan dan sedikit menangis.
Nadia menyesali bahwa anak yang dikandungannya ternyata masih merupakan darah daging dari keluarga pria yang dibencinya. Dia menyesali kebodohannya. Dia jatuh cinta pada Handoyo yang merupakan anak dari musuhnya juga.
"Nad... kamu akan baik-baik saja.... aku akan membawamu keluar dari sini hidup-hidup dan anak kita!" Jangan takut... kita akan baik-baik saja!" Bujuk Adiguna pelan.
Ballawa melihat Nadia terkapar berlumuran darah.Dan baginya ini kesempatan yang baik Adiguna saat itu sedang membopong Nadia dan akan menolongnya untuk melanjutkan misi dan menyelamatkan wanita ini.
"Aku tahu kau.... Adiguna si Cepot berdarah... seharusnya dari dulu aku mengingatmu... sungguh hebat kau bisa menyamar sampai di posisi ini!" Sungguh penyamaran yang luar biasa!" Aku harus membunuhmu sebelum kau menyentuh presiden."
Ballawa menembak punggung Adiguna dan pria itu cuma menoleh ketika timah panas menembus pundaknya dan akan memberikan tembakan pada Presiden. Tendangan Ballawa yang menghentikannya.
Ironisnya Presiden berlari dan menarik Adiguna ke dalam pelukannya.
"Bawa aku pergi, kau bisa jadikan aku sandera dan setelah itu bunuh aku dimanapun kau mau, Nak!" Ballawa... kau harus lepaskan dia... atau aku yang menembakmu !"
"Presiden.... dia itu pengkhianat... dia itu pembunuh sadis yang melarikan diri...!" Dia itu Cepot berdarah... dia seharusnya berada di penjara Nusa Kambangan..." Ballawa berusaha menarik presiden kembali dan menjauh dari Adiguna.
"Terserah... sekarang kuminta kau mundur Ballawa ... aku yang akan melindunginya...aku belum pernah melakukan satu hal untuknya.... Dia anak lelaki dari wanita yang pernah kucintai dulu, sekarang kuminta kau mundur... aku harus menolongnya, Sekarang kau mundur atau kutembak kau Ballawa ... jika semua tersebar... kau dan keluargamu mati, Ballawa!"
'Presiden... kumohon, jangan gegabah!"
Dor... Dor
Tembakan dari Adiguna menghentikan percakapan itu dan Ballawa pun terjatuh.
*****
Happy Reading Guys.
Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks sudah berbaik hati membaca dan meninggalkan jejak kalian. Love you
__ADS_1