
Jika seseorang tidak peduli bahwa ia akan kehilanganmu, maka lupakanlah dia. Ada banyak orang di luar sana yang akan rela mati untukmu. Tuhan pasti memberikan seseorang yang tepat untukmu!"
*****
Tengah malam d Kota Cilegon.
Benar-benar sepi dan tidak ada satupun orang melintas. Lampu jalan terkesan temaram. Semua warga diyakini terlelap dalam mimpinya. Benar-benar seperti tidak ada kehidupan jika jam sudah diatas jam delapan malam. Sepi sekali.
Jalanan itu jika siang hari cukup ramai, karena merupakan salah satu jalan utama di kota Cilegon. Jarak tiap rumah sekitar dua puluh meterh. Hal ini dikarenakan tiap rumah di daerah itu memiliki halaman yang luas.
Tujuh mobil berhenti di tikungan seberang salon Jessy. Dari tiap mobil keluar 4 sampai 5 orang yang memegang senjata laras panjang. Seorang pria yang berbadan besar dan tegap keluar dari mobil yang paling depan. Ia tampaknya pemimpin dari rombongan mobil yang berhenti tidak jauh dari salon Jessy.
Pria itu mengatur orang-orang yang datang bersamaan dengannya untuk siap di posisi dan sopir tiap kendaraan berdiri di luar kendaraan untuk mengamati kendaraan dan memastikan selama para pasukannya siap di posisi. Ada duapuluh lima orang yang diaturnya. Semuanya cukup mengerti arahan tanpa suara itu.
Mereka adalah kelompok tentara bayaran yangdisewa Jeremy, Kakak tiri Nicky dari Inggris. Pasukan itu berbaju hitam-hitam dan terdiri dari tiga kelompok orang . Sepuluh orang diantaranya mereka adalah warga negara Indonesia yang memang bekerja sebagai tentara bayaran. Mereka itu bekerja dengan bayaran mahal dan dipastikan jika diselidiki polisi, mereka semua tidak akan menyebutkan nama penyewanya.
Setelah siap di posisi masing-masing. Mereka mulai menembaki rumah itu dan ternyata pemilik rumah sudah melapisi rumah yang bagian luarnya kaca dan kayu , tapi dilapisi alumunium yang memang tahan peluru.
Dor....... dor..... dor...
Dor... Dor... dor...
Terkesan tidak ada perlawanan .
Pasukan itu dengan penuh percaya diri bergerak menuju dalam rumah dan mulai menuju teras dan akan membuka pintu depan rumah itu. Ditendangnya pintu kayu itu dan terbuka dengan mudah.
Dor....
Dor... Dor... dor..
***
Jessy sedang terlelap di kamarnya. Tidur nyenyaknya mendadak terganggu. Suara letusan dan terdengar membabi buta terdengar di depan rumahnya. Suasana hening di daerah Cilegon itu rupanya sudah berganti. malam itu menjadi mecekam bagi warga daerah sekitar salon Jessy.
Mata Jessy masih terpejam dan nyaris tak mampu dibuka, tapi telinganya mendengar suara yang sangat mengejutkan di luar sana.
Ada apa disana? Kenapa berisik sekali dan aku sangat mengantuk. Tapi ini ko seperti dibius ketika aku di rumah sakit dulu. tapi kenapa hatiku meminta aku bangun. Oh matikan tivi-nya. Dasar suami yang menyebalkan. Malah menonton televisi dengan suara kencang sekali. Aku harus menegurnya. Para pria itu jika sudah kumpul suka lupa aturan. keluh Jessy sambil berusaha membuka matanya.
__ADS_1
Dengan separuh kesadaran Jessy berusaha membuka mata dan menyadarkan dirinya. Aku harus segera bangun dan mematikan televisi. Tapi.... sepertinya suara itu begitu keras dan berisik. Dan itu suara tembakan dan langkah orang berlari cepat di samping kamarnya?" Ini bukan suara televisi, tapi ini suara tembakan benaran. Ini seperti sedang perang di samping rumah.
Mata Jessy masih terasa berat. Tapi ia paksakan membukanya. Sedikit pusing, tapi hatinya menyuruh ia harus bangun dan melihat apa yang terjadi di luar sana.
Jessy membuka matanya dan makin sadar bahwa ada kegaduhan di luar sana. Kegaduhan yang benar-benar harus segera dilihat Jessy.
Diliriknya bantal tempat suaminya berbaraing di sebelah Jessy,dan ternyata kosong. Kemana suaminya itu? Apakah Alex dan teman-temannya sedang menonton film? Mengapa berisik sekali?' Apakah suaminya terlibat dalam penembakan di luar rumahnya.
Jessy berusaha duduk sambil memastikan bahwa yang didengarnya benar-benar suara tembakan di luar rumah. Ia harus melihat keluar . Jessy melangkah ke dekat jendela kamarnya. Dan sudah tertutup alumunium tebal yang membuat memang peluru tidak bisa menembus dinding kamarnya.
Beberapa hari yang lalu, Alex, Handoyo dan Udin, sibuk melakukan reparasi semua pintu dan jendela rumahnya. Seperti benteng dibuatnya para lelaki itu. Protesnya pada Alex hanya dijawab demi keamanan semua penghuni ,sampai sidang berakhir.
Jessy akhirnya mengalah dan membiarkan ulah suaminya yang membuat rumah cantiknya menjadi aneh. Demikian juga keadaan salon diminta tutup selama sebulan ini. Tindakan ini membuat Jenny sempat marah pada Alex. Untungnya Jenny tidak bertemu Adiguna selama ia mengunjungi rumahnya.
Jendela kamar tidak bisa dibuka dan membuat Jessy melangkah keluar kamar. Dan betapa terkejutnya Jessy melihat rumahnya sudah berantakan. Jadi ia tidak sedang bermimpi. Suara berisik yang ia dengar itu adalah suara tembakan .
Kemana semua orang? Katanya mereka berjaga bergantian setiap malam. Tidak ada Alex ataupun Adiguna di luar kamarnya. Kemana mereka?" Oh tidak... mereka benar-benar ada di luar sana dan melakukan perlawanan terhadap para penyerang rumah mereka.
Jessy melangkah menuju pintu ruang tamu rumahnya yang terbuka. Dan ia terkejut melihat ada beberapa orang tergeletak di depan pintu luar rumahnya. Tapi masih ada suara tembakan di luar rumahnya
Oh Alex!"
Berapa kali sudah kubilang jangan bekerja yang berbahaya. Tidak usah ngoyo cari uang, jadi pedagang saja sudah baik, Aku tidak mau kehilangan suami. Aku tidak mau kamu ada apa-apa. Alex dimana kamu?' Bisik Jessy pelan dan penuh kekhawatiran.
Bagaimana jika Alex yang terluka di depan rumah itu. Oh Tuhan ... tolong suamiku!" Jessy makin khawatir dan tak terasa air mata menetes.
Jessy teringat akan bayangan yang dia peroleh beberapa hari yang lalu. Bayangan penglihatan yang menunjukkan suaminya , dan kedua temannya terluka. Semoga itu tidak benar apa yang dilihatnya.
Pria yang berbaring itu sepertinya masih sangat muda, Lebih muda dari Jessy. Sementara Umur Alex yang memang tidak muda lagi, dan rambutnya sudah banyak berwarna putih.
itu bukan Alex, bisik Jessy pelan dan ia menghapus air matanya.
Jessy berusaha memberanikan diri dan melihat siapa yang berbaring di lantai depan pintu rumahnya itu. Dengan sedikit kebranian Jessy melihat, Pria itu berumur duapuluhan seperti orang dari suku seberang pulau Jawa. Dan dia tampaknya tertembak di dadanya.
Pria itu tidak dikenalnya. Entahlah dia hidup atau mati, tapi sebuah teriakan kembali terdengar dari halaman depan. Jessy melihat di halaman rumahnya dan jalan raya ada beberapa orang yang memegang senjata dan sedang saling menembak.
Entahlah siapa? Kenapa banyak orang didepan rumahnya. Ada beberapa mobil dan orang-orang bersenjata di depan rumahnya dan tidak. Ia melihat orang-orang yang dikenalnya sedang memegang senjata dan melakukan perlawanan.
__ADS_1
Ada Ujang yang sedang menembak ke arah tertentu dan Nadia melompat menendang seorang pria dan wanita itu terlihat begitu hebat melakukan gerakan memutar. Luar biasa dan pria itu terjatuh tapi terdengar sebuah suara yang menyakitkan.
Krek... sepertinya Nadia mematahkan leher pria itu.
Jessy sedikit tertegun melihat apa yang dilakukan Nadia. Wanita berambut cepak itu terkesan kalem dan penyayang anak kecil ternyata berbeda jika bertarung dan terkesan benar-benar sadis. Nadia begitu menyayangi Nicky dan sangat akrab dengan pria kecil itu.
Jessy masih melihat apa yang dilakukan Nadia yang berusaha menembak pria lain di luar sana, hingga ia melihat ujang terseok dan berteriak.
Akhh...bang aku kena!' Teriak Ujang yang hanya beberapa meter dari tempat Jessy berdiri.
Nadia pun menoleh ke arah Ujang.
Ujang memegang bahunya yang mengeluarkan darah karena luka tembakan. Dia berteriak kembali "Nad, belakangmu !" Awas.... !"
Nadia terjatuh karena paha-nya kena tembakan. Ia kena tembakan dan masih dapat tersenyum pada Ujang dan melihat ke arah pintu.
Nadia sangat terkejut." Jessy sudah bangun,,,,!" Bang Alex... Jessy!"
Alex yang sedang memegang senjata laras panjang dan menembak ke segala arah terkejut mendengar seseorang menyebut nama istrinya. . Banyak dari pria yang jatuh diluar halaman rumahnya. Teriakan sahabatnya membuatnya menghentikan perbuatannya itu dan mencari ke arah sumber suara.
Alex yang berada di dekat gerbang pintu rumahnya menoleh dan melihat Ujang terjatuh. Dan betapa terkejutnya ia, Jessy ada di depan pintu ruang tamu. Wanita itu harusnya tertidur karena dosis obat tidur yang diberikannya tadi sore. Kenapa ia sudah bangun. Oh celaka dia tidak menggunakan rompi anti peluru.
Alex segera berlari dan berteriak. Ia berlari menghampiri istrinya yang masih tertegun menatapnya. Tiba- tiba langkahnya terpeleset oleh sebuah kerikil dan ia terpeleset. Jatuh ke tanah yang banyak kerikil putih.
Brug...
Dor...
Dor.... dor... dor...
Jatuhnya Alex bersamaan dengan tembakan dari arah belakang. Para pria berbaju hitam itu jatuh satu persatu. Entah tembakan yang sangat cepat.
Alex bangkit menghampiri Jessy. Ia terluka tapi melihat istrinya yang sedang hamil di pintu dengan tanpa perlindungan membuatnya bangkit. ia harus membawa Jessy ke kamar. Jessy tidak boleh terluka.
*****
Happy Reading Guys. Terimakasih telah membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak kalian di sini?" Thanks a lot.
__ADS_1