
Jangan menghabiskan waktu dengan membalaskan dendam pada orang lain yang jahat kepada kita. Belajarlah mengampuni orang yang memang menyakiti kita. Bukan hal yang mudah dalam mengampuni seseorang, tapi kau bisa belajar!"
******
Nadia dan Handoyo masih dalam perjalanan. Mereka sudah hampir memasuki kota Bengkalis. Dan perjalanan itu terasa hening, hingga Handoyo memulai percakapan itu.
"Nad... aku baru teringat, waktu di Semarang, Steven ada bilang padaku ..,, dia menyuruhku menghampiri seorang kyai di kota Bengkalis sebelum Kota Pekanbaru .. ..katanya kiyai itu yang akan menunjukkan jalan menemukan makam ibuku, tapi dia hanya bilang bahwa kiyai itu pemimpin pesantren Al Hikmah... namun aku baru diijinkan menunjukkan foto pada siapapun sebelum kyai itu menemuiku," Handoyo berkata sambil melirik Nadia yang terus terdiam semenjak siang hari dan sering tidur di perjalanan.
"Nad.... bisakah kau membantuku ?" bagaimana caranya?" Handoyo berkata pelan dan sambil melirik sesekali wanita yang terkesan menjaga jarak dengannya itu.
"Ya... sekarang kita cari aja itu pesantren ... ntar di depan ada warung kita tanya jalan menuju pesantren Al Hikmah " Nadia berkata dengan agak serak karena ia baru terbangun beberapa saat.
Handoyo meminggirkan mobilnya dan membiarkan Nadia turun dan bertanya pada sekelompok warga yang sedang duduk-duduk di warung kopi di pinggir jalan. Ketika masuk ke dalam mobil, Nadia membawa info mengenai pesantren dan dua gelas kopi panas dalam plastik untuk menyegarkan perjalanan mereka.
"Empat kali perempatan kita ambil ke kiri dan setelah itu lurus saja sampai ketemu gerbang pesantren. Pemimpin pesantren itu bernama Kiyai Umar... katanya dia sudah tua dan jarang menemui tamu... tapi kita coba saja deh!" Nadia berkata sambil menyerahkan plastik berisi kopi panas yang diikat dan ada sedotan sehingga memudahkan Handoyo meminum kopi sambil meyedot kopi panasnya.
"Hebat kamu, langsung dapat informasi dengan cepat!" Tapi kamu yakin informasi itu tepat?'
"Ya... mereka tidak akan berbohong... aku bilang,tadi pada mereka, aku ingin belajar agama dan orangtuaku berpesan sebelum mereka meninggal untuk menemui pimpinan pesantren Al Hikmah, jadi mereka langsung menjawabnya dan terlihat antusias, tidak mungkin mereka sedang berbohong dan bahkan mereka menawarkan mengantar kita..."
Handoyo kagum dengan semua keahlian Nadia dalam mencari informasi dengan cepat. Ia tersenyum dan mengikuti arahan Nadia dalam mengemudi menuju pesantren. Tidak sampai tigapuluh menit gerbang pesantren itu sudah terlihat dan mobil yang dikemudian Handoyo memasuki pintu gerbang pesantren.
"Assalamualaikum Pak... bisakah kami menemui Kiyai Umar?" Sapa handoyo pada petugas gerbang yang memberhentikannya, dan ia membuka kaca jendela mobil yang ada disampingnya sehingga para penjaga bisa melihat dengan jelas tamu yang datang ke pesantren itu.
"Wa'alaikumussalam.... ada keperluan apa, malam-malam mencari kiyai Umar?" Salah satu penjaga menjawab dengan ramah pada Handoyo.
"Begini pak... saya diminta orang tua saya untuk belajar disini, tapi saya harus bertanya dulu dengan kiyai Umar karena pesan orang tua saya, dia mengenal orang tua saya sebelum mereka meninggal," Nadia berkata dengan suara memelas. "Bisakah bapak-bapak membantu kami?'
Nadia mencondongkan tubuhnya ke arah Handoyo sehingga para penjaga itu bisa melihat Nadai, Mereka akhirnya meminta identitas salah satu dari mereka untuk dicatat sebelum mengijinkan keduanya masuk.
Setelah menemui petugas jaga dan staf pesantren, Mereka berdua diijinkan bertemu besok pagi dengan pimpinan pesantren. Karena hari sudah larut malam dan mereka berdua diijinkan menunggu dan beristirahat di pendopo dalam pesantren dimana ruangan itu sangat bersih dan nyaman.
Ada beberapa orang juga yang memang beristirahat menunggu di situ. Karena sudah lelah mengemudi seharian, Handoyo langsung tertidur malam itu tanpa membersihkan diri. Sementara Nadia mendapat tempat peristirahatan di bilik wanita yang memang terpisah dari pendopo tapi letaknya tidak jauh dari pendopo dan cukup nyaman untuk dia tidur malam ini.
Pagi hari di pesantren Al Hikmah.
Suara kumandang Azan Subuh membangunkan para tamu yang ada di pendopo dan bilik terdekat. Semua penghuni pesantren tanpak berkumpul di mesjid di tengah komplek pesantren sudah harus bangun untuk sholat jama’ah di masjid.
__ADS_1
Suasana yang teduh dan syahdu itu itu tidak luput dari perhatian Handoyo dan Nadia. para penghuni pesantren itu yang menjalani ibadah mereka. Banyak juga orang yang tua, muda dan beberapa anak kecil menjalani aktifitas dengan penuh penghormatan pada Yang Maha kuasa. Selesai kegiatan shubuhan, para penghuni pesantren itu mengaji di masjid hingga jam 5.30 sebelum kembali ke asrama mereka masing-masing.
Handoyo merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ia bukan tipe pria yang mudah akrab dengan siapapun atau berbaur di lingkungan yang baru. Handoyo menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan debar jantungnya dan memilih ke kamar mandi sebelum ia menemui pimpinan pesantren ini. Apakah aku sudah sangat bebal Tuhan? Aku kenapa seperti ini? Mengapa tidak kau gerakkan hatiku untuk kembali padamu?"
*****
Handoyo dan Nadia menuju ruang khusus tamu pesantren tepat pukul 08.00. Mereka dijanjikan untuk bertemu kiyai Umar sekitaran waktu itu. Dengan penuh semangat Handoyo memasuki ruang tamu itu dan memilih menunggu di salah satu sudut.
Beruntungnya di pesantren itu, mereka mendapat sarapan pagi untuk setiap tamu yang datang dan menginap di pendopo. Sarapan dengan menu yang sama dinikmati juga oleh para penghuni pesantren. Nasi goreng dan telur dadar. Semua warga dan tamu mendapatkan menu yang sama dan tidak ada perbedaan kelas apapun. Mereka tidak perlu keluar pesantren mencari sarapan pagi. Benar-benar tuan rumah yang ramah, pikir Handoyo dalam hatinya.
"Mbak Nadia dan Mas Handoyo... bisa ikuti saya ke ruangan tempat kiyai menerima tamu di kebun belakang?" Suara seorang pria muda yang berumur lima belas tahun
"Oh ... baik-baik, silahkan tunjukan arahnya,"Jawab Nadia dengan lembut.
Mereka melangkah mengikuti anak muda itu yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. Pesantren ini sangat luas, tenang dan bersih. Handoyo terkagum-kagum akan pendidikan yang diajarkan disini, pasti semua orang yang disini adalah orang baik semuanya. Tidak ada yang seperti dirinya yang adalah orang berdosa.
"Silahkan... kiyai sudah menunggu kalian berdua," Anak itu meminta Handoyo dan Nadia menghampiri tempat kiyai duduk dan ia meninggalkan kedua tamunya tanpa kuatir.
"Assalamualaikum kiyai Umar"
" Wa'alaikumussalam, ....kemarilah nak!" Apakah kalian berdua yang mencariku malam-malam ?" Suara pria itu terkesan sangat ramah dan itu berbeda dengan tampangnya yang terkesan galak dan tegas.
"Benar kiyai... apakah kami mengganggu waktu kiyai, tapi kami sedang bingung.... " Nadia berusaha menarik kursi dan duduk disamping kiyai dan Handoyo memilih duduk di samping Nadia.
Handoyo terlihat duduk tenang dan menatap kiyai Umar tapi sesungguhnya jantungnya berdebar kencang. bagaimana jika kiyai ini keluarganya, dan bagaimana jika ia mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh. Sungguh ironis sekali. Bagaimana jika pria ini adalah kakeknya, apakah pantas dia menjadi cucunya. Akh... ini pasti hanya hayalan dirinya saja.
'Katakanlah nak... jangan diam saja... aku tahu, sebenarnya yang mencariku adalah pria ini, kamu cuma temannya saja kan?" Kiyai Umar sudah menatap Handoyo dan Nadia tajam kembali.
Handoyo bergeming sejenak sebelum menjawab pertanyaan Kiyai Umar. Tampaknya pria tua ini mempunyai firasat yang kuat. Nadia menganggukkan kepala seakan memberi kode pada Handoyo untuk menjawab secara jujur.
"Benar kiyai.... saya ingin bertanya pada kiyai... boleh saya keluarkan beberapa foto, semoga kiyai bisa menjelaskannya.... saya mendapatkan info bahwa hanya kiyai yang bisa menunjukkan makam ibu saya,"
Handoyo mengeluarkan sebuah amplop coklat dari balik jaketnya. Mata sang kiyai terbelalak dan ia langsung mengangkat tangannya. Segel pada amplop itu cukup menjelaskan kenapa pria muda ini mencarinya malam-malam.
"Akhirnya kamu datang juga... aku sudah menunggumu sekian lama.... jangan kau keluarkan foto-foto itu, aku tahu siapa kamu dengan melihat amplop bersegel itu, ... kurasa aku mengenal siapa kamu " Kiyai Umar berkata pelan dan tersenyum getir pada Handoyo.
"Benarkah kiyai?" Nadia bertanya dengan penuh semangat.
"Kalian orang suruhan "Big Mama".... dan kau itu adalah anak dari Yona, Dia dulu murid disini... sebelum Yona meninggal, ia berpesan , agar aku hanya bisa bercerita pada dua orang yaitu orang yang kalian sebut Big Mama dan juga pada kamu, Handoyo.... Setelah aku menceritakan semuanya, aku bisa mati dengan tenang!"
__ADS_1
"Maksud Kiyai.... " Nadia bertanya dengan terkejut.
" Aku berhutang nyawa pada ibumu, Handoyo...... tapi kumohon kamu sebaiknya bertobat dan belajar untuk mengampuni semua musuh-musuhmu... . awalnya aku sudah curiga melihat cara berjalanmu yang mirip Yona,,,, tapi aku tepis semua, tak mungkin, kamu orangnya, mengingat kamu seharusnya dipenjara!" Kiyai berkata seakan berbisik pada Handoyo.
"Big Mama yang membebaskannya, Kiyai!" Nadia menjawab Kiyai dengan ringan.
"Hemmm... berarti dia masih memiliki dendam, dan ketika bertemu denganmu, .....maka kurasa kalian akan klop.... aku juga akan berpesan sama padamu, agar kamu bisa hidup tenang dan tidak menyesal. Pesan yang sama juga pernah kuberikan pada Yona dan wanita yang sekarang hanya mau disebut Big Mama... berhentilah membalas dendam!"
"Pak kiyai bisakah menjelaskan tentang latar belakangku dan kenapa aku bisa menjadi sebatang kara dan harus tinggal di panti asuhan...!" Bagaimana Yona meninggal dan siapa ayahku?"
'tentu saja semuanya bisa dan itu bagian janjiku pada Yona... tapi bisakah kamu menjanjikan juga padaku nanti setelah mendengarkan ceritaku untuk tidak menghabiskan waktu dengan membalaskan dendam pada orang lain yang jahat kepada kita. Belajarlah mengampuni orang yang memang menyakiti kita. Aku ingin kau tidak salah melangkah lagi, Han?"
"maaf pak kiyai... aku tidak bisa menjanjikan sesuatu hal yang belum kuketahui..." Handoyo menjawab dengan pelan. Ia merasa tidak enak mendebat pria yang lebih tua dan dihormati orang-orang termasuk sekelas BIg Mama.
"Sudah kuduga... kau persis seperti Yona... tapi bagaimana jika dampaknya akan menyakiti dirimu sendiri ?"
"Aku yang akan menanggungnya kiyai," Handoyo berkata tegas dan menatap berani pada sang kiyai.
*****
Happy Reading Guys!"
Terimakasih telah membacanya dan bolehkan tinggalkan jejak kalian di bab ini? Thanks a lot ya!"
__ADS_1