
Aku ingin memulai semuanya dengan sebuah kejujuran,sehingga kita bisa saling percaya dan saling memahami tanpa takut lagi akan melukai.
*****
"Aku beneran lho Ne..... Aku tidak sedang menggombal ataupun apalah itu kau yang menyebutkan.... ketika kamu pergi dan menghilang dalam hidupku, aku baru menyadari bahwa hanya denganmu, aku baru bisa merasa hidup. Maafkan abang dengan segala sakit, amarah dan luka yang abang telah perbuat, ..... abang terlalu mencintaimu.... jadi bisakah kamu memaafkanku?"
"Abang gak papa, jika orang mengetahui aku adalah bagian dari keluarga Setiono?" Anneke memperhatikan ekspresi suaminya yang masih menatap padanya dan belum menjalankan mobilnya. "Aku takut membuat karir abang berantakan.... sekarang aja abang mundur jadi pengacara "Cepot Berdarah" pasti karena gak enak dengan Anne kan?"
Warmen tersenyum pada Anneke dan ia memilih menjalankan kendaraannya sambil menjawab. Sesungguhnya perutnya meminta segera diisi. Ia memang tak bisa jika tidak bertemu nasi meski telah diganjal beberapa bungkus roti dan kopi.
"Abang akan jelaskan setelah makan ya, Ne.... sekarang perutku laper banget nih!" Ntar aku pesan makanan nasi goreng yang diujung pertokoan itu.... dan memang bener yang kamu bilang, jika abang belum ketemu nasi pasti abang selalu merasa belum makan,meski sudah makan roti atau apapunitu dan abang belum makan sepulang dari kota siang tadi.
"Bener kan Anne bilang, jika abang gak ketemu nasi, pasti gak akan sanggup!" Anne tertawa bahagia dan membuat Warmen ikut bahagia melihatnya.
"Sudah tahu tentang abang sedetail itu, kamu ko tega sih masih mau ninggalin abang.... jadi setelah makan kita lihat rumah kontrakan ya?" Malam ini kita tidur di kontrakan jangan di kost lagi ya, sayang?" Abang gak bisa ngapa-ngapain di kostan" Bujuk Warmen pada Anneke.
"Anne cuma takut Abang malu sama latar belakang Anne.... belum lagi kemarinan di TV banyak dibahas tentang abang dan banyak yang memuji abang terlebih teman-teman di kampus Anne, banyak yang mengidolakan abang, bahkan ada yang mau jadi istri abang.... Anne tidak mau menjadi penghambat karir abang dan...
"Penghambat karir..... ada-ada saja kamu.... harusnya kamu lebih mengenalku melebihi siapapun di dunia ini , Anne.... Memangnya kamu anggap aku apa jika kamu masih berfikir aku itu malu mengenalkanmu.... setelah ini jika kondisinya memungkinkan aku akan mengenalkanmu pada dunia bahwa kamu adalah istriku dan ibu dari anak-anakku.... maafkan aku yang waktu itu pernah berucap jika kamu tidak boleh terlihat oleh istriku yang lain..... tidak ada istri lain di hidupku sesungguhnya , waktu itu abang cuma bercanda.... setelah ini abang akan cerita semuanya lengkap.... tapi di rumah yang sudah abang telah kontrak untuk kita selama di depok ini dan kamu tidak boleh pulang ke kost tanpa mengajak abang !"
" Emangnya sudah di jadiin rumahnya bang? " Abang suka dengan rumah itu?" Anneke terkejut ketika mendengar suaminya sudah mendapat rumah kontrakan untuk malam ini.
"Abang tidak tahu batasan suka atau tidak. Rumah itu dikontrak lengkap dengan furniturenya dan yang membuat abang suka, rumah itu setiap hari dibersihkan, jadi bisa langsung kita tempati.... Abang akan suka rumah apapun itu asal ada kamu disitu, jadi malam ini kita tidur di rumah kita ya, Ne?"
"Kalo Anne gak suka, boleh Anne tidur di kost bang?"
"Kamu gak suka rumahnya atau kamu gak suka tidur sama abang lagi,Ne?" Anne sesungguhnya belum memaafkan Abang?" Anneke gak percaya sama Abang lagi?"
Anneke terdiam ketika Warmen meminggirkan mobilnya di depan gerobak nasi goreng. Pria itu melirik istrinya yang sedang memegang ujung blouse dan sesekali mengusap perutnya. Didekatkan wajah Warmen ke perut istrinya itu.
"Amang akan pesan nasi goreng dulu ya untuk amang dan mama kau, Sekarang Amang minta kamu untuk jaga mama kamu dulu ya nak!" Dikecupnya perut Anneke perlahan hingga membuat Anneke tersenyum atas tindakan manis suaminya.
"Bang...
" KIta akan bahas semuanya di rumah.... Abang kalo lapar gak bisa mikir dengan bijak.... sabar ya sayang?" Anak Abang laper gak sih sayang?" Warmen berkata sambil meletakkan tangannya di atas perut Anneke yang sudah mulai membesar karena kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke lima.
"Abang pesan nasi gorengnya dibungkus saja...ntar kita makan di rumah kontrakan abang sambil lihat-lihat rumah " Anne akhirnya memilih mengikuti ajakan suaminya daripada berdebat yang akhirnya pasti dimenangkan oleh sang pengacara itu.
Setelah memesan Nasi goreng, Warmen memilih memasuki toko kelontong yang ada di dekat situ. Ia membeli air mineral, sabun mandi , sikap gigi dan pastanya. Ia tidak membawa apapun dan ia tidak ingin mengantar istrinya ke kost kecuali jika istrinya meminta untuk mengambil baju dan untuk pindah kost malam itu juga.
Warmen masih berfikir keras untuk membuat istrinya tidak meminta pulang ke kost lagi malam ini karena sesungguhnya ia lelah atas aktifitasnya yang padat dan menguras energinya. Mengantar berbelanja ke kota, menemui marketing perumahan dan bertemu dengan assisten rumah tangga yang dipercaya oleh pemilik rumah itu sebelumnya dan menjemput istrinya di toko. Lelah dan lapar bergabung jadi satu.
Warmen memasuki mobilnya dengan membawa banyak tentengan untuk berbagai keperluan mereka di rumah barunya. Dilihatnya Anneke yang sudah terlelap di kursi mobil karena menunggunya berbelanja. Ia tersenyum memandang istrinya yang memang seharusnya sangat lelah karena aktifitas hari ini dan sedang dalam kondisi hamil.
Rumah yang dituju memang tidak jauh, karena hanya sekitar 10 menit sudah tiba di depan gerbang rumah yang baru dikontraknya sore tadi. Ketika Warmen membuka pintu, Anneke terbangun.
"Sudah sampe ya bang? Ini rumahnya?" Ujar Anneke sambil memperhatikan rumah yang cukup asri dari luar tersorot lampu jalan dan lampu mobil.
"Iya... turun yuuk, Anne bisa bantu abang bukain pintu rumah dan nyalakan lampunya.... saklar ada di sebelah kanan pintu masuk ya sayang!" Warmen berkata sambil menyerahkan kunci rumah itu pada Anneke.
"Bisa bang.... Biar Anne yang bukain pintu gerbang, dan abang bisa langsung memasukan mobil segera!"
__ADS_1
Warmen tersenyum melihat Anneke yang menjadi lebih interaktif setelah melihat rumah pilihannya itu. Ia merasa yakin Anneke tidak keberatan dengan rumah itu setelah memasuki rumahnya. Warmen masuk sambil membawa barang-barang yang baru dibelinya di toko kelontong.
Tidak ada Anneke di ruangan tamu ataupun ruangan tengah yang dilihat Warmen ketika ia memasuki rumah itu. Diletakkan barang-barang belanjaannya itu di atas meja makan dan sambil mencari Anneke di rumah yang tidak terlalu besar itu.
"Ne... Anne !" Panggil Warmen sedikit berteriak khawatir pada wanita yang sedang hamil itu.
"Ya Bang... rumah ini bersih lho dan bisa langsung kita gunakan....abang pintar lho cari rumahnya, dapurnya itu menggunakan gas alam sehingga otomatis dan kita tidak perlu lagi kita membeli gas untuk memasak.. udah itu kamar mandinya bagus lho menggunakan shower kayak di hotel bang!" Anneke menjelaskan dengan sedikit berbinar dan membuat Warmen tersenyum.
"Baguslah kalau kamu suka.... abang sudah mengontraknya untuk 2 tahun, Ne!" Kita makan dulu ya sayang!"
"Baiklah bang...Anne ambilkan piring dulu!"
"ya sayang!"
Mereka menikmati makan malam mereka dalam keheningan. Anneke masih sibuk memasukan suapan nasi ke mulutnya sementara Warmen sudah menghabiskan makanan itu dengan cepat. Ia sungguh lapar dan membuatnya dapat makan dengan sangat cepat.
"Ne.... besok sore kita ke dokter kandungan ya?"
Anneke terhenyak. Ia melupakan bahwa hampir sebulan ini semenjak mereka berpisah, ia tidak meminum vitamin ataupun meminum susu untuk ibu hamil. Ia marah terakhir kali pada suaminya itu karena suaminya tidak bisa mengantarnya ke dokter kandungan dan memilih meninggalkannya di tengah malam untuk urusan "si cepot" . Sekarang dia yang melupakan kepentingan anak dalam kandungannya.
"Ne... apakah ada masalah dengan anak kita?"
"eh .. iya bang... gak ada masalah... maaf, aku lupa tidak membawa catatan kontrol ke dokter Ira, bang!" Kilahnya untuk menyembunyikan bahwa selama ini ia tidak meminum susu hamil dan vitamin dari dokter Ira. "Apakah kita akan ganti dokter saja, bang?"
"Ya... dokter yang lain saja ya!" kita cari yang di dekat sini, Besok aku jemput ke toko kamu jam 5 an ya?"
"Ya bang."
"Ne...aku akan menjelaskan semuanya, tapi kamu janji ya tidak boleh marah apalagi berniat pergi ataupun apalah itu bercerai dan meminta teman-temanmu yang menjagamu dan anakku ... karena semua hanya masa laluku... kumohon kamu tidak boleh pergi lagi dari hidupku!"
"tergantung dong bang... bagaimana jika itu akhirnya membuat aku dan anakku terluka."
"Ya kebenaran dong.... baiklah Anneke akan mendengarkan dan abang janji tidak boleh bohong lagi!"
"Dulu abang pernah punya kekasih Ne, Namanya Melinda, ia seorang pengacara juga ... tapi dia bukan istri abang... karena abang belum menikahinya dan memang sat itu kami belum putus ketika berpisah ketika sedang merintis kantor hukum milik abang itu,.... Abang juga melakukan pekerjaan sampingan di kantor cabang Singapura, kerjaan abang yang banyak dan masalah keluarga abang yang di Lampung membuat kekasih abang waktu itu marah karena abang yang terlalu sibuk dan tidak memiliki uang yang cukup dan kemudian menolak untuk bekerja di London untuk memulai karir disana.... terlebih waktu itu di otak abang adalah membalaskan dendam pada Ayahmu dan Andi, kakakmu itu.... hingga akhirnya kami berpisah dan yang tanpa abang ketahui, saat dia pergi ke London dalam keadaan hamil anak abang!"
'Jadi abang punya anak dari pacar abang itu dan abang tidak menikahinya?" Jahat sekali abang!" Anneke terkejut dan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Abang tidak tahu sat itu dia hamil, Ne dan dia hanya mengabari abang bahwa telah menikah dengan pria lain yang merupakan pemilik kantor lawyer terkenal di London hingga beberapa waktu yang lalu, dia menghubungi abang untuk meminta tolong untuk membantu dan menyelamatkan anaknya kalo dia sampai kenapa-kenapa dan bisa membuat anak itu terbunuh... abang terkejut dan langsung menyanggupi, karena abang ingin melihat anak yang belum pernah abang lihat," Warmen berkata pelan.
Warmen sengaja mengganti sebagian dari ceritanya agar Anne tidak mencurigai dan malah meminta berpisah dengannya kembali.
"Maafkan Abang... abang tidak bermaksud merahasiakannya, Ne... Abang baru tahu ternyata ada anak abang dari wanita lain"
"Maksudnya gimana bang, Melinda itu kenapa-kenapa itu apa bang? " Anneke bertanya dengan tidak sabar.
"Melinda diancam oleh anak tirinya dan ia merasa bahwa hidupnya dan anaknya dalam bahaya ... jadi memang dia sudah berpesan pada abang dan orang kantornya untuk menjaga Nicky dan menghubungi abang jika dia mendapatkan musibah. dan kemarinan itu kasusnya bersamaan dengan persidangan si Handoyo.
"Anak abang namanya Nicky?"
"Ya... dan sekarang dia ada di rumah orang tuanya Melinda.
"Apa yang terjadi dengan Melinda, bang?"
"Dia dan suaminya akhirnya mengalami kecelakaan mobil dan meninggal di tempat, sementara anak lelaki abang tidak ada yang menjaga ne... dia sendirian di London dan dititipkan di bawah pengawasan Negara, sehingga abang harus mengurusnya disana selama beberapa waktu... jadi itu alasan kenapa abang tidak jadi pengacara dari Cepot Berdarah!" ... Abang juga harus konsentrasi mencari kamu, sehingga pikiran abang makin kalut....
"Maafkan Anne Bang.... berapa umur Nicky, Bang?"
__ADS_1
"Mungkin 3 atau 4 tahun... dia masih terlalu kecil dan abang tidak bisa menjaganya, makanya abang menitipkan pada orang tua Melinda dahulu selama di Jakarta dan mereka memang bersuka hati menerimanya.... tapi abang ingin kita merawatnya jika kamu tidak keberatan, Ne... Dia kemarinan waktu abang titipkan ke orang tua Melinda menangis terus sepanjang malam,"
"Kasihan sekali Nicky, dia tidak punya siapa- siapa yang dikenalnya disini.... aku mau menjadi ibunya juga asalkan dia memang mau bersama kita, bang!"
"benarkah ?'
"Bagaimana jika nanti kita jemput Nicky?"
"Kamu gak papa, jika ada NIcky, kamu bersedia menjadikan Nicky kakak dari baby kita?"
"Asalkan tidak ada wanita lain diantara kita , Bang!" Aku bisa menyayangi Nicky juga seperti anakku, dia akan menjadi seorang kakak laki-laki yang baik"
Warmen langsung terharu mendengar ucapan Anneke dan ia refleks menarik Anneke ke dalam pelukannya dan mencium kepala wanitanya itu bertubi-tubi. "Terimakasih Anneke, mau memaafkanku dan menerimaku apa adanya."
Perlahan Anneke membalas pelukan suaminya dengan kedua tangan merayap dan menyentuh punggung lelaki yang dirindukannya itu. " Anne selalu sayang abang dari dulu sampai sekarang, meski abang pernah punya kekasih lain... tapi abang janji tidak boleh ada wanita lain lagi setelah kita bersama,"
"Abang janji... abang tidak akan pernah mengkhianti kamu ataupun anak-anak abang!"
Ciuman yang semula di kening akhirnya turun ke pipi dan bibir Anneke. Warmen memiringkan kepalanya dan ia memperoleh seluruh permukaan bibir yang dirindukannya itu. Medesak penuh tegas hingga ketika Anneke terengah dan ingin mengambil udara, Warmen menyelipkan lidahnya dan membuat keadaan itu makin memanas.
Sesaat Anneke terlupa bahwa mereka masih di ruang makan dan tangan Warmen sudah memasuki blosenya dan meremas bagian penting yang merupakan sumber makanan bagi anaknya kelak, hingga membuat Anneke tersadar dan mendorong tubuh suaminya untuk menjauh.
'Ne...
"Aku mau mandi dulu bang... tapi Anne gak bawa baju... bisakah kita pulang sebentar ke kost untuk ambil baju dan menginap disini?"
"abang sudah membelikan kamu bebebrapa baju ... ayo kita mandi dulu, "Ujar Warmen sambil menarik Anne untuk meninggalkan meja makan dan ia berencana akan melanjutkan hasrat mereka di kamar mandi.
*****
Happy reading guys. Terimakasih telah membacanya dan bolehkan tinggalkan jejak kalian disini?" Thanks a lot!"
__ADS_1