
Cinta tanpa restu bagai kapal yang terombang-ambing.
Orangtuamu tidak pernah ingin kamu menjadi seperti mereka tapi mereka ingin kamu dapat hidup menjadi lebih baik dari apa yang pernah mereka lalui.
*****
Eksterior rumah pribadi milik Jendral Suhartono terlihat megah dan kokoh. Bangunan berwarna hijau khas militer yang menghiasi sebagian dinding luar dan banyaknya pohon rindang yang menghiasi membuat rumah megah itu terlihat asri dan nyaman bagi penghuninya. Rumah yang penuh penjagaan karena merupakan kediaman orang nomor satu di negara ini.
Terdengar suara beberapa orang sedang bercakap cakap serius di sebuah ruang kerja berukuran 4×6 meter yang berada di dalam rumah itu. Ruangan kerja ini biasanya dijadikan tempat untuk menemui sejumlah menteri dengan Presiden Soehartoni untuk membahas masalah yang mendukung kegiatan kerjanya.
Di atas sofa berwarna hitam yang terlihat empuk dan nyaman, Tiara duduk sambil menatap pria muda yang duduk di depannya. Pria muda itu duduk bersama seorang wanita yang memiliki mata yang berani. Jika boleh jujur Tiara tidak suka pada wanita yang akan diperistri oleh anak tirinya itu.
Karpet berwarna hijau yang menjadi alas ruangan terlihat serasi dengan wallpaper kebiruan pada dinding. Jendral Suhartono memahami arti pandangan istrinya, namun biar bagaimanapun pria muda yang duduk di depan istrinya itu adalah darah dagingnya juga.
Kesalahan di masa lalunya masih terus membayangi dan melukai Tiara. Sudah cukup banyak yang dilalui oleh mereka dan itu semuanya memberikan dampak yang tidak menyenangkan bagi Pramoedya,
Pria muda itu dari kecil dibedakan dan diberikan perlakukan yang berbeda oleh Tiara sang ibu sambung. Mulai dari dikucilkan dan disekolahkan di tempat yang berbeda, disembunyikan , pisah rumah dan tidak dianggap oleh Tiara.
"Kamu bisa masak Na?" Tiara memulai pertanyaan ketika mereka berdua sudah duduk di depan Tiara.
"Bisa tante... saya sering memasakkan beberapa makanan untuk mas Pram."
Di atas meja tamu itu sudah terhidang beberapa makanan kecil dan minuman teh dalam cangkit. Tiara mengambilnya dan meminta Nadia dan Pramoedya untuk menikmati minuman itu.
"Minumlah kalian!" Tiara memberikan perintah agar keduanya minum, dengan maksud untuk melihat bagaimana etika makan Nadia.
Tiara tersenyum melihat Nadia begitu anggun minum teh. Sementara Pramoedya memang minum dengan sikap seenaknya.
"Aleesha memang pintar mendidikmu... tidak salah dia menjadikanmu pengawalnya... kau juga bisa menjaga Pramoedya yang malang ini.." Ucapnya dengan nada yang terkesan melecehkan Pramoedya.
Nadia tersenyum sedikit tidak suka pada ucapan Tiara, Sementara bagi kedua pria itu seolah biasa saja ucapan Tiara yang melecehkan.
"Bagus... jadi kau tidak hanya tahu senjata dan berkelahi, Kau tahu etika bangsawan ... tidak salah Pramoedya menyukaimu... tapi kodrat wanita itu untuk melayani suaminya dan patuh pada suaminya. Jadi kau harus baik-baik padanya... kau tahu ayahnya bisa melakukan apapun padamu "
"Ya tante."
__ADS_1
"Sudah berapa lama kalian bersama? Bukankah kalian sempat putus ? Aleesha bertanya pada keduanya dengan tatapan tidak sukanya.
"Mama... bukankan mama sudah melamarnya dan setuju aku menikahi Nana." Pramoedya berusaha menetralkan keadaan. "jangan mendesaknya terus, ma?"
Pramoedya takut Nana menjadi ragu dan menolak pernikahan mereka karena keangkuhan Tiara. Cukup dirinya saja yang mengalami. Awalnya dia tidak mau membawa Nana ke rumah ini, tapi permintaan Nana untuk menemui orang tuanya dan mengenal sebagai calon menantu membuatnya menyetujui permintaan calon istrinya itu. Hanya Ayahnya yang antusias untuk pertemuan ini. Sedang Mama Tiara tampaknya hanya mematuhi permintaan suaminya.
"Pram... jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan menerimamu apa adanya termasuk keluargamu yang seperti apapun akan diterima... ini juga demi kebaikanmu Pram!"
Pramoedya terdiam dan matanya menatap Tiara dengan tidak suka.
"Katakan padaku Nana, apakah kau mencintai Pramoedya? " Tiara bertanya dengan mata menyelidik.
Ucapan itu terdengar biasa bagi seorang Nadia. Dia harus menata hatinya dan berperan sebagai perempuan yang layak bagi Pramoedya . Tidak ada cinta lagi di hidupnya. Cintanya dikalahkan oleh perempuan yang sudah meninggal. Ia harus fokus pada tujuannya.
Nadia harus berhasil menjadi bagian dari keluarga ini. Nadia tersenyum menatap istri dari orang nomor satu di negara ini. Wanita ini cukup disegani bahkan oleh orang sekelas Big Mama-pun tampaknya tidak mau menyinggungnya. Dia harus bisa menjadi istri Pramoedya dan mewujudkan cita-citanya menjadi bagian keluarga ini dan membalaskan dendamnya.
"Ya tante.." Nadia berkata tenang dan menatap Tiara tanpa ragu.
Jemarinya digenggam oleh Pramoedya. Nadia tersenyum pada pria yang menggenggam jemarinya. Pria yang tidak pernah dicintainya tapi mampu mewujudkan cita-citanya.
.Nadia tahu langkahnya ini ke depan memang berat, tapi mewujudkan cita-citanya dan membalaskan dendamnya . adalah lebih penting. Aku harus berhasil menjadi bagian keluarga ini. Lupakan cinta. Aku bisa melaluinya tanpa cinta.
"Ya tante.."
"Jelaskan yang kau ketahui! Darimana kamu mengetahui informasi itu?"
"Siap Tante.... Mas Pramoedya adalah anak bungsu Jendral Suhartono, dan tante yang membesarkannya, dari dia masih bayi hingga dia besar, namun saya tidak mengetahui siapa ibu kandungnya, karena mas Pram tidak pernah menyebutkannya... hanya seperti itu yang saya ketahui. Kami memang jarang membicarakan keluarga tetapi kami yakin jika kami bersama kami bisa saling menjaga dan menguatkannya.'
"Kau tahu... aku sangat membenci perselingkuhan?'
Deg...
Nadia terkejut ucapan Tiara padanya barusan. Apakah wanita ini mengetahui hubungannya dengan pria lain. Ataukah wanita ini sedang menebaknya. Apakah wanita ini seperti Jessy yang memiliki penglihatan dan bisa menebak isi hatinya.
Nadia kembali terbayang peristiwa seminggu yang lalu ketika ia bercinta dengan Adiguna di Pulau Bidadari. Nadia berusaha menghempaskan bayangan panas itu dan fokus pada wanita yang sedang menginterogasinya. Aku harus fokus pada Pramoedya. Tapi mengapa yang kulihat duduk di kursi itu adalah Adiguna. Setetes keringat jatuh dari dahi Nadia. Otaknya sudah mulai kacau. Mengapa yang duduk di kursi itu adalah Handoyo tapi versi tua. Aku sudah gila. Pikir Nadia.
__ADS_1
Bayangan Adiguna kembali muncul di otaknya. Dia tiba-tiba merindukan pria itu. Nadia merindukan hangatnya belaian dan ciuman panas mereka. Sialan. Kenapa di saat ini dia memikirkan Adiguna. Lupakan dia. Fokus. aku harus fokus pada tujuanku
Benar aku memang tidak mencintai pria yang menggenggam jemariku, tapi aku minimal bisa menjaganya. Sebaiknya kau perhatikan saja suamimu itu.Aku yang akan menembak kepalanya nanti, dan kau akan menyesalinya nanti.
Nadia tersenyum dan berusaha tenang. Dihelanya nafasnya pelan.
"Ya , tante... saya pikir semua wanita tidak suka jika miliknya diganggu apalagi direbut oleh wanita lainnya." Nadia berusaha berkata tenang dan bijak.
"Bagus, berarti kita sepaham... meski aku tidak terlalu menyayangi dia, tapi pantang bagiku untuk merestui wanita yang gemar berselingkuh... kau harus bisa setia pada suamimu dan besarkan anak-anak kalian bersama....Jaga dia dan jangan biarkan wanita lain mengganggu rumah tangga kalian.... mungkin jika ada waktu dan aku ada umur, aku akan mengunjungi kalian."
"baik tante."
"Apakah Aleesha masih tidak menyukaiku?'
Nadia mengerjap beberapa kali dan dia harus bijak berkata karena bila salah bicara bisa membahayakan posisi dirinya dan organisasinya.
"Maaf tante... Sesungguhnya Ibu Aleesha tidak pernah membahas apapun dengan saya yang berkaitan dengan tante dari dulu dan ketika mas Pram melamar pun , dia cukup terkejut ketika kami memutuskan akan menikah, karena dia pikir kami putus dan tidak pernah bersama kembali dan beliau memang tidak pernah membahas apa yang terjadi dengan tante. ..maaf tante... itu yang saya ketahui.
Jendral Suhartono tersenyum mendengar jawaban Nadia pada istrinya. Wanita ini cukup pintar berdiplomasi. Dia mampu menjaga Pramoedya dan mendampinginya. Wanita yang tenang dan cerdas.
"Aku merestuimu Nana... jadilah istri Pramoedya yang baik... pilihlah rumah yang tepat untuk kalian tinggali dan itu akan menjadi hadiah pernikahan kalian...!" Suara Jendral Suhartono mengalihkan tatapan Tiara yang seolah tidak rela jika Pramoedya mendapat hadiah rumah dari ayahnya.
Pramoedya akhirnya menatap ayahnya." Aku sudah punya rumah... terimakasih. Cukup berikan kami restu, itu sudah cukup bagiku!"
"Kamu juga anakku... itu hadiah, pilihlah rumah baru di kota Jakarta atau Bandung...Ini perintah!" Nana... bujuk suamimu untuk menerimanya!" Suhartono langsung berkata dengan sangat tegas dan seolah-olah keduanya sudah menikah. "Dan Nana, kau sudah berhenti bekerja kan pada Aleesha?"
"Saya sudah mengundurkan diri dari tugas saya sebagai assisten Ibu Aleesha dan ... saya sudah berhenti bekerja, nanti saya dan mas Pram akan membicarakannya semuanya dulu...terimakasih atas niat baiknya Om!"
Nadia sambil berkata pada Jendral Suhartono , ia menggenggam jemari Pramoedya dan seolah meminta pria itu menekan emosinya demi mendapatkan restu. Tampaknya pria itu memahami dan lebih tenang.
"bagus... aku merestuimu Nana... dan ingat pesanku, carilah rumah baru untuk kalian berdua, pilih tempat yang memiliki pemandangan bagus untuk menikmati kebersamaan kalian. rumah hasil pilihan kalian berdua..!'
"Terimakasih Om.." Nadia tersenyum manis sekali pada Pramoedya dan pria itu membalasnya .
*****
__ADS_1
Happy Reading Guys. Terimakasih telah membacanya. Semoga kalian semua sehat dan sukses selalu. Tetap semangat dan sehat selalu. Boleh tinggalkan jejak kalian di sini? Thank you.
"