
Semakin kita bersedia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan kita, maka semakin banyak kredibilitas yang kita miliki.dan diberikan oleh orang lain.
*****
Sekelompok polisi sudah siap di bagian depan dan belakan rumah Handoyo. Mereka bersiap di posisi mereka masing-masing dengan senjata di tangan mereka. Penyergapan itu dipimpin oleh Tim 5. Dan sesuai dengan kesepakatan, Ballawa menunggu di mobil sergap.
Sebelum menyergap rumah itu, Arief sudah menghubungi Abdulrahman, ketua RT tempat tinggal Handoyo. Aparat pemerintahan itu cukup terkejut ketika diberikan informasi oleh polisi bahwa di lingkungan dia telah tinggal "Cepot Berdarah" yang dicari-cari polisi.
Menurut Abdulrahman, pria yang tinggal di lingkungan mereka terkenal akan keramahannya dan ringan tangan terhadap setiap kegiatan dan berjiwa sosial. Meskipun pria itu jarang berada di rumah. Meski merasa tidak percaya pada informasi polisi,, namun ia harus mendampingi para polisi itu menjalankan tugasnya.
Reaksi pertama Handoyo ketika membuka pintu rumahnya adalah sebuah senyuman sinis. Ia melihat banyak sekali polisi yang mengepung rumahnya. Apakah para polisi itu tidak mampu meringkusnya dengan cara berbeda? Toh di depan dan bagian belakang rumahnya sudah banyak aparat yang mengepung dan dia tidak akan melarikan diri.
"Selamat malam Pak handoyo.... Anda harus kami tangkap karena anda terlibat beberapa pembunuhan di kota Lampung, Palembang dan Makassar, mari kita ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut!" Ini surat perintah penahanannya dan juga kami didampingi Pak RT untuk menyaksikan bahwa kami akan memeriksa rumah ini... mari pak, kita lakukan tugas kita... " Sapa Arief ketika Handoyo membuka rumahnya dan tersenyum sinis padanya.
Beberapa polisi yang dibelakang Arief dan menggunakan seragam langsung merangsek masuk dan membuat Handoyo menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda tidak suka atas tindakan mereka.
"Astaga..... pak polisi, perlu banget ya sampai membawa berapa kompi nih untuk menangkap saya... apakah saya semenakutkan itu?" Handoyo berkata sambil tersenyum sinis. " Aha.... ada Pak Rt silahkan masuk untuk menjalankan tugas mendampingi polisi memeriksa rumah saya... biarkan saja jika mereka mau mengobrak-ngabrik barang-barang saya...ha.. ha...
"maaf pak Handoyo... saya diminta menjalankan tugas, tapi saya percaya, bapak itu orang baik dan jika bapak adalah "cepot berdarah" seperti yang dikatakan oleh Bapak polisi inipun saya ikut bangga pada kebranian bapak membereskan para penjahat itu," Sahut Abdulrahman sambil menepuk pundak handoyo dan mengikuti beberapa polisi yang memasuki rumah dan menggeledah kediaman Handoyo.
Hampir satu jam polisi memeriksa bahkan sampai ke langit-langit rumah juga dibongkar, tetapi tidak ditemukan senjata yang diduga milik Handoyo bekerja dan topeng mirip cepot yang berwarna merah. Mereka hanya menemukan beberapa senjata yang digunakan Handoyo dalam setiap event pertandingan olahraga menembak.
"Pak Handoyo, kami mohon kerjasama Bapak.. dimana Bapak sembunyikan senjata dan topeng yang anda gunakan itu selama melakukan kejahatan? " Teriak Zaenal anggota tim 5 itu .
"Itu tugas anda yang mencari dan membuktikan, Pak.."Sahut handoyo santai.
__ADS_1
"baiklah jika anda tidak kooperatif.... anda akan menyesalinya nanti.... dan saya akan menyampaikan pada pengadilan bahwa Anda tidak mau kooperatif dan mengungkap kasus ini!" Sahut Zaenal dengan sedikit emosi karena ia cukup lelah menggeledah rumah, mobil dan halaman belakang rumah itu tapi tidak ada tanda-tanda barang-barang itu berada.
"Saya tidak mengerti maksud anda Pak Polisi... jika memang saya yang anda maksud sebagai "Si Cepot itu" maka anda yang harus membuktikan bahwa saya adalah orang itu,... masa saya yang dibilang tidak kooperatif, bukan saya yang harus membuktikan saya cepot tapi anda yang harus membuktikan orang yang anda tangkap adalah si "Cepot itu" ... jadi apakah masih mau menangkap saya?' Handoyo berkata sambil menyeringai menatap zaenal.
Handoyo masih menatap sinis pada belasan pria yang ada di dalam dan di luar rumahnya. Dia tidak gentar menghadapi mereka. Ada sedikit kebanggaan bahwa ia dicari dan dibicarakan banyak orang. Usaha dia berhasil untuk membuat dirinya terkenal di masa akhir hidupnya.
Lidya... kamu menungguku kan... "Bisik Handoyo dalam hatinya. Aku akan menyusulmu dengan penuh kebanggana.
Handoyo tidak menyesali apapun yang dilakukannya. Baginya membereskan keluarga Setiono dan beberapa penjahat di berbagai kota adalah suatu tindakan mulia. Dia tidak akan melawan para polisi ini dan hanya akan menyetujui apapun yang dituduhkan oleh polisi dengan jiwa tenang.
Tapi Para polisi itu yang harus membuktikan kesalahannya dan itu membutuhkan waktu dalam pembuktian. Belum lagi jika Alex akan mengirimkan pengacara hebat yang akan membebaskannya. Terlebih dia juga memiliki seorang sahabat yang pernah berjanji membantu untuk menjadi pengacaranya jika ia tertangkap.
JIka Kasusnya di buka ke masyarakat maka Warmen pasti datang membantunya dan berjuang bersamanya terutama jika menyangkut keluarga Setiono. Nama Mereka akan dibicarakan kembali oleh masyarakat dan dijadikan bahan pembicaraan yang menarik di kelompok-kelompok masyarakat. Dan kasus Setiono akan diangkat kembali .
Handoyo tersenyum kembali melihat para polisi itu yang berkordiansi dan mengatur agar membawa dia menuju kantor polisi di Jakata. Ketua Rt tempat tinggalnya hanya bisa menatap iba padanya, tapi ia tersenyum tulus pada pria yang sudah setengah baya dan sering ,mengajaknya beribadah tapi dia hanya menggelengkan ataupun membuat alasan untuk menghindari ajakan pria itu.
"Silahkan pak.... saya dengan senang hati di tangkap dan saya akan melihat bagaimana Anda membuktikan apa yang "Cepot"lakukan dan Bapak katakan pada saya bahwa saya adalah cepot itu. " Handoyo balas menatap pria di depannya yang tidak menggunakan seragam dengan pandangan sinis.
"Apakah Anda menolak ditangkap dan menolak bahwa anda adalah"Cepot Berdarah" ?' Tanya Arief kembali.
"Tidak... saya tidak menolak ditangkap ataupun dituduh apapun... saya hanya minta anda buktikan pernyataan anda... dan saya jika diajak pergi, saya pasti ikut apa kata petugas negara... saya akan patuhi!' Handoyo berkata seolah patuh dengan nada meremehkan.
"Kurasa anda punya jiwa psikopat juga, Pak handoyo,"Teriak John yang mulai terpancing emosi pada pria arogan itu.
"Termasuk perkataan anda, bahwa saya adalah seorang psikopat, maka anda juga harus buktikan dan ini akan semakin menarik.... ha... ha,,,,, "Ujar Handoyo sambil mengikuti para polisi yang menarik langkahnya.
__ADS_1
*****
Ruang Penyidikan markas Besar Polisi.
Handoyo berada di ruangan itu sendirian. Ia paham ruangan kaca di seberangnya adalah ruangan para polisi itu berdiskusi sebelum menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang akan menjebaknya. Ia tidak takut apapun. ia menunggu ini sudah lama.
Tidak masalah ia dipenjara beberapa waktu atapun dihukum seumur hidup, anggaplah ini liburan gratis dan dibiayai negara. Atau jika hakim memvonisnya dengan hukuman mati. Silahkan cari alat bukti itu sampai ketemu, tidak ada seorangpun yang tahu. Bahkan Alex dan udin juga tidak tahu dimana senjata dan topeng itu diletakkan.
Handoyo tiba-tiba teringat satu hal yang penting, semoga Jessy tidak membantu kekasihnya yang polisi untuk bantu mengungkap tempat senjata dan topeng itu. Hanya Jessy yang bisa membaca hatinya dan melihat dengan tepat dimana dia menyimpan senjata dan topeng itu. Semoga Jessy tidak membantu kekasihnya itu.
Handoyo kemudian memikirkan tempat lain untuk menyimpan memori senjata dan topeng itu. Jika polisi memang membawa Jessy padanya. Semua langkah harus dipikirkan. Coba saja mana yang lebih hebat, dirinya atau tim 5 itu!"
*****
Selamat membaca temans/
Terimakasih telah berbaik hati membacanya. Bolehkah tinggalkan jejak disini? Thanks ya
__ADS_1