Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
59. I Know She love me


__ADS_3

Ketika kamu pergi dan menghilang dari hidupku , aku  baru  menyadari bahwa hanya denganmu, aku  baru bisa merasa hidup. Maafkan aku  atas segala rasa sakit, amarah  dan luka yang kuperbuat, aku  selalu mencintaimu.


 


 


*****


 


 


Warmen tersenyum ketika  Dita, sang assisten menghubunginya telah mendapatkan rumah kontrakan yang letaknya tidak jauh dari toko tempat usaha Anneke dan teman-temannya di daerah Depok. Sang Assisten sibuk mencari informasi mengenai rumah yang dikontrak atau dijual dan letaknya tidak jauh dari kampus UI.


Rumah yang  akan dikontrak itu memang tidak besar tapi berada di tepi jalan utama Margonda dan letaknya strategis. Hanya 10 menit jika ditempuh dengan kendaraan untuk menuju ke toko "Tiga Sahabat"  Rumah itu memiliki 1 ruang tamu, 2 kamar tidur , dapur , kamar mandi dan garasi.  Rumah itu dikontrakan berikut dengan  perabotnya, Hal ini terjadi karena  pemilik sebelumnya dipindahkan tugas  ke Kota Banjarmasin dan tidak mungkin menjual barang-barang dan mereka berfikir jika kemungkinan beberapa tahun mendatang akan kembali ke Depok.


Begitu memperoleh informasi dari Dita, Warmen langsung menghubungi marketing perumahan dan menyetujuinya dan langsung membayar untuk mengontrak selama 2 tahun. Dalam perjanjian itu ia bersedia mengganti kerusakan tertentu  jika ada perabot yang rusak ketika akhir serah terima rumah dan perabot ke tangan pemilik rumah.


Pikiran Warmen sudah lebih tenang karena sudah mendapatkan tempat tinggal di kota Depok, Ia memilih untuk mengikuti kemauan Anneke dahulu sebelum wanita itu bisa memaafkan kelalaiannya beberapa waktu yang lalu. Harga yang mahal untuk sebuah maaf, tapi ia tidak keberatan daripada Anneke memilih berpisah dengannya.


Setelah menerima kunci rumah, ia memilih segera menjemput Anneke ke toko tempat Anneke dan teman-temannya berkumpul menjalankan usahanya. Sebelum mampir, Warmen berhenti di sebuah toko roti untuk membeli beberapa roti dan sebagai hadiah perkenalan dengan teman-teman Anneke.


Tadi  siang selepas mengantar Anneke berbelanja barang-barang kebutuhan toko, Warmen  meninggalkan Anneke di depan toko karena harus melihat rumah yang akan di kontrak. Sebenarnya ia sudah mengajak Anneke, tapi wanita itu menolak karena masih banyak pekerjaan yang harus ditangani. Sedikit kecewa pada tindakan istrinya tapi Warmen memilih untuk mengalah daripada Anneke tidak mau bersamanya kembali.


Anneke, Devon dan Lira masih berdiskusi menambahkan mencatat perubahan harga karena beberapa barang harus mengalami kenaikan.  Diskusi itu terhenti karena Abud yang merupakan salah satu pegawai memanggil Anneke dan membuat mereka bertiga berhenti diskusi.


"Mbak Anne, " Panggil Abud.


Anneke langsung menoleh dan diikuti oleh kedua temannya yang sedang serius langsung menoleh ke arah suara. Dan pandangan mereka sama sama tidak suka karena fokus mereka pada pekerjaan harus terpecah.


"Ada yang nyari ibu di depan... tuh orangnya yang ngangkat kotak roti itu," Abud berkata sambil tersenyum menunjuk Warmen yang berdiri di dekat kaca etalase barang bagian depan.


"Hah... Bang Warmen sudah datang lagi!" Anneke refleks langsung mengenali suaminya yang terkadang bertingkah seenaknya.


"Ne... kamu mau nemuin  dia atau aku yang ngusir nih... Suamimu itu kemarin susah kan diusirnya ," Sahut Devon tegas dan bersiap berdiri dari kursinya untuk menghampiri Warmen.


"Jangan Von... biar aku yang menemui dia ya... gak papa ko .... aku ... " Anneke meraih lengan Devon yang seolah meminta pria itu kembali duduk di kursinya.


Ucapan Anneke yang penuh keraguan itu langsung dapat dipahami oleh Lira dan Devon, sang sahabat. Mereka memahami bahwa Anneke memang bahagia akan kedatangan suaminya itu.


"Pasti kamu sudah memaafkannya kan, Ne ?" Ledek Lira sambil terus tersenyum. "Sudahlah Von, tidak baik kita memisahkan ibu hamil dengan suaminya,... sudah sana temui dulu suamimu... dan jika boleh kenalkan dengan kita , dong !" Biar kita makin akrab dan jika ada apa-apa kan kita bisa minta bantuan hukum dari suamimu itu!"


"Iya Ne.... sana temui dulu... ajak suamimu  untuk duduk dan ngobrol bareng kita!"  Devon akhirnya mendukung sahabatnya itu yang ragu dan terus menunduk.


Anneke akhirnya bangkit dan tersenyum pada pria yang menantinya di depan toko. Dibukanya pintu kecil  toko sehingga bisa mengajak Warmen masuk ke dalam toko.

__ADS_1


Senyum di wajah Warmen membuat lesung pipinya terlihat sempurna dan makin membuatnya semakin berkharisma. Dua pegawai di toko yaitu Abud dan Sisil  langsung terlihat bercakap-cakap sambil memperhatikan Warmen.


Anneke tahu bahwa ini adalah saat yang tepat mengenalkan suaminya pada teman-temanya dan pegawai tokonya.


"Bang Warmen.... "Panggil Anneke pelan ketika lelaki itu menghampirinya.


"Ya sayang.... apakah aku boleh masuk ke dalam toko?"  Warmen ragu memasuki pintu kecil itu karena kedua pegawai itu masih memperhatikannya, hingga Anneke menggandengnya dan menariknya masuk.


"Bang Warmen, aku kenalkan dengan teman-temanku ya,   yang ini  adalah  mas Abud dan yang satunya mbak sisil... mereka semua membantu kami dalam membesarkan toko kami dan menjadi seperti ini,"   Anneke berusaha mengenalkan suaminya pada kedua pegawai tokonya.


"Hai.... aku Warmen," Sahut Warmen sambil mengulurkan tangannya pada mereka berdua. Kebetulan toko lagi tidak ada pembeli tapi ada banyak pekerjaan fotocopi yang dititipkan oleh para pembeli dan beberapa berkas dan copian yang harus dijilid. Kedua pegawai itu tersenyum dan menyalami Warmen karena pria itu mengulurkan tangannya dengan hangat pada mereka.


"Wah ....gak nyangka ya... suaminya mbak Anneke adalah pengacara terkenal," Sahut Sisil santai. "Dia kan pengacaranya "cepot berdarah " Itu!"  Benerkan Mbak Anneke,"


"Iya saya memang pengacara  tapi saya sudah berhenti gak jadi pengacara si Cepot?" Jawab Warmen pendek.


"Kenapa mas? Kan sayang... kasian si Cepot itu !"   Dia akhirnya di penjara di Nusa Kambangan," Timpal Abud.


"Ya memang kami ada beberapa hal yang prinsip dan kami bertentangan... maaf ya.... saya ke dalam dulu," Sahut Warmen santai dan melangkah mengikuti Anneke yang agak menariknya untuk menemui teman-temannya.


Ketika mendekati meja di bagian belakang toko, Devon dan Lira langsung berdiri dan tersenyum ramah menyambut kedatangan Warmen.


"Hai.... "Sapa Warmen hangat dan langsung mengulurkan tangan kanannya pada Devon yang langsung diterima oleh Devon dengan hangat.


"Maaf yang kemarin ya Bang," Devon berusaha melupakan pertemuan awal mereka yang nyaris bertikai.


"Iya bang... makanya abang jangan tidak peduli sama istri dan anak abang... tadinya kami berencana mencarikan pengganti abang untuk menjadi ayah dari anak ini, tapi Anneke gak mau.... dia cuma mau sama abang doang!" Ledek Lira sambil melirik Anneke yang sibuk membagikan roti pada teman-temannya dan akan beranjak membagikan pada kedua pegawainya.


"Ya iyalah... Cause I Know, She Love me forever, " Warmen berkata dengan yakin dan membuat Anneke hampir memukul lengan suaminya. Pukulan tangan itu langsung diraih Warmen dengan senyuman pada istrinya.. "Maksudku , Lira dan Devon...... Cause I Know, I Love her forever!"


"Ih abang deh... gak ada malu-malunya deh!"


"Kenapa malu? Memang aku mencintai istriku selamanya dan aku yakin istriku juga sama sepertiku," Sahut Warmen sambil terus menatap wanita hamil yang sedang merah padam karena menahan malu di depan para sahabatnya.


"Bang.... apakah abang mengijinkan Anneke tetap bekerja bersama kami? Devon akhirnya bertanya langsung pada pria itu karena ia sangat mengkhawatirkan bahwa Warmen tidak mengijinkannya.


"Asal Anneke bisa menjaga kandungannya dan setelah bayi ini lahir, dia  juga  harus kembali kuliah karena aku akan membantu kalian agar cita-cita istriku tercapai.. mungkin kita cari orang yangbisa dipercaya untuk mengelola ke depannya," Ujar Warmen dan disambut senyuman oleh ketiga sahabat itu.


Mereka berempat terus bercakap-cakap hingga waktu hampir pukul 21.00 dan para pegawai akan menutup toko dan lira sudah dijemput oleh sopirnya.   Devon akhirnya dapat menutup toko tanpa harus mengantar Anneke pulang ke kost.


Anneke akhirnya mengikuti langkah Warmen memasuki mobilnya. Anneke masih belum mengetahui bahwa Warmen akhirnya mendapatkan rumah kontrakan untuk mereka tempati malam ini.


"Bang .... kita pulang ke kost Anne kan?" Anne gak mau pulang ke rumah abang  Lho!"


"Oke... tapi bisa bantu abang sebentar menemui seseorang malam ini,Ne?"  Bujuk Warmen sambil tersenyum pada istrinya yang baru memasuki mobil.

__ADS_1


"Abang mau temui siapa sih?"


"Ntar juga tahu, tapi ini penting untuk keluarga kita ..... Ne, kamu lapar gak ?'


"Ih tadi kan kita makan banyak roti bang..... Apakah abang masih  lapar ya? Abang kan  selama ini gak bisa nahan lapar kalo belum ketemu nasi...ya kan?" Ledek Anne pada suaminya.


"Salah deh sayang ,  abang  sekarang sudah bisa nahan lapar ... yang abang gak bisa nahan adalah  kalo abang gak ketemu kamu, Ne..."Sahut Warmen sambil menjalankan kendaraannya.


"Dasar gombal mulu deh, dari tadi...


"Aku beneran lho Ne, .......  Aku tidak sedang menggombal ataupun apalah itu .....Ketika kamu pergi dan menghilang dari hidupku , aku baru menyadari bahwa hanya denganmu, aku  baru bisa merasa hidup. Maafkan aku  atas segala rasa sakit, amarah  dan luka yang kuperbuat, aku  selalu mencintaimu.... jadi bisakah kamu memaafkanku ?"


 


 


*****


 


 


 


 


 


Happy Rading Guys. Terimakasih telah membacanya dan bolehkan tinggalkan jejak kalian disini?"


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2