
Satu di antara hal terbaik yang kamu dapat ketika menghadapi sebuah masalah adalah kamu bisa melihat siapa saja yang memang teman sejatimu."
*****
Handoyo sedang berdiri dan memegang papan hitam bertuliskan namanya. Ia difoto dari berbagai sudut dan mengikuti arah dari fotografer lapas. Prosedur yang harus dilakukannya ketika awal memasuki lembaga permasyarakatan Kelas I Batu, Nusa kambangan.
Setelah sesi foto, Handoyo diminta memasuki ruangan kepala sipir untuk menandatangani berkas -berkas berkaitan dengan penahanan selama 7 tahun ke depan. Langkahnya di kawal salah satu petugas jaga dan diantar menuju ruangan keapa sipir. Ruangan itu berukuran 4 x 4 meter. Semua bangunan di sini semua menggunakan teralis dan penjagaan ekstra ketat.
Hampir semua narapidana yang masuk ke sini adalah napi kelas kakap dan memang diperlukan penjagaan dan pengawasan yang maksimal selama menjalani hukuman. Letak lapas yang terpisah dari lokasi pemukiman penduduk dan memang menjadikan semua warga binaan dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Pintu itu diketuk oleh petugas yang mengantar Handoyo dan setelah dipersilahkan masuk, petugas itu meminta Handoyo masuk sementara dirinya hanya berjaga di luar ruangan. Handoyo memasuki ruangan yang terdiri dari sofa dan meja kerja di tengah ruangan itu. Tampak pria paruh baya sedang meneliti tumpukan berkas. Pria itu mengingatkan Handoyo pada seseorang tapi kemudian ia abaikan.
"Duduklah Handoyo... sebentar aku meyakinkan dulu surat dari keponakanku !" Ujar pria paruh baya itu sambil mencari kertas yang dimaksud dan mencarinya di laci.
"Baik pak... terimakasih Pak, " Sahut Handoyo pelan sambil menarik kursi didepan meja kepala sipir itu dan menunggu beberapa saat.
Pria itu mengeluarkan sebuah surat dan mengambil sebuah foto kemudian memandang Handoyo secara mendalam. Dia kemudian tersenyum ramah ketika melihat kesamaan foto.
"Kenapa kau tidak menggunakan keponakanku sebagai pengacaramu? Kenapa kau memilih si Dede sehingga kau harus berakhir di sini, Handoyo?"
"Keponakan bapak?" Maksud Bapak...? Apakah Warmen Paris Sitompul?" dia keponakan bapak?" Handoyo terpaksa mengira-ngira karena melihat sekilas pria ini akan cocok sebagai ayah Warmen.
"Ya... aku adalah bapak tuanya... Aku tidak bisa menghadiri upacara pemakaman keluarga dia, saat itu aku ada tugas di Perbatasan mengurus salah seorang napi yang kabur hingga ke Malaysia, Ponakanku berpesan agar aku menjagamu, karena kau yang membantunya memakamkan keluarganya.... silahkan kau baca surat si Warmen ini dan ada foto kau dengan si Warmen... kalau kau menggunakan jasa dia, pasti kau tidak perlu berakhir disini... tapi sudahlah itu pilihanmu!"
"Sebenarnya beliau yang banyak membantu saya, pak... tapi saya ada janji terlebih dahulu dengan pengacara satunya dan juga saya merasa tidak enak jika menggunakan jasa Warmen , nanti dia tidak bisa mencari istrinya...
"Maksudmu si anak brengsek itu sudah menikah?" tidak sopan sekali, Dia bahkan tak mengundangku bahkan meminta restuku?" Kepala sipir itu berkata dengan agak marah.
__ADS_1
Handoyo terkejut dan merasa bersalah pada Warmen yang memang berupaya membantunya agar dia dapat melewati masa hukuman di sini.
"Bukan begitu maksudku, Pak.... saya selalu menyebut kekasih Warmen itu sebagai istri... saya juga belum tahu apakah mereka sudah menikah atau belum karena saya tidak menerima undangannya... cuma yang saya tahu, Warmen sangat sayang sama wanita cantik itu.....dan kemarinan dia kehilangan kekasihnya karena dia itu tidak mendapat telpon atau mendengar suaranya... begitu maksudku,"Elak Handoyo dengan sedikit berbohong demi menyelamatkan Warmen.
"Oh kalo pacar itu memang si Warmen itu punya banyak..... Jika dia bilang cuma satu pacar, pasti dia berbohong....syukurlah jika dia masih menghargai aku sebagai bapak tuanya.... nah berhubung kau baru di sini seharusnya kau masuk isolasi hitam di tengah hutan jati sana , tapi karena kau dijamin oleh si Warmen, belum lagi aku dapat "Notice" kau ini hanya titipan sementara dari kadis lapas tingkat propinsi dan sewaktu-waktu akan dapat dipindah ke penjara di kota Bandung, maka aku tetapkan kau di isolasi hijau saja... itu pilihan terbaik saat ini dan kau disana hanya sendiri, tapi mendapat makan sehari 3 kali dan kau kena kerja bakti di kebun... bagaimana?"
"terserah bapak saja... saya ikuti aturan saja...
"Dengarkan itu pilihan terbaik cuma memang melelahkan, napi lain baru bisa ke isolasi hijau jika kau sudah di sini 2 tahun?"
""Oh baik pak.. terimakasih pak," Sahut Warmen dengan gembira.
"Sekarang kau tanda tangani semua berkas, jika ada apa-apa, kau temui sipir yang bertugas di luar itu, dia adalah pengawasmu selama 6 bulan ini. Kuharap kamu bisa bertahan dan ikuti aturan dengan baik disini!"
"Baik pak.
*****
Selama 6 bulan ke depan Indra yang akan menjadi pengawas dan pembuat laporan kegiatan Handoyo di lapas. Ada beberapa berkas yang harus Handoyo ingat tadi ketika ia menandatangani sejumlah berkas tadi. Rincian itu harus diingat jika tidak maka tidak ada makanan di hari itu.
Setiap pagi warga binaan diharuskan bangun dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Semua rutinitas itu termasuk mandi pagi dan kegiatan pribadi lainnya harus diselesaikan sebelum pukul 06.00 .
Selanjutnya ia harus apel pagi di depan bangunan isolasi mengikuti upacara dan senam pagi bersama dengan para anggota. Sarapan baru tersedia pukul 08.00. makan siang pukul 12.30 dan makan malam pukul 18.30. Kegiatan di kebun harus dilakukan dimulai pukul 09.00 sampai 11.00 dan pukul 14.00- 16.00. Rutinitas yang akan dijalani Handoyo selama beberapa waktu ke depan sebagai warga binaan.
"Sekarang kamu istirahat dulu, sebelum makan malam pukul 18.30.... hanya hari ini kamu bisa lebih santai. Besok semua kegiatan sudah wajib kamu ikuti.... saya tidak peduli kamu titipan siapa? Yang penting kebun jagung di samping kiri dan kanan itu tanggungjawab kamu dan wajib berbuah dalam 6 bulan ini... besok kamu akan diajari bagaimana menjadi petani jagung!'
"Baik Pak Indra... terimakasih atas nasihat dan bantuannya," Sahut Handoyo.
Indra meninggalkan kamar isolasi itu dan membiarkan Handoyo beristirahat. Ruangan yang ditempati Handoyo itu memiliki jendela di bagian atas dan diteralis. Pintu ruangan itu juga di teralis. Di kamar itu hanya terdapat satu buah kasur tipis di lantai dan meja kecil yang terdapat 1 buah teko dan 1 buah gelas plastik. Ada ruangan kecil di pojok berupa kamar mandi sekedarnya. Cukup memprihatinkan, namun Handoyo tersenyum mengingat satu bulan lagi ada yang menjemputnya.
__ADS_1
Lelahnya perjalanan hari ini membuat Handoyo langsung terlelap tanpa membersihkan diri dahulu. Sesungguhnya tubuh dan hatinya begitu lelah. Ia merindukan Lidya yang sudah meninggal dan terus menghantuinya. Tidur
nya membawa ke dalam lorong gelap dan alam bawah sadarnya.
Handoyo merasa nyaman ketika Lidya datang dan berbaring di sampingnya memeluknya erat. Wanita itu naik ke atas tubuhnya dan menyentuhnya lembut.
"Han, kamu kangen lidya kan?"
"Kangen sekali sayang.... kemana saja sih kamu?" Sahut Handoyo sambil menarik Lidya ke pelukannya.
Bujukan dari suara lembut Lidya membuat Handoyo makin terlena dan tak sadarkan diri pada alam mimpinya. Sensasi manis dan kenikmatan hadir membangkitkan gairahnya yang lama tidak tersalurkan.
Dibaliknya tubuh wanita itu dan dirobeknya pakaian Lidya. Dalam sebuah kecepatan yang mampu Handoyo lakukan dan erangan suara Lidya pun hadir di telinga Handoyo, rasanya begitu menggairahkan dan membakar aliran darahnya .... hingga sebuah gedoran pintu kamarnya membuat Handoyo tersentak dan bangun dari mimpinya.
"Aah..... "Handoyo berteriak kesal karena mimpi indahnya terganggu dan Lidya menghilang. Kesal dan marah hadir di kepala Handoyo. Tidak mudah mendatangkan Lidya di mimpinya tapi entah siapa menggedor dan mengganggu mimpinya barusan. Benar-benar menyebalkan!'
*****
Happy Reading Guys, Bolehkah tinggalkan jejak kalian di sini? Thanks a lot ya.
__ADS_1