Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
65. Get Closer


__ADS_3

Aku pernah ada di titik terendah di hidupku hingga akhirnya aku  bisa mengambil satu prinsip untuk tidak boleh takut terhadap apapun dalam  menentukan jalanku nanti  karena pada akhirnya hanya diriku sendiri yang paling peduli pada masa depan dan harapanku."


 


*****


 


 


 


Pagi hari di Kota Semarang. Jam sudah menunjukkkan pukul 06.05.  Nadia akhirnya terbangun dari tidur lelapnya. Selimut masih menutupi tubuhnya yang masih berbalutkan jubah mandi.


Seingatnya tadi malam dari kamar mandi, ia langsung berbaring dan terlelap tidak terlalu lama, dan  tidak menggunakan selimut.


Pagi ini selimut sudah menutupi seluruh tubuhnya, apakah karena rasa lelah  ini aku  langsung terlelap di ranjang. Nyaman sekali tidurnya kali ini. Apakah ini semua karena tugasnya karena sudah beres?"


Akh... mungkin Handoyo yang menyelimutinya.   Nadia menoleh ke sebelah kirinya. Kosong. Kemana dia? " Apakah sudah pergi ataukah dia tidak tidur di kamar ini?


Akhirnya Nadia berupaya duduk dan melihat seluruh bagian ruangan kamar itu. Dilihatnya seorang pria tidur dengan tidak nyaman di sofa yang panjangnya tidak bisa menampung tubuh besarnya. Kakinya menggantung di pinggiran sora. Dia hanya menggunakan bantal saja dan masih tertidur.


Nadia tersenyum melihat pemandangan itu . Ternyata Handoyo adalah  pria yang baik dan sopan. Dia menghargaiku meskipun menurutku tampangnya sedikit menyebalkan, sulit diatur  dan  rasanya pria itu seperti orang bodoh tapi memiliki keahlian yang luar biasa. Benar perkiraan Big Mama, Handoyo akan menjadi aset organisasi jika ia bisa bergabung dan dikendalikan.


Akhirnya Nadia memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan aktifitas paginya serta berganti pakaian. Ia harus bersiap jika sewaktu-waktu Big mama menyuruh anak buahnya datang dan mengontrol mereka. Selepas  merapihkan diri , Nadia melihat Handoyo masih terlelap dan kakinya masih menggantung di sofa itu.


Tanpa sadar ia melangkah menuju sofa itu. Diamatinya Handoyo yang masih terlelap dan Nadia tersenyum memandang pria itu kembali. Penasaran dengan wajah Handoyo lebih dekat, Nadia mencondongkan tubuhnya agak lebih dekat dengan pria yang masih terlelap itu.


Pria itu kelihatan seperti pria  dewasa yang agak berbeda ketika ia tidur.  Matanya terpejam, garis rahangnya Handoyo terlihat sangat tegas, ia memiliki alis yang tebal dan hidung yang mancung. Kulitnya kecoklatan tapi bersih. proporsi tubuhnya yang tinggi dan atletis.


Seandainya kita bertemu dalam keadaan normal  dan bukan di dalam organisasi ini, mungkin aku bisa jatuh cinta padamu.


"Kamu sepertinya orang baik, wajahmu itu  bagus tapi kenapa kamu bisa menjadi seorang pembunuh bayaran?" Tidak cukupkah membunuh orang yang  memang melukai keluargamu saja, tapi malah menjadikan itu pekerjaanmu,' Gumam Nadia pelan.


Tiba-tiba mata Handoyo terbuka dan itu mengakibatkan  Nadia terkejut dan ia refleks memundurkan tubuhnya.  Membuat pria itu tersenyum padanya karena melihat Nadia yang berada dalam jarak sangat dekat dengannya.


"Apa yang akan kau lakukan tadi?"  Kau ingin menciumku ya?"  Handoyo berkata dengan suara seraknya karena baru bangun tidur dan kemudian ia mengulet .


"Enak saja!" Terlalu percaya diri sekali kamu, Mas Han.... aku cuma mau membangunkanmu dan menyuruhmu pindah ke ranjang saja!"


"Telat Nad .... harusnya tadi malam.... kau sih enak  langsung tidur, badanku patah-patah nih tidur di sofa kecil, besok-besok kita pesan yang double bed dong !" Handoyo sudah terduduk di sofa itu, sambil menggerak-gerakan pinggangnya dan membunyikan bagian tubuhnya yang terasa penat.   Kretek... kretek.


"Kenapa Mas handoyo  tidak bangunkan aku tadi malam ?"


"kau sepertinya kelelahan tadi malam  dan agak sensitif, jadi kupikir aku mengalah saja tidur di sofa.... Nad, hari ini kita harus ngapain?" Apakah ada tugas lagi?"

__ADS_1


"Kau boleh tidur di ranjang yang sama denganku, tapi hanya untuk benar-benar tidur. Bukan yang lainnya ya, maksudku.... hari ini kita akan menikmati kota Semarang sambil menunggu informasi tugas yang akan dikirimkan oleh orang kepercayaan Big mama,  kita dilarang ke Jakarta sebelum Big Mama memanggil kita dulu !"


"Baiklah.... kalau begitu, bolehkah  aku bertanya tentang kejadian semalam?"


"Kejadian semalam?" Nadia  tak sadari menggigit bibirnya. "Maksudmu?"


"Apakah di setiap misimu, kamu harus totalitas seperti itu, sampai harus menemani pria tua ? " Maaf.... kau boleh tidak menjawabnya jika kau keberatan!"  Aku cuma agak khawatir semalam, bagaimana jika aku terlambat hadir di kamar itu, apakah kau harus melayani pria itu?"


"Ya begitulah... semua harus kau lakukan semuanya dengan berani dan totalitas!" Terimakasih semalam kau sudah datang tepat waktu!"


"Kenapa kau bisa ada di organisasi ini, Nad?"


"Kau akan mengetahuinya nanti.... intinya organisasi ini bisa mencukupkan keuanganmu dan melindungimu dari berbagai serangan dari pihak lain,  tapi kau harus loyal pada Elang hitam dan terutama Big Mama!"


"Apakah jika kau memiliki pilihan, kau takkan memasuki organisasi ini, Nad?"


"Mas handoyo, semua orang itu  seharusnya memiliki pilihan, tapi aku memang tidak pernah mendapatkan itu .... tapi aku tak menyesalinya sekarang  dengan ikut organisasi ini, aku bisa melakukan apapun dan  memiliki apapun dan akan mewujudkan satu hal penting di hidupku, tapi menunggu waktu yang tepat!" Sudahlah... nanti jika kau sudah lama di organisasi ini, kau akan mengetahuinya, satu pesanku, jangan sampai kau bertanya pada orang yang salah."


"Orang yang salah?" Maksudmu ?"


"Lihat dan amati saja dulu, Mas han !"


"Baiklah... terimakasih atas nasihat dan pendampingannya."  Maaf soal semalam, seharusnya aku bisa lebih cepat dari yang semalam tapi aku tak tahu kau harus  totalitas seperti itu.... lain kali kau harus menceritakan detail rencananya, kau bisa percaya padaku, Nad!"   JIka ingin  kita selalu berhasil dalam setiap tugas yang diberikan ?"


"Apakah kau mau jadi rekan kerjaku terus, mas Han?"


" Aku  sekarang akan selalu percaya padamu , Mas handoyo... tapi apakah kau bisa mempercayaiku ?" Bukankah kau juga tidak pernah mempercayai orang lain, termasuk Alex dan udin yang sudah beberapa kali  melakukan tugas bersamamu?" Tidak ada  satupun yang mengetahui topeng dan senjata itu.... kau menyimpannya sendiri!"


"Entahlah.... selama ini, aku selalu bekerja seorang diri... jika dibantu orang lain, dia hanya melihatku dari jauh dan tidak  ada yang turun langsung seperti bekerja denganmu.... kita  seperti sedang  berjuang bersama.... seperti rekan kerja  beneran  yang kita lakukan  itu jika di kantor sepertinya kerja tim itu.....  jadi semuanya  hal yang  berbeda  dan  aku baru pertama kali melakukannya karena aku tidak pernah punya tim.


"Maksudmu, kau tak bisa kerja tim dan tidak bisa percaya pada orang lain?"


"Bukan begitu .... aku akan mencoba belajar percaya padamu, Nad...   jadi jika  nanti ada ucapanku yang menyinggungmu,  Nad.... katakan saja, jangan pendam dalam hati.... aku terkadang tidak tahu jika ada orang yang marah atas ucapanku!"


" Baiklah.... kita bisa menjadi rekan kerja dan kita akan saling dukung!" Nadia berkata sambil mengulurkan tangannya dan menghampiri Handoyo yang sedang duduk di kursi.


Handoyo menatap uluran tangan Nadia yang memanggilnya berbeda "Hai partner ?"


"partner?"


"Iya partner itu kan rekan kerja?"


"Apakah setiap rekan kerjamu bisa melihat dirimu  telanjang seperti semalam? Sudah berapa kali kau melakukan itu?" Handoyo penasaran dengan latar belakang Nadia yang rela mengorbankan dirinya demi organisasi dan merasa wanita itu rela melakukan apapun  untuk setiap misi.


"Mas Han, selama ini aku juga bekerja sendiri dan kau adalah rekan kerjaku yang pertama, dan kejadian semalam itu sesungguhnya  adalah misi keduaku, dan jika mengingat itu , aku  juga canggung kepadamu... jika boleh bisakah tidak membahasnya lagi!"

__ADS_1


"Maaf.... aku hanya agak kaget melihat besarnya pengorbananmu untuk organisasi ini, Nad !"


"Aku pernah ada di titik terendah di hidupku hingga akhirnya aku  bisa mengambil satu prinsip untuk tidak boleh takut terhadap apapun dalam  menentukan jalanku nanti  karena pada akhirnya hanya diriku sendiri yang paling peduli pada masa depan dan harapanku.


Telepon di kamar hotel itu berbunyi nyaring, hingga membuat keduanya tersentak. Nadia melangkah menuju meja tempat telephon . Diangkatnya telephon dan ia hanya berkata sangat pendek. Ya.


" Kita sudah di tunggu mas Han.... bisakah kau mandi cepat dan sarapan di resto hotel 15 menit lagi?"


"Siapa yang menunggu kita, Nad ?" Handoyo heran sudah ada yang menunggunya di pagi hari ini.  Benar-benar harus selalu siap siaga menunggu setiap tugas yang belum jelas di pikirannya.


"Steven.... dia menunggu kita di restoran dan mengajak sarapan bersama!"


"Baiklah, aku juga ingin mengenalnya ... aku mandi tidak lama!"


"Aku tunggu disini.


 


 


 


*****


Happy Reading Guys!"


Terimakasih telah membacanya, dan bolehkah kalian tetap meninggalkan jejak kalian disini?


Terimakasih ya atas segala komentar, vote, like dan supportnya selama ini !


Tuhan berkati kalian semua di setiap aktifitas kalian !"


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2