Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
85. Love is complicated


__ADS_3

Sesungguhnya perasaan itu tidak pernah rumit, tapi orang-orang lah yang membuat rumit dan berbelit-belit. Aku ingin menjadi diriku yang dulu yang begitu mempercayainya, tapi aku tak bisa.


Aku tak percaya aku pernah sangat mencintainya dan sekarang aku membencinya.


 


*****


 


 


Handoyo dan Nadya tersenyum ketika akhirnya mobil mereka memasuki  garasi parkiran sebuah rumah besar di bilangan Jakarta Pusat. Nadya segera turun dari mobil dan melaporkan kedatangannya, sedangkan Handoyo berusaha menenangkan hatinya dengan menarik nafas panjang ketika akan keluar dari mobil.


"Selamat Siang Mbak Nadya, akhirnya nyampe juga... mau ketemu ibu Alesha sekarang?" Tapi  ibu lagi sama Bapak ketemu family bapak yang dari Surabaya, jadi mungkin agak lama nunggu dulu ya, mbak!"   Sapa petugas yang sedang duduk di teras dan mendata setiap tamu yang datang.


"Selamat Siang Pak Pram... ini mau ketemu ibu sekalian mengantar teman saya yang membawa pesanan ibu sih.... bentar ya teman saya masih mengeluarkan barang dari mobil, jadi tunggu ibu selesai saja urusannya, ntar kami menunggu di teras samping ya pak?"


" Baik Mbak Nadya,  Habis tugas luar kota ya mbak?"


"Iya, perusahaan ibu mau tambah produksi dan mau buka cabang di beberapa kota sih rencananya," Sahut Nadya kepada petugas itu


Nadya sudah menanti Handoyo di teras rumah dimana dua orang penjaga rumah sudah berdiri menunggu kehadirannya dengan tidak sabar karena Handoyo belum keluar dari mobil dan mengeluarkan beberapa barang dalam kotak titipan Kiyai Umar.


"Mas Handoyo, apakah perlu kubantu?" Nadya menawari karena melihat  Handoyo membawa dua kardus cukup besar.


"Makasih Nad, gak berat sih, tapi memang terlihat dus ini besar jadi... santai aja!" Handoyo berkata sambil membawa dua dus titipan kiyai untuk Big Mama.


Dus-dus itu diletakkan di meja samping dua petugas dan membuat dua petugas itu bertanya apa isinya. Nadya dan Handoyo berpandangan dan mereka sedang berfikir alasan yang diberikan kepada dua penjaga itu.


"Maaf Mbak Nadya, barang ini harus dibuka disini? Karena Jendral  tidak ingin kita menerima barang yang tidak diketahui, Bagaimana jika ternyata berbahaya bagi keluarga ibu  dan lagipula kami tidak mengenalnya?" Seru Penjaga mencegah Handoyo masuk.

__ADS_1


"Tapi barang-barang  ini titipan Kiyai Umar  yang merupakan orang kepercayaan ibu Aleesha ... bagaimana jika salah satu dari kalian melaporkan kedatanganku dan memberitahukan ke Ibu Aleesha  bahwa aku membawa titipan dari kiyai Umar?"


"Baiklah... kalian tunggu saja disini, aku akan melaporkan ke ibu ."


Tidak berapa lama setelah Pramodya masuk ke dalam rumah dinas milik Jendral Gaffar, ia kembali lagi dan meminta keduanya masuk ke dalam rumah dan membawa barang-barang itu ke ruang tengah .


Nadya dan Handoyo memasuki rumah itu dan mengikuti langkah Pramodya. Setibanya di dalam rumah, terdengar suara sapaan riang dari Jendral Gaffar.


"Ah... Nadya, kupikir kamu kemana ,tidak pernah kelihatan mendampingi istriku, ternyata habis jalan-jalan ke Bengalis ,.." Bagaimana kabar kiyai Umar?" Harusnya kamu bilang padaku, ,,, emh ini siapa? Sepertinya aku baru melihatnya,"  Jendral Gaffar menatap Handoyo dengan tatapan menyelidik.


"Ah... abang Gaffar...., dia adalah salah satu murid dari kiyai, dia akan bekerja di kantorku, namanya Adiguna ... oh ya Nadya, coba buka titipan kiriman dari kiyai untuk kita !"  Aleesha menyela berusaha membantu Handoyo dan menghentikan penyelidikan yang dilakukan suaminya pada Handoyo.


Nadya membuka kardus pertama yang ternyata beberapa barang milik Aleesha di pesantren ketika masih menempuh pendidikan di sana. Di dalam dus itu terdapat juga ada 3mpat pigura berisi foto  foto Aleesha dan Gaffar yang sedang berpelukan dari berbagai gaya. selain itu ada foto Aleesha dan Yona sang sahabat yang sedang saling merangkul erat.


Kedua pasangan itu saling bertatap dan Gaffar berusaha mengambil pigura itu. Selama beberapa tahun terakhir hubungan suami istri itu mendingin dan jarang berbicara satu sama lain. Mereka hanya bersama ketika ada keperluan yang berkaitan dengan dinas ataupun ada keluarga jauh yang datang sehingga mereka bersandiwara di hadapan semua orang.


Handoyo memperhatikan tatapan Jendral Gaffar pada foto dalam pigura itu.  Entah apa yang dipikirkan pria itu dan terus memandang foto itu dalam diam. Mungkin mengenang masa lalu mereka. Sementara Aleesha  bersuara menghentikan lamunan suaminya.


"Kalian berdua keluarlah, biar aku yang membantu Aleesha.. !" Jendral Gaffar berkata dengan penuh ketegasan dan itu membuat Nadya menghentikan langkahnya yang akan membuka dus satunya.


Nadya menunggu persetujuan dari Alessha dan wanita itu mengangguk. Nadya segera mengajak handoyo keluar ruangan itu meninggalkan pasangan suami istri yang akan membuka oleh-oleh dari guru mereka di pesantren.


"Sha... kamu ingat foto ini?" Jendral Gaffar menunjukkan foto kemesraan mereka saat muda dahulu pada istrinya. Mata Gaffar berbinar menatap istrinya.


"Ya...itu semua adalah masa lalu."


"Kau pikir deh, kenapa kiyai Umar memberikan barang-barangmu dari pesantren itu?" Apakah dia mengetahui masalah kita? "


"Entahlah... tapi yang  kutahu, kiyai Umar memiliki mata hati yang tajam... terakhir waktu kunjunganku ke Bengkalis dan tidak menginap karena  kita tidak datang bersama, memang dia sudah curiga..."Aleesha menjawab pelan.


"Sha...

__ADS_1


"Ya...


"Aku merindukan Aleesha yang ini... yang selalu tersenyum ramah, yang selalu menungguku jika aku pulang tugas, yang selalu mendengarkan setiap keluhanku... bisakah kita kembali ke masa itu , sha?" Gaffar menunjukkan foto mereka berdua .


"Kau sendiri yang tidak mempercayaiku... kau memilih mempercayai orang lain...!" Aleesha berkata pelan. "Seandainya kau percaya padaku dan tidak jahat padaku...


Gaffar terdiam dan ia membuka dus kedua ayng tadi dibawa Handoyo . Dus ini berisi keripik kentang, keripik pisang dan rengginang. makanan ringan ini produksi pesantren.. Setiap mereka berkunjung ke Bengkalis, Gaffar selalu memakannya dan membuat istrinya kewalahan karena ia bisa sehari memakan cemilan itu sampai 5 toples dan ia harus bolak-balik membeli di koperasi  yang ada pesantren.


"Kenapa aku bisa tak mempercayaimu, Sha... padahal kamu adalah orang yang paling kucinta dan tidak akan pernah kulepaskan... aku tidak mau kehilanganmu... tapi kenapa kau mengkhianatiku, Sha?"


"bang... aku tidak pernah mengkhianati kamu sekalipun... seharusnya kamu mengenalku, aku sangat mencintaimu...  selama kamu menjalani tugas jauh itu, aku keguguran dan untuk menghiburku, aku mengangkat seorang anak , dan itu yang sesungguhnya terjadi .. , aku tidak pernah hamil dari pria lain dan anak yang kutitipkan itu hanya anak angkat... kau kenapa tidak mempercayaiku, kenapa kau lebih percaya pada Setiono daripadaku ?"


"Entahlah... sekarang Setiono sudah meninggal...  tak ada lagi yang bisa berdebat denganmu, Nad !"


"Bang... aku tidak akan pernah mengkhianatimu, tapi jika kau tidak pernah percaya padaku... maka hubungan kita selamanya akan begini!" Aleesha  mulai terpancing emosi pada suaminya.


"Pertemukan aku dengan anak itu dan kita akan bawa tes darah anak itu, aku akan percaya jika hasil tes memang membuktikan bukan darah dagingmu , Nad...., kau tidak pernah menunjukkan anak itu padaku, Nad!" katakan padaku, apa alasan semuanya itu!"


"terserah, jika kau masih tidak mau mendengar penjelasanku Bang... !" Percuma kita  bicara lagi... aku mau ke perusahaan!" biar saja, kau menuduhku sampai mati, aku tak akan pernah menjelaskan apapun padamu!"


Gaffar terdiam dan membiarkan Aleesha pergi meninggalkannya. Perempuan itu membawa foto-foto lainnya. Di tangannya masih ada foto masa lalu Gaffar dan Aleesha muda.


Sesungguhnya perasaan itu tidak pernah rumit, tapi hanya orang-orang lah yang membuat rumit dan berbelit-belit. Aku ingin menjadi diriku yang dulu yang begitu mempercayainya, tapi kenapa sekarang aku tak bisa. "Aleesha... aku selalu mencintaimu!"  Bisik Gaffar.


 


 


*****


 

__ADS_1


Happy reading temans!" Bolehkah meninggalkan jejak disini ?" Thanks a lot ya!"


__ADS_2