
Kita boleh berharap, tapi tidak bermimpi kosong, cobalah untuk menjadikannya nyata walau tidak sempurna."
Cinta tak harus dikatakan.
*****
Jamuan di pulau Petra telah selesai dan rombongan presiden sedang menuju lokasi pemancingan yang letaknya hanya 500 meter dari tempat jamuan.
"Kita berganti rencana ... Andre dan tim tetap disini menyiapkan kapal dan bekal untuk kepulangan kita dua jam ke depan... biar Adiguna yang menjaga Presiden memancing di lokasi." Gaffar membagi tugas kepada para anggota yang mengantar Presiden memancing.
Saat itu mereka semua sedang bersiap-siap memancing dan mengeluarkan perbekalannya, Namun Jendral Gaffar meminta seluruh anggota yang mengikuti Presiden untuk membereskan kapal dan menyiapkan jamuan makan malam untuk perjalanan malam ini, kecuali Adiguna yang akan mendampingi Presiden memancing.
Ucapan Gaffar itu membuat Adiguna terkejut. Belum hilang keterkejutan dari Adiguna, sang presiden memanggil namanya dan mengajaknya pergi meninggalkan lokasi jamuan. Refleks panggilan itu membuatnya langsung menoleh pada sumber suara.
"Adi... ayo jalan !" Presiden sudah membawa peralatan memancingnya dan melangkah meninggalkan Adiguna yang masih memegang tas besar berisi peralatan yang tadi diberikan oleh Jendral Gaffar.
Sebelum melangkah Adiguna menoleh pada ayah angkatnya, Jendral Gaffar. Pria itu mengangguk seolah menunjukkan perintah harus dijalankan dengan baik. Adiguna masih kebingungan dengan hatinya yang terus berdebar, ia merasa bahagia.
Langkahnya semakin cepat sehingga hanya dua langkah di belakang presiden. Adiguna tersenyum. Ini adalah kesempatan pertama baginya bersama orang yang sangat penting di negaranya, dan orang itu adalah ayah kandungnya. Seharusnya ini adalah moment mengakrabkan diri antara ayah dan anak.
Jendral Gaffar hanya menyuruhnya menjaga presiden dan itu memberikan kesempatan dirinya untuk mengenal pria ini. Sungguh hal yang luar biasa. Dan tampaknya presiden sangat setuju dan langsung mengajaknya memancing.
"Kau pernah memancing sebelumnya, Di?' Suara itu terkesan menyapa dengan hangat.
"Belum pernah presiden."
"Aku akan mengajarimu... ini adalah kegiatan yang menyenangkan dan bisa menenangkan pikiran.. kau akan menikmatinya... ini lebih menyenangkan daripada menembak ataupun melumpuhkan target... kau akan tahu rasanya begitu kau menangkap ikan..!"
__ADS_1
"benarkah ?' Adiguna mendengarkan dengan sepenuh hati .
"Aku pernah menembak banyak penjahat ataupun tentara belanda ataupun tentara jepang dulu... tapi itu lama-lama membosankan ketika kau tahu mereka mati di tanganmu... kau menjadikan dirimu sebagai seorang pembunuh sadis... dan itu hanya menumpuk dosa...ketika kau tertidur malam hari... hatimu menjadi tidak tenang... apakah kau pernah merasakannya, Di?"
"Pernah... ketika aku menembak pertamakalinya... aku menjadi tidak tenang dan aku merasa bersalah... tapi kemudian menjadi biasa," Adiguna menjawab pelan sambil membayangkan pembunuhan pertamanya yang dia lakukan di rumah Andi , rumah itu dijaga oleh banyak pengawal.
Andi dulu- lah yang telah membunuh keluarga istrinya.tentulah dia harus membalas dendam, termasuk pada pria ini. Dialah cikal bakal masalahnya. Adiguna menjadi kehilangan rasa bahagianya ketika bayangan akan kesengsaraan masa lalunya yang tidak memiliki keluarga dan cerita dari kiyai Umar tentang ibunya yang meninggal di Bengalis.
Seharusnya tidak perlu bahagia jika pria itu mengajaknya pergi memancing berguna. Ini pasti jebakan. Adiguna masih terdiam di posisinya. Adiguna tertinggal lebih dari 10 langkah.
"Di....
hening .
"Di... Adi..."Presiden memanggil sambil menoleh ketika ia melihat pria itu sekilas terdiam di tempatnya sehingga jauh tertinggal di belakang. "Kau melamun di.. kau tak menjawab pertanyaanku?"
"Tak masalah... aku tahu kamu pasti melaluinya berat... apakah kamu cukup dekat dengan kiyai Umar ?"
"Tidak.... aku anak yang bandel sehingga kiyai Umar sering menyuruhku belajar dengan para ustad.
"Kamu sesungguhnya tidak dibesarkan di pesantren Di... kamu berbeda dengan anak pesantren lainnya... fillingku berkata seperti itu. aku tahu kamu mellau banyak hal sebelum bisa ke posisi ini.."
Deg.
Adiguna terdiam. Apakah presiden mencurigainya? Apakah yang ingin diketahui presiden?" Apakah Jendral Gaffar mengkhianatinya dan membuatnya harus mengaku. Apakah misi dari Big Mama gagal ?" Tidak ia masih bisa membunuh pria ini. JIka ia berkelahipun pasti menang. Namun kenapa pria itu tersenyum padanya.
"Aku senang bisa menghabiskan waktu denganmu... kau tahu dulu aku suka sekali memancing dengan temanku... dia bahkan ketika aku hampir menangkap ikan... dia terjun ke tengah laut dan melepaskan kail dari mulut ikan sehingga mencegahku menangkapnya... aku selalu mengingat hal itu."
__ADS_1
"Kenapa teman presiden tidak mau presiden menangkap ikan?'
"Karena ia suka sekali berenang dan melihat ikan bebas bergerak kesana kemari...!"
"Apakah sekarang teman presiden tidak pernah ikut menemani presiden memancing lagi?"
"tidak ... dia sudah tenang di surga sana!"
"Maaf Presiden... saya tidak tahu,"
"Kemarilah... aku akan mengajarimu cara memasang umpan di kail."
Adiguna seolah tersentak mendengar perkataan itu. Pria itu seolah sedang berbaik hati. Apakah seperti ini rasanya memiliki ayah. Tapi dia bukan ayahku... dia sedang mengajariku karena aku salah satu orang kepercayaannya sekarang.
Pria itu mengajarkan dengan sepenuh hati cara memasang unpan, memegang kail dan bagaimana menarik umpan. Benar-benar suasana yang hangat dan jauh dari gambaran kasar ataupun sombong dari seorang pemimpin. Apakah dia sedang berperan sebagai ayah sekarang?" Apakah ini rasanya memiliki keluarga?"
Mereka terus berbicara dan tertawa bersama hingga kailnya digigit ikan. Adiguna mengikuti apa yang dikatakan Suhartono dengan sepenuh hati , hingga umpannya digigit ikan. Dan pria itu membantunya menarik ikan dan itu benar-benar hal yang menyenangkan. Suatu rasa yang belum pernah dialaminya selama ini. Ini benar-benar kebahagiaan yang berbeda.
"kau tahu... aku punya tiga anak lelaki dan mereka tidak pernah sekalipun kuajak memancing bersamaku... ! " Entahlah fillingku mereka tidak akan menyukainya.... tapi bersamamu aku ingin sekali memancing bersamamu.... bisakah lain waktu kita memancing bersama?'
"Benarkah?' Adiguna terkesima dan langsung mengangguk. "Saya mulai menyukai kegiatan memancing presiden!"
presiden mendengarnya dan tertawa dengan renyah."Aku tahu kau pasti juga menyukainya, Di...!"
*****
Happy Reading guys. Maaf terlambat update, baru tugas ke luar kota, kebetulan sinyal disana buruk. Thanks telah berbaik hati menunggunya. Bolehkah tinggalkan jejak disini?" Love you all..
__ADS_1