Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
71. Journey 1


__ADS_3

Tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita lakukan, pilihan yang kita harus buat atau keputusan yang kita ambil. Ini Hidupku. Tidak masalah kamu tidak mengerti, aku akan jalani dengan yakin, karena aku yang menjalani semuanya.


 


*****


Mobil yang dikemudikan Handoyo  akhirnya keluar dari kapal  "Kelud" yang telah  menyeberang dari pulau Jawa menuju pelabuhan bakauheni lampung.  Selama di kapal mereka berbaur dan menikmati fasilitas kapal feri dengan menyamar dan menggunakan riasan, masker dan wig yang membuat keduanya menjadi berbeda.


"Mas Han,... apakah malam ini kita bisa menginap di Lampung? " Aku rasanya belum pernah mengunjungi kota ini... tapi jika kau keberatan, aku tak masalah jika kau tidak ingin berada di kota ini... aku bisa ke sini sendiri lain kali..."


"Tak masalah kita menginap tapi aku tak dapat menemanimu berjalan-jalan ... sudah lama juga aku tak menengok makam istriku... besok pagi aku akan kesana sebentar sebelum kita jalan kembali... gimana?"


"Baik... boleh aku ikut berkunjung ke makam istrimu, mas Han ?" Nadia bertanya pelan dan agak ragu sambil memandang Handoyo yang masih fokus dengan kemudinya.


"Tidak... kau tunggu aku di hotel saja atau berkeliling ke kota dengan mobil ini ... aku ke sana masih gelap dan membutuhkan waktu dua jam setelah itu kita bertemu di dekat batas kota , Maaf Nad ... ini harus kulakukan  agar tak banyak orang yang mencurigaiku.... bukannya aku bertindak  tidak sopan, tapi statusku yang adalah narapidana dan orang-orang disini yang mengetahuiku sedang di tahan di nusa kambangan.... jika ada yang mengetahui dan mengenaliku .... bisa kacau missi kita... kau mengerti maksudku.


"Ya aku mengerti ... mungkin aku akan mempersiapkan bekal saja untuk perjalanan kita... sehingga kita tidak perlu banyak berhenti di jalan."  Nadia berusaha menetralkan suasana. "Kau suka makanan apa mas han?"


"Apa saja aku suka... terserah kamu!"


"Mas Han... boleh tanya ?"


"Ya.. tanya saja!"


"ini tentang yang kau lakukan.... emh... apakah kau sudah lebih tenang setelah membunuh semua orang yang terlibat pada pembunuhan istrimu itu?"


"Lebih tenang maksudmu apa?"


"Aku ingin membereskan seseorang yang melukaiku dan menghancurkanku  tapi itu membutuhkan kekuatan dan keberanian.. tapi. mas Han .. ini rahasiaku... karena kau partnerku, maka aku akan menceritakannya padamu , kuharap kau mau menjawab pertanyaanku  dengan jujur.... emh...  ketika aku membunuh seseorang pertama kali, apakah  bayangan orang yang kubunuh selalu muncul ? karena aku bisa melihatnya selalu kapanpun bahkan sampai ke dalam mimpiku .. terkadang aku tak bisa tidur .. emh... apakah ada perasaan itu, mas Han?" Ataukah aku memang tidak berbakat di bidang ini?"


"Hah... kau sampai seperti itu Nad?" Aku tidak pernah membayangkan satu orangpun yang nyawanya kuambil... aku hanya melakukan untuk Lidya.... aku puas jika melihat mereka semua mati... tapi aku cuma merasa hampa melihat tidak ada Lidya lagi yang menyambutku sepulang kerja... terkadang aku tak tahu mengapa aku  masih ada di dunia ini... tapi sampai pada suatu titik aku membuat kesimpulan yang membuatku terus bertahan, Nad... kurasa kau bisa mencobanya. " Handoyo berkata sambil sesekali memandang Nadia yang berada di sebelahnya.


"Apa itu?"


"rubah pandangan dan tujuan hidupmu, Nad !"  Pahami bahwa Tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita lakukan, pilihan yang kita harus buat atau keputusan yang kita ambil. Ini Hidup yang kita jalani, Tidak masalah kamu tidak mengerti dan menganggapku aneh atau gila  tapi, aku akan jalani dengan yakin, karena aku yang menjalani semuanya.... itu membuatku bertahan dan menjalani hidupku dengan bersemangat..."


"Bener juga... mas Han, terimakasih... aku akan mencobanya!"  Aku harus berhasil membereskannya dan membalaskan semuanya!"


"Kau masih ada masalah yang belum diselesaikan, Nad ?" Handoyo bertanya dengan penuh antusias."Mau aku membantumu?"


"Terimakasih mas Han atas niat baiknya  ... kalau yang ini, aku sendiri yang akan membereskannya, ini tentang harga diri dan kehormatanku!" Organisasi ini pun tidak akan kulibatkan, meskipun ini menyangkut orang penting di organisasi ini!"


Handoyo terkejut mendengarnya. Apakah Nadia masuk ke dalam organisasi ini untuk menghancurkan organisasi elang hitam?" Ataukah ada masalahnya dengan Stevan? Orang kepercayaan Big Mama , apakah dia yang melukai dan menyakitinya. Handoyo hanya terdiam dan berusaha konsentrasi menuju kota Lampung.

__ADS_1


Mereka memarkirkan mobilnya di depan salah satu hotel besar di kota Lampung. "Grand Lampung" adalah salah satu hotel bintang empat yang cukup diminati oleh para pendatang yang tiba di kota Lampung. Handoyo dan Nadia turun dari mobil dan membawa sebuah koper menuju ke dalam hotel.


Setelah Nadia melakukan pendaftaran kamar hotel dan mereka mendapat kunci kamar untuk bermalam pada hari itu. Handoyo hanya mengikuti langkah Nadia sambil menarik  koper mereka ke kamar. Ruangan kamar yang ditempati cukup nyaman dan memiliki ranjang yang super besar. Malam belum terlalu larut bagi Handoyo ketika mereka memasuki kamar.


"Mas Han.... aku tidak bisa memesan yang twin bed, karena rasanya tak mungkin kita memesannya, karena kita kan suami istri... kau bisa tidur di sampingku atau silahkan memilih di sofa panjang itu juga tak masalah... karena kita hanya benar-benar beristirahat!"


"baiklah aku paham... aku keluar dulu sebentar, aku tidak bawa mobil, Nad!"


"Bawa kunci ya!" Aku tidak akan membukakan pintu kamar untukmu!"


"Ya!"


 


*****


Handoyo meminjam motor salah satu pegawai hotel  Grand Lampung dan membayarnya sebagai jasa sewa. Ia memilih menggunakan motor untuk berkeliling kota Lampung. Tujuan utamanya adalah makam Lidya. Ia menyewanya untuk 5 jam berkeliling kota, demikian pesannya pada petugas hotel itu.


Handoyo  tidak ingin tindakannya bisa diketahui orang lain terlebih orang yang mengenalnya. Pertama-tama ia melihat rumah yang dulu ditinggali olehnya bersama Lidya. Rumah milik keluarga Lidya benar-benar dalam keadaan terawat dan bersih. Ia meminta tolong pada keluarga yang tinggal di sebelah rumahnya, Pak Wanto. dan anak-anaknya.


Benar- benar keluarga Pak Wanto yang tinggal di sebelah rumah itu selalu menjaga dan membersihkannya. Mereka bisa dipercaya dan Handoyo merasa puas karena ia sering mengirimkan wesel untuk sekolah anak=anak keluarga pak wanto itu.


Motor yang dikemudikan Handoyo kemudian  diarahkah ke lahan pemakaman di Kota Lampung yang memang letaknya searah dengan rumah Lidya. Setibanya di depan lahan pemakaman. Handoyo meletakkan motornya di dekat pintu gerbang pemakaman yang sepi. Ia melangkah ke dalam dengan penuh percaya diri .


Dada Handoyo terasa sesak, matanya berkaca-kaca. Ia teringat masa bahagianya yang terampas. Rasa sakit itu belum hilang, tapi dia tidak menyesali pembunuhan yang dilakukannya. Semua terasa wajar baginya jika harus membalaskan dendam kehilangan Lidya.


"Aku selalu mencintaimu, Lidya," Bisik Handoyo. "Aku pergi dulu... nanti kapan-kapan, aku datang kembali kemari,"


Handoyo akhirnya kembali melangkah meninggalkan makam Lidya dan tanpa menengoknya lagi. Baginya Lidya selalu ada di tiap langkahnya.


Perjalanannya menuju hotel dilakukan dengan melewati salah satu rumah yang pernah dibelinya tapi diberikan pada seorang perempuan yang pernah menjadi alibi dalam tindakan pembunuhannya. Yani adalah wanita yang baik, yang dia jadikan korban keegoisannya. Ada sedikit rasa bersalah , namun segera ditepisnya. Ia tidak mencintai wanita itu. Ia hanya kasihan dan membagi sedikit rejeki pada wanita itu.


Rumah itu sekarang sedikit berbeda. Ada bilik di bagian depannya dan berjualan kopi dan beberapa makanan di malam hari. Handoyo memarkirkan motornya di samping warung yang lumayan ramai itu.


"Mbak ... kopi hitam satu!" Handoyo memesan kopi kepada wanita yang sedang melayani juga salah satu pembeli lainnya.


"Iya pak sebentar!"


Tidak beberapa lama Yani datang ke tempat Handoyo datang sambil mengantar segelas kopi.


"Silahkan pak.... apakah mau makan nasi goreng juga? biar sekalian dengan bapak yang itu bikinya!"


"Gak ... aku kopi saja!" Sahut Handoyo sambil menatap Yani.

__ADS_1


Wanita ini tidak berubah. Rumah ini saja yang agak berubah dan agak ramai, karena tampaknya keluarga Yani memang tinggal disini. Dia menepati janjinya untuk menjaga rumah ini. Handoyo meletakkan sejumlah uang dan langsung pergi setelah meneguk gelasnya.


"Saya sudah selesai, mbak... ini uangnya di bawah gelas!"


"Iya pak terimakasih," Yani berusaha menghampiri tempat Handoyo duduk dan membereskan gelas bekas tamunya minum namum pria itu telah di motornya dan bersiap pergi, hingga teriakan Yani menghentikannya. Wanita itu reflek terkejut karena melihat uang dalam jumlah banyak sehingga ia refleks  berlari menghampiri Handoyo.


"Pak..., uangnya kebanyakan.... ini cuma tiga ribu , pak" Yani sambil berlari menghampiri Handoyo.


"itu untukmu saja, Yan...!" Handoyo berkata agak keras dan langsung melajukan kendaraannya meninggalkan  warung kopi dan Yani.


Yani terkejut  ketika mendengar pria itu mengenalnya dan ketika motor itu semakin  menjauh, ia  teringat sesuatu akan postur tubuh pria itu. HInga Yani menutup mulutnya.   Ia sangat terkejut melihat pria yang pernah menidurinya datang dan menemuinya hanya membeli segelas kopi dan menghilang.    Bukankah dia....?" ah pasti aku salah ! Tidak mungkin pria itu!"


 


 


 


*****


 


 


Happy Reading Guys.


Bolehkah tinggalkan jejak kalian disini? Thanks a lot guys!"


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2