
Pernahkah kau benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang penting di hidupmu ? Apa yang paling menyakitkan dari kehilangannya ? Kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupmu dan berdampak pada seluruh duniamu !".
Saat kau menyadari bahwa kita tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya lagi bahkan untuk hidup bersamanya lagi, terlebih jika kau mengetahui kau kehilangan orang yang kau sayangi dengan cara yang tragis.
*****
Handoyo memasuki hotel "Grand Lampung" hampir pukul sebelas malam. Ia menyerahkan kunci motor, biaya sewa dan sejumlah tip untuk petugas hotel. Langkahnya mantap memasuki kamar tidur di hotel itu yang telah disewanya bersama Nadya.
Ketika memasuki kamar hotel yang berada di lantai tiga Handoyo terkejut melihat Nadia belum tidur, seakan menunggunya kembali dari acara jalan-jalan malamnya.
"Kamu menungguku, Nad?" Handoyo bertanya sambil memperhatikan Nadya yang sedang menonton televisi yang menayangkan film bergenre action dengan tokoh seorang jagoan yang ahli pedang.
"Tidak... filmku belum selesai, mungkin sebentar lagi selesai, aku suka menonton film ini karena sang jagoan bisa memamerkan dengan baik dan lincah bagaimana ia bisa membereskan para musuhnya dengan sekali tebas dan langkahnya begitu ringan seperti dirimu itu lho , yang tanpa beban dalam bertindak, " Nadia berkata tanpa mengalihkan pandangannya pada film itu.
"Ada-ada saja kau, Nad... lebih baik manfaatkan waktumu dengan tidur yang pulas daripada cuma menonton film seperti itu!" Bukannya hidup kita ini sudah seperti drama di film itu?"
"Ah berisik deh.... lebih baik aku cuma nonton daripada kau yang menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan tidak jelas...." itu yang disebut buang waktu, mas Han...!" Jawab Nadia santai.
Handoyo memilih meninggalkan Nadia daripada berdebat yang tidak berguna dengan Nadia. Ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi setelah sebelumnya mengambil pakaian ganti berupa kaos dan celana pendek. Tubuhnya terasa lengket dan gerah sehingga akan sangat menyegarkan jika dibilas dengan air panas.
Setelah sepuluh menit Handoyo akhirnya keluar dari kamar mandi dan ia melihat bahwa Nadia masih menonton film itu dengan tidak mempedulikannya sama sekali. Handoyo merasa tidak nyaman jika ia harus satu ranjang dengan wanita yang memang tidak memiliki hubungan sama sekali dengannya.
Untuk meyakinkan dirinya kembali , Handoyo bertanya sekali lagi pada Nadia mengenai aturan tidur di kamar itu. ia khawatir wanita itu berganti pikiran dan menuduhnya memanfaatkan situasi.
"Nad... beneran nih aku boleh tidur di ranjang? " Kamu gak masalah?" Handoyo bertanya dengan penuh keseriusan.
"Iya... kamu itu kan cuma tidur dan tidak melakukan hal lain kan? Tapi jika kamu keberatan, tak masalah, kamu bisa tidur di sofa itu... kali ini sofa hotel ini lebih panjang daripada sofa yang di hotel yang ada di semarang." Nadia akhirnya mengalihkan pandangannya pada Handoyo." Eh.... Rambutmu itu masih basah, mas Han !" Keringkan dulu dengan handuk nanti mas Han bisa masuk angin!" Nadia berkata agak keras dan terkesan mengatur Handoyo.
Perkataan Nadia yang agak memerintah itu membuat Handoyo agak terkejut karena ia sudah lama tidak di atur oleh seorang wanita. Akhirnya, daripada ia bertengkar disaat sudah lelah, ia memilih untuk mengambil handuk dan menggosok rambutnya dengan keras beberapa kali dan ketika dirasa telah kering, dilemparnya handuk itu ke sofa.
Handoyo akhirnya membaringkan tubuhnya di sebelah Nadia yang telah berbaring terlebih dahulu di ranjang itu. Wanita itu masih menonton filmnya dengan serius kembali dan tidak memperhatikan Handoyo yang berbaring di samping Nadia dan memunggunginya.
Ruangan kamar hotel yang dingin, membuat Handoyo yang menggunakan celana pendek, kedinginan. Mata Handoyo yang telah terpejam, nyaris terbuka ketika ia merasa ada sebuah selimut yang diletakan di atas tubuhnya. Nadia meletakkan selimut di atas tubuhnya dan digunakan oleh mereka berdua.
"Nanti kalau kamu kedinginan, aku juga yang repot , mas Han," Gurutu Nadia pelan. " Perjalanan kita panjang dan jauh, jadi kamu gak boleh sakit dan merepotkan!"
Handoyo membiarkan Nadia menggerutu dan berpura-pura ia sudah terlelap. Ia menikmati kebaikan Nadia yang menyelimutinya dan membuat tubuhnya lebih hangat. Sedikit canggung tapi ia membiarkan wanita itu bertindak sesukanya selagi tidak merugikannya.
Keduanya akhirnya tertidur di pinggiran ranjang yang agak berjauhan dan saling memunggungi dan memiliki jarak yang cukup lebar diantara keduanya. Handoyo tidak tahu sudah terlelap beberapa lama, ketika ia tiba-tiba mendengar ada suara perempuan menangis terisak. Matanya menjadi terbuka dan semakin ditajamkannya telinganya dan membuatnya ia menoleh pada wanita yang ada di sebelahnya itu.
Lelaki bertubuh tegap itu akhirnya duduk dan memperhatikan Nadia yang tertidur menghadapnya sambil bercucuran air mata dan terisak, tapi matanya terpejam. Ia terkejut mendapati wanita itu menangis dalam tidurnya.
diperhatikan lebih jelas meski lampu yang menyala hanya hanyalah lampu tidur yang di samping Nadia.
"Nad.... Nadia..... "panggil Handoyo pelan.
Disentuhnya tubuh perempuan itu yang masih terpejam. Tangisnya sudah berhenti. Handoyo menarik nafas kasar. "Bisa-bisanya kamu tertidur lagi setelah menangis dan mengganggu tidurku!" Dasar perempuan aneh!" Gerutu Handoyo pelan dan berusaha memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
Pagi hari di Kota Lampung , pukul 07.00.
Nadia telah merapihkan dirinya dan semua perbekalan yang akan mereka bawa untuk perjalanan menuju Medan, Saat ini, Nadia hanya menunggu Handoyo yang baru saja terbangun dan masih berada di kamar mandi. Pria itu meminta menunggunya dan sarapan bersama sebelum mereka check out dari hotel.
Begitu Handoyo keluar dari kamar mandi, Pria itu sudah menggunakan pakaian lengkap dan telah mengatur rencana perjalanan mereka.
"Nad... nanti kita usahakan malam ini sampai di pekanbaru tapi kalo gak keuber ya kita berhenti di dekat kota apapun itu ... ntar kita gantian nyetir saja, gimana?" Handoyo yang baru keluar dari kamar mandi langsung mengajak Nadia bergantian nyetir.
"Oke.. tak masalah, aku sudah siapkan bekal perjalanan, agar kita tidak terlalu lama berhenti di jalan... Gak baik juga jalan malam, jika daerah tidak kita kuasai, karena perjalanan kita melewati banyak jurang dan daerah ini rawan, ... emh apakah kamu sudah siap sekarang ? " biar kita bisa langsung sarapan dan Check out dan gak perlu ke kamar lagi!"
"Yuk langsung ke restoran, aku sudah lapar juga!" Handoyo berkata tegas dan langsung membawa koper mereka turun ke lantai 1 yang diikuti oleh Nadia sambil membaca beberapa file untuk persiapan perjalanan mereka.
Menu sarapan dinikmati mereka dengan diam, Handoyo sedikit mengamati Nadia yang gemar makan bubur untuk sarapan paginya, sementara dia memilih nasi goreng seafood.
Wanita itu juga menyeduhkan kopi pahit untuk Handoyo dan roti panggang selai strawberry untuknya. Handoyo membiarkannya dan memakan semua roti yang dibuat oleh Nadia. Meskipun wanita ini cerewet tapi ia sesungguhnya memiliki hati yang baik. Sebenarnya tadi malam apa yang membuatnya menangis. Tapi Handoyo tidak ingin bertanya secara langsung pada wanita itu. Ia merasa ada batas diantara mereka.
Begitu selesai sarapan, mereka langsung meninggalkan hotel itu dengan segera dan memulai perjalanan yang jauh dengan target sampai di Pekanbaru. Hal yang mustahil di masa itu, karena belum ada jalan tol di pulau Sumatra.
Cukup lama mereka tidak saling berbicara dan hanya menikmati perjalanan sambil mendengarkan radio. Beberapa kali wanita itu bersenandung gembira ketika radio memutarkan lagu. Handoyo hanya membiarkan Nadia menikmati perjalanan hingga sang penyiar radio itu memutarkan lagu yang sedang populer pada masa itu, lagu sendu milik Ruth Sahanaya"
--------- Memori.......Kau membuka luka lama....
Yang ku ingin lupa....
Memori.......Tolong daku pergi jauh Janji takkan kembali
Nadia tiba-tiba mematikan radio yang sedang memutarkan lagu Memori dan membuat Handoyo yang sedang mengemudi dan menikmati lagu itu akhirnya jadi menoleh pada tindakan Nadia yang seenaknya mematikan lagu yang cukup digandrungi oleh masyarakat pada masa itu.
"Kenapa nad?" Lagunya enak ko!" Meski agak sedih sih!"
"Lagunya membuatku sedih banget dan ... bikin aku mau nangis lagi.." Nadia berkata pelan.
"Nad... semalam juga kamu nangis lho dalam tidurmu!" Kamu kelihatannya mimpi buruk.... ada apa sih? sepertinya .... Kamu ada masalah besar ya?" Boleh aku tahu?" Handoyo akhirnya bertanya karena ia sangat penasaran pada apa yang terjadi di hidup wanita yang menjadi rekan kerjanya.
"Setiap orang hidup itu pasti punya masalah mas Han... tapi masalahku ini.... benar-benar rumit dan belum tentu kau percaya bahwa aku bisa mengalaminya!" JIka kau mendengarnya, kau pikir aku sedang berbohong dan mengkhayal karena ceritaku ini berkaitan dengan orang penting di negeri ini ... jadi biarlah cuma aku dan Big Mama yang mengetahuinya!"
"Nad... kurasa kamu tahu yang terjadi di hidupku, bagaimana aku kehilangan Lidya dan anakku.... aku sudah hampir gila kehilangan mereka dan bagiku setelah mereka menghilang dengan cara yang tragis , rasanya sesuatu bisa saja mungkin terjadi... dan mereka itu meninggal di tangan keluarga pejabat lho... aku tak perlu membahasnya lagi karena pasti kamu mengetahuinya.
"Karena kasusmu itu, mas Han masih bisa dianggap normal.... dan kasusku agak berbeda dengan apa yang kualami.... jika aku salah bercerita bisa membuat satu Indonesia terguncang.... aku rasanya belum sanggup bercerita pada orang lain, mas Han...!"
"Sampai sebesar itukah dampaknya?" A[akah karena itu kau bergabung dengan organisasi elang hitam?"
__ADS_1
"Ya... dan aku akan keluar jika kasusku benar-benar selesai dan tanganku sendiri yang membereskan pelaku itu....
"Apakah pelaku itu yang membuatmu kehilangan seseorang yang kau sayangi?"
"Tidak.... sudahlah jangan dibahas lagi deh .... jika aku semakin mengenalmu, mungkin saja aku bisa berbagi cerita denganmu, Mas Han..!"
"Nad.... Pernahkah kau benar-benar merasakan kehilangan seseorang yang penting di hidupmu ? dan rasanya membuatmu ingin mati ? "
"Pernah dan itu sangat menyakitkan, mas Han....... emh, mas Han, Apa yang paling menyakitkan dari kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupmu ? Kehilangan itu apakah berdampak pada seluruh duniamu dan harapanmu?" .
"Iya ... aku merasakan ketika seluruh keluarga direnggut paksa dan aku merasa dunia tidak adil padaku... tapi akhirnya aku bisa bangkit dan berusaha membalaskan dendam pada dunia ini dan memandangnya dengan cara berbeda....
"Tapi mas Handoyo, ada lagi kehilangan yang lebih tragis, ketika kita merasakan bahwa kita tidak punya harapan hidup.... untunglah Big mama membuatku memiliki harapan dengan menjadikan aku seperti ini dan aku akan bangkit membalaskan orang -orang yang pernah menyakitiku!"
"Kamu pasti terluka lebih parah dariku, Nad!" Jika kamu sudah percaya padaku, kau bisa berbaginya padaku, mungkin saja aku bisa membantumu membalaskan dendammu!" Handoyo berkata dengan penuh keyakinan dan itu membuat Nadia menoleh pada lelaki yang sedang mengemudi itu.
Mereka akhirnya terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing. Benarkan mereka dapat saling mempercayai?' Sedangkan orang yang pernah kupercaya, mengkhianatiku!"
:
*****
Happy Reading Guys!"
Terimakasih telah berbaik hati membacanya!" Bolehkah temans meninggalkan jejak disini? Bolehkah sebar Like, koemntar, poin ataupun hadiah lainnya. Thanks a lot ya!"
__ADS_1