Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
134. Sadar Diri


__ADS_3

Hal pertama yang harus kamu pahami adalah kedudukanmu saat ini. Kamu adalah pilihan kedua dariNys. Kamu tak bisa meminta apapun padanya lagi.


*****


Setelah berpamitan dengan orang tua angkatnya, Adiguna memilih pulang ke rumah yang diberikan perusahaan untuknya. Lelah menjalankan tugas hari ini tapi rasanya cukup sebanding dengan apa yang diperolehnya karena minimal ia dapat berbicara dan melakukan kegiatan bersama dengan orang yang seharusnya mendampingi masa kecilnya.


Ingin sekali Adiguna bertanya,apa yang dilakukan pria itu ketika ibunya yang sedang menggendong bayi ditembak oleh istri sah-nya. Tapi pesan kiyai Umar yang memintanya tetap merahasiakan  identitasnya demi keselamatan dirinya dan pesantren di Bengalis. Urung dilakukannya bertanya pada pria terpentimg di negara ini.


Terlebih mama Aleesha berjanji bahwa aksi mereka akan dilakukan di Jakarta, Dan Nadia akan datang membantunya. Benarkah dia akan datang? Hatinya mendadak bahagia, karena ia mengingat perbuatan terlarang mereka yang dilakukan beberapa kali dan itu membuat Nadia hamil. Apakah Pramoedya mengetahui bahwa dia mengandung anakku?"


Wanita itu berjanji tidak akan membuat Pramoedya bisa menyentuhnya selagi ada anak dalam kandungannya. Benarkah wanita itu bisa menjaga dirinya?  Bagaimana jika sekarang Nadia menikmati perlakuan Pramoedya. Siapa yang tahu apa yang mereka lakukan di sana.


Cemburu dan marah membuat Adiguna segera mandi agar menyegarkan pikirannya. Setelah mandi pikirannya sedikit segar. Dia ingat janji Nadia, bahwa jika sampai suaminya menyentuhnya maka ia akan bunuh diiri. Hal itu membuat Adiguna lebih tenang mengingat ia sangat memahami Nadia.


Hemm... pasti bisa. Dia pasti bisa. Adiguna tersenyum pahit mengingat Nadia yang saat ini sedang tidak ada bersamanya.  Seharusnya dirinya tetap memaksa Nadia disampingnya. Tapi wanita itu memiliki tujuan ingin membalas dendam pada Pramoedya dan Tiara, sehingga ia membiarkan Nadia pergi. Terlebih setelah Jessy meramalkan kebersamaan mereka dapat berakibat buruk bagi anak-anak mereka. Itu adalah hal yang paling menakutkan Nadia akan kebersamaan mereka.


Rasanya Adiguna ingin sekali berbicara pada Nadia dan menanyakan padanya, apa yang membuatnya tetap bersama Pramoedya. Dia ingin sekali selalu bersama Nadia dan melihat perkembangan anak dalam kandungan Nadia


Adiguna memilih menyeduh sendiri kopi di dapur belakang dan ia yakin kedua  asisten rumah tangga sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.Malam ini ia berencana membereskan pekerjaan kantor yang selama ini di urus oleh assistennya. Ia harus mempelajarinya karena ia cukup lama tidak berada di kantor.


Saat sedang membaca beberapa laporan yang ada di meja kerjanya terdengar seperti ada yang membuka pintu belakang rumahnya.


Krekkk.....


Suara pintu belakang  itu seperti ditahan agar bersuara lebih pelan. Adiguna terdiam di kursi kerjanya dan meyakinkan apakah kedua assistennya terbangun ataukah ada maling di rumahnya. Ini bukan langkah mereka. Hemm...


Ini pasti hal yang menyenangkan jika rumah ini kemalingan setelah sekian lama ia tidak berolahraga. Ingin rasanya berkelahi dengan seseorang.


Adiguna tetap diam bergeming mendengar langkah seseoang berjalan yang mengendap-endap dan menuju ruang kerjanya. Dan pintu kerjanya itu mulai terbuka perlahan, Adiguna semakin melebar matanya, dan tangan kanannya bersiap melempar gunting yang ada di meja kerjanya.


Pintu terbuka dan...


"Mas Han ..... Do you miss me?" Teriak Nadia sambil membuka tangannya dan berlari ke arah meja kerja Adiguna.


"Nadia.... kamu kapan datang?"

__ADS_1


"Begitu Big Mama menyuruhku kembali untuk membantumu... mas Han gak senang melihatku kembali?"


Nadia memasang ekspresi cemberut karena melihat wajah Handoyo yang terkejut melihat kedatangannya.


"Bukan tidak senang, Nad... hanya saja aku kaget. Kamu kapan datang?"" Mana suamimu ?"


"Aku datang pagi ini bersama mas Pram... dia tertidur setelah kuberi obat... " Ujar Nadia sambil tersenyum penuh arti. "Setiap dia ingin menyentuhku... aku pasti memberinya obat... dia tidak pernah berhasil menyentuhku mas.... hanya saja diotaknya... anak ini adalah anaknya... maafkan aku ya mas!"


"Nad... kita tinggalkan saja dia dan keluarganya... kita hidup dimana cuma ada kita dan anak-anak kita saja, Nad?" Aku tidak mau melihatmu menderitan... lupakanlah ramalan Jessy!"


"Tidak.. biarkan begini saja mas Han." Nadia duduk diatas paha Handoyo. "Kamu merindukan anakmu tidak mas?"


Nadia mulai bergerak diatas Handoyo. Jemarinya bergerak dengan seenaknya dan memancing pria itu yang semula masih bingung dengan kedatangan Nadia di tengah malam itu.


Adiguna yang semula masih terdiam namun akhirnya terpengaruh ketika jemari Nadia bergerak  liar ke seluruh tubuhnya dan membuat sesuatu yang selama ini ditahannya bergejolak.Terlebih bisikan lembut Nadia dan lidahnya yang bergerak di telinga nya membuatnya makin tidak mampu menahan hasratnya di dalam ruangan kerja.


"Anakku ini ingin bertemu dengan papanya, mas Han"


"Aku juga merindukan kamu Nadia....


"Nad, aku merindukanmu sangat, ... tinggalkan Pramoedya... kita tata hidup kita. Aku sadari... aku tak bisa hidup tanpamu... mari kita mulai hidup kita dari awal... aku bisa menjaga kamu dan anakku."


"Mas Han... tahukah kau kenapa aku melakukan ini?'


"Kau punya dendam pada Pramoedya... dia pernah memperkosamu kan dulu?" Tak masalah itu bagiku...yang penting kita bersama dan aku bisa melihat anakku dengan baik!"


"Ya itu satu alasan... tapi ada alasan lainnya... " Ujar Tiara sambil mengambil baju dan mengenakannya kembali." aku ingin Suhartono  ikut sakit hati karena anak lelaki yang sesungguhnya paling dia sayangi... terluka karena wanita yang disayangi mencintai pria lain bahkan mengandung anak dari lelaki yang disayanginya."


"Kau  juga ada masalah dengan dia?" Adiguna terkejut mendengar alasan lain dari kebencian Nadia.   "Apakah  Big Mama mengetahui rahasia ini?" Dan ia membiarkanmu menikahinya?"


"Awalnya Big Mama melarangku bahkan memintaku berfikir ulang, tapi karena kasus perkosaan itu membuat Big Mama akhirnya mengijinkanku terlebih jendral Gaffar setuju karena mengetahui Pramoedya mencintaiku."


"Kau mencintai Pramoedya,Nad?'


"Tidak... Cintaku hanya satu padamu... tapi sayangnya  kau hanya mencintai Lidya... aku tak sanggup bersaing dengan orang yang sudah meninggal."

__ADS_1


"Maafkan aku Nad... aku juga mencintaimu, Nad..bisakah kau tinggalkan Pramoedya?'


"Tidak bisa mas Han... kamu memiliki hatiku dan tubuhku... tapi aku ada rencana besar... aku ingin membunuh Suhartono dan istrinya itu."


"Kita bisa melepaskan semua dendam itu Nad... asal kita bisa bersama. ... Sekarang aku menyadari bahwa aku tak bisa hidup tanpamu , Nad... aku selalu memikirkan kebersamaan kita."


"Ini demi anak kita.... kamu ingat apa kata Jessy, jika kita tidak bersama, anak kita bisa hidup dengan baik."


" Baiklah....Boleh aku tahu kenapa kau sangat membencinya?"Katakan padaku Nad"  Handoyo membujuk Nadia dengan memeluknya dari belakang.


Pria itu mengelus-elus perut Nadia yang mulai membesar.  "Dia baik-baik saja di dalam sana?"


"Iya... dia sangat pintar dan pengertian seperti papanya... dia sangat menjagaku!"


"Syukurlah.... bisa kau ceritakan kenapa kau sangat membenci kedua orang itu?"


"Dulu.... ibuku adalah staf keuangan di komando angkatan darat ini.... dan beliau masih Kepala Staf Angkatan darat dan saat itu ayahku hanya salah satu tentara tapi. ayahku meninggal dalam menjalankan tugas di Aceh. dan menurut informasi dari yang kudapat itu karena perangkap dari Suhartono... Salahkan aku membencinnya.." Nadia berkata pelan dan mulai menangis." karena kebodohan ibuku dan karena ia janda dengan dua anak, dia sering mendapatkan uang dan bahan makanan dari pimpinannya , kemudian  ia menjadi simpanan Suhartono ... beliau jatuh cinta beneran pada pria brengsek itu, dan itu akhirnya  diketahui Tiara... kemudian Tiara menyuntikkan racun pada ibuku hingga ibuku tewas mengenaskan.... aku baru mengetahuinya ketika aku menjadi tangan kanan Big Mama... miris sekali kan hidupku , mas Han... aku harus membalaskan dendam padanya."


Deg.. Handoyo cukup terkejut mendengar semuanya. Apakah Nadia akan membencinya jika ia menceritakan siapa dirinya.Sungguh ini sebuah permainan nasib.Haruskah dia katakan? Akh... Tidak perlu dikatakan, karena Nadia tidak bertanya padanya.


"Salahkah mas Han... jika aku membenci Suhartono dan istrinya?"


"Tidak Nad... kamu tidak salah... aku akan membantumu menyingkirkan mereka...!" Aku juga membenci mereka... kita bisa jadi tim yang kuat Nad... kita akan lakukan semuanya bersama!"


"Mas Han... cukup kita bisa bersama seperti ini... biarkan ini menjadi rahasia kita...aku akan temui kau nanti.... aku harus pulang, mas Pram, nanti akan mencariku."


"Nad...


"Aku harus kembali.... kita ketemu dua hari lagi di tempat Big mama.."


Wanita itu langsung bangkit dan meninggalkan Handoyo di ruangan kerjanya. Melesat dan menghilang dari pandangan Handoyo.   "Aku selalu sayang kamu mas Han."


*****


Happy Reading Guys. Bolehkah tinggalkan jejak di sini?" Thanks a lot ya

__ADS_1


__ADS_2