
Cinta sejati itu sederhana . Ia mampu menerima dan menjaga apapun kekurangan dan kelebihanmu.
*****
Anneke meminta ijin pada Devon dan Lirasati untuk pulang duluan. Mereka tidak mempermasalahkan karena sebagian tugas Anneke memang dikerjakan oleh sang asisten yang dibayar Warmen untuk toko mereka.
Kedua sahabat itu masih bingung tentang siapa Nicky, tapi Anneke memberikan kode, bahwa lain waktu akan diceritakan pada mereka. Devon menarik lengan Lira untuk mencegah sahabatnya itu bertanya lebih lanjut dan mengorek langsung ke Nicky. Hingga mobil Warmen beranjak dari toko mereka
Malam belum begitu larut ketika Anneke tiba di rumah kontrakan mereka di Depok. Sepanjang perjalanan dari toko ke rumah yang memang tidak begitu jauh, Nicku duduk di pangku Anneke. Ia tidak mau jauh dari Anneke dan itu makin membuat Warmen takjub pada istrinya.
Nicky selalu mengikuti kemanapun Anne melangkah ketika di rumah itu. Suasana asing membuat Nicky sedikit tidak nyaman dan membuatnya mengekori Anneke dan membuat wanita itu bahagia karena merasa Nicky membutuhkannya. Warmen baru memasuki rumahnya setelah memarkirkan mobil di garasi dan mengunci pintu-pintu.ketika didengarnya suara Anneke yang ada bersama Nicky di kamar mandi.
"Apakah segar setelah mandi, Pangeran?"
"Iya mama Anne... tapi bajuku ada di mobil Amang !"
"Biar nanti Amang yang akan bawa baju-bajumu... oh iya, kamu maukah menggunakan handuk dulu ya, biar tidak dingin? Biar mama minta ke Amang untuk mengantar bajumu kemari!"
Ketika Anneke keluar dari kamar mandi, ia melihat Warmen baru memasuki kamar mereka dan menenteng koper milik Nicky. Anneke tersenyum dan langsung membongkar isi koper itu guna mencari baju tidur Nicky. Diambilnya piyama putih dengan gambar tokoh kartun anak-anak dan langsung dipakaikan pada Nicky.
"Baiklah pangeran, kamu bersama Amang dulu ya nonton tv dan minum teh hangat... mama mau mandi dulu sebentar ya!"
"Ya mama Anne!"
Ketika Anneke keluar dari kamarnya, ia mendapati Warmen sedang berbaring menonton televisi di sofa panjang sementara Nicky sedang duduk menonton kartun dengan gembira.
"Bang... tadi aku belum beli makanan untuk kita makan malam, aku masak sebentar ya?"
"Aku sudah beli makanan sayang... ada di atas meja!" Tapi aku gak tahu, apakah Nicky bisa makan itu? Karena agak pedas ikannya..aku lupa, seharusnya aku membelikannya ikan bakar, dia sangat suka ikan.."
"Aku goreng telur dan nugget saja deh, dia pasti suka," Timpal Anneke sambil melirik Nicky yang folus pada acara kartunnya.
"Baiklah... agak cepat ya sayang!" Aku lapar" Warmen berkata sambil mengelus perutnya yang segera minta diisi.
Aroma telur dadar , beberapa nugget dan sosis goreng membuat ruangan tengah menjadi makin harum. Warmen mematikan televisi dan mengajak Nicky segera ke meja makan. Kedua pria yang berbeda generasi itu telah duduk rapi di meja menunggu Anneke dengan sabar.
Pandangan Nicky dan Warmen sama-sama membesar ketika makanan untuk mereka sudah tersedia di depan mereka. Mereka berdua sudah kelaparan. Hal itu membuat Anneke tersenyum. Mereka bener-benar sama, ikatan darah tidak bisa berbohong.
__ADS_1
"Boleh kita makan sekarang mama Anne?" Nicky bertanya pada Anneke pelan dan agak malu.
"Setelah Amang pimpin kita dalam doa makan, sayang!"
Mendengar perintah dari istrinya, Warmen langsung memimpin doa makan dan setelahnya baru mereka menikmati makanan itu Nicky adalah anak yang terbiasa mandiri, setelah makan, ia membawa piringnya ke dapur dan diikuti oleh Anneke yang membawa piring makan miliknya dan milik Warmen. Nicky yang mandiri membuat Anneke bahagia dan bangga melihat tindakannya sehingga bagi Anneke, Nicky tidak akan menyulitkannya.
"Kita sikat gigi dulu ya sayang!"
"Baik Mama Anne!"
Setelah selesai menyikat giginya, Nicky berlari kembali ke depan televisi dan duduk di sebelah Warmen. Ia hanya memperhatikan Amang-nya yang masih menonton acara berita dan seolah tidak menyadari bahwa jagoan kecilnya memperhatikannya seolah meminta remote televisi itu berubah channel.
"Amang... boleh lihat filmku lagi?"
'Ya... tapi hanya satu film saja ya, setelah ini, kau harus tidur ya!"
"Kenapa Amang tidak pulang... ini sudah malam dan ini kan rumah mama Anne?"
"Nicky... mama Anne adalah istriku, jadi rumahku adalah bersamanya... jadi malam ini kita akan tidur bertiga ya sayang!"
"Amang tidur di kamar lain... aku yang tidur bersama mama Anne!"
"Hei... kenapa bisa begitu !" Mama Anne itu istriku dan setiap malam aku tidur dengannya," Sahut Warmen tidak mau kalah dari anaknya.
"Tidak mungkin, setiap malam aku tidur bersama istriku dan kau baru datang malam ini, jadi sebaiknya kau tidur di kamar lain!" Warmen sengaja menggoda Nicky dan melihat bagaimana pria kecil itu berani berdebat dengannya.
"Mama Anne.... : teriak Nicky dan ia merasa marah pada Warmen yang sedikit mengintimidasinya dan membuat Anneke yang sedang merapihkan baju-baju Nicky di kamar terkejut dan segera menghampiri.
"Kenapa pangeranku ?" Apakah sudah mengantuk? Atau acara televisinya jelek?"
"Amang nakal... amang bilang kita tidur bertiga... kan tadi mama Anne bilang tidur denganku dan bermain denganku... tapi Amang mau ikut dengan kita," Nicky berkata sambil menunjuk-nunjuk ayahnya dan membuat Anneke tersenyum dan memeluk Nicky.
"Amang cuma bercanda ko pangeranku...nanti kamu bobo di tengah ya, di pinggir kiri mama Anne dan di pinggir kanan Amang, gak papa kan sayang?" Anneke membujuk Nicky yang hampir menangis.
Nicky mengangguk sambil menatap Anneke dan kemudian ia melirik Amangnya dengan sedikit sebal.
Seulas senyum hadir di wajah Warmen, ia makin yakin untuk tidak mengantarkan Nicky ke orang tua Melinda dan yakin bahwa seminggu ini Nicky akan cocok bersama Anneke. Mereka akan tinggal bersama sebagai keluarga. Anneke bener-bener wanita yang menyayangi anak- anak. Kurasa ia benar-benar tulus pada Nicky, batin Warmen menegaskannya.
Benar saja Nicky malam ini tidur di tengah-tengah antara Warmen dan Anneke. Warmen sesungguhnya merasa sedikit tidak puas dengan posisi tidur yang seperti itu, tapi ia bisa apa, Jagoan kecil -nya itu selalu menempel pada Anneke kayak perangko. Dan tampaknya Anneke menikmati kedekatannya dengan Nicky.
"Bagaimana dia bisa begitu patuh padamu, Ne?" Warmen bertanya pelan dan hanya disambut senyuman oleh Anneke..
"Entahlah... aku tak tahu, tapi ia anak yang baik dan penurut bang...kurasa ia memang mudah akrab dengan orang lain, jadi akan mudah bagiku dekat dengannya, bang!"
__ADS_1
"Tapi dia hanya dekat dengan oma dan opa saja di sana, dan itu juga tadi aku membujuknya setengah mati hingga dia mau ikut!" Untunglah ada kamu, Ne... terimakasih mau menerimanya dan mau menemaninya,"
"Itu sudah tugasmu... dia anakmu berarti dia juga anakku... apakah opa dan omanya mengijinkan jika ia tinggal bersama kita?"
"Entahlah... tapi jika di atas kertas dari pengadilan, hanya aku yang berhak, kemarin ketika kau pergi dan menghilang, aku memang menitipkannya... karena aku tak yakin bisa menjaganya... bagaimana menurutmu, Ne? Apakah merepotkan jika Nicky bersama kita?"
Warmen menatap Anneke yang sedang memeluk hangat Nicky Wanita itu tersenyum hangat.
"Dia akan menjadi abang yang baik bagi adik yang akan kulahirkan nanti, Bang!" Ujar Anneke pelan sambil mengelus perutnya yang mulai membesar. " Bisakah abang meminta pada Oma dan Opa untuk membiarkannya tinggal bersama kita dan nanti kita akan sering berkunjung ke sana sambil membawa Nicky."
"Baiklah .... Kau sayang Nicky juga kan Ne?"
"JIka aku sayang ayahnya, maka aku akan sayang juga pada anaknya meski dia bukan anak yang kulahirkan,bang... karena ayahnya adalah cinta sejatiku, ,,,,,,Cinta sejati itu sesungguhnya sederhana . Ia mampu membuatku menerima dan menjaga apapun kekurangan dan kelebihanmu, kuharap abang juga mencintaiku seperti aku mencintai abang."
"Terimakasih, Anne... aku amat mencintaimu sayang ," Bisik Warmen sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Anneke.
Tanpa kata, Warmen segera menempelkan bibirnya pada bibir Anneke, dan membuat Anneke agak terkejut karena ada Nicky diantara mereka. Sedikit mendorong tubuh suaminya, namun tubuh pria itu tidak bergerak . Hanya bibirnya yang bergerak liar dan makin menuntut selama beberapa saat hingga akhirnya Warmen menghentikannya dan menatap lembut istrinya.
"bang.... "
"jika aku pingin melakukannya gimana dong, Ne... Nicky ada di antara kita, bisakah besok jangan janjikan dia tidur di tengah lagi tapi dia akan tidur di kamar sebelah ya!"
"bang... dia anakmu... masa sama anak gak mau mengalah sih!"
"Bukan gak mau mengalah tapi bagaimana jika aku sudah kepingin dan dia selalu menempel padamu... apa kita yang pindah ke kamar sebelah setelah dia terlelap?"
"Itu lebih baik.... aku ingin dia mempercayaku dan aku sudah berjanji kita tidur bertiga,"
"Oke... tapi bisakah kita pindah sebentar ke kamar sebelah, Ne... aku benar-benar pingin," Warmen berkata sambil bangkit dan menarik lengan istrinya untuk mengikuti langkahnya dan memenuhi hasratnya yang harus segera tersalurkan.
*****
Happy Reading Guys!"
Bolehkah tinggalkan komentar/ like/ poin/ hadiah atau apapu itu? Thanks ya!
__ADS_1