Cintaku Cuma Satu

Cintaku Cuma Satu
107. Pertemuan yg tak bisa dihindari (2)


__ADS_3

Jangan genggam masa lalu! Dia telah pergi meninggalkanmu. Sekarang bisakah kita melihat masa  depan? Aku ingin menjadi kertas putih dan manjadi kepercayaanmu!’"


*****


Anneke  meninggalkan Nicky yang masih terlelap di kamar utama. Ia mengikuti langkah suaminya yang mengajaknya menemui seseorang. Rasa penasaran dan mengantuk namun ia tetap melangkah untuk menuju ruang tamu dimana menurut suaminya ada seseorang yang harus mereka temui.


Anneke mungkin baru tertidur sejam yang lalu, sehingga matanya masih agak mengantuk. Dengan memegang lengan kekar suaminya, Anne merasa sedikit lebih tenang. Entah siapa yang  membuat mereka harus berpindah ke rumah aman, bagi Anne yang penting keluarga kecilnya masih dapat bersama. Pengungsian ini dirasa Anneke sebagai liburan ke tempat yang tenang dan menyenangkan namun ada sedikit perasaan menegangkan karena adanya ancaman pada mereka.


Ketika mereka keluar kamar,langkah Annekepun  terhenti. Dan membuat Warmen menengok pada istrinya yang terkejut memandang seseorang di ruang tamu rumah aman.


Warmen sebenarnya sudah menduganya sehingga ia perlu menemani istrinya menemui pria itu. Pria yang pernah menyakiti hati istinya bahkan nyaris menodainya.


Pria itu adalah kakak lelaki Anneke yang memang tidak seibu, tetapi mereka tetap sedarah karena dari ayah yang sama. Pria yang pernah sangat dipercaya Anneke di masa lalu.


“Anne …!’ Panggil pria itu sambil tersenyum hangat.


Akhsan begitu merindukan adiknya yang pernah ia cintai dan ia kini telah menyadari kesalahannya. Setahun belakangan ia mencari Anneke, namun seperti hilang tanpa kabar, Berkat bantuan Jendral Gaffarlah , ia berani menemui Warmen yang dulu dibencinya.


Anneke diam membisu dan memandang pria yang adalah kakak lelaki yang pernah sangat dipercayainya dan menjadi pria yang sangat dibencinya. Namun suara suaminya seolah menenangkannya dan membuatnya menatap suaminya yang seolah memberikannya keberanian.


“Jangan  kuatir sayang … ada abang disini!’ Dia takkan berani macam-macam denganmu … Dia hanya ingin meminta maaf padamu !’ Bujuk Warmen sambil mengelus  lengan istrinya  lembut. “ Kita temui dan bicara baik-baik!’


Anneke  masih menatap pria yang duduk di sofa itu. Pria itu bangkit dan berusaha menghampirinya. Entah mengapa pegangan tangannya pada Warmen makin menguat dan  tanpa disadari Anneke, air mata menetes dan jatuh di pipinya.Warmen melihatnya dan menghapusnya.


“Jangan  takut… ada abang disini!”


Seketika  hati kecil Anneke merasa tenang. Mengapa juga sekarang ia masih takut?  Sekarang ia memiliki seseorang yang akan menjaga dan melindunginya. Benar ada bang Warmen yang menjadi pembelanya. Meski sekarang tidak ada ayah tapi ada suami yang  benar-benar tulus menyayanginya. Ini situasi yang berbeda dengan masa lalunya.


Anneke  tersenyum hangat pada suaminya dan mengangguk. Namun Anneke masih tidak mampu berkata-kata pada Akhsan, kakak lelakinya. Mengapa perasaan marah dan bencinya belum hilang pada pria ini. Dia kakaknya, dia harusnya bisa memaafkannya. Tapi...


‘Anne…  apa kabarmu?"  .... Aku senang melihat Warmen menjagamu dengan baik!’  Akhsan menyapanya


kembali dengan ramah, namun  Anneke yang masih berdiri tidak jauh dari suaminya tidak mampu berkata-kata dan serasa kagok dengan situasi ini.


Aksan menghampiri Anneke dan berusaha mengulurkan tangannya. Namun Anneke hanya menatapnya saja dan memandang kakak lelakinya itu.

__ADS_1


“Aku  tahu kamu masih marah padaku… aku memohon pada suamimu, untuk mempertemukan  denganmu bahkan aku meminta tolong pada Jendral Gaffar untuk bicara dengan  suamimu… dia yang menjaminku dan mengatakan bahwa aku tulus meminta maaf… dia yang  menghubungi suamimu…. Aku ingin meminta maaf padamu, Ne !" Kumohon maafkan aku!”  Akhsan berkata sambil menatap adik  perempuannya yang sedang mengandung anak Warmen.


Warmen menarik jemari Anneke dan seolah membantu menyadarkan Anneke yang terlihat sedang melamun. “Sayang… kakakmu benar-benar menyesali perbuatannya, bisakah  kamu memaafkannya? Tapi jika kau belum bisa memaafkannya… maka abang  bisa  kok mengusirnya dari rumah ini, meskipun ini sudah sangat larut malam.” Kau ingin abang melakukan apa?"


Anneke


seolah tersentak mendengar perkataan Warmen. Biar bagaimanapun Kak Akhsan dulu


pernah sangat baik. Rasanya tidak manusiawi mengusirnya di tengah malam begini.


Anneke berusaha bicara tapi tenggorokannya tercekat. Kenapa suaranya hilang/


“Ne…  bisakah kamu memaafkanku?” Maafkan segala perbuatan jahatku di masa lalu... seharusnya aku menjadi pelindungmu saat itu... aku adalah kakak yang brengsek, tapi aku menyesalinya... aku minta maaf telah melukaimu dan menghinamu!"    Akhsan bertanya sekali lagi.


Anneke   berusaha menjawab tapi kenapa suaranya seolah hilang.   Anneke menangis sambil  menganggukkan kepala dan akhirnya  dia memeluk Warmen. Ia bingung. Kemana suaranya, bahkan untuk menjawab saja tidak bisa.


Warmen  memeluk istrinya yang sedang menangis tetsedu-sedu. Ia mengerti Anneke yang mudah memaafkan orang . Luka di hatinya begitu besar sehingga ia tidak mampu berbicara pada kakak lelakinya itu.


“Sayang… kau harus belajar mengampuni dan melupakan kesalahan kakakmu… aku ingin kita mempunyai keluarga yang saling mengasihi dan hubungan keluarga kita dengan kakak-kakakmu menjadi lebih baik !”


“Aku sudah memaafkan kak Akhsan, Bang… Cuma aku belum mampu melihat wajahnya sekarang!’ Ujar Anneke pelan sambil terus menangis di pelukan Warmen.


“berarti  aku tak perlu mengusirnya malam ini ya… biarkan kakakmu istirahat di kamar atas ya .. biar dia menginap beberapa hari disini menemani kita dan biar dia kenal Nicky juga!’


“Iya bang… sekarang boleh aku ke kamar lagi… aku masih mengantuk!’ Anneke hanya menatap Warmen, karena sesungguhnya ia bingung dengan pertemuan yang mengejutkan dengan Akhsan kakaknya.


“Baiklah…. Aku akan antar kamu tidur… setelah ini aku harus kordinasi kerjaanku dengan  Thomas dulu ya sayang !’


“Ya bang.” Anneke menjadi lebih tenang ketika Warmen membawanya ke kamar mereka dan  membiarkan para pria lainnya yang menjaga rumah aman itu kembali di posisi mereka masing-masing.


Di dalam kamar Warmen masih menggandeng istrinya dan mengajaknya duduk di pinggir ranjang dimana Nicky masih terbaring pulas.


“Sayang…  mungkin abang belum bisa jadi suami yang sempurna untuk kamu, tapi abang  berusaha untuk menjadi adik ipar yang baik dan kepala keluarga yang bertanggungjawab pada istri dan anak-anaknya. “ Warmen berkata pelan dan sambil menatap mata istrinya. “Aku ingin kita menjadi orang yang penuh rasa kasih terhadap orang lain dan belajar mengampuni orang lain baik itu kakakmu ataupun kepada  orang lain.”


‘orang lain?” Maksudnya abang ?"

__ADS_1


“Ya… siapapun itu… aku tidak ingin kita memupuk dendam… Nicky adalah korban dendamku dahulu pada Miranda … aku tidak ingin kau mengulangi kesalahanku.”


Anneke terdiam dan menatap wajah suaminya kembali.”Aku sudah memaafkan kakakku, hanya saja aku masih takut jika ia kembali jahat padaku!’


“Dia takkan berani…karena aku akan memenjarakannya dan dia sudah menandatangai surat perjanjian disaksikan oleh Jendral Gaffar”


“Benarkah ?’


“Satu  lagi abang harus menceritakannya dan maaf kau baru mendengarnya sekarang di situasi yang tidak menyenangkan  … jika ada keadaan darurat, nanti kita akan dibantu oleh putra Jendral Gaffar yang Bernama Adiguna… dia akan menjaga kita dari serangan kelompok mafia dari Inggris yang ingin menculik Nicky!’ Rupanya Nicky itu mendapat warisan dari  Melinda dan suaminya dengan jumlah fantastis, abang sendiri belum tahu


detailnya…karena kita belum melibatkan polisi, tapi  yang perlu kau ketahui, kakak tiri Nicky itu  ingin membawa Nicky hidup atau mati, jadi kita akan menjaganya… aku tidak ingin kehilangan kau ataupun Nicky, jadi bisakah jika nanti ada satu orang lain lagi  yang membantu kita…”


“Jadi  ini semua bukan karena kasus abang tapi ini karena warisan Nicky? Terus kenapa  Adiguna ikut membantu kita?”


“Dia  temanku… dia sering berurusan dengan masalah seperti ini dan juga dengan  bantuan Adiguna, maka Jendral Gaffar juga dengan kata lain mendukung,” Kilah  Warmen sedikit berbohong pada istrinya.


Warmen  sengaja menyebut Adiguna adalah putra Jendral Gaffar dan tidak menjelaskan asal  usul Adiguna. Ia khawatir istrinya shock jika mengetahui bahwa Adiguna adalah  Handoyo yang memang dibenci istrinya.


Maafkan  aku, Anneke. Ini untuk kebaikan kita. Warmen menarik nafas dan berusaha  menenangkan hatinya.


“Aku  percaya abang… terserah abang saja. Semakin banyak yang menjaga kita, kupikir lebih baik… tapi aku maih merasa bahwa melibatkan polisi lebih baik sih bang!’


‘Sayang  kelompok Mafia itu, jika belum bertindak, maka polisi belum bisa turun tangan…  jadi aku ingin kita nyaman ataupun terhindar dari bahaya, dan mafia itu tidak dapat menyentuh kita… nanti kalau sampai kenapa-kenapa, aku pasti melibatkan polisi!’


“terus  kapan Adiguna datang?”


“Mungkin besok malam atau lusa pagi… dia masih ada urusan di tempat lain!’


“semoga  sebelum mafia itu datang… dan semoga mereka tidak pernah menemukan Nicky!’


*****


Happy REading Guys.


Bolehkah temans tinggalkan jejak disini?" Thanks a lot before!"

__ADS_1


__ADS_2